24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 8, 2025
in Esai
Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

APA yang membuat seseorang selalu rindu rumah meski ia sudah hidup bertahun-tahun di perantauan? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang psikiater muda di Bali dr. Krisna Aji, Sp.KJ saat kami berbincang santai pada Minggu (7/9/2025). Ia tersenyum lalu menjelaskan “Psikis manusia pertama kali terbentuk dari rumah. Dari figur ibu. Dari perasaan aman yang muncul saat bayi menempelkan mulut pada puting susu. Itu fase oral dalam teori Freud atau trust vs. mistrust dalam teori psikososial Erik Erikson.”

Penjelasan itu membuat saya merenung. Rumah rupanya bukan hanya soal bangunan atau alamat di KTP. Rumah adalah ruang pertama yang memberi rasa aman. Dari rumah, lingkungan, lalu melebar; ayah, saudara, halaman tempat bermain, sekolah, sampai masyarakat luas. Tapi fondasi awal tetap sama rasa aman yang seharusnya kita dapatkan di rumah.

Namun seperti yang diingatkan Krisna Aji “Pertemuan manusia dengan lingkungannya tidak selalu harmonis. Ada tabrakan kepentingan yang bisa melukai psikis. Tekanan itu kadang datang justru dari lingkungan terkecil, yakni rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi berat. Sebab tak semua orang tumbuh dalam rumah yang penuh kenyamanan. Ada rumah yang menjadi sumber trauma. Ada pula rumah yang tak pernah memberi rasa pulang.

Pulang Sebagai Terapi

Saya teringat pada para perantau yang berebut tiket mudik setiap kali Lebaran atau libur panjang. Bukan hanya untuk berjumpa keluarga melainkan juga untuk mengisi ulang energi batin. Di rumah mereka boleh kembali menjadi diri sendiri tanpa topeng yang sehari-hari dipakai di kota.

“Rasa aman di rumah itu berbeda dengan kewaspadaan yang terus kita bawa saat di perantauan” kata Krisna Aji. Pulang dengan demikian adalah semacam terapi. Sebuah proses kembali ke asal untuk menenangkan diri setelah lelah berhadapan dengan dunia luar.

Saya sendiri sebagai orang yang lama merantau selalu merasakan perbedaan itu. Di kota setiap langkah seolah penuh kalkulasi, bagaimana membayar sewa, bagaimana menjaga relasi kerja, bagaimana menata diri agar tetap bisa bersaing. Tapi, begitu kembali ke kampung halaman ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Meski rumah sederhana, ia selalu berhasil menghapus sedikit demi sedikit kegelisahan.

Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada orang yang justru enggan pulang karena rumah baginya identik dengan luka. Entah karena konflik dengan orang tua,pola asuh yang keras, atau pengalaman masa kecil yang penuh trauma.

“Manusia yang tumbuh tanpa kenyamanan dasar biasanya memiliki persepsi negatif terhadap realita” ujar Krisna Aji. “Itu memengaruhi hubungan dengan lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ucapan itu membuat saya berpikir tentang banyak kasus yang saya temui sebagai wartawan. Saya pernah bertemu seorang anak muda di Denpasar yang kecanduan alkohol. Setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sederhana tapi dalam; ia merasa tidak pernah dicintai di rumahnya sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja, komunikasi kering, dan ia tumbuh dengan perasaan kosong.

Di titik itu saya sadar, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat seseorang pertama kali belajar mencintai dan dicintai. Bila dasar itu rapuh, seluruh bangunan kepribadian bisa ikut goyah.

Namun apakah luka masa kecil berarti jalan hidup seseorang sudah ditentukan? Tidak juga. Krisna Aji meyakini ada ruang untuk berdamai. “Proses berdamai bisa dimulai dengan melihat rumah sebagai sejarah hidup yang perlu dipelajari. Segala hal yang terjadi di masa lalu tidak selalu negatif. Pasti ada sisi positif yang tak kita sadari” katanya.

Ia kemudian memberi contoh ekstrem, seseorang dengan masa lalu kelam justru bisa memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding orang yang tak pernah mengalami masalah. Luka membuatnya menyelami diri lebih dalam lalu berbenah.

Saya menyukai analogi yang ia pakai: “Bayangkan anak panah. Ia hanya bisa melesat ke depan bila ditarik mundur ke belakang. Tarikan itu menyakitkan tapi justru memberi tenaga. Demikian pula manusia. Kita harus berani kembali ke ‘rumah’ ke titik asal untuk memahami dan menyelesaikan problem sebelum melesat ke depan.”

Analogi itu terasa kuat. Kita sering mengira bahwa mundur adalah tanda kegagalan. Padahal mundur jika dilakukan dengan kesadaran justru bisa menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.

Rumah di Dalam Diri

Percakapan dengan Krisna Aji membuka mata saya, bahwa rumah tak selalu identik dengan bangunan tempat kita lahir dan besar. Rumah bisa juga berarti ruang batin tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah bisa berupa memori indah dari masa kecil yang masih kita simpan. Atau bahkan rumah bisa berarti kesadaran baru yang kita bangun setelah berdamai dengan luka lama.

Saya ingat seorang kawan yang yatim piatu sejak remaja. Ia sering berkata “Rumahku ada di mana pun aku bisa merasa tenang.” Kalimat itu terdengar sederhana tapi sejatinya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diwariskan, tetapi juga bisa kita ciptakan.

Bila dipikir-pikir, perjalanan hidup kita adalah rangkaian pulang yang berlapis. Kita pulang dari tempat kerja menuju kontrakan. Kita pulang dari rantau menuju kampung. Kita pulang dari hiruk pikuk menuju ruang doa, atau bahkan pulang ke dalam diri sendiri melalui meditasi, doa, atau perenungan.

Setiap pulang itu memberi pengalaman berbeda. Ada pulang yang penuh suka cita ada yang penuh duka ada pula yang penuh pertanyaan. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan yang sama manusia selalu mencari tempat untuk kembali, meski sekadar untuk mengingat siapa dirinya. Akhir percakapan kami di sore itu membuat saya semakin yakin, rumah adalah kunci dari banyak hal. Ia bisa menjadi sumber luka tetapi juga bisa menjadi jalan kembali. Ia bisa menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi tempat kita menemukan kekuatan.

Kita semua membutuhkan rumah dalam arti yang luas. Sebab tanpa rumah kita akan tersesat di jalan panjang kehidupan. Dan terkadang, perjalanan pulang itu tidak harus benar-benar kembali ke bangunan lama melainkan kembali ke dalam diri sendiri.

Di titik itulah rumah bukan lagi sekadar alamat. Ia adalah ruang keintiman paling hakiki tempat kita belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap kehilangan bisa dipeluk, dan setiap perjalanan betapapun jauh selalu berakhir pada kata yang sama: pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: PsikologiRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Next Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co