23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 3, 2025
in Esai
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ilustrasi: tangkap layar youtube

“If you drive a car, I’ll tax the street
If you try to sit, I’ll tax your seat
If you get too cold I’ll tax the heat
If you take a walk, I’ll tax your feet”

(Beatles,-Taxman)

POTONGAN bait tersebut merupakan bagian lirik lagu The Beatles “Taxman” yang ditulis oleh George Harrison, yang dirilis pada Agustus 1966. “Taxman” merupakan sindiran keras terhadap tarif pajak di Inggris yang tidak masuk akal. Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam autobiografinya I Me Mine, Harrison mengatakan bahwa “Taxman” ia tulis setelah menyadari bahwa walaupun dirinya dan Beatles mulai mendapatkan uang, namun sebagian besar dari uang tersebut ia bayarkan kepada “Taxman” (https://esensialis.wordpress.com/2017/07/14/beatles-dan-kritik-terhadap-pajak-progresif-inggris/).  Pada masa tersebut, lanjutnya ia harus membayar 19 shillings dan enam pence dari setiap pound yang ia dapat.

Menurut Harrison dalam sebuah wawancara, dirinya dan personel Beatles lainnya hanya akan mendapat enam pence atau satu perempatpuluh dari setiap pound yang mereka dapat. Dua nama Perdana Menteri Inggris yakni Harold Wilson dan Edward Heath disebut dalam lagu itu, kedua nama ini dianggap bertanggungjawab dalam tarif pajak sinting tersebut.

Beatles protes pajak karena besarannya, dan semuanya dipajak seperti bait di atas. Masyarakat kita gaduh perihal pajak, karena perilaku elit politik yang tidak memihak pada kami, rakyat yang taat membayar pajak.

Seperti tersiar berita di Kabupaten Pati, bupatinya dengan arogan bernarasi saat menaikan pajak bumi dan bangunan yang fantastis besar sekali menurut ukuran wajib pajak pada umumnya, sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran di Kabupaten Pati. Rakyatnya ingin melengserkan sang Bupati “Mr. Taxman”, gaduh jagat Pati akibat ulah sang Taxman, Pati rusuh.

Selang dua tiga minggu kemudian rusuh dimana-man. Terjadi penjarahan di Jakarta dan sekitarnya, kota-kota besar di Indonesia,  Bandung, Makassar, Surabaya, Yogjakarta, Semarang, dan kota lainnya terjadi demonstrasi hebat. Sampai saat ini bahkan sekolah-sekolah banyak yang di liburkan. Di Makassar dua gedung parlemen kota dan provinsi dibakar. 

Bentuk  kemurkaan, kekecewaan rakyat dan massa juga dilampiaskan dengan menjarah rumah-rumah anggota parlemen, dan menteri keuangan, porak poranda rumah dan isinya senilai puluhan sampai ratusan miliar dalam sekejap lulu-lantah perabot rumah, pakaian dan barang-barang yang sangat pribadi dijarah, mobil-mobil mewah dihancurkan.

Bila kita lihat kemarahan rakyat mungkin salah satunya ditengah situasi sulit rakyat, elite di pemerintahan, parlemen berflexing ria, soal penghasilan, tunjangan ini itu dan lain-lain.

Rakyat tahu persis, bahwa mereka para elite itu menikmati berbagai fasilitas negara  dari tarif pajak yang dibayar rakyat selama ini. Mereka seolah tidak menggubris tuntutan aspirasi rakyat, malah dibalas dengan berjoget ria, bernarasi “guru menjadi beban negara, “kami ini kaum elite” wajar kalau dapat tunjangan ini itu, mereka bernarasi membela diri dan menantang “rakyat paling tolol” sedunia, katanya.

***

Saat unjuk rasa, demonstrasi besar-besaran di Jakarta terjadi insiden yang memilukan, seorang pengemudi ojek online tewas terlindas; atau dilindas, hanya Tuhan yang tahu. Dari peristiwa tersebut gelombang massa terus menerus sampai saat ini menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan rakyat. Meskipun para elite yang dianggap sebagai “public enemy” sudah diberhentikan atau dinonaktifkan sebagai anggota parlemen. Unjuk rasa masih terus berlangsung sampai saat ini, salah satu tuntutannya adalah pemerintah pusat mencabut kebijakan pajak baru, RUU perampasan aset dan lain-lain. 

Kembali ke tema tulisan, perihal beban pajak yang harus ditanggung rakyat, besaran pajak yang ditetapkan oleh pemerintah, umumnya nyaris rakyat sebagai warga negara menerima tanpa penolakan yang berarti, karena memang masyarakat kita sudah menyadari manfaat pajak untuk berbagai macam pembangunan negara kita.

Seperti saya sampaikan di atas bukan nilai besarnya perkara pajak A, pajak B, dan C berapa pun kami bayar pajaknya mulai pajak bumi dan bangunan, kendaraan bermotor, penghasilan, makanan yang kita makan di resto, belanja di supermarket dan sebagainya. Pokoknya kita bayar Berapa pun pajaknya, masyarakat kita ini sangat taat pada pajak, terbukti pajak sebagai penopang utama negara kita. Karena katanya “Orang Bijak Taat Pajak” demikian semboyan yang dikeluarkan kantor-kantor pajak. masyarakat kita mungkin terbilang sangat santun.

Namun melihat tingkah polah para elite yang selama ini tidak mendengar, menyapa rakyatnya dengan baik, komunikasi publik para elite umumnya buruk, selalu menuai kontroversi, kurang peka pada apa yang dirasakan publik, terutama membahas beberapa pajak yang dibebankan pada rakyat.

Malah pernah marak fenomena figur publik, para elit, keluarga pejabat publik yang suka pamer harta ramai diperbincangkan. Fenomena pamer harta oleh beberapa kalangan ini bisa disebut dengan istilah  flexing. Orang yang suka pamer harta berlebihan dan hidup megah ini kemudian juga disebut dengan crazy rich. Bahkan anggota parlemen yang digeruduk masa rumahnya juga dijuluki crazy rich.  

Masyarakat juga pernah cenderung sering dihebohkan dengan kekayaan oknum pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang sangat tinggi. Bahkan, harta kekayaan yang dimiliki dinilai tidak wajar sehingga menimbulkan spekulasi dari berbagai pihak. Hal ini mencuat setelah kasus penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy Satriyo beberapa tahun yang lalu, terhadap Cristalino David Ozora, putra pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor. Bukan hanya kasusnya, namun gaya hidup dan kekayaan yang dimiliki keluarga Mario Dandy yang jadi sorotan. Akhirnya merebak ke semua pegawai pajak menjadi sorotan public.

Mereka mempertontonkan harta dan hidup megahnya, baik berupa uang, mobil mewah, rumah mewah ataupun saldo ATM. Secara harfiah, flexing dalam bahasa Inggris berarti pamer. Flexing adalah menunjukkan sesuatu kepemilikan atau pencapaian dengan cara yang dianggap orang lain tidak menyenangkan. Flexing atau pamer biasanya dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukkan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukkan kemampuan. Ajang pamer itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang ke orang lainnya, tapi juga ke masyarakat luas dengan menggunakan media sosial seperti Instagram, Twitter, TikTok hingga YouTube (https://m.tribunnews.com/lifestyle/2022/03/25/hukum-pamer-harta-atau-flexing-menurut-islam-ini-bahayanya?page=all).

Perilaku “riya” tersebut, dapat menyulut emosi massa,  perbuatan riya ini merupakan perbuatan syirik kecil yang memiliki dosa yang besar (https://www.suara.com/news/2022/03/21/114902/bagaimana-hukum-pamer-kekayaan-menurut-islam-ini-jawaban-ustadz-adi-hidayat). Hal ini sebagaimana Allah SWT pernah bersabda dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Selain mencederai kepercayaan masyarakat, gaya hidup mewah yang ditonjolkan juga melanggar azas kepatutan dan kepantasan publik. Meskipun, harta yang dimiliki berasal dari cara-cara yang halal. Memamerkan harta merupakan sikap riya yang dilarang oleh Islam, dan semua ajaran agama. Semoga para elite sadar diri, bahwa mereka digaji difasilatasi berbagai kebutuhannya oleh negara dari jerih payah rakyat dalam membayar pajak. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Tags: flexinggaya hidupgaya hidup mewahpajakpejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Next Post

“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

"From Sketch To Soul": Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co