1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Pakeliran “Bibi Anu”: Jejak Pandang Melihat Bali Hari Ini

Agus Arta Wiguna by Agus Arta Wiguna
August 28, 2025
in Ulas Pentas
Teater Pakeliran “Bibi Anu”: Jejak Pandang Melihat Bali Hari Ini

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

SENIN, 13 Januari 2025 menjadi hari yang membekas dalam ingatan saya. Malam itu berbeda dari biasanya. Dengan membawa beban cerita yang lama tersimpan di sudut-sudut pikiran, saya datang ke panggung Natya Mandala ISI Denpasar yang kini sudah berubah menjadi ISI Bali.

Dan tepat pada pukul 19.30 Wita saya memulai sebuah perjalanan untuk mengakhiri masa belajar saya selama 3,5 tahun di program studi Seni Pedalangan. Sebuah keresahan terhadap krisis ekologis tentang Tanah Bali hadir menjadi pemantik saya untuk mewujudkan sebuah garapan Teater Pakeliran dengan judul ”Bibi Anu”.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

Dinamika Alih Fungsi Lahan di Bali

Sejak lama, tanah di Bali memiliki dimensi yang lebih dari sekadar ruang ekonomi. Ia merupakan bagian integral dari kosmologi masyarakat Bali, yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana: keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Tanah di Bali tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai objek pemuliaan dan penghormatan. Tradisi dan ritual yang dilakukan mencerminkan keyakinan bahwa tanah memiliki kekuatan spiritual yang mendalam. Dengan memuliakan tanah, masyarakat Bali melestarikan praktik-praktik yang telah ada selama berabad-abad.

Mereka memahami bahwa keberlanjutan tanah adalah kunci untuk mempertahankan keseimbangan ekologis dan budaya mereka. Melalui berbagai praktik adat dan spiritual, masyarakat Bali memastikan bahwa tanah tetap subur dan berfungsi sesuai dengan nilai-nilai budaya.

Pada beberapa dekade terakhir, Bali mengalami transformasi drastis akibat pertumbuhan pariwisata yang pesat. Di satu sisi pariwisata mempercepat pengembangan ekonomi lokal dengan menciptakan berbagai peluang kerja di sektor perhotelan, restoran, dan layanan wisata, yang berdampak positif pada taraf hidup masyarakat setempat.

Investasi yang masuk dari sektor pariwisata juga telah memperbaiki infrastruktur, seperti pembangunan jalan, peningkatan fasilitas kesehatan, dan pengembangan layanan pendidikan. Selain itu, pariwisata memfasilitasi dan memberikan platform bagi budaya Bali untuk dikenal secara global, serta mendorong inovasi dalam industri kreatif.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

Di sisi lain, dampak negatif dari pariwisata juga sangat nyata. Dapat dilihat dari konversi lahan pertanian menjadi fasilitas wisata seperti hotel dan vila mengancam sistem subak yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Hilangnya lahan pertanian yang subur tidak hanya berdampak pada produksi pangan tetapi juga merusak ekosistem yang mendukung kehidupan masyarakat Bali. Lebih jauh lagi, tanah Bali semakin dikuasai oleh pihak asing dan investor luar, membuat masyarakat Bali semakin terasing di tanah mereka sendiri.

Soethama dalam bukunya berjudul Dari Bule Jadi Bali menuliskan “…Orang Bali kini semakin menyadari, kekuasaan mereka akan tanah kelahiran semakin melorot. Semakin hari kian banyak orang yang berniat menguasai Bali…”.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

Petani di Bali menghadapi perjuangan berat untuk bertahan hidup di tengah arus perubahan yang kian mengancam kelangsungan pertanian. Biaya produksi yang terus meningkat, hasil panen yang tidak selalu stabil, serta harga jual yang sering kali tidak sebanding dengan jerih payah, membuat bertani menjadi pilihan yang semakin sulit.

Dilema terbesar yang mereka hadapi adalah memilih antara mempertahankan lahan pertanian yang sering kali tidak menguntungkan atau menjual tanah mereka untuk mendukung pariwisata dan pembangunan yang kian masif. Tawaran tinggi dari pengembang untuk lahan pertanian kerap menjadi godaan yang sulit ditolak, apalagi ketika kebutuhan ekonomi mendesak.

Namun, mengikuti arus pembangunan ini berarti melepaskan hubungan spiritual dengan tanah, air, dan kehidupan agraris yang menjadi bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai manusia Bali. Tentu sebagai anak dari seorang bapak yang keseharinnya hidup sebagai petani saya merasakan hal ini juga, dan dengan mewujudkan karya ini, menjadi salah satu cara saya menyampaikan keresahan pada lebih banyak orang.

Teater Pakeliran Bibi Anu

Garapan teater pakeliran Bibi Anu merupakan garapan yang mengangkat tema ketidakpastian lahan di Bali yang muncul akibat alih fungsi lahan intensif yang disebabkan oleh perkembangan pariwisata. Karya ini secara garis besar berupaya mengilustrasikan dampak sosial dan ekologis dari perubahan penggunaan lahan, di mana lahan pertanian yang subur diubah menjadi berbagai fasilitas yang lebih mengedepankan keuntungan jangka pendek. Judul Bibi Anu menjadi pintu masuk untuk memahami gagasan di balik karya ini.

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

Kata Bibi merujuk pada sosok perempuan yang dalam keseharian masyarakat Bali dikenal sebagai pengasuh, pendamping, sekaligus penjaga kehidupan. Ia lekat dengan peran merawat, menjaga, dan menumbuhkan, sebagaimana tanah dipersonifikasikan sebagai Ibu Pertiwi dan Garbha Kahuripan, yaitu rahim kehidupan yang memberi, memelihara, dan menopang keberlangsungan makhluk hidup. Sedangkan kata Anu mewakili ketidakjelasan, sesuatu yang samar, mengandung banyak kemungkinan tafsir, dan sulit dipastikan arahnya.

Dalam konteks karya ini, ia menggambarkan situasi tanah Bali hari ini. Gabungan kedua kata ini menjadi simbol ambiguitas tentang sesuatu yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, tetapi kini menghadapi ancaman kehilangan makna.

Karya ini terbagi dalam tiga babak yang mewakili perjalanan perubahan hubungan antara manusia Bali dan tanahnya. Setiap babak menghadirkan rentetan peristiwa yang menggambarkan perjalanan dari harmoni masa lalu menuju kekacauan dan ketidakpastian masa kini.

Garapan ini diformat dengan bentuk sederhana. Saya mencoba memvisualisakan wayang tanpa adanya dialog apa pun, dan saat adegan monolog ditampilkan di tengah panggung dengan hanya duduk tanpa visualisasi wayang apa pun. Hal ini saya hadirkan dengan harapan bahwa pada saat visualisasi wayang, penonton mau menarasikan adegan itu dengan interpretasinya sendiri. Begitu pula saat narasi, saya berharap pononton berimajinasi dengan bayangan yang ada dalam pemikirannya.

Tentu apa yang dibayangkan setiap orang berbeda-beda, perbedaan itulah yang saya rasa menarik. Karena jika mengacu pada pemahaman terhadap wayang adalah sebuah bayangan, tentu bayangan yang muncul dalam interpretasi setiap individu berbeda-beda, dan ia bebas untuk membayangkan apa dan seperti apa, sehingga garapan hanya menjadi dorongan terhadap munculnya bayangan tersebut—walaupun saya tak tahu apakah itu berhasil  di tangkap penonton atau tidak.

Dialog teater hanya hadir pada adegan petani yang di hasut oleh makelar dan siluet ketegangan antara petani dan bapaknya dalam usahanya menjual tanah warisan yang ia miliki. Iringan karya ini pun hanya menggunakan beberapan instrumen, yaitu nyongnyong dan penem petuduh pada selonding dan 6 pencon reong gong kebyar yang semuanya hanya dimainkan oleh 2 orang penabuh. Sementara siluet wayang digerakkan oleh 6 orang dan 3 orang operator scenery. Dan ada 3 orang penari sebagai visualisasi ambiguitas yang terjadi

Teater Pakeliran ”Bibi Anu” | Foto: Dok. Wiguna

Dalam karya ini, saya mencoba pula memfungsikan sudut pandang saya sebagai jembatan suara yang merefleksikan pengalaman nyata yang terjadi di masyarakat. Saya mencoba menggambarkan keresahan dan kegelisahan yang muncul akibat perubahan yang cepat, serta mempertanyakan nilai-nilai yang telah dijunjung sejak lama. Sepenuhnya, dalam karya ini saya tidak ingin berbicara tentang benar dan salah. Saya hanya menyodorkan keresahan saya lalu membebaskan setiap orang yang melihat berasumsi sesuai bingkai pandangnya masing masing.

Saya tidak  ingin terjebak oleh apa yang saya buat di saat ini, karena bisa jadi di masa yang akan datang apa yang saya khawatirkan adalah sebuah kekeliruan. Dalam karya ini, saya hanya mencoretkan gambar yang bebas dimaknai seperti apa. Satu hal yang terpenting dalam diri saya, saya sepakat jika wayang adalah bayangan dan karya ini sebagai bentuk renungan rasa dalam membayangkan Bali di masa mendatang.[T]

Ubud 27 agustus 2025

Penulis: Agus Arta Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: baliBibi AnuISI DenpasarPariwisatateater pakeliranwayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mecaru Mejaga-jaga”, Harmoni Abadi dari Klungkung

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [30]: Kencan Magis di Aplikasi Pertemanan

Agus Arta Wiguna

Agus Arta Wiguna

Panggilannya Nuno. Nama lengkapnya I Made Agus Arta Wiguna. Lahir dan tinggal di Kedewatan, Ubud, Gianyar. Ia lulusan S1 Program Studi Seni Pedalangan, ISI Bali

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [30]: Kencan Magis di Aplikasi Pertemanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co