12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 8, 2025
in Esai
Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

APA yang membuat seseorang selalu rindu rumah meski ia sudah hidup bertahun-tahun di perantauan? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang psikiater muda di Bali dr. Krisna Aji, Sp.KJ saat kami berbincang santai pada Minggu (7/9/2025). Ia tersenyum lalu menjelaskan “Psikis manusia pertama kali terbentuk dari rumah. Dari figur ibu. Dari perasaan aman yang muncul saat bayi menempelkan mulut pada puting susu. Itu fase oral dalam teori Freud atau trust vs. mistrust dalam teori psikososial Erik Erikson.”

Penjelasan itu membuat saya merenung. Rumah rupanya bukan hanya soal bangunan atau alamat di KTP. Rumah adalah ruang pertama yang memberi rasa aman. Dari rumah, lingkungan, lalu melebar; ayah, saudara, halaman tempat bermain, sekolah, sampai masyarakat luas. Tapi fondasi awal tetap sama rasa aman yang seharusnya kita dapatkan di rumah.

Namun seperti yang diingatkan Krisna Aji “Pertemuan manusia dengan lingkungannya tidak selalu harmonis. Ada tabrakan kepentingan yang bisa melukai psikis. Tekanan itu kadang datang justru dari lingkungan terkecil, yakni rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi berat. Sebab tak semua orang tumbuh dalam rumah yang penuh kenyamanan. Ada rumah yang menjadi sumber trauma. Ada pula rumah yang tak pernah memberi rasa pulang.

Pulang Sebagai Terapi

Saya teringat pada para perantau yang berebut tiket mudik setiap kali Lebaran atau libur panjang. Bukan hanya untuk berjumpa keluarga melainkan juga untuk mengisi ulang energi batin. Di rumah mereka boleh kembali menjadi diri sendiri tanpa topeng yang sehari-hari dipakai di kota.

“Rasa aman di rumah itu berbeda dengan kewaspadaan yang terus kita bawa saat di perantauan” kata Krisna Aji. Pulang dengan demikian adalah semacam terapi. Sebuah proses kembali ke asal untuk menenangkan diri setelah lelah berhadapan dengan dunia luar.

Saya sendiri sebagai orang yang lama merantau selalu merasakan perbedaan itu. Di kota setiap langkah seolah penuh kalkulasi, bagaimana membayar sewa, bagaimana menjaga relasi kerja, bagaimana menata diri agar tetap bisa bersaing. Tapi, begitu kembali ke kampung halaman ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Meski rumah sederhana, ia selalu berhasil menghapus sedikit demi sedikit kegelisahan.

Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada orang yang justru enggan pulang karena rumah baginya identik dengan luka. Entah karena konflik dengan orang tua,pola asuh yang keras, atau pengalaman masa kecil yang penuh trauma.

“Manusia yang tumbuh tanpa kenyamanan dasar biasanya memiliki persepsi negatif terhadap realita” ujar Krisna Aji. “Itu memengaruhi hubungan dengan lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ucapan itu membuat saya berpikir tentang banyak kasus yang saya temui sebagai wartawan. Saya pernah bertemu seorang anak muda di Denpasar yang kecanduan alkohol. Setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sederhana tapi dalam; ia merasa tidak pernah dicintai di rumahnya sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja, komunikasi kering, dan ia tumbuh dengan perasaan kosong.

Di titik itu saya sadar, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat seseorang pertama kali belajar mencintai dan dicintai. Bila dasar itu rapuh, seluruh bangunan kepribadian bisa ikut goyah.

Namun apakah luka masa kecil berarti jalan hidup seseorang sudah ditentukan? Tidak juga. Krisna Aji meyakini ada ruang untuk berdamai. “Proses berdamai bisa dimulai dengan melihat rumah sebagai sejarah hidup yang perlu dipelajari. Segala hal yang terjadi di masa lalu tidak selalu negatif. Pasti ada sisi positif yang tak kita sadari” katanya.

Ia kemudian memberi contoh ekstrem, seseorang dengan masa lalu kelam justru bisa memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding orang yang tak pernah mengalami masalah. Luka membuatnya menyelami diri lebih dalam lalu berbenah.

Saya menyukai analogi yang ia pakai: “Bayangkan anak panah. Ia hanya bisa melesat ke depan bila ditarik mundur ke belakang. Tarikan itu menyakitkan tapi justru memberi tenaga. Demikian pula manusia. Kita harus berani kembali ke ‘rumah’ ke titik asal untuk memahami dan menyelesaikan problem sebelum melesat ke depan.”

Analogi itu terasa kuat. Kita sering mengira bahwa mundur adalah tanda kegagalan. Padahal mundur jika dilakukan dengan kesadaran justru bisa menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.

Rumah di Dalam Diri

Percakapan dengan Krisna Aji membuka mata saya, bahwa rumah tak selalu identik dengan bangunan tempat kita lahir dan besar. Rumah bisa juga berarti ruang batin tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah bisa berupa memori indah dari masa kecil yang masih kita simpan. Atau bahkan rumah bisa berarti kesadaran baru yang kita bangun setelah berdamai dengan luka lama.

Saya ingat seorang kawan yang yatim piatu sejak remaja. Ia sering berkata “Rumahku ada di mana pun aku bisa merasa tenang.” Kalimat itu terdengar sederhana tapi sejatinya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diwariskan, tetapi juga bisa kita ciptakan.

Bila dipikir-pikir, perjalanan hidup kita adalah rangkaian pulang yang berlapis. Kita pulang dari tempat kerja menuju kontrakan. Kita pulang dari rantau menuju kampung. Kita pulang dari hiruk pikuk menuju ruang doa, atau bahkan pulang ke dalam diri sendiri melalui meditasi, doa, atau perenungan.

Setiap pulang itu memberi pengalaman berbeda. Ada pulang yang penuh suka cita ada yang penuh duka ada pula yang penuh pertanyaan. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan yang sama manusia selalu mencari tempat untuk kembali, meski sekadar untuk mengingat siapa dirinya. Akhir percakapan kami di sore itu membuat saya semakin yakin, rumah adalah kunci dari banyak hal. Ia bisa menjadi sumber luka tetapi juga bisa menjadi jalan kembali. Ia bisa menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi tempat kita menemukan kekuatan.

Kita semua membutuhkan rumah dalam arti yang luas. Sebab tanpa rumah kita akan tersesat di jalan panjang kehidupan. Dan terkadang, perjalanan pulang itu tidak harus benar-benar kembali ke bangunan lama melainkan kembali ke dalam diri sendiri.

Di titik itulah rumah bukan lagi sekadar alamat. Ia adalah ruang keintiman paling hakiki tempat kita belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap kehilangan bisa dipeluk, dan setiap perjalanan betapapun jauh selalu berakhir pada kata yang sama: pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: PsikologiRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Next Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co