2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu by Candra Henaulu
August 28, 2025
in Esai
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu foto bersama para penulis tatkala.co di SLF 2025 | Foto: Ist

Luka

AKU tenggelam dalam lamunan kecil di bandara Ambon yang ramai pagi itu, seperti masih bimbang dengan keputusan yang telah kuambil. Sempat terbesit dalam pikiran, “Apa aku batalkan saja keberangkatan kali ini?”; tapi di sisi lain aku tetap ingin berangkat ke Bali.

“Penumpang Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6165 menuju Makassar segera naik ke pesawat.”

Lamunanku buyar, segera kumasukan buku cerpen Jorge Luis Borges,Kitab Pasir, ke dalam ransel. Aku berkemas, menuju antrean dengan hati dilema.

Bagaimana tidak, pagi di mana saat aku memutuskan berangkat ke Bali, tepatnya untuk mengikuti kegiatan festival sastra di Singaraja, pagi itu pula aku diliputi banyak tanya di kepala, apakah keputusan ini sudah tepat.

Jadi, masalahnya begini, pagi itu kala Ambon sedang cerah berawan, Rabu, 23 Juli 2025, sebelum aku berangkat untuk mengikuti salah satu festival terbesar di Kabupaten Buleleng, yakni Singaraja Literary Festival 2025, aku dikejutkan dengan kabar kematian pamanku di kampung.

Sedih, tak bisa kutahan air mata ketika mendengar kabar itu via telepon—walau tak ada suara tangisan histeris. Jujur, pada saat itu aku dilema antara membatalkan tiket ke Singaraja atau pulang ke kampung. Di persimpangan pilihan yang rumit ini, batinku gejolak dan betapa rumit memutuskan kondisi ke mana aku akan pergi.

Tapi hidup akan terus berjalan, dan waktu terus saja berputar, mau tidak mau kita harus mengambil keputusan atas pilihan yang rumit itu. Kemudian aku memilih untuk berangkat ke Bali esok harinya, Kamis, 24 Juli 2025, lalu mengutus si bungsu (adikku) untuk menggantikanku pulang ke kampung, melayat dan mengurusi prosesi pemakaman pamanku.

Namun, apa boleh buat, keputusan sudah bulat dan mau tidak mau aku harus menanggung risiko atas pilihan yang telah diambil. Aku pergi ke Bali, semoga bisa memberiku jeda untuk mengobati luka kehilangan yang sedang aku alami.

Sepanjang beberapa jam di bandara Sultan Hasanuddin, aku habiskan dengan penyesalan dan sedikit luka batin, namun coba kutenangkan diri lewat doa, semoga prosesi pemakaman almarhum pamanku bisa berjalan dengan lancar dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Setelah doa kulantunkan, tiba-tiba terbesit di kepalaku, “Di bandara kita semua mungkin hanya penumpang, menunggu waktu untuk panggilan ke tempat yang akan kita tuju, begitu juga kehidupan di dunia ini, menunggu panggilan akhir ke tempat yang kita tuju, mungkin panggilanku belum saat ini, sementara pamanku sudah dipanggil untuk pulang duluan tapi suatu saat nanti pasti aku akan dipanggil juga”.

Langsung aku catat gumaman itu di buku catatan kecil yang biasa aku bawa. Namun, luka atas rasa bersalah itu masih ada, masih kubawa sampai malam pertama saat tiba di Singaraja. Tidur dengan harapan besar semoga besok sudah reda segala gejolak kebatinan ini.

Hari pertama gelaran festival aku seperti mendapat penawar. Jumat, 25 Juli 2025, bersama kawan-kawan Komunitas Mahima, melalui Singaraja Literary Festival aku merasakan hal tersebut. Entah kenapa, tema “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta” begitu relevan denganku hari itu, yang datang ke Singaraja dengan luka batin yang perlu disembuhkan. Wajar sekali di hari pertama itu aku melibatkan diri dalam diskusi tentang penyembuhan lewat karya seni dan sastra.

Seni Rupa sebagai Penyembuh

Aku tertegun di depan sebuah lukisan. Lukisan itu berbentuk bulat yang diarsir dengan garis-garis pensil hitam putih membentuk satu pola menuju tengah dan di tengahnya ada sebuah lubang hitam, judul lukisan itu “Portal”, yang di lukis oleh Nyi Nyoman Sani.

Jika lukisan ini aku lihat dari kejahuan ia seperti buah pala, atau batu Hajar Aswad. Tapi setelah mendekat, aku seperti melihat portal dan portal itu seperti membawaku pada sebuah kesedihan yang tak berujung dan tak kunjung ditemukan solusinya. Abstrak menang, tapi aku seperti di ajak menyelami portal kesedihan pelukis yang tak bisa kita telaah ke mana akhirnya.

“Lukisan-lukisan yang saya lukis, tentu saja sangat personal bagi saya. Selama hampir tiga puluh tahun saya melukis, saya memerhatikan betul medium yang saya pakai. Saya memperhatikan betul detail dan perpaduan warnanya dan walaupun hanya medium garis dan titik yang saya pakai, tapi itu bagi saya cukup personal dan dalam bagi saya sendiri sebagai pelukis,” ujar Nyi Nyoman Sani dalam sesi Diskusi Seni: Seni Rupa, Warna, dan Penyembuhan.

Sungguh sebuah lukisan yang luar biasa bagi aku yang awam ini.

Namun, satu hal yang paling aku apresiasi ialah betapa tekunnya Sani mengarsir satu persatu garis dan membuat titik yang tak terhitung jumlahnya itu. Ia bisa mengerjakannya dengan fokus dan begitu lamanya ia bergelut dengan kerja kecil hanya untuk mengatakan pada orang bahwa “kesedihan tak ada tepinya, tapi kau bisa memilih untuk tetap meratap atau beranjak keluar portal kesedihan itu, dan menjadi pengkarya yang mengubah kesedihan jadi kekuatan”.

Di titik ini, kesedihanku perihal kematian paman, sedikit demi sedikit mulai mereda. Aku sadar, sebagai manusia yang hidup di belantara dunia yang fana ini, kita akan dibenturkan dengan permasalahan dan juga pilihan seperti ini selama jantung masih degup, selama napas masih berembus.

Selama itu pula, lengan-lengan masalah serta persimpangan pilihan pasti akan selalu menguji kita. Hal ini tentu saja melahirkan dilema dan luka, namun dari luka dan dilema itulah kita tumbuh menjadi utuh. Kesadaran itu tentu saja terjadi karena aku mengambil keputusan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan Singaraja Literary Festival 2025—sebulan yang lalu.

Singaraja Literary Festival sudah berakhir saat aku menulis hal ini. Lukaku atas kesedihan karena kehilangan juga sedikit mereda, mungkin karena banyak hal yang mengobatiku saat itu. Aku bukan orang Bali, tapi aku merasakan energi “Buda Kecapi” seperti meliputiku hari ini— bukan oleh kekuatan gaib, tapi oleh kekuatan seni, sastra, dan kehangatan setiap manusia yang ada di dalamnya.

Waktu itu, sebelum kembali ke Ambon, aku sempat berpikir, apakah energi penyembuhan itu masih meliputiku atau malah ia akan lenyap? Aku tak tahu sampai sekarang. Tapi, dari Singaraja Literary Festival aku selalu belajar untuk sembuh dan terus tumbuh—sampai panggilanku tiba, suatu saat nanti.[T]

Penulis: Candra Henaulu
Editor: Jaswanto

Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Next Post

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Candra Henaulu

Candra Henaulu

Penulis muda asal Maluku yang lahir di sebuah kampung nelayan kecil bernama Piru pada tanggal 12 Januari 1997. ia telah menerbitkan enam buah buku, serta memprakkarsai beberapa komunitas literasi lokal di Ambon, yakni Spot Bacarita, Ambon Book Party, dan Kedai Baca, serta pernah menjadi ketua umum di Forum Lingkar Pena Maluku. Candra atau yang biasa disapa dengan Senja Imrand ini senang sekali menulis dan membaca. Sampai saat ini ia ingin selalu mendedikasikan dirinya untuk menulis dan terus menulis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co