3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Cahaya Daffa Fuadzen by Cahaya Daffa Fuadzen
August 28, 2025
in Ulas Buku
Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Sampul buku Kokokan Mencari Arumbawangi

AKU baru mulai mengenal nama Cyntha Hariadi sebagai prosais lewat bukunya berjudul Mimi Lemon yang terbit tahun 2023. Begitu Mimi Lemon hadir, sejurus itu aku tersihir dengannya sebagai pengarang yang emosional. Sialnya, aku tak sempat merasakan atmosfer kala dirinya meraih Pemenang III Sayembara Manuskrip Puisi DKJ tahun 2016.

Ironis, sebagai calon lulusan sastra, aku tak mengenal rekam jejaknya. Baru pada saat aku menjadi penulis mukim di Singaraja Literary Festival 2025, aku tak ingin menyiakan momentum berjumpa dengannya lewat diskusi bukunya Kokokan Mencari Arumbawangi (selanjutnya disingkat KMA) bersama Gustra Adnyana sebagai pendamping pariwara. Seusai berbincang, seketika aku berutang tulisan hasil refleksiku sebagai pembaca yang belajar setia kepadanya.

Gustra Adnyana (kiri) dan Cyntha Hariadi (kanan) berdiskusi buku di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Daffa

Sebermula Kisah Keluarga Nanamama

Alkisah, seekor kokokan menjatuhkan seorang bayi ke kebun bawang merah milik Nanamama. Tubuh dan wajahnya menarik perhatian Kakaputu untuk segera membawanya pulang, dan sejak saat itu langsung dinamai Arumbawangi oleh Nanamama.

Singkatnya, mereka terusik ketika seorang pengusaha datang berencana membangun hotel di tengah sawah. Ketika seluruh warga tergiur menjual tanah mereka, hanya Nanamama yang teguh menolak. Bagi Nanamama, tanah adalah denyut nadi kehidupan. Bersama Kakaputu dan Arumbawangi, ia berdiri gagah menentang keserakahan yang mengancam tanah mereka.

Dalam pengisahan KMA, Cyntha berpijak kuat pada fenomena yang terjadi di kawasan pedesaan Ubud. Munculnya burung kokokan sebagai perangkat lokalitas Bali, Cyntha turut membalut kisahnya menjadi realisme magis bernuansa ekosentris. Konsistensi Cyntha juga terlihat jelas dalam merasionalkan hal-hal yang dianggap surreal lewat pendekatan ekologis yang konkret.

Dimulai Nanamama, misalnya. Sebagai tokoh dengan karakter ibu yang perkasa, Nanamama dipusatkan sebagai sentral moral, yang tak luput dari hakikat tradisi, penggerak spiritualitas alam, dan perjuangan sosok perempuan untuk berupaya mempertahankan ruang hidupnya.

Kemapanan relasi ekofeminis itulah sebagai gagasan utama dalam memantik kritik tentang konflik agraria yang tidak berkesudahan. Singkatnya bisa kita temukan lewat satu contoh penggalan berikut:

Semua yang hidup, tumbuh dari pori-pori bumi yang juga hidup. Aku bisa mendengar denyut nadiku dengan anak-anakku dalam tanah yang kami olah dan sayangi setiap hari. Sebagai balasan, tanah ini memberi kami hidup. Apa jadinya, kalau kemudian mesin-mesin itu datang, mengebor, dan menancapkan beton dan besi menembus kulit ke dalam daging sampai jantungku? Tanah ini akan mati. Kami semua (hlm 152-153).

Tidak berhenti di situ, pusaran cerita juga difokuskan pada tokoh Kakaputu dan Arumbawangi, di mana Cyntha menjadikannya wahana eksplorasi dunia anak-anak yang terasa spontan dalam kerumitan konflik sosial.

Arumbawangi mengepang seluruh rambut ibunya dan melilitnya menumpuk di atas kepala. Lalu ia menyelipkan puluhan kembang mitir sampai memenuhi seluruh rambutnya. Anak-anak berusaha membuat ibu mereka tampil bersih dan istimewa di saat terakhir tubuhnya dilihat dunia. Kalau masih hidup, Nanamama pasti menolak didandani seperti ini. Bukan karena mitir lumrah dijadikan hiasan kepala, tapi karena kepalanya jadi mirip sarang lebah. Kakaputu meletekkan kwangen di antara kedua tangan Nanamama yang terlipat di atas perut (hlm 4).

Lewat adegan proses pemakaman yang begitu getir, Cyntha ingin menyoal dunia mereka tampak polos, cair dan penuh ketulusan. Di satu sisi, mereka dituntut menghadapi kematian, konflik batin, hingga transformasi jiwa dengan legawa.

Kesadaran dan Ketidaksadaran Sebuah Dongeng

Aku begitu salut dengan simpati Cyntha ketika dirinya memiliki tanggung jawab moral dan terdorong untuk memotret sebuah isu perampasan tanah sengketa yang marak terjadi di Ubud, meskipun Cyntha tidak lahir dan tumbuh di sana.

Patut diapresiasi sebagai bentuk empati yang ditempuhnya tanpa menimbulkan kesan berjarak. Yang lebih menarik acapkali keputusan Cyntha mengadopsi konsep dongeng sebagai format bercerita. Ada satu paragraf yang kusuka. Terdengar sederhana namun aku suka cara Cyntha mendeskripsikannya adegan seorang anak yang jatuh dari langit dengan begitu imajinatif.

Anggap saja anak ini kiriman dari dewa-dewi langit untuk kelangsungan hidup manusia di bumi. Tak beda seperti hujan, cahaya, angin, dan petir. Tapi kali ini seorang manusia yang lahir bukan dari rahim manusia. tapi perut angkasa (hlm, 32).

Dalam sesi diskusi, Cyntha mengaku bahwa inspirasi menulisnya lahir dari rutinitas anaknya di sekolah alam. Benar saja, sembari membaca, sekilas aku merasakan lapisan personal yang tidak bisa luput dari penuturannya. Membaca KMA seperti membaca otobiografi yang terselubung. Agaknya, Cyntha punya keleluasaan untuk meleburkan fakta dan fantasi menjadi kian estetik.

Kekagumanku seringkali tergamang oleh apa yang boleh kusebut sebagai ketimpangan. Aku tidak bisa sepenuhnya menyebut KMA sebagai novel anak. Ada ketidaksadaran Cyntha yang menarik untuk ditelusuri. Terlihat Cyntha dengan kental menuturkannya menggunakan sudut pandang layaknya orang dewasa.

Perspektif moral, pilihan diksi, dan kedalaman refleksi masih terasa seperti suara seorang ibu yang mengajak duduk anak-anaknya untuk mendengar nasihat, bukan suara anak yang lugu menceritakan dunianya sendiri. Apalagi, setengah bahasa yang digunakan adalah metafora. Membikin KMA memerlukan waktu relatif lebih lama untuk mampu dicerna anak-anak, sesekali dipandu orangtua dalam menebalkan pemahaman konteks.

Penutup

KMA tampak menghadirkan kegelisahan Cyntha sebagai outsider yang peduli terhadap isu lingkungan serta berkomitmen untuk menyampaikannya dengan cara tersirat namun tetap kontekstual.

Tentu saja, ketika buku ini berjumpa kepada pembacanya, seperti punya cara tersendiri untuk mewartakan wacana yang dirasa penting. Sangat mungkin apabila buku ini akan melekat pada pembaca, serupa seorang ibu mendongeng hangat sebagai penghantar tidur kepada anaknya.

Data Buku

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi
Pengarang: Cyntha Hariadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2025, Cetakan ketiga

Penulis: Cahaya Daffa Fuadzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cyntha HariadiKokokan Mencari ArumbawanginovelSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Next Post

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Cahaya Daffa Fuadzen

Cahaya Daffa Fuadzen

Mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Beberapa karyanya termuat di media cetak dan daring. Puisinya termaktub dalam antologi Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Sebagai penyair terpilih di Pertemuan Penyair Nusantara Dewan Kesenian Jakarta 2025.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co