2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Ayu Diah Purnamadewi by Ayu Diah Purnamadewi
August 14, 2025
in Ulas Rupa
Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Pram dan Ragam Caranya Bercerita -- Dari Pameran "Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity" di ISI Bali

ANGIN semilir Selasa sore, 29 Juli 2025, mengantarkan saya menghadiri pameran seni di Gedung Nata-Citta ISI Bali. Pameran Bali Bhuwana Rupa yang bertajuk Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity adalah sebuah pameran yang diadakan untuk memperingati seratus tahun kelahiran dari seorang sastrawan yaitu Pramoedya Ananta Toer 1925-2006. Pameran ini dibuat untuk menyuarakan pesan dari sastra Pram melalui berbagai media seni.

Pameran ini bekerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea-Indonesia Center (KIC). Kerja sama ini melibatkan lintas negara yang menggabungkan seni, budaya, dan sosial di setiap negaranya. Dalam pameran dengan kurator Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana dengan Jeon Dongsu dan Warih Wisatsana ini menampilkan 63 karya dari seniman negeri kita dan seniman lintas negara yang ikut bekerjasama dalam pameran ini.

Sekitar pukul 18.00 pameran ini dibuka dengan sambutan hangat dan pidato dari perwakilan penyelenggara dan kurator. Diresmikan dengan pemotongan pita pada pintu masuk pameran dan beberapa orang mendokumentasikan momen tersebut.

Suasana saat pertama kali saya memasuki ruang pameran yang saya lihat adalah begitu banyak karya menarik yang membingungkan pandangan saya harus mulai melihat darimana dulu. Suasana yang ramai, dipenuhi oleh mahasiswa, seniman, penikmat seni, bahkan dosen pun turut hadir ke acara itu. Melihat tata letak display yang dibuat serapi dan semenarik mungkin, diperindah dengan sorotan lampu yang menyinari karya. Ruangan yang luas membuat saya merasa bebas menjelajahi setiap karya-karya yang dipajang.

Dalam pameran ini saya melihat bagaimana sastrawan Pram menyikapi kritik sosial pada waktunya. Isu-isu politik, dan kemanusiaan, semuanya dituliskan pada karya Pram. Bahkan beberpa karyanya sempat dilarang pada masanya karena dianggap menyebarkan paham komunis. Namun dalam kesempatan ini kita dapat melihat bagaimana permasalahan sosial dapat dilihat dari berbagai negara. Saat memperhatikan karya-karya dari berbagai seniman, dapat saya lihat berbagai macam keunikan dari ide yang disampaikan. Karya yang dipajang memiliki begitu banyak makna yang dapat disampaikan, seperti bagaimana Pram menuliskan isu-isu yang ada pada karyanya.

Momen menarik saat saya melihat banyak orang berkumpul disatu sudut ruangan, memperhatikan sebuah layar yang berisikan wawancara antara Pramoedya Ananta Toer bersama bersama Prof. Koh Young Hun, seorang Indonesianis dari Korea Selatan yang telah lama meneliti karya-karya dari Pram. Suasana hangat meliputi ruangan, melalui video wawancara ini dapat dimengerti kita tidak hanya sekadar menontonnya begitu saja, tapi bagaimana kita menyelami gagasan tentang kebebasan berpikir, martabat kemanusiaan, serta keberanian untuk berdialog dengan Sejarah.

Saat menyusuri setiap sudut ruangan suasana yang dirasakan cukup berbeda, karena cerita yang dibawa setiap seniman yang begitu beragam. Dalam pameran ini media yang ditampilkan tidak hanya lukisan, namun ada berbagai macam, seperti fotografi, busana, dan instalasi.

Pada saat menangkap gambar sebuah karya pandangan saya tertuju tepat pada sebuah lukisan abstrak milik Nengah Wirakesuma, Earth Coral. Lukisan dengan tampilan abstraknya yang dibuat dengan media cat minyak pada kanvas putih dengan bingkai coklat. Warna coklat, kuning, oranye dan merah yang digunakan pada lukisan itu memberi kesan yang hangat. Diperindah menggunakan lis berwarna coklat muda yang membuat lukisan terasa minimalis dan gambar di tengahnya tetap menonjol.

Lukisan itu sekilas tidak memiliki bentuk, tetapi saat saya memandang lebih lama saya teringat pada ekosistem bawah laut, yaa, itu seperti karang laut yang sudah lama terendam asinnya air laut. Warnanya yang indah memberikan kehangatan seperti hangatnya hubungan manusia dan alam jika manusia tidak merusaknya. Karya ini bisa juga sebagai gambaran bagaimana seharusnya manusia menjaga alamnya dengan lebih baik. Warna putih yang tersisa pada kanvas mengartikan sisa dan harapan yang diberikan untuk tetap menjaga hubungan antara  dua makhluk hidup tersebut.

Ada juga karya yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat, begitu unik karya ini. Sebuah karya instalasi Neomesolitikum karya dari Ni Komang Atmi Kristia Dewi. Dibuat dengan media gerabah, cermin, dan batu pantai. Gerabah yang di cat biru dan di beri gambaran manusia purba, di dalam gerabah itu ditempelkan sebuah cermin bulat dan diberi sepotong batu-batu pantai kecil. Jarang saya melihat karya seperti itu, terlihat begitu unik di mata saya. K

arya itu membuat saya bingung, apa sih makna dari instalasi ini, apa seniman mau kita berpikir? Apa kita bagian dari cerita manusia purba itu? Tapi setelah diamati dan dipikir, kehidupan zaman dulu begitu alami dan asri, tidak ada sampah dan alam masih sehat. Karya ini menyadarkan saya bahwa zaman telah berubah, dan kita tetap harus tetap menjaga dan mewarisi bagaimana nenek moyang kita seperti gambaran manusia purba tersebut menjaga alamnya tetap utuh.

Selain karya-karya yang tadi ada juga karya dari seniman korea Joo Yong Seoung yang menampilkan karya fotografinya dengan judul The Day After-Whitout Us #2. Memperlihatkan seorang perempuan yang tengah merenung di sebuah ruangan, pandangannya keluar arah jendela seakan-akan kesedihannya begitu melarut dibenaknya. Sentuhan warna yang buat hangat dan dramatis membuat pesan foto ini cepat tersampaikan ke penonton. Cahaya yang masuk dari arah luar jendela memancarkan nuansa melankolis, seolah membawa saya ikut ke dalam kepedihan yang dirasakan setelah tidak ada lagi kebersamaan yang menemaninya.

Semua karya pada pameran ini memiliki pesan dan makna yang kuat, begitu juga dengan ide yang di kembangkan seniman kedalam karyanya. Pameran ini sangat Istimewa karena dialog antara lintas negara dapat dipertemukan pada kesempatan ini. Tidak hanya sekedar melihat karya, namun dari sinilah saya belajar bagaimana cara mengembangkan ide dengan bebas dan bagaimana cara memaknai sebuah karya.

Saya merasa bahwa setiap seniman berusaha memberikan sudut pandang mereka terhadap tema besar dengan sastrawan Pram ini agar bisa dikembangkan ke dalam karyanya. Pameran ini menjadikan terhubungnya jembatan masa lalu dan masa kini, perubahan yang terjadi begitu cepat. Kesempatan pada pameran ini mampu mengkritik langsung tentang krisis lingkungan, isu kontemporer, dan ketimpanga sosial. [T]

Penulis: Ayu Diah Purnamadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Tags: ISI BaliPameran Seni RupaPramoedya Ananta ToerSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Next Post

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Ayu Diah Purnamadewi

Ayu Diah Purnamadewi

Siswa SMK Negeri 1 Sukawati jurusan seni lukis, saat ini tengah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Ruang Antara Studio| Gurat Institute.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co