2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
September 3, 2025
in Esai
Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Foto ilustrasi | Sumber: Wikipedia

DI Indonesia, ada lagu yang seolah tak pernah kehilangan konteks. Setiap kali kasus korupsi mencuat, atau rakyat kecil jadi korban kelalaian negara, liriknya seakan otomatis terngiang di telinga publik. Lagu itu adalah “Tikus-tikus Kantor” karya Iwan Fals dalam album Ethiopia (1986). Lagu ini menjadi semacam soundtrack abadi bangsa: sindiran keras bagi pejabat dan wakil rakyat yang menjadikan jabatan bukan sebagai amanah, melainkan ladang untuk menggerogoti rakyatnya sendiri.

Kisah usang tikus-tikus kantor
Yang suka berenang di sungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi
Yang suka ingkar janji lalu sembunyi

Di balik meja teman sekerja
Di dalam lemari dari baja
Kucing datang cepat ganti muka
Segera menjelma bagai tak tercela
Masa bodoh hilang harga diri
Asal tak terbukti ah tentu sikat lagi

Tikus-tikus tak kenal kenyang
Rakus, rakus, bukan kepalang
Otak tikus memang bukan otak udang
Kucing datang tikus menghilang

Begitulah penggalan lirik lagu “Tikus-tikus Kantor”. Metafora “tikus” terasa sederhana, tapi justru itulah kekuatannya. Tikus adalah makhluk rakus, beranak pinak di tempat gelap, dan sulit diberantas. Persis seperti perilaku koruptor yang bersembunyi di balik gedung parlemen, berpakaian rapi, dan bersuara lantang soal kepentingan rakyat. Namun pada kenyataannya, sibuk mengutamakan diri sendiri.

DPR dan tikus-tikus yang tak pernah hilang

Sejak era orde baru hingga kini, skandal korupsi di DPR dan elite politik tak pernah surut. Dari proyek e-KTP yang menyeret sejumlah nama besar, dana bansos di masa pandemi, hingga praktik jual beli kursi kekuasaan, semuanya memperkuat kesan bahwa gedung parlemen adalah rumah mewah bagi tikus-tikus kantor.

Ironisnya, meski publik sudah berkali-kali disuguhi drama penangkapan koruptor, lagu Iwan Fals tetap relevan tanpa perlu diganti satu bait pun. Justru semakin hari, ia terdengar kian tepat. Seperti ramalan yang terus jadi kenyataan: wakil rakyat yang terhormat bisa berubah menjadi makhluk rakus yang merayap pelan-pelan, menggigit diam-diam, tapi meninggalkan lubang besar di tubuh bangsa.

Lebih menyedihkan lagi, budaya impunitas ─ pembebasan dari hukuman ─ membuat mereka sering lolos dari jerat hukum. Ada yang divonis ringan, ada yang kembali duduk di kursi kekuasaan setelah keluar penjara, bahkan ada yang tetap dielu-elukan pendukungnya. Semua itu menunjukkan bahwa tikus-tikus kantor bukan sekadar individu, melainkan cerminan sistem politik yang bobrok.

Kasus Affan Kurniawan: nyawa rakyat yang murah

Di tengah kabar korupsi yang tak ada habisnya, publik baru-baru ini dikejutkan oleh tragedi yang menyayat hati. Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat mengantar pesanan makanan di lokasi demo di Jakarta (28/8/25). Peristiwa ini segera memicu gelombang protes nasional, bukan hanya karena hilangnya nyawa seorang anak bangsa, tapi juga karena respons negara terasa klise dan kosong.

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan belasungkawa dan janji mengawal proses hukum. Komisi III mendesak agar oknum Brimob ditindak tegas. Partai-partai politik berlomba terlihat peduli. Namun rakyat sudah hapal pola semacam ini: pernyataan manis, janji evaluasi, lalu senyap. Pada akhirnya, keluarga korban harus menanggung duka, sementara elite kembali sibuk dengan agenda politiknya.

Tragedi Affan menjadi simbol nyata betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di negeri ini. Ia tidak mati karena pilihan politiknya, bukan pula karena aksi melawan, melainkan hanya karena menjalankan profesinya. Namun kematiannya ditanggapi dengan bahasa birokratis yang kering, seakan lebih peduli pada citra daripada keadilan.

Dalam konteks inilah lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa kembali menohok. Bukan hanya tentang korupsi uang, tapi juga korupsi empati. Saat elite politik sibuk memainkan narasi, sementara rakyat kecil yang menjadi korban hanya dicatat sebagai ‘insiden’ yang akan dievaluasi.

Lagu Iwan Fals telah berusia lebih dari tiga dekade, tapi isinya sama sekali belum basi. Justru semakin segar, karena realitas politik kita tak kunjung berubah. “Tikus-tikus kantor” terus beranak-pinak, berganti wajah, berganti partai, berganti jargon, tapi tetap dengan pola yang sama: menggerogoti dari dalam, merampas yang bukan haknya, dan menutup telinga dari jeritan rakyat. Di satu sisi, lagu ini adalah karya seni yang jenius, simbolik, tajam, dan mudah diingat. Tapi di sisi lain, keabadiannya justru menyedihkan, karena ia abadi bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kenyataan yang terus berulang. Kita menyanyikannya bukan karena rindu masa lalu, melainkan karena masa kini masih persis sama.

Kasus Affan seharusnya menjadi momentum untuk menyadarkan DPR dan institusi negara bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan angka-angka atau prosedur semata, melainkan dengan nyawa manusia. Sayangnya, pola yang terjadi selalu berulang: rakyat marah, elite berjanji, lalu semua perlahan dilupakan. Mungkin inilah yang membuat lagu “Tikus-Tikus Kantor” terasa begitu pahit sekaligus nyata. Ia bukan sekadar musik, melainkan dokumen moral. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesadaran kritis, sejarah akan terus berulang: gedung DPR tetap megah, tikus-tikus tetap beranak pinak, dan rakyat tetap jadi korban.

DPR boleh saja memasang slogan “Berbenah untuk Rakyat” di gedungnya yang berkilau. Tapi di luar sana, rakyat justru membaca spanduk lain: “Tikus-Tikus Kantor Masih Hidup dan Sehat.” Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus bernyanyi lagu ini hanya sebagai pelampiasan kritik, atau menjadikannya pemicu untuk perubahan nyata? Apakah DPR akan terus sibuk mengatur citra, atau benar-benar membersihkan kandangnya sendiri dari tikus-tikus rakus yang terus menggerogoti bangsa?

Sampai hari itu tiba, “Tikus-Tikus Kantor” akan tetap menjadi lagu sepanjang masa yang sebenarnya, karena sejarah kita yang gagal berubah, dan elite yang gagal belajar. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Anti KorupsidemonstrasiDPRKorupsiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Next Post

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co