23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Ayu Diah Purnamadewi by Ayu Diah Purnamadewi
August 14, 2025
in Ulas Rupa
Pram dan Ragam Caranya Bercerita — Dari Pameran “Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity” di ISI Bali

Pram dan Ragam Caranya Bercerita -- Dari Pameran "Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity" di ISI Bali

ANGIN semilir Selasa sore, 29 Juli 2025, mengantarkan saya menghadiri pameran seni di Gedung Nata-Citta ISI Bali. Pameran Bali Bhuwana Rupa yang bertajuk Pram-Bhuwana-Patra: Earth and Humanity adalah sebuah pameran yang diadakan untuk memperingati seratus tahun kelahiran dari seorang sastrawan yaitu Pramoedya Ananta Toer 1925-2006. Pameran ini dibuat untuk menyuarakan pesan dari sastra Pram melalui berbagai media seni.

Pameran ini bekerja sama dengan Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) dan Korea-Indonesia Center (KIC). Kerja sama ini melibatkan lintas negara yang menggabungkan seni, budaya, dan sosial di setiap negaranya. Dalam pameran dengan kurator Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana dengan Jeon Dongsu dan Warih Wisatsana ini menampilkan 63 karya dari seniman negeri kita dan seniman lintas negara yang ikut bekerjasama dalam pameran ini.

Sekitar pukul 18.00 pameran ini dibuka dengan sambutan hangat dan pidato dari perwakilan penyelenggara dan kurator. Diresmikan dengan pemotongan pita pada pintu masuk pameran dan beberapa orang mendokumentasikan momen tersebut.

Suasana saat pertama kali saya memasuki ruang pameran yang saya lihat adalah begitu banyak karya menarik yang membingungkan pandangan saya harus mulai melihat darimana dulu. Suasana yang ramai, dipenuhi oleh mahasiswa, seniman, penikmat seni, bahkan dosen pun turut hadir ke acara itu. Melihat tata letak display yang dibuat serapi dan semenarik mungkin, diperindah dengan sorotan lampu yang menyinari karya. Ruangan yang luas membuat saya merasa bebas menjelajahi setiap karya-karya yang dipajang.

Dalam pameran ini saya melihat bagaimana sastrawan Pram menyikapi kritik sosial pada waktunya. Isu-isu politik, dan kemanusiaan, semuanya dituliskan pada karya Pram. Bahkan beberpa karyanya sempat dilarang pada masanya karena dianggap menyebarkan paham komunis. Namun dalam kesempatan ini kita dapat melihat bagaimana permasalahan sosial dapat dilihat dari berbagai negara. Saat memperhatikan karya-karya dari berbagai seniman, dapat saya lihat berbagai macam keunikan dari ide yang disampaikan. Karya yang dipajang memiliki begitu banyak makna yang dapat disampaikan, seperti bagaimana Pram menuliskan isu-isu yang ada pada karyanya.

Momen menarik saat saya melihat banyak orang berkumpul disatu sudut ruangan, memperhatikan sebuah layar yang berisikan wawancara antara Pramoedya Ananta Toer bersama bersama Prof. Koh Young Hun, seorang Indonesianis dari Korea Selatan yang telah lama meneliti karya-karya dari Pram. Suasana hangat meliputi ruangan, melalui video wawancara ini dapat dimengerti kita tidak hanya sekadar menontonnya begitu saja, tapi bagaimana kita menyelami gagasan tentang kebebasan berpikir, martabat kemanusiaan, serta keberanian untuk berdialog dengan Sejarah.

Saat menyusuri setiap sudut ruangan suasana yang dirasakan cukup berbeda, karena cerita yang dibawa setiap seniman yang begitu beragam. Dalam pameran ini media yang ditampilkan tidak hanya lukisan, namun ada berbagai macam, seperti fotografi, busana, dan instalasi.

Pada saat menangkap gambar sebuah karya pandangan saya tertuju tepat pada sebuah lukisan abstrak milik Nengah Wirakesuma, Earth Coral. Lukisan dengan tampilan abstraknya yang dibuat dengan media cat minyak pada kanvas putih dengan bingkai coklat. Warna coklat, kuning, oranye dan merah yang digunakan pada lukisan itu memberi kesan yang hangat. Diperindah menggunakan lis berwarna coklat muda yang membuat lukisan terasa minimalis dan gambar di tengahnya tetap menonjol.

Lukisan itu sekilas tidak memiliki bentuk, tetapi saat saya memandang lebih lama saya teringat pada ekosistem bawah laut, yaa, itu seperti karang laut yang sudah lama terendam asinnya air laut. Warnanya yang indah memberikan kehangatan seperti hangatnya hubungan manusia dan alam jika manusia tidak merusaknya. Karya ini bisa juga sebagai gambaran bagaimana seharusnya manusia menjaga alamnya dengan lebih baik. Warna putih yang tersisa pada kanvas mengartikan sisa dan harapan yang diberikan untuk tetap menjaga hubungan antara  dua makhluk hidup tersebut.

Ada juga karya yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat, begitu unik karya ini. Sebuah karya instalasi Neomesolitikum karya dari Ni Komang Atmi Kristia Dewi. Dibuat dengan media gerabah, cermin, dan batu pantai. Gerabah yang di cat biru dan di beri gambaran manusia purba, di dalam gerabah itu ditempelkan sebuah cermin bulat dan diberi sepotong batu-batu pantai kecil. Jarang saya melihat karya seperti itu, terlihat begitu unik di mata saya. K

arya itu membuat saya bingung, apa sih makna dari instalasi ini, apa seniman mau kita berpikir? Apa kita bagian dari cerita manusia purba itu? Tapi setelah diamati dan dipikir, kehidupan zaman dulu begitu alami dan asri, tidak ada sampah dan alam masih sehat. Karya ini menyadarkan saya bahwa zaman telah berubah, dan kita tetap harus tetap menjaga dan mewarisi bagaimana nenek moyang kita seperti gambaran manusia purba tersebut menjaga alamnya tetap utuh.

Selain karya-karya yang tadi ada juga karya dari seniman korea Joo Yong Seoung yang menampilkan karya fotografinya dengan judul The Day After-Whitout Us #2. Memperlihatkan seorang perempuan yang tengah merenung di sebuah ruangan, pandangannya keluar arah jendela seakan-akan kesedihannya begitu melarut dibenaknya. Sentuhan warna yang buat hangat dan dramatis membuat pesan foto ini cepat tersampaikan ke penonton. Cahaya yang masuk dari arah luar jendela memancarkan nuansa melankolis, seolah membawa saya ikut ke dalam kepedihan yang dirasakan setelah tidak ada lagi kebersamaan yang menemaninya.

Semua karya pada pameran ini memiliki pesan dan makna yang kuat, begitu juga dengan ide yang di kembangkan seniman kedalam karyanya. Pameran ini sangat Istimewa karena dialog antara lintas negara dapat dipertemukan pada kesempatan ini. Tidak hanya sekedar melihat karya, namun dari sinilah saya belajar bagaimana cara mengembangkan ide dengan bebas dan bagaimana cara memaknai sebuah karya.

Saya merasa bahwa setiap seniman berusaha memberikan sudut pandang mereka terhadap tema besar dengan sastrawan Pram ini agar bisa dikembangkan ke dalam karyanya. Pameran ini menjadikan terhubungnya jembatan masa lalu dan masa kini, perubahan yang terjadi begitu cepat. Kesempatan pada pameran ini mampu mengkritik langsung tentang krisis lingkungan, isu kontemporer, dan ketimpanga sosial. [T]

Penulis: Ayu Diah Purnamadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buda Kecapi: Muara yang Kembali pada Hulu
Titik dan Garis Ni Nyoman Sani
Psikologi Humanistik Polenk
Tags: ISI BaliPameran Seni RupaPramoedya Ananta ToerSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Next Post

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Ayu Diah Purnamadewi

Ayu Diah Purnamadewi

Siswa SMK Negeri 1 Sukawati jurusan seni lukis, saat ini tengah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Ruang Antara Studio| Gurat Institute.

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Strategi Apik Warga Baduy Dalam :  Pergeseran Interaksi dari Menghindari Menjadi Menjemput Tamu [2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co