2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu by Candra Henaulu
August 28, 2025
in Esai
Luka, Sembuh, dan Usaha Terus Tumbuh: Sebuah Refleksi dari Singaraja Literary Festival 2025

Candra Henaulu foto bersama para penulis tatkala.co di SLF 2025 | Foto: Ist

Luka

AKU tenggelam dalam lamunan kecil di bandara Ambon yang ramai pagi itu, seperti masih bimbang dengan keputusan yang telah kuambil. Sempat terbesit dalam pikiran, “Apa aku batalkan saja keberangkatan kali ini?”; tapi di sisi lain aku tetap ingin berangkat ke Bali.

“Penumpang Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6165 menuju Makassar segera naik ke pesawat.”

Lamunanku buyar, segera kumasukan buku cerpen Jorge Luis Borges,Kitab Pasir, ke dalam ransel. Aku berkemas, menuju antrean dengan hati dilema.

Bagaimana tidak, pagi di mana saat aku memutuskan berangkat ke Bali, tepatnya untuk mengikuti kegiatan festival sastra di Singaraja, pagi itu pula aku diliputi banyak tanya di kepala, apakah keputusan ini sudah tepat.

Jadi, masalahnya begini, pagi itu kala Ambon sedang cerah berawan, Rabu, 23 Juli 2025, sebelum aku berangkat untuk mengikuti salah satu festival terbesar di Kabupaten Buleleng, yakni Singaraja Literary Festival 2025, aku dikejutkan dengan kabar kematian pamanku di kampung.

Sedih, tak bisa kutahan air mata ketika mendengar kabar itu via telepon—walau tak ada suara tangisan histeris. Jujur, pada saat itu aku dilema antara membatalkan tiket ke Singaraja atau pulang ke kampung. Di persimpangan pilihan yang rumit ini, batinku gejolak dan betapa rumit memutuskan kondisi ke mana aku akan pergi.

Tapi hidup akan terus berjalan, dan waktu terus saja berputar, mau tidak mau kita harus mengambil keputusan atas pilihan yang rumit itu. Kemudian aku memilih untuk berangkat ke Bali esok harinya, Kamis, 24 Juli 2025, lalu mengutus si bungsu (adikku) untuk menggantikanku pulang ke kampung, melayat dan mengurusi prosesi pemakaman pamanku.

Namun, apa boleh buat, keputusan sudah bulat dan mau tidak mau aku harus menanggung risiko atas pilihan yang telah diambil. Aku pergi ke Bali, semoga bisa memberiku jeda untuk mengobati luka kehilangan yang sedang aku alami.

Sepanjang beberapa jam di bandara Sultan Hasanuddin, aku habiskan dengan penyesalan dan sedikit luka batin, namun coba kutenangkan diri lewat doa, semoga prosesi pemakaman almarhum pamanku bisa berjalan dengan lancar dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Setelah doa kulantunkan, tiba-tiba terbesit di kepalaku, “Di bandara kita semua mungkin hanya penumpang, menunggu waktu untuk panggilan ke tempat yang akan kita tuju, begitu juga kehidupan di dunia ini, menunggu panggilan akhir ke tempat yang kita tuju, mungkin panggilanku belum saat ini, sementara pamanku sudah dipanggil untuk pulang duluan tapi suatu saat nanti pasti aku akan dipanggil juga”.

Langsung aku catat gumaman itu di buku catatan kecil yang biasa aku bawa. Namun, luka atas rasa bersalah itu masih ada, masih kubawa sampai malam pertama saat tiba di Singaraja. Tidur dengan harapan besar semoga besok sudah reda segala gejolak kebatinan ini.

Hari pertama gelaran festival aku seperti mendapat penawar. Jumat, 25 Juli 2025, bersama kawan-kawan Komunitas Mahima, melalui Singaraja Literary Festival aku merasakan hal tersebut. Entah kenapa, tema “Buda Kecapi: Energi Penyembuhan Semesta” begitu relevan denganku hari itu, yang datang ke Singaraja dengan luka batin yang perlu disembuhkan. Wajar sekali di hari pertama itu aku melibatkan diri dalam diskusi tentang penyembuhan lewat karya seni dan sastra.

Seni Rupa sebagai Penyembuh

Aku tertegun di depan sebuah lukisan. Lukisan itu berbentuk bulat yang diarsir dengan garis-garis pensil hitam putih membentuk satu pola menuju tengah dan di tengahnya ada sebuah lubang hitam, judul lukisan itu “Portal”, yang di lukis oleh Nyi Nyoman Sani.

Jika lukisan ini aku lihat dari kejahuan ia seperti buah pala, atau batu Hajar Aswad. Tapi setelah mendekat, aku seperti melihat portal dan portal itu seperti membawaku pada sebuah kesedihan yang tak berujung dan tak kunjung ditemukan solusinya. Abstrak menang, tapi aku seperti di ajak menyelami portal kesedihan pelukis yang tak bisa kita telaah ke mana akhirnya.

“Lukisan-lukisan yang saya lukis, tentu saja sangat personal bagi saya. Selama hampir tiga puluh tahun saya melukis, saya memerhatikan betul medium yang saya pakai. Saya memperhatikan betul detail dan perpaduan warnanya dan walaupun hanya medium garis dan titik yang saya pakai, tapi itu bagi saya cukup personal dan dalam bagi saya sendiri sebagai pelukis,” ujar Nyi Nyoman Sani dalam sesi Diskusi Seni: Seni Rupa, Warna, dan Penyembuhan.

Sungguh sebuah lukisan yang luar biasa bagi aku yang awam ini.

Namun, satu hal yang paling aku apresiasi ialah betapa tekunnya Sani mengarsir satu persatu garis dan membuat titik yang tak terhitung jumlahnya itu. Ia bisa mengerjakannya dengan fokus dan begitu lamanya ia bergelut dengan kerja kecil hanya untuk mengatakan pada orang bahwa “kesedihan tak ada tepinya, tapi kau bisa memilih untuk tetap meratap atau beranjak keluar portal kesedihan itu, dan menjadi pengkarya yang mengubah kesedihan jadi kekuatan”.

Di titik ini, kesedihanku perihal kematian paman, sedikit demi sedikit mulai mereda. Aku sadar, sebagai manusia yang hidup di belantara dunia yang fana ini, kita akan dibenturkan dengan permasalahan dan juga pilihan seperti ini selama jantung masih degup, selama napas masih berembus.

Selama itu pula, lengan-lengan masalah serta persimpangan pilihan pasti akan selalu menguji kita. Hal ini tentu saja melahirkan dilema dan luka, namun dari luka dan dilema itulah kita tumbuh menjadi utuh. Kesadaran itu tentu saja terjadi karena aku mengambil keputusan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan Singaraja Literary Festival 2025—sebulan yang lalu.

Singaraja Literary Festival sudah berakhir saat aku menulis hal ini. Lukaku atas kesedihan karena kehilangan juga sedikit mereda, mungkin karena banyak hal yang mengobatiku saat itu. Aku bukan orang Bali, tapi aku merasakan energi “Buda Kecapi” seperti meliputiku hari ini— bukan oleh kekuatan gaib, tapi oleh kekuatan seni, sastra, dan kehangatan setiap manusia yang ada di dalamnya.

Waktu itu, sebelum kembali ke Ambon, aku sempat berpikir, apakah energi penyembuhan itu masih meliputiku atau malah ia akan lenyap? Aku tak tahu sampai sekarang. Tapi, dari Singaraja Literary Festival aku selalu belajar untuk sembuh dan terus tumbuh—sampai panggilanku tiba, suatu saat nanti.[T]

Penulis: Candra Henaulu
Editor: Jaswanto

Tags: Singaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meneroka Ekologia Familia Nanamama: Catatan Buku “Kokokan Mencari Arumbawangi”

Next Post

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Candra Henaulu

Candra Henaulu

Penulis muda asal Maluku yang lahir di sebuah kampung nelayan kecil bernama Piru pada tanggal 12 Januari 1997. ia telah menerbitkan enam buah buku, serta memprakkarsai beberapa komunitas literasi lokal di Ambon, yakni Spot Bacarita, Ambon Book Party, dan Kedai Baca, serta pernah menjadi ketua umum di Forum Lingkar Pena Maluku. Candra atau yang biasa disapa dengan Senja Imrand ini senang sekali menulis dan membaca. Sampai saat ini ia ingin selalu mendedikasikan dirinya untuk menulis dan terus menulis.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Prosesi Sakral Ngaben Kinembulan Desa Adat Ubud: Penghormatan pada Leluhur dan Warisan Budaya Tak Ternilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co