12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 3, 2025
in Esai
Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Potensi Generasi Muda Kintamani di Dunia Kerja/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

KINTAMANI Barat adalah kawasan yang kaya dengan lanskap indah, udara sejuk, dan kehidupan masyarakat yang hangat. Namun di balik itu, masih terselip sebuah pertanyaan besar: bagaimana wajah pendidikan kita hari ini, dan ke mana ia hendak kita bawa? Pertanyaan itu kerap datang diam-diam, seperti kabut yang turun menyisir bumi Kintamani di pagi hari—pelan, namun membuat kita harus menajamkan pandangan.

Pendidikan di Kintamani Barat sesungguhnya punya potensi besar untuk melahirkan generasi tangguh. Anak-anak di desa bukanlah anak-anak yang kurang pintar, mereka hanya kerap berhadapan dengan keterbatasan: akses sekolah yang jauh, fasilitas belajar yang seadanya, bahkan kesempatan melanjutkan pendidikan yang –oleh beberapa siswa kurang mampu– kadang harus kandas di tengah jalan karena urusan ekonomi. Ada pula siswa yang harus dibayarkan pakaian seragam oleh guru mereka karena kekurangmampuan orang tuanya. Pertanyaannya, apakah itu akan terus kita biarkan jadi kisah romantis belaka, atau kita ubah menjadi tantangan yang dijawab dengan solusi nyata?

Bersama Civitas SMPN 2 Kintamani/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

Tak bisa dipungkiri, pendidikan adalah tiket utama untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan. Namun, pendidikan yang kita jalankan sering kali masih sebatas rutinitas administratif. Kurikulum disusun, ujian dilaksanakan, raport dibagikan, tetapi adakah cukup ruang bagi anak-anak kita untuk bermimpi lebih jauh? Adakah sekolah yang betul-betul menumbuhkan keberanian mereka menghadapi dunia yang kian kompetitif, tanpa kehilangan akar budaya dan kearifan lokalnya?

Di sinilah pentingnya kita bicara soal pendidikan bukan hanya dalam ruang kelas, tapi juga di ruang publik. Pendidikan mestinya tidak berhenti di papan tulis, melainkan bergerak seiring denyut kehidupan masyarakat. Bayangkan jika potensi agraris Kintamani Barat bisa terintegrasi dalam kurikulum, atau jika pariwisata lokal menjadi laboratorium belajar siswa. Bukankah itu akan membuat sekolah lebih hidup, sekaligus memberi anak-anak kita alasan untuk bangga pada tanah kelahiran mereka?

Namun, tentu saja harapan tanpa keberanian melangkah hanyalah utopia. Pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, hingga tokoh masyarakat harus duduk satu meja. Pendidikan bukan sekadar urusan Dinas, tapi urusan semua pihak yang ingin melihat Kintamani Barat punya masa depan. Jika sekolah masih dipandang sekadar formalitas, maka kita sedang menyiapkan generasi yang pandai membaca buku, tetapi gagap membaca zaman.

Pelestarian Kearifan Lokal/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

Kintamani Barat tidak boleh puas hanya dengan cerita keindahan alam atau pesona wisata. Generasi mudanya harus dipersiapkan agar mampu menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan. Maka, catatan harapan ini sesungguhnya adalah ajakan: mari kita jadikan pendidikan sebagai gerakan bersama. Sebab tanpa pendidikan yang bermutu, semua potensi hanya akan menjadi pemandangan indah yang dinikmati orang luar, sementara anak-anak lokalan sendiri tercecer di belakang.

Diskusi kecil yang sempat saya lakukan Bersama civitas SMPN 2 Kintamani pada suatu siang menyisakan pertanyaan yang menggelitik: ke manakah anak-anak lulusan SMP di wilayah ini melanjutkan sekolah?

Kintamani Barat bukan wilayah kecil. Ada sembilan desa dinas yang menopang kehidupan masyarakat di sana. Sebuah angka yang besar untuk ukuran sebuah kecamatan. Namun, di tengah jumlah desa sebanyak itu, hanya ada satu SMP negeri: SMPN 2 Kintamani. Jumlah siswanya pun lumayan banyak. Maka, secara logika sederhana, lulusan SMP ini seharusnya menjadi “pemasok” utama ke jenjang pendidikan menengah di wilayah terdekat.

Tapi ironisnya, jumlah siswa yang melanjutkan ke SMKN 1 Kintamani—satu-satunya SMK negeri yang berada di kawasan itu—sangat sedikit. Lalu, pertanyaannya: apakah anak-anak ini berhenti sekolah setelah tamat SMP? Jawabannya: hampir tidak. Rata-rata masyarakat setempat menegaskan bahwa jarang sekali ada lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA atau SMK. Jika begitu, ke mana mereka pergi? Jawabannya tegas: keluar wilayah, bahkan ke kota.

“Nggak ke kota, nggak keren”

Ada pandangan yang sudah lama mengakar di masyarakat: melanjutkan sekolah ke kota itu lebih prestisius, lebih keren. Bahkan untuk sebagian kalangan, menyekolahkan anak di sekolah terdekat dianggap kelas dua. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah SMKN 1 Kintamani yang sudah berdiri sejak tahun 2004, tidak cukup keren? Padahal sekolah ini sudah melahirkan banyak lulusan, bahkan baru saja mendapat izin membuka jurusan perhotelan yang sangat relevan dengan denyut nadi pariwisata Kintamani.

Memang, SMKN 1 Kintamani punya keterbatasan: areal sekolahnya sempit. Tetapi, alasan lahan sempit tidak bisa dijadikan pembenar untuk berhenti berkembang. Pendidikan tidak boleh terjebak dalam kotak sempit tanah dan bangunan. Pendidikan sejatinya adalah ide besar: bagaimana menyiapkan anak-anak Kintamani agar mampu bersaing, baik di rumah sendiri maupun di panggung global.

Saatnya Berpikir Tidak Lazim

Dalam diskusi tadi siang, muncul sebuah ide yang cukup “liar”, tetapi justru terasa masuk akal: bagaimana kalau SMKN 1 Kintamani dikembangkan dengan sistem multi-lokasi? Gedung sekolah yang ada sekarang dijadikan kantor pusat, sedangkan jurusan-jurusan lain dikembangkan di lahan-lahan yang disediakan oleh desa-desa pendukung. Dengan begitu, sekolah tidak lagi terkurung oleh sempitnya lahan utama.

Apakah ide ini lazim? Tidak. Apakah ide ini realistis? Sangat mungkin. Sebab jika menunggu pemerintah membeli lahan, butuh waktu yang sangat lama—dan itu pun belum tentu berhasil, karena belum tentu ada warga yang mau menjual tanahnya. Maka, opsi membuka sayap ke desa-desa pendukung justru bisa menjadi terobosan. Apalagi ada sembilan desa yang bisa bersinergi.

Sinergi Desa untuk Pendidikan

Tentu, gagasan ini membutuhkan komitmen kuat dari para perbekel, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Pendidikan harus diletakkan sebagai investasi jangka panjang, bukan beban jangka pendek. Jika sembilan desa bersatu menyumbangkan sebagian asetnya untuk pengembangan SMKN 1 Kintamani, maka mereka sejatinya sedang menanam benih masa depan anak-anaknya sendiri.

Sekolah dengan sistem multi-lokasi juga punya kelebihan: jurusan bisa lebih fleksibel ditempatkan sesuai potensi wilayah. Jurusan pertanian bisa dikembangkan di desa yang punya lahan pertanian luas. Jurusan perhotelan bisa dikaitkan dengan desa wisata. Jurusan lain bisa tumbuh sesuai daya dukung desa. Dengan begitu, sekolah benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya berdiri di menara gading yang sempit.

Membalik Paradigma

Kini, tugas besar SMKN 1 Kintamani bukan hanya bertahan, tetapi membalik paradigma: bahwa sekolah di kampung bisa sama, bahkan lebih keren daripada sekolah di kota. Bahwa belajar dekat rumah bukanlah aib, melainkan kebanggaan karena langsung berakar pada tanah dan budaya sendiri.

Potensi Generasi Muda Kintamani di Dunia Kerja/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

Jika SMKN 1 Kintamani berhasil menempuh jalan ini, maka kisah “tidak keren” itu akan berubah menjadi kisah inspiratif: sekolah kecil di lahan sempit, yang berani memecah batas, bersinergi dengan desa, dan pada akhirnya menjadi pusat energi pendidikan di Kintamani Barat.

Akhirnya, soal pendidikan selalu kembali pada satu titik: masa depan. Dan masa depan Kintamani Barat, suka tidak suka, ditentukan oleh sejauh mana kita hari ini mau berani berinvestasi melalui berpikir, bersinergi dan membalik paradigma lekaziman untuk anak-anak kita. Jika mereka diberi kesempatan untuk belajar dengan baik, maka kelak merekalah yang akan menjaga, mengembangkan, bahkan mengangkat nama Kintamani Barat jauh lebih tinggi dari yang kita bayangkan. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA
Tags: BangliKintamaniPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Next Post

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co