2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Son Lomri by Son Lomri
September 2, 2025
in Khas
Mengamati Titik-Garis Paralel Wisata Desa Les, Sembari Menunggu Sertifikat Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan 2025

Tim asesor Kementerian Pariwisata di Desa Les, Buleleng, Bali

TITIK-GARIS pariwisata Desa Les, adalah paralel. Dan Nyoman Nadiana menyebut titik-garis itu, adalah segara-gunung, laut dan gunung. Selatan untuk gunung dan utara untuk laut, saling berhadapan.

Titik sebagai wisata. Garis sebagai jalan—menuju titik wisata, jaraknya tidak terlalu jauh.

“Apa yang saudara dan saudari cari? Semua ada di Les. Sepanjang sesuai dengan kealamian kehidupan desa kami,” kata Nyoman Nadiana, Ketua Pengelola Desa Wisata Les ketika materi tentang Desa Wisata Les di acara Asesmen Lapangan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025 di Gedung Serba Guna, Desa Les, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin, 1 September 2025.

Sebagai Desa Wisata yang pernah menyabet Anugerah Desa Wisata Terbaik 2024 , kini Desa Les tinggal melakukan asesmen lapangan untuk Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Tahun 2025.

Nyoman Nadiana | Foto: tatkala.co/Rusdy

Dan, dalam acara itu, seluk-beluk Desa Les dipaparkan Nyoman Nadiana secara jujur, yang dihadiri langsung oleh tim ssesor dari Kementerian Pariwisata RI. Tim itu datang, tentu saja, untuk membuktikan apakah paparan Nyoman Nadiana itu benar adanya.

Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc., Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc., PhD., IPM, dan Reagan Brian, S.ST., M.M, hadir dalam acara itu sebagai tim penilai.

Mereka datang untuk memastikan fakta secara dokumentasi, dan data—observasi secara langsung.

Untuk melihat Desa Les dari ketinggian, Nyoman Nadiana perlihatkan kemolekan Desa Les di hadapan mereka dengan video, dengan visual bergerak.

Tim Asesor: Reagan Brian, S.ST., M.M, Prof. Winda Marcedes Mingkid, M.Mar.Sc, dan Prof. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD, IPM. | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Video berdurasi 5:17 menit itu, setidaknya telah menampilkan bagaimana Desa Les secara utuh. Yang juga disaksikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kepala Dina Pariwisata Kabupaten Buleleng, Camat Tejakula, Tokoh Masyarakat, hingga mahasiswa.

Tampak lautnya biru. Terumbu-karangnya subur dan ikan-ikan berenang sehat di kedalaman. Air terjunnya segar di sela tebing batu-batu dan pohonan hijau.

Di bibir pantai, sore hari jukung-jukung terlihat memarkir. Pagi hari, nelayan pergi melaut. Menunggu ikan beberapa warga yang lain bertani garam, ada juga yang berdagang di pasar—menjual garam dan ikan, juga kuliner.

Tradisi mengalir seperti laut biru terumbu-karang yang hidup. Anak-anak menari. Tetabuhan menggema. Gotong royong soal adat, masyarakat terasa intim terlihat di video itu.

“Maka dari itu, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) kami adalah Pokdarwis Segara Gunung. Jadi, kita punya laut, kita punya bukit seperti itu,” kata Nyoman Nadiana saat presentasi di hadapan tim asesor.

Desa Les, Melek Wisata Sadar Budaya

Warga Desa Les merupakan keturunan Bali Aga (Bali tua). Sebagian besar di antara mereka, berprofesi sebagai pedagang, petani garam, nelayan dan pengrajin—yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Sesi wawancara Tim Asesor dengan Stakeholder| Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Secara administratif, Desa Les termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tejakula, dan terbagi menjadi 9 Banjar Dinas. Lutian, Kanian, Panjingan, Tegal Linggah, Selonding, Kawanan, Lempedu, Tubuh dan Penyembah.

Dan tiga aktivitas utama yang menjadi package Desa Les sebagai wisata berkelanjutan, telah dilakukan masyarakat itu dengan kompak.

Pertama, mereka melakukan aktivitas wisata juga sekaligus sebagai paket wisata budaya, memperkenalkan budaya lokal, termasuk kuliner. Kedua, paket wisata alam. Dan ketiga, paket wisata edukasi; tentang alam dan budaya.

Tiga paket itu yang menjadi andalan warga Desa Les untuk menjadikannya lebih regeneratif. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara saat sambutan, Buleleng telah mengusung konsep pengembangan tourism ekowisata, dan Desa Les sudah melakukannya.

“Karena topografi kita kemiringannya tinggi, berbukit, kemudian panjang pantai ya 157,05 km, potensi hutannya juga luar biasa. Sehingga dari tiga hal yang mencakup pengembangan pariwisata itu, Desa Les juga miliki,” kata Gede Dodi Sukma.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Dody melihat Desa Les sudah melakukan konservasi terhadap alam, konservasi terhadap budaya sebagai langkah regenerative tourism.

Selepas penyampaian materi, penyerahan dokumen fisik, dan wawancara—yang lebih intim antara tim asesor dengan stakeholder. Perbekel Desa Les I Gede Adi Wistara menunjukkan beberapa titik—yang disebut keberlanjutan itu, di antaranya; Tempat Penolahan Sampah Terpadu (TPST), Integrated Farming, Kantor Bumdes Desa Les, Ladang garam Desa Les, Kura-kura Home Stay, dan Air Terjun Yeh Mampeh.

“Jadi kami dari pihak pemerintah desa dan juga pengelola Desa Wisata, memberikan jawaban atau bukti atau fakta dokumen-dokumen yang memang menyatakan Desa Les ini layak mendapatkan sertifikasi asesmen, sebagai Desa Wisata berkelanjutan,” kata I Gede Adi Wistara.  

Siang itu, Desa Les tampak menampilkan apa adanya untuk dinilai. Tidak ada yang dilebih-lebihkan. Semuanya ditampilkan secara jujur.

Tim asesor diajak pergi ke TPST, untuk melihat secara langsung bagaimana sampah organik-anorganik itu diolah.

Magot | Foto: tatkala.co/Son

Jarak dari Gedung Serba Guna ke TPST itu hanya perlu membuang waktu lima menit. Lurus-berbelok jalannya. Di pintu masuk TPST, terlihat sampah anorganik menggunduk. Tiga langkah dari gundukan itu, terdapat beberapa tempat untuk memilah—jenis sampah.

Di ujung TPST, atau lima langkah dari ruang tempat penyimpanan produk dan mesin, ada kandang magot. Tim asesor diajak ke kandang magot yang ditutup jaring warna hitam berukuran 1×4 meter.

“Magot di sini makan sampah organik. Nanti magotnya yang sudah jadi, dia jadi pakan ikan lele,” kata Ketut Agus Winaya, Ketua Bumdes Desa Les, saat menjelaskan tentang TPST.

Selain magot, Ketut Agus Winaya juga menunjukkan produk pupuk kompos atau organik yang sudah dicampur antara tai kambing, daun-daun, juga sampah organik lainnya. Nama produknya Les Grow dengan netto 10 kg.

Bergeser tiga langkah kaki dari kandang magot, terdapat sebuah mesin—pengolah plastik menjadi sesuatu.

“Ini mesin untuk melelehkan plastik yang sudah dicacah. Hasil lelehannya kami jadikan—bisa gantungan kunci, dan piring,” kata Agus Wisnaya.

Namun Ketut Agus Winaya menyayangkan, mesin itu tidak bisa digunakan untuk produksi jumlah banyak. Hanya bisa digunakan sebagai alat untuk workshop, karena mesinnya kecil.

Perkebunan Organik, dan Produk yang Sehat

Di belakang TPST, terdapat sebuah integrated farming seluas 15 are. Tim asesor diajak untuk melihat-lihat kesehatan kebun yang tumbuh pohon-pohon dan sayur mayur dan bunga-bunga secara organik.

Di pintu masuk, mereka sudah disambut kandang-kandang trigona. Lebah yang menghasilkan madu dengan rasa agak asam.

“Itu kandang lebah trigona. Kami pelihara, karena mereka hewan yang sensitif terhadap kimia. Artinya, ketika mereka hidup, menandakan kebun ini sehat. Tidak ada bahan kimia,” kata Ketut Agus Winaya.

Tim asesor di ladang garam | Foto: tatkala.co/Son

Terdapat 30 kandang trigona masih aktif. Yang nantinya mereka hidup dari hasil menyedot sari putik-putik bunga yang tumbuh di kebun itu.

Sementara kolam lele jumlahnya ada 7, dengan ukuran 3×4 meter. Lele-lele itu diternak diberi makan magot-magot.

Kebun itu dipenuhi bunga dan sayuran. Dengan ekosistem yang sehat, bahkan, kesehatannya pun dikontrol secara langsung oleh lebah trigona. Setiap tumbuhan diberikan barcode, untuk dikenali jenis tumbuhan apa—sebagai edukasi.

Antara TPST dan kebun, terkonsep dengan baik. Menciptakan siklus kehidupan yang sehat. Bahkan, secara produksi, pun memiliki hilir bisnis yang konkrit.

Di Bumdes, seperti sebuah toko, madu trigona terbungkus dengan apik dipasarkan di sana. Begitupan dengan garam les, dan beberapa kerajinan tangan juga terlihat terpampang—dijual, termasuk gantungan kunci.

Ketika datang secara langsung ke Bumdes, tim asesor pun terpincut membeli beberapa produk, yaitu madu trigona, dan garam les sebagai oleh-oleh ketika pulang nanti.

“Bungkus, ya, satu, saya mau beli madunya,” kata Prof. Winda Marcedes Mingkid ketika datang langsung ke Bumdes selepas dari kebun.

Perbekel Desa Les Adi Wistara | Foto: tatkala.co/Rusdy Ulu

Selepas melihat trigona menghasilkan madu, mereka pun berlanjut melihat ladang garam masyarakat di pantai. Di tempat pemroduksian garam khas les, masyrakat punya gubuk tersendiri dengan nama Gudang Garam.

“Ini baru Gudang Garam asli. Ada garamnya bukan rokok,” kata Nyoman Nadiana humor. Mereka pun tertawa.

Gudang—atau yang terlihat seperti sebuah gubuk itu, menjadi tempat penyimpanan garam. Terlihat beberapa karung garam sudah siap angkut. Sekitar 58 kg garam dipanen setiap minggunya.

Garam itu digarap-diolah secara manual oleh para petani, secara tradisional. Ada 25 lahan garam milik warga. Beberapa petani mengolah-memasarkan sendiri hasil panennya. Dan beberapa petani lainnya, juga ada yang berkolaborasi dengan Bumdes soal pemasarannya.

Kemudian melihat laut biru di ladang garam, maupun saat pergi langsung ke Kura-kura Home Stay—yang jaraknya sekitar dua ratus meter itu dari ladang garam, lebih terasa birunya saat datang langsung dari pada sekadar menikmati visual bergerak melalui video.

Tim asesor diberi pejelasan tentang proses pembuatan garam | Foto: tatkala.co/Rusdy

Begitupun dengan kesejukan Air Terjun Yeh Mampeh. Prof. Winda menjelaskan Desa Wisata Les lumayan baik, hanya butuh beberapa penyempurnaan.

“Tinggal bagaimana air di sana, itu dicarikan datanya. Agar pengunjung bisa tahu, apakah air itu bisa diminum atau tidak,“ kata Prof. Winda.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan walaupun sebenarnya air itu bisa diminum. Tapi penting data-kandungan apa saja di dalam air itu, mesti dicek dilaboratorium. Agar satu waktu ketika ada pengunjung yang sakit perut karena minum air itu, bisa tunjukan data secara jelas.

“Karena kita tidak tahu, dia sakit perut karena apa, barangkali karena dia sudah makan yang pedes-pedes, bukan karena air itu. Sehingga ini untuk jaga-jaga,” lanjutnya agar Desa Wisata Les selalu safety, dan semakin layak mendapatkan sertifikat. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Lesdesa wisatakementerian pariwisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 11 Digelar 12–19 September: 254 Film Pendek, 59 Negara, 34 Program

Next Post

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Catatan Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Kintamani Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co