24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Cahaya Daffa Fuadzen by Cahaya Daffa Fuadzen
August 28, 2025
in Ulas Buku
Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Sampul buku Kokokan Mencari Arumbawangi

AKU baru mulai mengenal nama Cyntha Hariadi sebagai prosais lewat bukunya berjudul Mimi Lemon yang terbit tahun 2023. Begitu Mimi Lemon hadir, sejurus itu aku tersihir dengannya sebagai pengarang yang emosional. Sialnya, aku tak sempat merasakan atmosfer kala dirinya meraih Pemenang III Sayembara Manuskrip Puisi DKJ tahun 2016.

Ironis, sebagai calon lulusan sastra, aku tak mengenal rekam jejaknya. Baru pada saat aku menjadi penulis mukim di Singaraja Literary Festival 2025, aku tak ingin menyiakan momentum berjumpa dengannya lewat diskusi bukunya Kokokan Mencari Arumbawangi (selanjutnya disingkat KMA) bersama Gustra Adnyana sebagai pendamping pariwara. Seusai berbincang, seketika aku berutang tulisan hasil refleksiku sebagai pembaca yang belajar setia kepadanya.

Gustra Adnyana (kiri) dan Cyntha Hariadi (kanan) berdiskusi buku di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Daffa

Sebermula Kisah Keluarga Nanamama

Alkisah, seekor kokokan menjatuhkan seorang bayi ke kebun bawang merah milik Nanamama. Tubuh dan wajahnya menarik perhatian Kakaputu untuk segera membawanya pulang, dan sejak saat itu langsung dinamai Arumbawangi oleh Nanamama.

Singkatnya, mereka terusik ketika seorang pengusaha datang berencana membangun hotel di tengah sawah. Ketika seluruh warga tergiur menjual tanah mereka, hanya Nanamama yang teguh menolak. Bagi Nanamama, tanah adalah denyut nadi kehidupan. Bersama Kakaputu dan Arumbawangi, ia berdiri gagah menentang keserakahan yang mengancam tanah mereka.

Dalam pengisahan KMA, Cyntha berpijak kuat pada fenomena yang terjadi di kawasan pedesaan Ubud. Munculnya burung kokokan sebagai perangkat lokalitas Bali, Cyntha turut membalut kisahnya menjadi realisme magis bernuansa ekosentris. Konsistensi Cyntha juga terlihat jelas dalam merasionalkan hal-hal yang dianggap surreal lewat pendekatan ekologis yang konkret.

Dimulai Nanamama, misalnya. Sebagai tokoh dengan karakter ibu yang perkasa, Nanamama dipusatkan sebagai sentral moral, yang tak luput dari hakikat tradisi, penggerak spiritualitas alam, dan perjuangan sosok perempuan untuk berupaya mempertahankan ruang hidupnya.

Kemapanan relasi ekofeminis itulah sebagai gagasan utama dalam memantik kritik tentang konflik agraria yang tidak berkesudahan. Singkatnya bisa kita temukan lewat satu contoh penggalan berikut:

Semua yang hidup, tumbuh dari pori-pori bumi yang juga hidup. Aku bisa mendengar denyut nadiku dengan anak-anakku dalam tanah yang kami olah dan sayangi setiap hari. Sebagai balasan, tanah ini memberi kami hidup. Apa jadinya, kalau kemudian mesin-mesin itu datang, mengebor, dan menancapkan beton dan besi menembus kulit ke dalam daging sampai jantungku? Tanah ini akan mati. Kami semua (hlm 152-153).

Tidak berhenti di situ, pusaran cerita juga difokuskan pada tokoh Kakaputu dan Arumbawangi, di mana Cyntha menjadikannya wahana eksplorasi dunia anak-anak yang terasa spontan dalam kerumitan konflik sosial.

Arumbawangi mengepang seluruh rambut ibunya dan melilitnya menumpuk di atas kepala. Lalu ia menyelipkan puluhan kembang mitir sampai memenuhi seluruh rambutnya. Anak-anak berusaha membuat ibu mereka tampil bersih dan istimewa di saat terakhir tubuhnya dilihat dunia. Kalau masih hidup, Nanamama pasti menolak didandani seperti ini. Bukan karena mitir lumrah dijadikan hiasan kepala, tapi karena kepalanya jadi mirip sarang lebah. Kakaputu meletekkan kwangen di antara kedua tangan Nanamama yang terlipat di atas perut (hlm 4).

Lewat adegan proses pemakaman yang begitu getir, Cyntha ingin menyoal dunia mereka tampak polos, cair dan penuh ketulusan. Di satu sisi, mereka dituntut menghadapi kematian, konflik batin, hingga transformasi jiwa dengan legawa.

Kesadaran dan Ketidaksadaran Sebuah Dongeng

Aku begitu salut dengan simpati Cyntha ketika dirinya memiliki tanggung jawab moral dan terdorong untuk memotret sebuah isu perampasan tanah sengketa yang marak terjadi di Ubud, meskipun Cyntha tidak lahir dan tumbuh di sana.

Patut diapresiasi sebagai bentuk empati yang ditempuhnya tanpa menimbulkan kesan berjarak. Yang lebih menarik acapkali keputusan Cyntha mengadopsi konsep dongeng sebagai format bercerita. Ada satu paragraf yang kusuka. Terdengar sederhana namun aku suka cara Cyntha mendeskripsikannya adegan seorang anak yang jatuh dari langit dengan begitu imajinatif.

Anggap saja anak ini kiriman dari dewa-dewi langit untuk kelangsungan hidup manusia di bumi. Tak beda seperti hujan, cahaya, angin, dan petir. Tapi kali ini seorang manusia yang lahir bukan dari rahim manusia. tapi perut angkasa (hlm, 32).

Dalam sesi diskusi, Cyntha mengaku bahwa inspirasi menulisnya lahir dari rutinitas anaknya di sekolah alam. Benar saja, sembari membaca, sekilas aku merasakan lapisan personal yang tidak bisa luput dari penuturannya. Membaca KMA seperti membaca otobiografi yang terselubung. Agaknya, Cyntha punya keleluasaan untuk meleburkan fakta dan fantasi menjadi kian estetik.

Kekagumanku seringkali tergamang oleh apa yang boleh kusebut sebagai ketimpangan. Aku tidak bisa sepenuhnya menyebut KMA sebagai novel anak. Ada ketidaksadaran Cyntha yang menarik untuk ditelusuri. Terlihat Cyntha dengan kental menuturkannya menggunakan sudut pandang layaknya orang dewasa.

Perspektif moral, pilihan diksi, dan kedalaman refleksi masih terasa seperti suara seorang ibu yang mengajak duduk anak-anaknya untuk mendengar nasihat, bukan suara anak yang lugu menceritakan dunianya sendiri. Apalagi, setengah bahasa yang digunakan adalah metafora. Membikin KMA memerlukan waktu relatif lebih lama untuk mampu dicerna anak-anak, sesekali dipandu orangtua dalam menebalkan pemahaman konteks.

Penutup

KMA tampak menghadirkan kegelisahan Cyntha sebagai outsider yang peduli terhadap isu lingkungan serta berkomitmen untuk menyampaikannya dengan cara tersirat namun tetap kontekstual.

Tentu saja, ketika buku ini berjumpa kepada pembacanya, seperti punya cara tersendiri untuk mewartakan wacana yang dirasa penting. Sangat mungkin apabila buku ini akan melekat pada pembaca, serupa seorang ibu mendongeng hangat sebagai penghantar tidur kepada anaknya.

Data Buku

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi
Pengarang: Cyntha Hariadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2025, Cetakan ketiga

Penulis: Cahaya Daffa Fuadzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cyntha HariadiKokokan Mencari ArumbawanginovelSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Next Post

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Cahaya Daffa Fuadzen

Cahaya Daffa Fuadzen

Mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Beberapa karyanya termuat di media cetak dan daring. Puisinya termaktub dalam antologi Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Sebagai penyair terpilih di Pertemuan Penyair Nusantara Dewan Kesenian Jakarta 2025.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co