23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 3, 2025
in Esai
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ilustrasi: tangkap layar youtube

“If you drive a car, I’ll tax the street
If you try to sit, I’ll tax your seat
If you get too cold I’ll tax the heat
If you take a walk, I’ll tax your feet”

(Beatles,-Taxman)

POTONGAN bait tersebut merupakan bagian lirik lagu The Beatles “Taxman” yang ditulis oleh George Harrison, yang dirilis pada Agustus 1966. “Taxman” merupakan sindiran keras terhadap tarif pajak di Inggris yang tidak masuk akal. Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam autobiografinya I Me Mine, Harrison mengatakan bahwa “Taxman” ia tulis setelah menyadari bahwa walaupun dirinya dan Beatles mulai mendapatkan uang, namun sebagian besar dari uang tersebut ia bayarkan kepada “Taxman” (https://esensialis.wordpress.com/2017/07/14/beatles-dan-kritik-terhadap-pajak-progresif-inggris/).  Pada masa tersebut, lanjutnya ia harus membayar 19 shillings dan enam pence dari setiap pound yang ia dapat.

Menurut Harrison dalam sebuah wawancara, dirinya dan personel Beatles lainnya hanya akan mendapat enam pence atau satu perempatpuluh dari setiap pound yang mereka dapat. Dua nama Perdana Menteri Inggris yakni Harold Wilson dan Edward Heath disebut dalam lagu itu, kedua nama ini dianggap bertanggungjawab dalam tarif pajak sinting tersebut.

Beatles protes pajak karena besarannya, dan semuanya dipajak seperti bait di atas. Masyarakat kita gaduh perihal pajak, karena perilaku elit politik yang tidak memihak pada kami, rakyat yang taat membayar pajak.

Seperti tersiar berita di Kabupaten Pati, bupatinya dengan arogan bernarasi saat menaikan pajak bumi dan bangunan yang fantastis besar sekali menurut ukuran wajib pajak pada umumnya, sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran di Kabupaten Pati. Rakyatnya ingin melengserkan sang Bupati “Mr. Taxman”, gaduh jagat Pati akibat ulah sang Taxman, Pati rusuh.

Selang dua tiga minggu kemudian rusuh dimana-man. Terjadi penjarahan di Jakarta dan sekitarnya, kota-kota besar di Indonesia,  Bandung, Makassar, Surabaya, Yogjakarta, Semarang, dan kota lainnya terjadi demonstrasi hebat. Sampai saat ini bahkan sekolah-sekolah banyak yang di liburkan. Di Makassar dua gedung parlemen kota dan provinsi dibakar. 

Bentuk  kemurkaan, kekecewaan rakyat dan massa juga dilampiaskan dengan menjarah rumah-rumah anggota parlemen, dan menteri keuangan, porak poranda rumah dan isinya senilai puluhan sampai ratusan miliar dalam sekejap lulu-lantah perabot rumah, pakaian dan barang-barang yang sangat pribadi dijarah, mobil-mobil mewah dihancurkan.

Bila kita lihat kemarahan rakyat mungkin salah satunya ditengah situasi sulit rakyat, elite di pemerintahan, parlemen berflexing ria, soal penghasilan, tunjangan ini itu dan lain-lain.

Rakyat tahu persis, bahwa mereka para elite itu menikmati berbagai fasilitas negara  dari tarif pajak yang dibayar rakyat selama ini. Mereka seolah tidak menggubris tuntutan aspirasi rakyat, malah dibalas dengan berjoget ria, bernarasi “guru menjadi beban negara, “kami ini kaum elite” wajar kalau dapat tunjangan ini itu, mereka bernarasi membela diri dan menantang “rakyat paling tolol” sedunia, katanya.

***

Saat unjuk rasa, demonstrasi besar-besaran di Jakarta terjadi insiden yang memilukan, seorang pengemudi ojek online tewas terlindas; atau dilindas, hanya Tuhan yang tahu. Dari peristiwa tersebut gelombang massa terus menerus sampai saat ini menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan rakyat. Meskipun para elite yang dianggap sebagai “public enemy” sudah diberhentikan atau dinonaktifkan sebagai anggota parlemen. Unjuk rasa masih terus berlangsung sampai saat ini, salah satu tuntutannya adalah pemerintah pusat mencabut kebijakan pajak baru, RUU perampasan aset dan lain-lain. 

Kembali ke tema tulisan, perihal beban pajak yang harus ditanggung rakyat, besaran pajak yang ditetapkan oleh pemerintah, umumnya nyaris rakyat sebagai warga negara menerima tanpa penolakan yang berarti, karena memang masyarakat kita sudah menyadari manfaat pajak untuk berbagai macam pembangunan negara kita.

Seperti saya sampaikan di atas bukan nilai besarnya perkara pajak A, pajak B, dan C berapa pun kami bayar pajaknya mulai pajak bumi dan bangunan, kendaraan bermotor, penghasilan, makanan yang kita makan di resto, belanja di supermarket dan sebagainya. Pokoknya kita bayar Berapa pun pajaknya, masyarakat kita ini sangat taat pada pajak, terbukti pajak sebagai penopang utama negara kita. Karena katanya “Orang Bijak Taat Pajak” demikian semboyan yang dikeluarkan kantor-kantor pajak. masyarakat kita mungkin terbilang sangat santun.

Namun melihat tingkah polah para elite yang selama ini tidak mendengar, menyapa rakyatnya dengan baik, komunikasi publik para elite umumnya buruk, selalu menuai kontroversi, kurang peka pada apa yang dirasakan publik, terutama membahas beberapa pajak yang dibebankan pada rakyat.

Malah pernah marak fenomena figur publik, para elit, keluarga pejabat publik yang suka pamer harta ramai diperbincangkan. Fenomena pamer harta oleh beberapa kalangan ini bisa disebut dengan istilah  flexing. Orang yang suka pamer harta berlebihan dan hidup megah ini kemudian juga disebut dengan crazy rich. Bahkan anggota parlemen yang digeruduk masa rumahnya juga dijuluki crazy rich.  

Masyarakat juga pernah cenderung sering dihebohkan dengan kekayaan oknum pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang sangat tinggi. Bahkan, harta kekayaan yang dimiliki dinilai tidak wajar sehingga menimbulkan spekulasi dari berbagai pihak. Hal ini mencuat setelah kasus penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy Satriyo beberapa tahun yang lalu, terhadap Cristalino David Ozora, putra pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor. Bukan hanya kasusnya, namun gaya hidup dan kekayaan yang dimiliki keluarga Mario Dandy yang jadi sorotan. Akhirnya merebak ke semua pegawai pajak menjadi sorotan public.

Mereka mempertontonkan harta dan hidup megahnya, baik berupa uang, mobil mewah, rumah mewah ataupun saldo ATM. Secara harfiah, flexing dalam bahasa Inggris berarti pamer. Flexing adalah menunjukkan sesuatu kepemilikan atau pencapaian dengan cara yang dianggap orang lain tidak menyenangkan. Flexing atau pamer biasanya dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukkan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukkan kemampuan. Ajang pamer itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang ke orang lainnya, tapi juga ke masyarakat luas dengan menggunakan media sosial seperti Instagram, Twitter, TikTok hingga YouTube (https://m.tribunnews.com/lifestyle/2022/03/25/hukum-pamer-harta-atau-flexing-menurut-islam-ini-bahayanya?page=all).

Perilaku “riya” tersebut, dapat menyulut emosi massa,  perbuatan riya ini merupakan perbuatan syirik kecil yang memiliki dosa yang besar (https://www.suara.com/news/2022/03/21/114902/bagaimana-hukum-pamer-kekayaan-menurut-islam-ini-jawaban-ustadz-adi-hidayat). Hal ini sebagaimana Allah SWT pernah bersabda dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Selain mencederai kepercayaan masyarakat, gaya hidup mewah yang ditonjolkan juga melanggar azas kepatutan dan kepantasan publik. Meskipun, harta yang dimiliki berasal dari cara-cara yang halal. Memamerkan harta merupakan sikap riya yang dilarang oleh Islam, dan semua ajaran agama. Semoga para elite sadar diri, bahwa mereka digaji difasilatasi berbagai kebutuhannya oleh negara dari jerih payah rakyat dalam membayar pajak. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Tags: flexinggaya hidupgaya hidup mewahpajakpejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Next Post

“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

"From Sketch To Soul": Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co