12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Ayu Diah Purnamadewi by Ayu Diah Purnamadewi
August 14, 2025
in Ulas Rupa
Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Pram dan Ragam Caranya Bercerita -- Dari Pameran "Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity" di ISI Bali

ANGIN semilir Selasa sore, 29 Juli 2025, mengantarkan saya menghadiri pameran seni di Gedung Nata-Citta ISI Bali. Pameran Bali Bhuwana Rupa yang bertajuk Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity adalah sebuah pameran yang diadakan untuk memperingati seratus tahun kelahiran dari seorang sastrawan yaitu Pramoedya Ananta Toer 1925-2006. Pameran ini dibuat untuk menyuarakan pesan dari sastra Pram melalui berbagai media seni.

Pameran ini bekerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea-Indonesia Center (KIC). Kerja sama ini melibatkan lintas negara yang menggabungkan seni, budaya, dan sosial di setiap negaranya. Dalam pameran dengan kurator Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana dengan Jeon Dongsu dan Warih Wisatsana ini menampilkan 63 karya dari seniman negeri kita dan seniman lintas negara yang ikut bekerjasama dalam pameran ini.

Sekitar pukul 18.00 pameran ini dibuka dengan sambutan hangat dan pidato dari perwakilan penyelenggara dan kurator. Diresmikan dengan pemotongan pita pada pintu masuk pameran dan beberapa orang mendokumentasikan momen tersebut.

Suasana saat pertama kali saya memasuki ruang pameran yang saya lihat adalah begitu banyak karya menarik yang membingungkan pandangan saya harus mulai melihat darimana dulu. Suasana yang ramai, dipenuhi oleh mahasiswa, seniman, penikmat seni, bahkan dosen pun turut hadir ke acara itu. Melihat tata letak display yang dibuat serapi dan semenarik mungkin, diperindah dengan sorotan lampu yang menyinari karya. Ruangan yang luas membuat saya merasa bebas menjelajahi setiap karya-karya yang dipajang.

Dalam pameran ini saya melihat bagaimana sastrawan Pram menyikapi kritik sosial pada waktunya. Isu-isu politik, dan kemanusiaan, semuanya dituliskan pada karya Pram. Bahkan beberpa karyanya sempat dilarang pada masanya karena dianggap menyebarkan paham komunis. Namun dalam kesempatan ini kita dapat melihat bagaimana permasalahan sosial dapat dilihat dari berbagai negara. Saat memperhatikan karya-karya dari berbagai seniman, dapat saya lihat berbagai macam keunikan dari ide yang disampaikan. Karya yang dipajang memiliki begitu banyak makna yang dapat disampaikan, seperti bagaimana Pram menuliskan isu-isu yang ada pada karyanya.

Momen menarik saat saya melihat banyak orang berkumpul disatu sudut ruangan, memperhatikan sebuah layar yang berisikan wawancara antara Pramoedya Ananta Toer bersama bersama Prof. Koh Young Hun, seorang Indonesianis dari Korea Selatan yang telah lama meneliti karya-karya dari Pram. Suasana hangat meliputi ruangan, melalui video wawancara ini dapat dimengerti kita tidak hanya sekadar menontonnya begitu saja, tapi bagaimana kita menyelami gagasan tentang kebebasan berpikir, martabat kemanusiaan, serta keberanian untuk berdialog dengan Sejarah.

Saat menyusuri setiap sudut ruangan suasana yang dirasakan cukup berbeda, karena cerita yang dibawa setiap seniman yang begitu beragam. Dalam pameran ini media yang ditampilkan tidak hanya lukisan, namun ada berbagai macam, seperti fotografi, busana, dan instalasi.

Pada saat menangkap gambar sebuah karya pandangan saya tertuju tepat pada sebuah lukisan abstrak milik Nengah Wirakesuma, Earth Coral. Lukisan dengan tampilan abstraknya yang dibuat dengan media cat minyak pada kanvas putih dengan bingkai coklat. Warna coklat, kuning, oranye dan merah yang digunakan pada lukisan itu memberi kesan yang hangat. Diperindah menggunakan lis berwarna coklat muda yang membuat lukisan terasa minimalis dan gambar di tengahnya tetap menonjol.

Lukisan itu sekilas tidak memiliki bentuk, tetapi saat saya memandang lebih lama saya teringat pada ekosistem bawah laut, yaa, itu seperti karang laut yang sudah lama terendam asinnya air laut. Warnanya yang indah memberikan kehangatan seperti hangatnya hubungan manusia dan alam jika manusia tidak merusaknya. Karya ini bisa juga sebagai gambaran bagaimana seharusnya manusia menjaga alamnya dengan lebih baik. Warna putih yang tersisa pada kanvas mengartikan sisa dan harapan yang diberikan untuk tetap menjaga hubungan antara  dua makhluk hidup tersebut.

Ada juga karya yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat, begitu unik karya ini. Sebuah karya instalasi Neomesolitikum karya dari Ni Komang Atmi Kristia Dewi. Dibuat dengan media gerabah, cermin, dan batu pantai. Gerabah yang di cat biru dan di beri gambaran manusia purba, di dalam gerabah itu ditempelkan sebuah cermin bulat dan diberi sepotong batu-batu pantai kecil. Jarang saya melihat karya seperti itu, terlihat begitu unik di mata saya. K

arya itu membuat saya bingung, apa sih makna dari instalasi ini, apa seniman mau kita berpikir? Apa kita bagian dari cerita manusia purba itu? Tapi setelah diamati dan dipikir, kehidupan zaman dulu begitu alami dan asri, tidak ada sampah dan alam masih sehat. Karya ini menyadarkan saya bahwa zaman telah berubah, dan kita tetap harus tetap menjaga dan mewarisi bagaimana nenek moyang kita seperti gambaran manusia purba tersebut menjaga alamnya tetap utuh.

Selain karya-karya yang tadi ada juga karya dari seniman korea Joo Yong Seoung yang menampilkan karya fotografinya dengan judul The Day After-Whitout Us #2. Memperlihatkan seorang perempuan yang tengah merenung di sebuah ruangan, pandangannya keluar arah jendela seakan-akan kesedihannya begitu melarut dibenaknya. Sentuhan warna yang buat hangat dan dramatis membuat pesan foto ini cepat tersampaikan ke penonton. Cahaya yang masuk dari arah luar jendela memancarkan nuansa melankolis, seolah membawa saya ikut ke dalam kepedihan yang dirasakan setelah tidak ada lagi kebersamaan yang menemaninya.

Semua karya pada pameran ini memiliki pesan dan makna yang kuat, begitu juga dengan ide yang di kembangkan seniman kedalam karyanya. Pameran ini sangat Istimewa karena dialog antara lintas negara dapat dipertemukan pada kesempatan ini. Tidak hanya sekedar melihat karya, namun dari sinilah saya belajar bagaimana cara mengembangkan ide dengan bebas dan bagaimana cara memaknai sebuah karya.

Saya merasa bahwa setiap seniman berusaha memberikan sudut pandang mereka terhadap tema besar dengan sastrawan Pram ini agar bisa dikembangkan ke dalam karyanya. Pameran ini menjadikan terhubungnya jembatan masa lalu dan masa kini, perubahan yang terjadi begitu cepat. Kesempatan pada pameran ini mampu mengkritik langsung tentang krisis lingkungan, isu kontemporer, dan ketimpanga sosial. [T]

Penulis: Ayu Diah Purnamadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Tags: ISI BaliPameran Seni RupaPramoedya Ananta ToerSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Next Post

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Ayu Diah Purnamadewi

Ayu Diah Purnamadewi

Siswa SMK Negeri 1 Sukawati jurusan seni lukis, saat ini tengah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Ruang Antara Studio| Gurat Institute.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co