3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 8, 2025
in Esai
Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

APA yang membuat seseorang selalu rindu rumah meski ia sudah hidup bertahun-tahun di perantauan? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang psikiater muda di Bali dr. Krisna Aji, Sp.KJ saat kami berbincang santai pada Minggu (7/9/2025). Ia tersenyum lalu menjelaskan “Psikis manusia pertama kali terbentuk dari rumah. Dari figur ibu. Dari perasaan aman yang muncul saat bayi menempelkan mulut pada puting susu. Itu fase oral dalam teori Freud atau trust vs. mistrust dalam teori psikososial Erik Erikson.”

Penjelasan itu membuat saya merenung. Rumah rupanya bukan hanya soal bangunan atau alamat di KTP. Rumah adalah ruang pertama yang memberi rasa aman. Dari rumah, lingkungan, lalu melebar; ayah, saudara, halaman tempat bermain, sekolah, sampai masyarakat luas. Tapi fondasi awal tetap sama rasa aman yang seharusnya kita dapatkan di rumah.

Namun seperti yang diingatkan Krisna Aji “Pertemuan manusia dengan lingkungannya tidak selalu harmonis. Ada tabrakan kepentingan yang bisa melukai psikis. Tekanan itu kadang datang justru dari lingkungan terkecil, yakni rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi berat. Sebab tak semua orang tumbuh dalam rumah yang penuh kenyamanan. Ada rumah yang menjadi sumber trauma. Ada pula rumah yang tak pernah memberi rasa pulang.

Pulang Sebagai Terapi

Saya teringat pada para perantau yang berebut tiket mudik setiap kali Lebaran atau libur panjang. Bukan hanya untuk berjumpa keluarga melainkan juga untuk mengisi ulang energi batin. Di rumah mereka boleh kembali menjadi diri sendiri tanpa topeng yang sehari-hari dipakai di kota.

“Rasa aman di rumah itu berbeda dengan kewaspadaan yang terus kita bawa saat di perantauan” kata Krisna Aji. Pulang dengan demikian adalah semacam terapi. Sebuah proses kembali ke asal untuk menenangkan diri setelah lelah berhadapan dengan dunia luar.

Saya sendiri sebagai orang yang lama merantau selalu merasakan perbedaan itu. Di kota setiap langkah seolah penuh kalkulasi, bagaimana membayar sewa, bagaimana menjaga relasi kerja, bagaimana menata diri agar tetap bisa bersaing. Tapi, begitu kembali ke kampung halaman ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Meski rumah sederhana, ia selalu berhasil menghapus sedikit demi sedikit kegelisahan.

Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada orang yang justru enggan pulang karena rumah baginya identik dengan luka. Entah karena konflik dengan orang tua,pola asuh yang keras, atau pengalaman masa kecil yang penuh trauma.

“Manusia yang tumbuh tanpa kenyamanan dasar biasanya memiliki persepsi negatif terhadap realita” ujar Krisna Aji. “Itu memengaruhi hubungan dengan lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ucapan itu membuat saya berpikir tentang banyak kasus yang saya temui sebagai wartawan. Saya pernah bertemu seorang anak muda di Denpasar yang kecanduan alkohol. Setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sederhana tapi dalam; ia merasa tidak pernah dicintai di rumahnya sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja, komunikasi kering, dan ia tumbuh dengan perasaan kosong.

Di titik itu saya sadar, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat seseorang pertama kali belajar mencintai dan dicintai. Bila dasar itu rapuh, seluruh bangunan kepribadian bisa ikut goyah.

Namun apakah luka masa kecil berarti jalan hidup seseorang sudah ditentukan? Tidak juga. Krisna Aji meyakini ada ruang untuk berdamai. “Proses berdamai bisa dimulai dengan melihat rumah sebagai sejarah hidup yang perlu dipelajari. Segala hal yang terjadi di masa lalu tidak selalu negatif. Pasti ada sisi positif yang tak kita sadari” katanya.

Ia kemudian memberi contoh ekstrem, seseorang dengan masa lalu kelam justru bisa memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding orang yang tak pernah mengalami masalah. Luka membuatnya menyelami diri lebih dalam lalu berbenah.

Saya menyukai analogi yang ia pakai: “Bayangkan anak panah. Ia hanya bisa melesat ke depan bila ditarik mundur ke belakang. Tarikan itu menyakitkan tapi justru memberi tenaga. Demikian pula manusia. Kita harus berani kembali ke ‘rumah’ ke titik asal untuk memahami dan menyelesaikan problem sebelum melesat ke depan.”

Analogi itu terasa kuat. Kita sering mengira bahwa mundur adalah tanda kegagalan. Padahal mundur jika dilakukan dengan kesadaran justru bisa menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.

Rumah di Dalam Diri

Percakapan dengan Krisna Aji membuka mata saya, bahwa rumah tak selalu identik dengan bangunan tempat kita lahir dan besar. Rumah bisa juga berarti ruang batin tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah bisa berupa memori indah dari masa kecil yang masih kita simpan. Atau bahkan rumah bisa berarti kesadaran baru yang kita bangun setelah berdamai dengan luka lama.

Saya ingat seorang kawan yang yatim piatu sejak remaja. Ia sering berkata “Rumahku ada di mana pun aku bisa merasa tenang.” Kalimat itu terdengar sederhana tapi sejatinya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diwariskan, tetapi juga bisa kita ciptakan.

Bila dipikir-pikir, perjalanan hidup kita adalah rangkaian pulang yang berlapis. Kita pulang dari tempat kerja menuju kontrakan. Kita pulang dari rantau menuju kampung. Kita pulang dari hiruk pikuk menuju ruang doa, atau bahkan pulang ke dalam diri sendiri melalui meditasi, doa, atau perenungan.

Setiap pulang itu memberi pengalaman berbeda. Ada pulang yang penuh suka cita ada yang penuh duka ada pula yang penuh pertanyaan. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan yang sama manusia selalu mencari tempat untuk kembali, meski sekadar untuk mengingat siapa dirinya. Akhir percakapan kami di sore itu membuat saya semakin yakin, rumah adalah kunci dari banyak hal. Ia bisa menjadi sumber luka tetapi juga bisa menjadi jalan kembali. Ia bisa menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi tempat kita menemukan kekuatan.

Kita semua membutuhkan rumah dalam arti yang luas. Sebab tanpa rumah kita akan tersesat di jalan panjang kehidupan. Dan terkadang, perjalanan pulang itu tidak harus benar-benar kembali ke bangunan lama melainkan kembali ke dalam diri sendiri.

Di titik itulah rumah bukan lagi sekadar alamat. Ia adalah ruang keintiman paling hakiki tempat kita belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap kehilangan bisa dipeluk, dan setiap perjalanan betapapun jauh selalu berakhir pada kata yang sama: pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: PsikologiRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Next Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co