3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
September 3, 2025
in Esai
Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Foto ilustrasi | Sumber: Wikipedia

DI Indonesia, ada lagu yang seolah tak pernah kehilangan konteks. Setiap kali kasus korupsi mencuat, atau rakyat kecil jadi korban kelalaian negara, liriknya seakan otomatis terngiang di telinga publik. Lagu itu adalah “Tikus-tikus Kantor” karya Iwan Fals dalam album Ethiopia (1986). Lagu ini menjadi semacam soundtrack abadi bangsa: sindiran keras bagi pejabat dan wakil rakyat yang menjadikan jabatan bukan sebagai amanah, melainkan ladang untuk menggerogoti rakyatnya sendiri.

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja
Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tak terbukti ah tentu sikat lagi

Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus, rakus, bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Begitulah penggalan lirik lagu “Tikus-tikus Kantor”. Metafora “tikus” terasa sederhana, tapi justru itulah kekuatannya. Tikus adalah makhluk rakus, beranak pinak di tempat gelap, dan sulit diberantas. Persis seperti perilaku koruptor yang bersembunyi di balik gedung parlemen, berpakaian rapi, dan bersuara lantang soal kepentingan rakyat. Namun pada kenyataannya, sibuk mengutamakan diri sendiri.

DPR dan tikus-tikus yang tak pernah hilang

Sejak era orde baru hingga kini, skandal korupsi di DPR dan elite politik tak pernah surut. Dari proyek e-KTP yang menyeret sejumlah nama besar, dana bansos di masa pandemi, hingga praktik jual beli kursi kekuasaan, semuanya memperkuat kesan bahwa gedung parlemen adalah rumah mewah bagi tikus-tikus kantor.

Ironisnya, meski publik sudah berkali-kali disuguhi drama penangkapan koruptor, lagu Iwan Fals tetap relevan tanpa perlu diganti satu bait pun. Justru semakin hari, ia terdengar kian tepat. Seperti ramalan yang terus jadi kenyataan: wakil rakyat yang terhormat bisa berubah menjadi makhluk rakus yang merayap pelan-pelan, menggigit diam-diam, tapi meninggalkan lubang besar di tubuh bangsa.

Lebih menyedihkan lagi, budaya impunitas ─ pembebasan dari hukuman ─ membuat mereka sering lolos dari jerat hukum. Ada yang divonis ringan, ada yang kembali duduk di kursi kekuasaan setelah keluar penjara, bahkan ada yang tetap dielu-elukan pendukungnya. Semua itu menunjukkan bahwa tikus-tikus kantor bukan sekadar individu, melainkan cerminan sistem politik yang bobrok.

Kasus Affan Kurniawan: nyawa rakyat yang murah

Di tengah kabar korupsi yang tak ada habisnya, publik baru-baru ini dikejutkan oleh tragedi yang menyayat hati. Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat mengantar pesanan makanan di lokasi demo di Jakarta (28/8/25). Peristiwa ini segera memicu gelombang protes nasional, bukan hanya karena hilangnya nyawa seorang anak bangsa, tapi juga karena respons negara terasa klise dan kosong.

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan belasungkawa dan janji mengawal proses hukum. Komisi III mendesak agar oknum Brimob ditindak tegas. Partai-partai politik berlomba terlihat peduli. Namun rakyat sudah hapal pola semacam ini: pernyataan manis, janji evaluasi, lalu senyap. Pada akhirnya, keluarga korban harus menanggung duka, sementara elite kembali sibuk dengan agenda politiknya.

Tragedi Affan menjadi simbol nyata betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di negeri ini. Ia tidak mati karena pilihan politiknya, bukan pula karena aksi melawan, melainkan hanya karena menjalankan profesinya. Namun kematiannya ditanggapi dengan bahasa birokratis yang kering, seakan lebih peduli pada citra daripada keadilan.

Dalam konteks inilah lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa kembali menohok. Bukan hanya tentang korupsi uang, tapi juga korupsi empati. Saat elite politik sibuk memainkan narasi, sementara rakyat kecil yang menjadi korban hanya dicatat sebagai ‘insiden’ yang akan dievaluasi.

Lagu Iwan Fals telah berusia lebih dari tiga dekade, tapi isinya sama sekali belum basi. Justru semakin segar, karena realitas politik kita tak kunjung berubah. “Tikus-tikus kantor” terus beranak-pinak, berganti wajah, berganti partai, berganti jargon, tapi tetap dengan pola yang sama: menggerogoti dari dalam, merampas yang bukan haknya, dan menutup telinga dari jeritan rakyat. Di satu sisi, lagu ini adalah karya seni yang jenius, simbolik, tajam, dan mudah diingat. Tapi di sisi lain, keabadiannya justru menyedihkan, karena ia abadi bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kenyataan yang terus berulang. Kita menyanyikannya bukan karena rindu masa lalu, melainkan karena masa kini masih persis sama.

Kasus Affan seharusnya menjadi momentum untuk menyadarkan DPR dan institusi negara bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan angka-angka atau prosedur semata, melainkan dengan nyawa manusia. Sayangnya, pola yang terjadi selalu berulang: rakyat marah, elite berjanji, lalu semua perlahan dilupakan. Mungkin inilah yang membuat lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa begitu pahit sekaligus nyata. Ia bukan sekadar musik, melainkan dokumen moral. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesadaran kritis, sejarah akan terus berulang: gedung DPR tetap megah, tikus-tikus tetap beranak pinak, dan rakyat tetap jadi korban.

DPR boleh saja memasang slogan “Berbenah untuk Rakyat” di gedungnya yang berkilau. Tapi di luar sana, rakyat justru membaca spanduk lain: “Tikus-Tikus Kantor Masih Hidup dan Sehat.” Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus bernyanyi lagu ini hanya sebagai pelampiasan kritik, atau menjadikannya pemicu untuk perubahan nyata? Apakah DPR akan terus sibuk mengatur citra, atau benar-benar membersihkan kandangnya sendiri dari tikus-tikus rakus yang terus menggerogoti bangsa?

Sampai hari itu tiba, “Tikus-Tikus Kantor” akan tetap menjadi lagu sepanjang masa yang sebenarnya, karena sejarah kita yang gagal berubah, dan elite yang gagal belajar. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsidemonstrasiDPRKorupsiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Next Post

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co