3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Ayu Diah Purnamadewi by Ayu Diah Purnamadewi
August 14, 2025
in Ulas Rupa
Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Pram dan Ragam Caranya Bercerita -- Dari Pameran "Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity" di ISI Bali

ANGIN semilir Selasa sore, 29 Juli 2025, mengantarkan saya menghadiri pameran seni di Gedung Nata-Citta ISI Bali. Pameran Bali Bhuwana Rupa yang bertajuk Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity adalah sebuah pameran yang diadakan untuk memperingati seratus tahun kelahiran dari seorang sastrawan yaitu Pramoedya Ananta Toer 1925-2006. Pameran ini dibuat untuk menyuarakan pesan dari sastra Pram melalui berbagai media seni.

Pameran ini bekerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea-Indonesia Center (KIC). Kerja sama ini melibatkan lintas negara yang menggabungkan seni, budaya, dan sosial di setiap negaranya. Dalam pameran dengan kurator Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana dengan Jeon Dongsu dan Warih Wisatsana ini menampilkan 63 karya dari seniman negeri kita dan seniman lintas negara yang ikut bekerjasama dalam pameran ini.

Sekitar pukul 18.00 pameran ini dibuka dengan sambutan hangat dan pidato dari perwakilan penyelenggara dan kurator. Diresmikan dengan pemotongan pita pada pintu masuk pameran dan beberapa orang mendokumentasikan momen tersebut.

Suasana saat pertama kali saya memasuki ruang pameran yang saya lihat adalah begitu banyak karya menarik yang membingungkan pandangan saya harus mulai melihat darimana dulu. Suasana yang ramai, dipenuhi oleh mahasiswa, seniman, penikmat seni, bahkan dosen pun turut hadir ke acara itu. Melihat tata letak display yang dibuat serapi dan semenarik mungkin, diperindah dengan sorotan lampu yang menyinari karya. Ruangan yang luas membuat saya merasa bebas menjelajahi setiap karya-karya yang dipajang.

Dalam pameran ini saya melihat bagaimana sastrawan Pram menyikapi kritik sosial pada waktunya. Isu-isu politik, dan kemanusiaan, semuanya dituliskan pada karya Pram. Bahkan beberpa karyanya sempat dilarang pada masanya karena dianggap menyebarkan paham komunis. Namun dalam kesempatan ini kita dapat melihat bagaimana permasalahan sosial dapat dilihat dari berbagai negara. Saat memperhatikan karya-karya dari berbagai seniman, dapat saya lihat berbagai macam keunikan dari ide yang disampaikan. Karya yang dipajang memiliki begitu banyak makna yang dapat disampaikan, seperti bagaimana Pram menuliskan isu-isu yang ada pada karyanya.

Momen menarik saat saya melihat banyak orang berkumpul disatu sudut ruangan, memperhatikan sebuah layar yang berisikan wawancara antara Pramoedya Ananta Toer bersama bersama Prof. Koh Young Hun, seorang Indonesianis dari Korea Selatan yang telah lama meneliti karya-karya dari Pram. Suasana hangat meliputi ruangan, melalui video wawancara ini dapat dimengerti kita tidak hanya sekadar menontonnya begitu saja, tapi bagaimana kita menyelami gagasan tentang kebebasan berpikir, martabat kemanusiaan, serta keberanian untuk berdialog dengan Sejarah.

Saat menyusuri setiap sudut ruangan suasana yang dirasakan cukup berbeda, karena cerita yang dibawa setiap seniman yang begitu beragam. Dalam pameran ini media yang ditampilkan tidak hanya lukisan, namun ada berbagai macam, seperti fotografi, busana, dan instalasi.

Pada saat menangkap gambar sebuah karya pandangan saya tertuju tepat pada sebuah lukisan abstrak milik Nengah Wirakesuma, Earth Coral. Lukisan dengan tampilan abstraknya yang dibuat dengan media cat minyak pada kanvas putih dengan bingkai coklat. Warna coklat, kuning, oranye dan merah yang digunakan pada lukisan itu memberi kesan yang hangat. Diperindah menggunakan lis berwarna coklat muda yang membuat lukisan terasa minimalis dan gambar di tengahnya tetap menonjol.

Lukisan itu sekilas tidak memiliki bentuk, tetapi saat saya memandang lebih lama saya teringat pada ekosistem bawah laut, yaa, itu seperti karang laut yang sudah lama terendam asinnya air laut. Warnanya yang indah memberikan kehangatan seperti hangatnya hubungan manusia dan alam jika manusia tidak merusaknya. Karya ini bisa juga sebagai gambaran bagaimana seharusnya manusia menjaga alamnya dengan lebih baik. Warna putih yang tersisa pada kanvas mengartikan sisa dan harapan yang diberikan untuk tetap menjaga hubungan antara  dua makhluk hidup tersebut.

Ada juga karya yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat, begitu unik karya ini. Sebuah karya instalasi Neomesolitikum karya dari Ni Komang Atmi Kristia Dewi. Dibuat dengan media gerabah, cermin, dan batu pantai. Gerabah yang di cat biru dan di beri gambaran manusia purba, di dalam gerabah itu ditempelkan sebuah cermin bulat dan diberi sepotong batu-batu pantai kecil. Jarang saya melihat karya seperti itu, terlihat begitu unik di mata saya. K

arya itu membuat saya bingung, apa sih makna dari instalasi ini, apa seniman mau kita berpikir? Apa kita bagian dari cerita manusia purba itu? Tapi setelah diamati dan dipikir, kehidupan zaman dulu begitu alami dan asri, tidak ada sampah dan alam masih sehat. Karya ini menyadarkan saya bahwa zaman telah berubah, dan kita tetap harus tetap menjaga dan mewarisi bagaimana nenek moyang kita seperti gambaran manusia purba tersebut menjaga alamnya tetap utuh.

Selain karya-karya yang tadi ada juga karya dari seniman korea Joo Yong Seoung yang menampilkan karya fotografinya dengan judul The Day After-Whitout Us #2. Memperlihatkan seorang perempuan yang tengah merenung di sebuah ruangan, pandangannya keluar arah jendela seakan-akan kesedihannya begitu melarut dibenaknya. Sentuhan warna yang buat hangat dan dramatis membuat pesan foto ini cepat tersampaikan ke penonton. Cahaya yang masuk dari arah luar jendela memancarkan nuansa melankolis, seolah membawa saya ikut ke dalam kepedihan yang dirasakan setelah tidak ada lagi kebersamaan yang menemaninya.

Semua karya pada pameran ini memiliki pesan dan makna yang kuat, begitu juga dengan ide yang di kembangkan seniman kedalam karyanya. Pameran ini sangat Istimewa karena dialog antara lintas negara dapat dipertemukan pada kesempatan ini. Tidak hanya sekedar melihat karya, namun dari sinilah saya belajar bagaimana cara mengembangkan ide dengan bebas dan bagaimana cara memaknai sebuah karya.

Saya merasa bahwa setiap seniman berusaha memberikan sudut pandang mereka terhadap tema besar dengan sastrawan Pram ini agar bisa dikembangkan ke dalam karyanya. Pameran ini menjadikan terhubungnya jembatan masa lalu dan masa kini, perubahan yang terjadi begitu cepat. Kesempatan pada pameran ini mampu mengkritik langsung tentang krisis lingkungan, isu kontemporer, dan ketimpanga sosial. [T]

Penulis: Ayu Diah Purnamadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Tags: ISI BaliPameran Seni RupaPramoedya Ananta ToerSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Next Post

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Ayu Diah Purnamadewi

Ayu Diah Purnamadewi

Siswa SMK Negeri 1 Sukawati jurusan seni lukis, saat ini tengah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Ruang Antara Studio| Gurat Institute.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co