23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 8, 2025
in Esai
Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

APA yang membuat seseorang selalu rindu rumah meski ia sudah hidup bertahun-tahun di perantauan? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang psikiater muda di Bali dr. Krisna Aji, Sp.KJ saat kami berbincang santai pada Minggu (7/9/2025). Ia tersenyum lalu menjelaskan “Psikis manusia pertama kali terbentuk dari rumah. Dari figur ibu. Dari perasaan aman yang muncul saat bayi menempelkan mulut pada puting susu. Itu fase oral dalam teori Freud atau trust vs. mistrust dalam teori psikososial Erik Erikson.”

Penjelasan itu membuat saya merenung. Rumah rupanya bukan hanya soal bangunan atau alamat di KTP. Rumah adalah ruang pertama yang memberi rasa aman. Dari rumah, lingkungan, lalu melebar; ayah, saudara, halaman tempat bermain, sekolah, sampai masyarakat luas. Tapi fondasi awal tetap sama rasa aman yang seharusnya kita dapatkan di rumah.

Namun seperti yang diingatkan Krisna Aji “Pertemuan manusia dengan lingkungannya tidak selalu harmonis. Ada tabrakan kepentingan yang bisa melukai psikis. Tekanan itu kadang datang justru dari lingkungan terkecil, yakni rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi berat. Sebab tak semua orang tumbuh dalam rumah yang penuh kenyamanan. Ada rumah yang menjadi sumber trauma. Ada pula rumah yang tak pernah memberi rasa pulang.

Pulang Sebagai Terapi

Saya teringat pada para perantau yang berebut tiket mudik setiap kali Lebaran atau libur panjang. Bukan hanya untuk berjumpa keluarga melainkan juga untuk mengisi ulang energi batin. Di rumah mereka boleh kembali menjadi diri sendiri tanpa topeng yang sehari-hari dipakai di kota.

“Rasa aman di rumah itu berbeda dengan kewaspadaan yang terus kita bawa saat di perantauan” kata Krisna Aji. Pulang dengan demikian adalah semacam terapi. Sebuah proses kembali ke asal untuk menenangkan diri setelah lelah berhadapan dengan dunia luar.

Saya sendiri sebagai orang yang lama merantau selalu merasakan perbedaan itu. Di kota setiap langkah seolah penuh kalkulasi, bagaimana membayar sewa, bagaimana menjaga relasi kerja, bagaimana menata diri agar tetap bisa bersaing. Tapi, begitu kembali ke kampung halaman ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Meski rumah sederhana, ia selalu berhasil menghapus sedikit demi sedikit kegelisahan.

Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada orang yang justru enggan pulang karena rumah baginya identik dengan luka. Entah karena konflik dengan orang tua,pola asuh yang keras, atau pengalaman masa kecil yang penuh trauma.

“Manusia yang tumbuh tanpa kenyamanan dasar biasanya memiliki persepsi negatif terhadap realita” ujar Krisna Aji. “Itu memengaruhi hubungan dengan lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ucapan itu membuat saya berpikir tentang banyak kasus yang saya temui sebagai wartawan. Saya pernah bertemu seorang anak muda di Denpasar yang kecanduan alkohol. Setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sederhana tapi dalam; ia merasa tidak pernah dicintai di rumahnya sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja, komunikasi kering, dan ia tumbuh dengan perasaan kosong.

Di titik itu saya sadar, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat seseorang pertama kali belajar mencintai dan dicintai. Bila dasar itu rapuh, seluruh bangunan kepribadian bisa ikut goyah.

Namun apakah luka masa kecil berarti jalan hidup seseorang sudah ditentukan? Tidak juga. Krisna Aji meyakini ada ruang untuk berdamai. “Proses berdamai bisa dimulai dengan melihat rumah sebagai sejarah hidup yang perlu dipelajari. Segala hal yang terjadi di masa lalu tidak selalu negatif. Pasti ada sisi positif yang tak kita sadari” katanya.

Ia kemudian memberi contoh ekstrem, seseorang dengan masa lalu kelam justru bisa memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding orang yang tak pernah mengalami masalah. Luka membuatnya menyelami diri lebih dalam lalu berbenah.

Saya menyukai analogi yang ia pakai: “Bayangkan anak panah. Ia hanya bisa melesat ke depan bila ditarik mundur ke belakang. Tarikan itu menyakitkan tapi justru memberi tenaga. Demikian pula manusia. Kita harus berani kembali ke ‘rumah’ ke titik asal untuk memahami dan menyelesaikan problem sebelum melesat ke depan.”

Analogi itu terasa kuat. Kita sering mengira bahwa mundur adalah tanda kegagalan. Padahal mundur jika dilakukan dengan kesadaran justru bisa menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.

Rumah di Dalam Diri

Percakapan dengan Krisna Aji membuka mata saya, bahwa rumah tak selalu identik dengan bangunan tempat kita lahir dan besar. Rumah bisa juga berarti ruang batin tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah bisa berupa memori indah dari masa kecil yang masih kita simpan. Atau bahkan rumah bisa berarti kesadaran baru yang kita bangun setelah berdamai dengan luka lama.

Saya ingat seorang kawan yang yatim piatu sejak remaja. Ia sering berkata “Rumahku ada di mana pun aku bisa merasa tenang.” Kalimat itu terdengar sederhana tapi sejatinya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diwariskan, tetapi juga bisa kita ciptakan.

Bila dipikir-pikir, perjalanan hidup kita adalah rangkaian pulang yang berlapis. Kita pulang dari tempat kerja menuju kontrakan. Kita pulang dari rantau menuju kampung. Kita pulang dari hiruk pikuk menuju ruang doa, atau bahkan pulang ke dalam diri sendiri melalui meditasi, doa, atau perenungan.

Setiap pulang itu memberi pengalaman berbeda. Ada pulang yang penuh suka cita ada yang penuh duka ada pula yang penuh pertanyaan. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan yang sama manusia selalu mencari tempat untuk kembali, meski sekadar untuk mengingat siapa dirinya. Akhir percakapan kami di sore itu membuat saya semakin yakin, rumah adalah kunci dari banyak hal. Ia bisa menjadi sumber luka tetapi juga bisa menjadi jalan kembali. Ia bisa menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi tempat kita menemukan kekuatan.

Kita semua membutuhkan rumah dalam arti yang luas. Sebab tanpa rumah kita akan tersesat di jalan panjang kehidupan. Dan terkadang, perjalanan pulang itu tidak harus benar-benar kembali ke bangunan lama melainkan kembali ke dalam diri sendiri.

Di titik itulah rumah bukan lagi sekadar alamat. Ia adalah ruang keintiman paling hakiki tempat kita belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap kehilangan bisa dipeluk, dan setiap perjalanan betapapun jauh selalu berakhir pada kata yang sama: pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: PsikologiRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Next Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co