2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 8, 2025
in Esai
Rumah, Luka, Jalan Kembali – Tentang Psikologi Pulang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

APA yang membuat seseorang selalu rindu rumah meski ia sudah hidup bertahun-tahun di perantauan? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang psikiater muda di Bali dr. Krisna Aji, Sp.KJ saat kami berbincang santai pada Minggu (7/9/2025). Ia tersenyum lalu menjelaskan “Psikis manusia pertama kali terbentuk dari rumah. Dari figur ibu. Dari perasaan aman yang muncul saat bayi menempelkan mulut pada puting susu. Itu fase oral dalam teori Freud atau trust vs. mistrust dalam teori psikososial Erik Erikson.”

Penjelasan itu membuat saya merenung. Rumah rupanya bukan hanya soal bangunan atau alamat di KTP. Rumah adalah ruang pertama yang memberi rasa aman. Dari rumah, lingkungan, lalu melebar; ayah, saudara, halaman tempat bermain, sekolah, sampai masyarakat luas. Tapi fondasi awal tetap sama rasa aman yang seharusnya kita dapatkan di rumah.

Namun seperti yang diingatkan Krisna Aji “Pertemuan manusia dengan lingkungannya tidak selalu harmonis. Ada tabrakan kepentingan yang bisa melukai psikis. Tekanan itu kadang datang justru dari lingkungan terkecil, yakni rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi berat. Sebab tak semua orang tumbuh dalam rumah yang penuh kenyamanan. Ada rumah yang menjadi sumber trauma. Ada pula rumah yang tak pernah memberi rasa pulang.

Pulang Sebagai Terapi

Saya teringat pada para perantau yang berebut tiket mudik setiap kali Lebaran atau libur panjang. Bukan hanya untuk berjumpa keluarga melainkan juga untuk mengisi ulang energi batin. Di rumah mereka boleh kembali menjadi diri sendiri tanpa topeng yang sehari-hari dipakai di kota.

“Rasa aman di rumah itu berbeda dengan kewaspadaan yang terus kita bawa saat di perantauan” kata Krisna Aji. Pulang dengan demikian adalah semacam terapi. Sebuah proses kembali ke asal untuk menenangkan diri setelah lelah berhadapan dengan dunia luar.

Saya sendiri sebagai orang yang lama merantau selalu merasakan perbedaan itu. Di kota setiap langkah seolah penuh kalkulasi, bagaimana membayar sewa, bagaimana menjaga relasi kerja, bagaimana menata diri agar tetap bisa bersaing. Tapi, begitu kembali ke kampung halaman ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Meski rumah sederhana, ia selalu berhasil menghapus sedikit demi sedikit kegelisahan.

Namun tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada orang yang justru enggan pulang karena rumah baginya identik dengan luka. Entah karena konflik dengan orang tua,pola asuh yang keras, atau pengalaman masa kecil yang penuh trauma.

“Manusia yang tumbuh tanpa kenyamanan dasar biasanya memiliki persepsi negatif terhadap realita” ujar Krisna Aji. “Itu memengaruhi hubungan dengan lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Ucapan itu membuat saya berpikir tentang banyak kasus yang saya temui sebagai wartawan. Saya pernah bertemu seorang anak muda di Denpasar yang kecanduan alkohol. Setelah ditelusuri ternyata akar masalahnya sederhana tapi dalam; ia merasa tidak pernah dicintai di rumahnya sendiri. Orang tuanya sibuk bekerja, komunikasi kering, dan ia tumbuh dengan perasaan kosong.

Di titik itu saya sadar, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat seseorang pertama kali belajar mencintai dan dicintai. Bila dasar itu rapuh, seluruh bangunan kepribadian bisa ikut goyah.

Namun apakah luka masa kecil berarti jalan hidup seseorang sudah ditentukan? Tidak juga. Krisna Aji meyakini ada ruang untuk berdamai. “Proses berdamai bisa dimulai dengan melihat rumah sebagai sejarah hidup yang perlu dipelajari. Segala hal yang terjadi di masa lalu tidak selalu negatif. Pasti ada sisi positif yang tak kita sadari” katanya.

Ia kemudian memberi contoh ekstrem, seseorang dengan masa lalu kelam justru bisa memiliki kualitas hidup lebih baik dibanding orang yang tak pernah mengalami masalah. Luka membuatnya menyelami diri lebih dalam lalu berbenah.

Saya menyukai analogi yang ia pakai: “Bayangkan anak panah. Ia hanya bisa melesat ke depan bila ditarik mundur ke belakang. Tarikan itu menyakitkan tapi justru memberi tenaga. Demikian pula manusia. Kita harus berani kembali ke ‘rumah’ ke titik asal untuk memahami dan menyelesaikan problem sebelum melesat ke depan.”

Analogi itu terasa kuat. Kita sering mengira bahwa mundur adalah tanda kegagalan. Padahal mundur jika dilakukan dengan kesadaran justru bisa menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.

Rumah di Dalam Diri

Percakapan dengan Krisna Aji membuka mata saya, bahwa rumah tak selalu identik dengan bangunan tempat kita lahir dan besar. Rumah bisa juga berarti ruang batin tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah bisa berupa memori indah dari masa kecil yang masih kita simpan. Atau bahkan rumah bisa berarti kesadaran baru yang kita bangun setelah berdamai dengan luka lama.

Saya ingat seorang kawan yang yatim piatu sejak remaja. Ia sering berkata “Rumahku ada di mana pun aku bisa merasa tenang.” Kalimat itu terdengar sederhana tapi sejatinya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa rumah tidak selalu diwariskan, tetapi juga bisa kita ciptakan.

Bila dipikir-pikir, perjalanan hidup kita adalah rangkaian pulang yang berlapis. Kita pulang dari tempat kerja menuju kontrakan. Kita pulang dari rantau menuju kampung. Kita pulang dari hiruk pikuk menuju ruang doa, atau bahkan pulang ke dalam diri sendiri melalui meditasi, doa, atau perenungan.

Setiap pulang itu memberi pengalaman berbeda. Ada pulang yang penuh suka cita ada yang penuh duka ada pula yang penuh pertanyaan. Namun semuanya bermuara pada kebutuhan yang sama manusia selalu mencari tempat untuk kembali, meski sekadar untuk mengingat siapa dirinya. Akhir percakapan kami di sore itu membuat saya semakin yakin, rumah adalah kunci dari banyak hal. Ia bisa menjadi sumber luka tetapi juga bisa menjadi jalan kembali. Ia bisa menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi tempat kita menemukan kekuatan.

Kita semua membutuhkan rumah dalam arti yang luas. Sebab tanpa rumah kita akan tersesat di jalan panjang kehidupan. Dan terkadang, perjalanan pulang itu tidak harus benar-benar kembali ke bangunan lama melainkan kembali ke dalam diri sendiri.

Di titik itulah rumah bukan lagi sekadar alamat. Ia adalah ruang keintiman paling hakiki tempat kita belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap kehilangan bisa dipeluk, dan setiap perjalanan betapapun jauh selalu berakhir pada kata yang sama: pulang. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Tags: PsikologiRumah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Next Post

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Kepanikan Elite Politik: Belajar dari Sandiwara Orson Welles

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co