4 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Son Lomri by Son Lomri
September 2, 2025
in Khas
Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Tim asesor Kementerian Pariwisata di Desa Les, Buleleng, Bali

TITIK-GARIS pariwisata Desa Les, adalah paralel. Dan Nyoman Nadiana menyebut titik-garis itu, adalah segara-gunung, laut dan gunung. Selatan untuk gunung dan utara untuk laut, saling berhadapan.

Titik sebagai wisata. Garis sebagai jalan—menuju titik wisata, jaraknya tidak terlalu jauh.

“Apa yang saudara dan saudari cari? Semua ada di Les. Sepanjang sesuai dengan kealamian kehidupan desa kami,” kata Nyoman Nadiana, Ketua Pengelola Desa Wisata Les ketika materi tentang Desa Wisata Les di acara Asesmen Lapangan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025 di Gedung Serba Guna, Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin, 1 September 2025.

Sebagai Desa Wisata yang pernah menyabet Anugerah Desa Wisata Terbaik 2024 , kini Desa Les tinggal melakukan asesmen lapangan untuk Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025.

Nyoman Nadiana | Foto: tatkala.co/Rusdy

Dan, dalam acara itu, seluk-beluk Desa Les dipaparkan Nyoman Nadiana secara jujur, yang dihadiri langsung oleh tim ssesor dari Kementerian Pariwisata RI. Tim itu datang, tentu saja, untuk membuktikan apakah paparan Nyoman Nadiana itu benar adanya.

Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc., Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., PhD., IPM, dan Reagan Brian, S.ST., M.M, hadir dalam acara itu sebagai tim penilai.

Mereka datang untuk memastikan fakta secara dokumentasi, dan data—observasi secara langsung.

Untuk melihat Desa Les dari ketinggian, Nyoman Nadiana perlihatkan kemolekan Desa Les di hadapan mereka dengan video, dengan visual bergerak.

Tim Asesor: Reagan Brian, S.ST., M.M, Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc, dan Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD, IPM. | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Video berdurasi 5:17 menit itu, setidaknya telah menampilkan bagaimana Desa Les secara utuh. Yang juga disaksikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kepala Dina Pariwisata Kabupaten Buleleng, Camat Tejakula, Tokoh Masyarakat, hingga mahasiswa.

Tampak lautnya biru. Terumbu-karangnya subur dan ikan-ikan berenang sehat di kedalaman. Air terjunnya segar di sela tebing batu-batu dan pohonan hijau.

Di bibir pantai, sore hari jukung-jukung terlihat memarkir. Pagi hari, nelayan pergi melaut. Menunggu ikan beberapa warga yang lain bertani garam, ada juga yang berdagang di pasar—menjual garam dan ikan, juga kuliner.

Tradisi mengalir seperti laut biru terumbu-karang yang hidup. Anak-anak menari. Tetabuhan menggema. Gotong royong soal adat, masyarakat terasa intim terlihat di video itu.

“Maka dari itu, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) kami adalah Pokdarwis Segara Gunung. Jadi, kita punya laut, kita punya bukit seperti itu,” kata Nyoman Nadiana saat presentasi di hadapan tim asesor.

Desa Les, Melek Wisata Sadar Budaya

Warga Desa Les merupakan keturunan Bali Aga (Bali tua). Sebagian besar di antara mereka, berprofesi sebagai pedagang, petani garam, nelayan dan pengrajin—yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Sesi wawancara Tim Asesor dengan Stakeholder| Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Secara administratif, Desa Les termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tejakula, dan terbagi menjadi 9 Banjar Dinas. Lutian, Kanian, Panjingan, Tegal Linggah, Selonding, Kawanan, Lempedu, Tubuh dan Penyembah.

Dan tiga aktivitas utama yang menjadi package Desa Les sebagai wisata berkelanjutan, telah dilakukan masyarakat itu dengan kompak.

Pertama, mereka melakukan aktivitas wisata juga sekaligus sebagai paket wisata budaya, memperkenalkan budaya lokal, termasuk kuliner. Kedua, paket wisata alam. Dan ketiga, paket wisata edukasi; tentang alam dan budaya.

Tiga paket itu yang menjadi andalan warga Desa Les untuk menjadikannya lebih regeneratif. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara saat sambutan, Buleleng telah mengusung konsep pengembangan tourism ekowisata, dan Desa Les sudah melakukannya.

“Karena topografi kita kemiringannya tinggi, berbukit, kemudian panjang pantai ya 157,05 km, potensi hutannya juga luar biasa. Sehingga dari tiga hal yang mencakup pengembangan pariwisata itu, Desa Les juga miliki,” kata Gede Dodi Sukma.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Dody melihat Desa Les sudah melakukan konservasi terhadap alam, konservasi terhadap budaya sebagai langkah regenerative tourism.

Selepas penyampaian materi, penyerahan dokumen fisik, dan wawancara—yang lebih intim antara tim asesor dengan stakeholder. Perbekel Desa Les I Gede Adi Wistara menunjukkan beberapa titik—yang disebut keberlanjutan itu, di antaranya; Tempat Penolahan Sampah Terpadu (TPST), Integrated Farming, Kantor Bumdes Desa Les, Ladang garam Desa Les, Kura-kura Home Stay, dan Air Terjun Yeh Mampeh.

“Jadi kami dari pihak pemerintah desa dan juga pengelola Desa Wisata, memberikan jawaban atau bukti atau fakta dokumen-dokumen yang memang menyatakan Desa Les ini layak mendapatkan sertifikasi asesmen, sebagai Desa Wisata berkelanjutan,” kata I Gede Adi Wistara.  

Siang itu, Desa Les tampak menampilkan apa adanya untuk dinilai. Tidak ada yang dilebih-lebihkan. Semuanya ditampilkan secara jujur.

Tim asesor diajak pergi ke TPST, untuk melihat secara langsung bagaimana sampah organik-anorganik itu diolah.

Magot | Foto: tatkala.co/Son

Jarak dari Gedung Serba Guna ke TPST itu hanya perlu membuang waktu lima menit. Lurus-berbelok jalannya. Di pintu masuk TPST, terlihat sampah anorganik menggunduk. Tiga langkah dari gundukan itu, terdapat beberapa tempat untuk memilah—jenis sampah.

Di ujung TPST, atau lima langkah dari ruang tempat penyimpanan produk dan mesin, ada kandang magot. Tim asesor diajak ke kandang magot yang ditutup jaring warna hitam berukuran 1×4 meter.

“Magot di sini makan sampah organik. Nanti magotnya yang sudah jadi, dia jadi pakan ikan lele,” kata Ketut Agus Winaya, Ketua Bumdes Desa Les, saat menjelaskan tentang TPST.

Selain magot, Ketut Agus Winaya juga menunjukkan produk pupuk kompos atau organik yang sudah dicampur antara tai kambing, daun-daun, juga sampah organik lainnya. Nama produknya Les Grow dengan netto 10 kg.

Bergeser tiga langkah kaki dari kandang magot, terdapat sebuah mesin—pengolah plastik menjadi sesuatu.

“Ini mesin untuk melelehkan plastik yang sudah dicacah. Hasil lelehannya kami jadikan—bisa gantungan kunci, dan piring,” kata Agus Wisnaya.

Namun Ketut Agus Winaya menyayangkan, mesin itu tidak bisa digunakan untuk produksi jumlah banyak. Hanya bisa digunakan sebagai alat untuk workshop, karena mesinnya kecil.

Perkebunan Organik, dan Produk yang Sehat

Di belakang TPST, terdapat sebuah integrated farming seluas 15 are. Tim asesor diajak untuk melihat-lihat kesehatan kebun yang tumbuh pohon-pohon dan sayur mayur dan bunga-bunga secara organik.

Di pintu masuk, mereka sudah disambut kandang-kandang trigona. Lebah yang menghasilkan madu dengan rasa agak asam.

“Itu kandang lebah trigona. Kami pelihara, karena mereka hewan yang sensitif terhadap kimia. Artinya, ketika mereka hidup, menandakan kebun ini sehat. Tidak ada bahan kimia,” kata Ketut Agus Winaya.

Tim asesor di ladang garam | Foto: tatkala.co/Son

Terdapat 30 kandang trigona masih aktif. Yang nantinya mereka hidup dari hasil menyedot sari putik-putik bunga yang tumbuh di kebun itu.

Sementara kolam lele jumlahnya ada 7, dengan ukuran 3×4 meter. Lele-lele itu diternak diberi makan magot-magot.

Kebun itu dipenuhi bunga dan sayuran. Dengan ekosistem yang sehat, bahkan, kesehatannya pun dikontrol secara langsung oleh lebah trigona. Setiap tumbuhan diberikan barcode, untuk dikenali jenis tumbuhan apa—sebagai edukasi.

Antara TPST dan kebun, terkonsep dengan baik. Menciptakan siklus kehidupan yang sehat. Bahkan, secara produksi, pun memiliki hilir bisnis yang konkrit.

Di Bumdes, seperti sebuah toko, madu trigona terbungkus dengan apik dipasarkan di sana. Begitupan dengan garam les, dan beberapa kerajinan tangan juga terlihat terpampang—dijual, termasuk gantungan kunci.

Ketika datang secara langsung ke Bumdes, tim asesor pun terpincut membeli beberapa produk, yaitu madu trigona, dan garam les sebagai oleh-oleh ketika pulang nanti.

“Bungkus, ya, satu, saya mau beli madunya,” kata Prof. Winda Marcedes Mingkid ketika datang langsung ke Bumdes selepas dari kebun.

Perbekel Desa Les Adi Wistara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Selepas melihat trigona menghasilkan madu, mereka pun berlanjut melihat ladang garam masyarakat di pantai. Di tempat pemroduksian garam khas les, masyrakat punya gubuk tersendiri dengan nama Gudang Garam.

“Ini baru Gudang Garam asli. Ada garamnya bukan rokok,” kata Nyoman Nadiana humor. Mereka pun tertawa.

Gudang—atau yang terlihat seperti sebuah gubuk itu, menjadi tempat penyimpanan garam. Terlihat beberapa karung garam sudah siap angkut. Sekitar 58 kg garam dipanen setiap minggunya.

Garam itu digarap-diolah secara manual oleh para petani, secara tradisional. Ada 25 lahan garam milik warga. Beberapa petani mengolah-memasarkan sendiri hasil panennya. Dan beberapa petani lainnya, juga ada yang berkolaborasi dengan Bumdes soal pemasarannya.

Kemudian melihat laut biru di ladang garam, maupun saat pergi langsung ke Kura-kura Home Stay—yang jaraknya sekitar dua ratus meter itu dari ladang garam, lebih terasa birunya saat datang langsung dari pada sekadar menikmati visual bergerak melalui video.

Tim asesor diberi pejelasan tentang proses pembuatan garam | Foto: tatkala.co/Rusdy

Begitupun dengan kesejukan Air Terjun Yeh Mampeh. Prof. Winda menjelaskan Desa Wisata Les lumayan baik, hanya butuh beberapa penyempurnaan.

“Tinggal bagaimana air di sana, itu dicarikan datanya. Agar pengunjung bisa tahu, apakah air itu bisa diminum atau tidak,“ kata Prof. Winda.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan walaupun sebenarnya air itu bisa diminum. Tapi penting data-kandungan apa saja di dalam air itu, mesti dicek dilaboratorium. Agar satu waktu ketika ada pengunjung yang sakit perut karena minum air itu, bisa tunjukan data secara jelas.

“Karena kita tidak tahu, dia sakit perut karena apa, barangkali karena dia sudah makan yang pedes-pedes, bukan karena air itu. Sehingga ini untuk jaga-jaga,” lanjutnya agar Desa Wisata Les selalu safety, dan semakin layak mendapatkan sertifikat. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Lesdesa wisatakementerian pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 11 Digelar 12–19 September: 254 Film Pendek, 59 Negara, 34 Program

Next Post

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 3, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja
Khas

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

by Gading Ganesha
May 2, 2026
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?
Opini

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi
Esai

Seremoni Hardiknas dan Krisis Literasi

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) semestinya tidak terjebak pada rutinitas seremonial yang berulang dan kehilangan makna. Ia perlu dimaknai sebagai...

by Ahmad Fatoni
May 2, 2026
Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026
Pendidikan

Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Torehkan Prestasi di Ajang Confident 2026

SUASANA semarak terasa di ajang Confident 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar (STAID) pada 26 April 2026. Kegiatan...

by Dede Putra Wiguna
May 2, 2026
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi
Esai

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Kejadian sekelompok siswi SMA di Purwakarta, Jawa Barat yang merundung gurunya sendiri itu benar-benar tidak manusiawi. Maksudnya, hati siapa yang...

by Dodik Suprayogi
May 2, 2026
Guru Profesional Bekerja Proporsional
Esai

Guru Profesional Bekerja Proporsional

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan...

by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam
Esai

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Di Bali, saya jarang benar-benar melihat orang menganggur. Bahkan ketika tidak ada pekerjaan tetap, selalu saja ada yang dikerjakan. Menyapu...

by Angga Wijaya
May 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co