23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
September 3, 2025
in Esai
Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Potensi Generasi Muda Kintamani di Dunia Kerja/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

KINTAMANI Barat adalah kawasan yang kaya dengan lanskap indah, udara sejuk, dan kehidupan masyarakat yang hangat. Namun di balik itu, masih terselip sebuah pertanyaan besar: bagaimana wajah pendidikan kita hari ini, dan ke mana ia hendak kita bawa? Pertanyaan itu kerap datang diam-diam, seperti kabut yang turun menyisir bumi Kintamani di pagi hari—pelan, namun membuat kita harus menajamkan pandangan.

Pendidikan di Kintamani Barat sesungguhnya punya potensi besar untuk melahirkan generasi tangguh. Anak-anak di desa bukanlah anak-anak yang kurang pintar, mereka hanya kerap berhadapan dengan keterbatasan: akses sekolah yang jauh, fasilitas belajar yang seadanya, bahkan kesempatan melanjutkan pendidikan yang –oleh beberapa siswa kurang mampu– kadang harus kandas di tengah jalan karena urusan ekonomi. Ada pula siswa yang harus dibayarkan pakaian seragam oleh guru mereka karena kekurangmampuan orang tuanya. Pertanyaannya, apakah itu akan terus kita biarkan jadi kisah romantis belaka, atau kita ubah menjadi tantangan yang dijawab dengan solusi nyata?

Bersama Civitas SMPN 2 Kintamani/Foto: Dok. SMKN 1 Kintamani

Tak bisa dipungkiri, pendidikan adalah tiket utama untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan keterbelakangan. Namun, pendidikan yang kita jalankan sering kali masih sebatas rutinitas administratif. Kurikulum disusun, ujian dilaksanakan, raport dibagikan, tetapi adakah cukup ruang bagi anak-anak kita untuk bermimpi lebih jauh? Adakah sekolah yang betul-betul menumbuhkan keberanian mereka menghadapi dunia yang kian kompetitif, tanpa kehilangan akar budaya dan kearifan lokalnya?

Di sinilah pentingnya kita bicara soal pendidikan bukan hanya dalam ruang kelas, tapi juga di ruang publik. Pendidikan mestinya tidak berhenti di papan tulis, melainkan bergerak seiring denyut kehidupan masyarakat. Bayangkan jika potensi agraris Kintamani Barat bisa terintegrasi dalam kurikulum, atau jika pariwisata lokal menjadi laboratorium belajar siswa. Bukankah itu akan membuat sekolah lebih hidup, sekaligus memberi anak-anak kita alasan untuk bangga pada tanah kelahiran mereka?

Namun, tentu saja harapan tanpa keberanian melangkah hanyalah utopia. Pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, hingga tokoh masyarakat harus duduk satu meja. Pendidikan bukan sekadar urusan Dinas, tapi urusan semua pihak yang ingin melihat Kintamani Barat punya masa depan. Jika sekolah masih dipandang sekadar formalitas, maka kita sedang menyiapkan generasi yang pandai membaca buku, tetapi gagap membaca zaman.

Pelestarian Kearifan Lokal/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

Kintamani Barat tidak boleh puas hanya dengan cerita keindahan alam atau pesona wisata. Generasi mudanya harus dipersiapkan agar mampu menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan. Maka, catatan harapan ini sesungguhnya adalah ajakan: mari kita jadikan pendidikan sebagai gerakan bersama. Sebab tanpa pendidikan yang bermutu, semua potensi hanya akan menjadi pemandangan indah yang dinikmati orang luar, sementara anak-anak lokalan sendiri tercecer di belakang.

Diskusi kecil yang sempat saya lakukan Bersama civitas SMPN 2 Kintamani pada suatu siang menyisakan pertanyaan yang menggelitik: ke manakah anak-anak lulusan SMP di wilayah ini melanjutkan sekolah?

Kintamani Barat bukan wilayah kecil. Ada sembilan desa dinas yang menopang kehidupan masyarakat di sana. Sebuah angka yang besar untuk ukuran sebuah kecamatan. Namun, di tengah jumlah desa sebanyak itu, hanya ada satu SMP negeri: SMPN 2 Kintamani. Jumlah siswanya pun lumayan banyak. Maka, secara logika sederhana, lulusan SMP ini seharusnya menjadi “pemasok” utama ke jenjang pendidikan menengah di wilayah terdekat.

Tapi ironisnya, jumlah siswa yang melanjutkan ke SMKN 1 Kintamani—satu-satunya SMK negeri yang berada di kawasan itu—sangat sedikit. Lalu, pertanyaannya: apakah anak-anak ini berhenti sekolah setelah tamat SMP? Jawabannya: hampir tidak. Rata-rata masyarakat setempat menegaskan bahwa jarang sekali ada lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA atau SMK. Jika begitu, ke mana mereka pergi? Jawabannya tegas: keluar wilayah, bahkan ke kota.

“Nggak ke kota, nggak keren”

Ada pandangan yang sudah lama mengakar di masyarakat: melanjutkan sekolah ke kota itu lebih prestisius, lebih keren. Bahkan untuk sebagian kalangan, menyekolahkan anak di sekolah terdekat dianggap kelas dua. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah SMKN 1 Kintamani yang sudah berdiri sejak tahun 2004, tidak cukup keren? Padahal sekolah ini sudah melahirkan banyak lulusan, bahkan baru saja mendapat izin membuka jurusan perhotelan yang sangat relevan dengan denyut nadi pariwisata Kintamani.

Memang, SMKN 1 Kintamani punya keterbatasan: areal sekolahnya sempit. Tetapi, alasan lahan sempit tidak bisa dijadikan pembenar untuk berhenti berkembang. Pendidikan tidak boleh terjebak dalam kotak sempit tanah dan bangunan. Pendidikan sejatinya adalah ide besar: bagaimana menyiapkan anak-anak Kintamani agar mampu bersaing, baik di rumah sendiri maupun di panggung global.

Saatnya Berpikir Tidak Lazim

Dalam diskusi tadi siang, muncul sebuah ide yang cukup “liar”, tetapi justru terasa masuk akal: bagaimana kalau SMKN 1 Kintamani dikembangkan dengan sistem multi-lokasi? Gedung sekolah yang ada sekarang dijadikan kantor pusat, sedangkan jurusan-jurusan lain dikembangkan di lahan-lahan yang disediakan oleh desa-desa pendukung. Dengan begitu, sekolah tidak lagi terkurung oleh sempitnya lahan utama.

Apakah ide ini lazim? Tidak. Apakah ide ini realistis? Sangat mungkin. Sebab jika menunggu pemerintah membeli lahan, butuh waktu yang sangat lama—dan itu pun belum tentu berhasil, karena belum tentu ada warga yang mau menjual tanahnya. Maka, opsi membuka sayap ke desa-desa pendukung justru bisa menjadi terobosan. Apalagi ada sembilan desa yang bisa bersinergi.

Sinergi Desa untuk Pendidikan

Tentu, gagasan ini membutuhkan komitmen kuat dari para perbekel, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Pendidikan harus diletakkan sebagai investasi jangka panjang, bukan beban jangka pendek. Jika sembilan desa bersatu menyumbangkan sebagian asetnya untuk pengembangan SMKN 1 Kintamani, maka mereka sejatinya sedang menanam benih masa depan anak-anaknya sendiri.

Sekolah dengan sistem multi-lokasi juga punya kelebihan: jurusan bisa lebih fleksibel ditempatkan sesuai potensi wilayah. Jurusan pertanian bisa dikembangkan di desa yang punya lahan pertanian luas. Jurusan perhotelan bisa dikaitkan dengan desa wisata. Jurusan lain bisa tumbuh sesuai daya dukung desa. Dengan begitu, sekolah benar-benar hadir di tengah masyarakat, bukan hanya berdiri di menara gading yang sempit.

Membalik Paradigma

Kini, tugas besar SMKN 1 Kintamani bukan hanya bertahan, tetapi membalik paradigma: bahwa sekolah di kampung bisa sama, bahkan lebih keren daripada sekolah di kota. Bahwa belajar dekat rumah bukanlah aib, melainkan kebanggaan karena langsung berakar pada tanah dan budaya sendiri.

Potensi Generasi Muda Kintamani di Dunia Kerja/Foto Dok. SMKN 1 Kintamani

Jika SMKN 1 Kintamani berhasil menempuh jalan ini, maka kisah “tidak keren” itu akan berubah menjadi kisah inspiratif: sekolah kecil di lahan sempit, yang berani memecah batas, bersinergi dengan desa, dan pada akhirnya menjadi pusat energi pendidikan di Kintamani Barat.

Akhirnya, soal pendidikan selalu kembali pada satu titik: masa depan. Dan masa depan Kintamani Barat, suka tidak suka, ditentukan oleh sejauh mana kita hari ini mau berani berinvestasi melalui berpikir, bersinergi dan membalik paradigma lekaziman untuk anak-anak kita. Jika mereka diberi kesempatan untuk belajar dengan baik, maka kelak merekalah yang akan menjaga, mengembangkan, bahkan mengangkat nama Kintamani Barat jauh lebih tinggi dari yang kita bayangkan. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA
Tags: BangliKintamaniPendidikanSMKN 1 Kintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Next Post

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co