2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Cahaya Daffa Fuadzen by Cahaya Daffa Fuadzen
August 28, 2025
in Ulas Buku
Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Sampul buku Kokokan Mencari Arumbawangi

AKU baru mulai mengenal nama Cyntha Hariadi sebagai prosais lewat bukunya berjudul Mimi Lemon yang terbit tahun 2023. Begitu Mimi Lemon hadir, sejurus itu aku tersihir dengannya sebagai pengarang yang emosional. Sialnya, aku tak sempat merasakan atmosfer kala dirinya meraih Pemenang III Sayembara Manuskrip Puisi DKJ tahun 2016.

Ironis, sebagai calon lulusan sastra, aku tak mengenal rekam jejaknya. Baru pada saat aku menjadi penulis mukim di Singaraja Literary Festival 2025, aku tak ingin menyiakan momentum berjumpa dengannya lewat diskusi bukunya Kokokan Mencari Arumbawangi (selanjutnya disingkat KMA) bersama Gustra Adnyana sebagai pendamping pariwara. Seusai berbincang, seketika aku berutang tulisan hasil refleksiku sebagai pembaca yang belajar setia kepadanya.

Gustra Adnyana (kiri) dan Cyntha Hariadi (kanan) berdiskusi buku di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Daffa

Sebermula Kisah Keluarga Nanamama

Alkisah, seekor kokokan menjatuhkan seorang bayi ke kebun bawang merah milik Nanamama. Tubuh dan wajahnya menarik perhatian Kakaputu untuk segera membawanya pulang, dan sejak saat itu langsung dinamai Arumbawangi oleh Nanamama.

Singkatnya, mereka terusik ketika seorang pengusaha datang berencana membangun hotel di tengah sawah. Ketika seluruh warga tergiur menjual tanah mereka, hanya Nanamama yang teguh menolak. Bagi Nanamama, tanah adalah denyut nadi kehidupan. Bersama Kakaputu dan Arumbawangi, ia berdiri gagah menentang keserakahan yang mengancam tanah mereka.

Dalam pengisahan KMA, Cyntha berpijak kuat pada fenomena yang terjadi di kawasan pedesaan Ubud. Munculnya burung kokokan sebagai perangkat lokalitas Bali, Cyntha turut membalut kisahnya menjadi realisme magis bernuansa ekosentris. Konsistensi Cyntha juga terlihat jelas dalam merasionalkan hal-hal yang dianggap surreal lewat pendekatan ekologis yang konkret.

Dimulai Nanamama, misalnya. Sebagai tokoh dengan karakter ibu yang perkasa, Nanamama dipusatkan sebagai sentral moral, yang tak luput dari hakikat tradisi, penggerak spiritualitas alam, dan perjuangan sosok perempuan untuk berupaya mempertahankan ruang hidupnya.

Kemapanan relasi ekofeminis itulah sebagai gagasan utama dalam memantik kritik tentang konflik agraria yang tidak berkesudahan. Singkatnya bisa kita temukan lewat satu contoh penggalan berikut:

Semua yang hidup, tumbuh dari pori-pori bumi yang juga hidup. Aku bisa mendengar denyut nadiku dengan anak-anakku dalam tanah yang kami olah dan sayangi setiap hari. Sebagai balasan, tanah ini memberi kami hidup. Apa jadinya, kalau kemudian mesin-mesin itu datang, mengebor, dan menancapkan beton dan besi menembus kulit ke dalam daging sampai jantungku? Tanah ini akan mati. Kami semua (hlm 152-153).

Tidak berhenti di situ, pusaran cerita juga difokuskan pada tokoh Kakaputu dan Arumbawangi, di mana Cyntha menjadikannya wahana eksplorasi dunia anak-anak yang terasa spontan dalam kerumitan konflik sosial.

Arumbawangi mengepang seluruh rambut ibunya dan melilitnya menumpuk di atas kepala. Lalu ia menyelipkan puluhan kembang mitir sampai memenuhi seluruh rambutnya. Anak-anak berusaha membuat ibu mereka tampil bersih dan istimewa di saat terakhir tubuhnya dilihat dunia. Kalau masih hidup, Nanamama pasti menolak didandani seperti ini. Bukan karena mitir lumrah dijadikan hiasan kepala, tapi karena kepalanya jadi mirip sarang lebah. Kakaputu meletekkan kwangen di antara kedua tangan Nanamama yang terlipat di atas perut (hlm 4).

Lewat adegan proses pemakaman yang begitu getir, Cyntha ingin menyoal dunia mereka tampak polos, cair dan penuh ketulusan. Di satu sisi, mereka dituntut menghadapi kematian, konflik batin, hingga transformasi jiwa dengan legawa.

Kesadaran dan Ketidaksadaran Sebuah Dongeng

Aku begitu salut dengan simpati Cyntha ketika dirinya memiliki tanggung jawab moral dan terdorong untuk memotret sebuah isu perampasan tanah sengketa yang marak terjadi di Ubud, meskipun Cyntha tidak lahir dan tumbuh di sana.

Patut diapresiasi sebagai bentuk empati yang ditempuhnya tanpa menimbulkan kesan berjarak. Yang lebih menarik acapkali keputusan Cyntha mengadopsi konsep dongeng sebagai format bercerita. Ada satu paragraf yang kusuka. Terdengar sederhana namun aku suka cara Cyntha mendeskripsikannya adegan seorang anak yang jatuh dari langit dengan begitu imajinatif.

Anggap saja anak ini kiriman dari dewa-dewi langit untuk kelangsungan hidup manusia di bumi. Tak beda seperti hujan, cahaya, angin, dan petir. Tapi kali ini seorang manusia yang lahir bukan dari rahim manusia. tapi perut angkasa (hlm, 32).

Dalam sesi diskusi, Cyntha mengaku bahwa inspirasi menulisnya lahir dari rutinitas anaknya di sekolah alam. Benar saja, sembari membaca, sekilas aku merasakan lapisan personal yang tidak bisa luput dari penuturannya. Membaca KMA seperti membaca otobiografi yang terselubung. Agaknya, Cyntha punya keleluasaan untuk meleburkan fakta dan fantasi menjadi kian estetik.

Kekagumanku seringkali tergamang oleh apa yang boleh kusebut sebagai ketimpangan. Aku tidak bisa sepenuhnya menyebut KMA sebagai novel anak. Ada ketidaksadaran Cyntha yang menarik untuk ditelusuri. Terlihat Cyntha dengan kental menuturkannya menggunakan sudut pandang layaknya orang dewasa.

Perspektif moral, pilihan diksi, dan kedalaman refleksi masih terasa seperti suara seorang ibu yang mengajak duduk anak-anaknya untuk mendengar nasihat, bukan suara anak yang lugu menceritakan dunianya sendiri. Apalagi, setengah bahasa yang digunakan adalah metafora. Membikin KMA memerlukan waktu relatif lebih lama untuk mampu dicerna anak-anak, sesekali dipandu orangtua dalam menebalkan pemahaman konteks.

Penutup

KMA tampak menghadirkan kegelisahan Cyntha sebagai outsider yang peduli terhadap isu lingkungan serta berkomitmen untuk menyampaikannya dengan cara tersirat namun tetap kontekstual.

Tentu saja, ketika buku ini berjumpa kepada pembacanya, seperti punya cara tersendiri untuk mewartakan wacana yang dirasa penting. Sangat mungkin apabila buku ini akan melekat pada pembaca, serupa seorang ibu mendongeng hangat sebagai penghantar tidur kepada anaknya.

Data Buku

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi
Pengarang: Cyntha Hariadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2025, Cetakan ketiga

Penulis: Cahaya Daffa Fuadzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cyntha HariadiKokokan Mencari ArumbawanginovelSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Wardana dan Segiri Kopi: Eksperimen Rasa yang Bikin Robusta Berbeda

Next Post

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Cahaya Daffa Fuadzen

Cahaya Daffa Fuadzen

Mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Beberapa karyanya termuat di media cetak dan daring. Puisinya termaktub dalam antologi Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Sebagai penyair terpilih di Pertemuan Penyair Nusantara Dewan Kesenian Jakarta 2025.

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co