Sepeda saya kayuh pelan karena hujan cukup lebat. Setelah berjalan beberapa kilometer, saya mendengar suara gesekan ujung standar tengah dengan jari-jari (spokes). Saya yakin baut standar kendor. Jika kondisi tersebut diabaikan, bukan tidak mungkin ada jari-jari yang aus dan berpotensi putus.
Saya mencari bengkel sepeda atau sepeda motor. Sebenarnya tidak sulit untuk mengencangkan baut “L” tersebut, jika tidak terhalang front derailleur (alat pemindah rantai pada sistem gigi depan).
Baut standar tengah di sepeda saya hanya bisa dikencangkan dengan tang buaya (tang yang dilengkapi pengunci). Atau bisa juga menggunakan kunci “L”, dengan bagian ujung berukuran pendek.
Akhirnya saya menemukan bengkel sepeda motor di kiri jalan. Saya minta bantuan pada satu-satunya orang di bengkel kecil tersebut. Tapi nampaknya dia sedang makan.
“Bapak punya alat untuk mengencangkan baut standar? Posisinya agak susah.”
Setelah melihat baut yang saya tunjukkan, dia letakkan piring kemudian menuju ke kotak perkakas.
“Coba pakai kunci ini,” ujarnya seraya mengulurkan tang buaya.
Setelah melepaskan jas hujan saya berusaha mengencangkan baut tersebut. Tapi tidak kunjung kencang juga, karena pengunci tang agak dol.
Setelah beberapa kali mencoba, masih belum berhasil juga. Saya menyerah dan meneruskan perjalanan.
Beberapa belas menit kemudian, saya baru menyadari jika tidak mengenakan kacamata. Celaka! Kacamata merupakan salah satu piranti penting dalam bersepeda. Jangan-jangan kacamata saya tertinggal di bengkel motor tadi.
Saya mencoba mencari dengan meraba kantong celana. Tidak ada! Saya gerakkan jari saya ke top tube bag dan stem bag. Tidak ada juga!
Terpaksa saya harus membeli kacamata. emoga di Mataram masih ada toko sepeda yang buka. Setelah mencari di Google Map, saya menemukan toko sepeda yang paling dekat.
Di Google Map disebutkan, toko baru tutup pukul 17.00 WITA. Saya masih punya waktu satu jam lagi. Jika tidak hujan, mungkin saya bisa sampai tujuan dengan lebih cepat.
Kurang dari 1,8 kilometer Google Map mengarahkan ke jalan yang lebih sempit. Setelah melewati satu perempatan, aplikasi peta online gratis itu mengabarkan bahwa saya sudah sampai lokasi. Tapi tidak ada satupun toko atau bengkel sepeda.
Saya belok kiri di perempatan berikutnya, menuju ke jalan utama. Setelah beberapa ratus meter, saya melihat toko sepeda yang cukup besar. Saya segera belok kiri menuju ke toko tersebut.
Di dalam toko yang luas itu tidak hanya menjual sepeda manual, tapi juga sepeda listrik. Saya menuju ke etalase tempat kacamata dan aksesori sepeda.
Saya perhatikan ada tiga perempuan muda di balik etalase tersebut. Satu berkulit kuning, dua lagi sawo matang.
“Ada kacamata murah?,” tanya saya kepada perempuan berkulit kuning, sepertinya dia pemiliknya.
“Ada beberapa pilihan, Pak. Bapak mau bersepeda ke mana?” tanyanya.
Kemungkinan dia memperhatikan sepeda saya, saat saya masuk ke halaman tokonya.
“Ke Labuan Bajo. Kacamata saya hilang.”
“Wah perjalanan masih jauh.”
“Iya. Saya harus mengenakan kacamata.”
Saya akhirnya mendapatkan kacamata dengan harga diskon. Mungkin karena perempuan muda berkulit kuning itu kasihan kepada saya.
Di tempat parkir, ada lelaki muda, berkualit kuning juga, yang sedang mengamati sepeda saya.
“Mau ke mana, Pak?” tanyanya
“Labuan Bajo.”
“Oh! Yang patut diwaspadai ketika melewati Sumbawa, sebab matahari di pulau itu ada lima. Udaranya panas saat siang.”
“Ok. Terima kasih informasinya.”
Ternyata toko sepeda tersebut juga menyediakan jasa servis. Sekalian saya minta untuk mengencangkan baut standar yang kendor.
Lelaki muda berkulit kuning itu memanggil salah satu montir sepeda. Setelah memperhatikan posisi baut, dia masuk lagi dan keluar membawa kunci “L” ujung pendek. Hanya dengan beberapa putaran baut kencang kembali.
“Berapa?”
“Nggak usah bayar, Pak.”
“Lho, saya harus bayar.”
“Nggak usah, Pak, hanya mengencangkan baut.
“Terima kasih ya.”
“Sama-sama.”
Sebelum berangkat, saya keluarkan selembar uang sepuluh ribu, saya berikan kepada montirnya.
Tidak begitu lama setelah keluar dari toko tersebut, saya merasa ada yang mengganjal di kantong celana sisi kanan. Setelah saya raba, bentuknya seperti kacamata. Saya segera merogoh dengan tangan kanan. Ternyata benar, itu kacamata yang saya pikir sudah hilang.
Setan! Rasanya tadi tangan saya tidak merasakan sesuatu yang menonjol. Baru setelah beli kacamata, tonjolan itu muncul begitu saja. Sontoloyo! [T]
Penulis: Made Wirya
Editor: Jaswanto
- BACA CERITA SEBELUMNYA:



























