MEMBACA buku saat ini tidak menarik lagi bagi anak muda, termasuk mahasiswa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan mahasiswa dimanja oleh keadaan. Sumber bacaan secara digital begitu banyak. Tinggal buka laptop atau ponsel, semua informasi dan sumber bacaan bisa diperoleh.
Beda generasi memang beda kebiasaan. Membaca buku bagi mahasiswa tahun 1960 – 1990 merupakan kewajiban. Buku bisa menjadi ukuran intelektualitas dan “kekayaan” mahasiswa. Semakin banyak mahasiswa membaca buku, ia akan dipandang sebagai intelektual. Semakin banyak ia menyimpan buku di kamarnya, semakin ia dipandang “kaya”.
Orientasi mahasiswa terhadap ilmu dan pengetahuan pada masa lalu memang tinggi. Meski dengan keterbatasan teknologi, banyak buku-buku berbobot yang ditulis oleh dosen, mahasiswa, maupun aktivis kampus. Nyaris tak ada waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk membaca, meski kegiatan organisasi kemahasiswaan juga banyak. Perpustakaan menjadi tempat mahasiswa membaca dan meminjam buku-buku untuk kepentingan perkuliahan.
Buku, baik ilmiah maupun fiksi bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk diangkat di layar film. Sebut saja Bumi Manusia, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan lain-lain yang sukses diangkat menjadi film. Tokoh Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Ada Apa Dengan Cinta juga digambarkan sebagai sosok pria tampan yang kutu buku.
Kini mahasiswa dimanjakan oleh teknologi. Buku tidak harus pinjam di perpustakaan. Banyak aplikasi maupun tautan yang menawarkan buku elektronik. Membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di perpustakaan. Apalagi perpustakaan bagi mahasiswa sering dipandang sebagai tempat yang membosankan, bahkan kadang dianggap menyeramkan.
Mahasiswa kadang merasa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun salah satu syarat wisuda adalah bebas pinjaman buku di perpustakaan. Mahasiswa acap menganggap perpustakaan sebagai gudang buku yang sepi dengan lampu yang temaram menyeramkan.
Saat ini, perpustakaan di beberapa kampus berupaya menghapus stigma membosankan dan menyeramkan bagi perpustakaan. Banyak perpustakaan yang desain interiornya kekininian dengan spot foto yang menarik. Koleksi buku juga tertata dengan baik, sehingga enak untuk dilihat dan dicari. Bahkan beberapa kampus menyediakan kafe di dalam perpustakaan.
***
Kampus tempat Biru Sabrina kuliah memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Koleksi bukunya lengkap, baik buku eksakta maupun humaniora. Desain ruangan perpustakaan juga kekinian dengan AC yang sejuk. Lampu di dalam perpustakaan cukup terang dengan tempat duduk dan meja yang nyaman. Di luar gedung perpustakaan terdapat kafe untuk bersantai bagi mahasiswa yang lelah membaca buku di dalam perpustakaan.
Biru Sabrina sengaja datang ke perpustakaan agak pagi, lantaran siangnya ada kuliah. Perpustakaan masih sepi di pagi hari. Walau hari-hari biasa juga tidak terlalu banyak pengunjung. Mahasiswa akan banyak datang ke perpustakaan bila menjelang ujian tengah semester (UTS) maupun ujian akhir semester (UAS).
Hanya ada tiga orang mahasiswa berada di perpustakaan saat Biru Sabrina membaca buku Marketing 5.0. Suasana sunyi memang nyaman untuk membaca. Namun ruang perpustakaan yang luas juga membuat Biru Sabrina agak takut.
Baru membaca pendahuluan dalam buku itu, Biru Sabrina dikejutkan dengan kehadiran seorang mahasiswa yang duduk berhadapan dengannya. Biru tak melihat kedatangan mahasiswa laki-laki itu yang duduk begitu saja. Mahasiswa itu memegangi sebuah buku. Tidak membacanya. Hanya memandangi buku itu dengan tatapan kosong.
Dengan sedikit rasa takut Biru mencoba memandang mahasiswa itu. Betapa terkejut dia. Mahasiswa itu memandangi Biru dengan tatap mata yang kosong dan wajah yang pucat. Raut muka mahasiswa itu menunjukkan kesedihan. Biru mengalihkan pandangannya dengan membuka lembar halaman buku yang ia baca.
Sungguh mengejutkan. Ketika Biru Sabrina kembali hendak memandang mahasiswa di depannya, tak lagi tampak. Mahasiswa itu sudah tidak duduk di depannya. Padahal Biru tak melihat atau mendengar mahasiswa itu beranjak dari tempat duduknya. Biru merinding. Bulu kuduk di tengkuknya berdiri. “Kemana perginya mahasiswa itu?” tanya Biru dalam hati.
Anehnya, buku yang tadi dibaca oleh mahasiswa itu masih tergeletak di atas meja. Biru Sabrina mengamati buku itu. Bertambah terkejut dan takut Biru saat melihat judul buku itu, “Mati Tak Berarti Pergi” karya penulis Herwiratno. Bergegas Biru menutup buku Marketing 5.0 yang dibacanya. Ia segera meninggalkan perpustakaan.
***
Menjelang siang Bela Mahardika mengunjungi perpustakaan. Ada tugas dari dosen untuk melakukan resensi buku politik. Bela Mahardika memilih buka karya Plato “The Republic”. Menariknya buku ini bagi Bela adalah isi buku yang ditulis dalam bentuk dialog.
Bela Mahardika begitu serius membaca buku. Namun ia dikagetkan oleh sebuah buku yang jatuh dari tempat pemajangan buku di perpustakaan. Bela tidak begitu menaruh perhatian. Mungkin saja ada mahasiswa yang menyentuh dan menjatuhkannya. Akan tetapi Bela tidak melihat seorang mahasiswa pun yang melintas di lorong penyimpanan buku.
Terdorong oleh rasa penasaran, Bela Mahardika memungut buku yang jatuh dan menaruhnya kembali di rak buku. Belum sempat duduk, Bela kembali dikejutkan oleh buku yang terjatuh dari raknya. Bela menongoknya. Buku yang tadi ia taruh terjatuh kembali. Aneh, pikirnya. Padahal baru saja ia telah menaruh buku itu. Perasaan Bela mulai tidak enak. Namun Bela menduga, ia tidak tepat menaruhnya.
Kembali Bela Mahardika memungut buku itu dan memastikan bahwa ia telah menaruh buku dengan benar. Baru saja membalikkan badan untuk kembali ke tempat duduknya, Bela dikagetkan dengan buku yang jatuh lagi. Kali ini Bela mulai merinding.
Antara takut, ragu, dan penasaran, Bela Mahardika menghampiri buku yang terjatuh. Ia melihat dengan seksama buku itu. Kaget bukan kepalang Bela. Buku itu berjudul “Mati Tak Berarti Pergi”. Seketika Bela merinding. Keringat dingin ia rasakan mengucur dari keningnya. Bela bergegas keluar dari perpustakaan.
Sore hari, Farhan Agusta baru sempat ke perpustakaan. Dicarinya buku “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman”. Itu karena tugas dosen dan ia tidak memiliki buku tersebut di rumahnya. Koleksi buku-buku tentang pertanian di perpustakaan sangat lengkap. Apalagi kampus tempatnya kuliah banyak dosen yang menulis buku pertanian.
Ketika Farhan Agusta duduk di ruang baca, di atas meja sudah terletak buku lain. Entah buku apa, dan siapa yang hendak meminjam. Mungkin yang baca buku itu sedang istirahat sejenak, pikir Farhan. Ia tak begitu peduli. Dia duduk di samping kanan buku itu.
Ruang perpustakaan yang sunyi membuat Farhan Agusta khusuk membaca buku yang akan dipinjamnya. Tengah asyik membuat cacatan dari apa yang ia baca, Farhan dikagetkan oleh buku yang ada di samping kanannya. Buku itu terbuka sendiri. Seolah ada orang yang sedang membacanya. Awalnya Farhan Agusta menduga buku itu tertiup angin. Tapi bukankah ruang perpustakaan tertutup rapat?
Farhan Agusta kembali membaca buku yang dipinjamnya. Suhu udara di ruang baca semakin dingin. Semilir angin menerpa punggung dan tengkuknya. Berbarengan dengan itu, buku yang ada di sampingnya kembali terbuka sendiri. Kali ini halaman demi halaman terbuka begitu cepat. Farhan merinding ketakutan. Buku itu bergerak seolah ada orang yang membacanya.
Wajah pucat mulai tampak pada Farhan Agusta. Ia menengok kiri kanan untuk mencari orang lain. Namun menjelang sore perputakaan sudah sepi pengunjung. Perlahan Farhan menghampiri buku itu. Bertambah kaget dan merinding bulu kuduk Farhan ketika melihat judul buku yang terbuka sendiri, “Mati Tak Berarti Pergi”. Kaki Farhan Agusta gemetaran. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan ruang baca perpustakaan.
***
Sejak peristiwa yang dialami Biru Sabrina, Bela Mahardika, dan Farhan Agusta pengunjung perpustakaan semakin menurun. Cerita dari mulut ke mulut tentang tiga mahasiswa itu menyurutkan niat mahasiswa untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka takut berhadapan dengan buku misterius yang tersimpan di perpustakaan.
Pihak perpustakaan melakukan evaluasi terhadap minat mahasiswa yang berkunjung. Mendengar kisah Biru, Bela, dan Farhan pihak perpustakaan mengambil buku yang menimbulkan ketakutan mahasiswa. Buku itu memang hanya tersedia satu eksemplar di ruang baca.
“Buku itu dulu pernah dipinjam oleh mahasiswa program studi sastra Indonesia. Saat hendak pulang ke rumah mahasiswa itu mengalami kecelakaan tabrak lari. Mahasiswa yang mengendarai sepeda motor ditabrak truk di jalan raya. Sang sopir kabur, dan mahasiswa itu meninggal di tempat. Di dalam tasnya terdapat buku yang ia pinjam berjudul Mati Tak Berarti Pergi,” jelas petugas perpustakaan kepada Biru, Bela, dan Farhan yang menanyakan tentang buku misterius yang menyeramkan di ruang baca perpustakaan.
Atas saran seorang dosen senior di kampus, pihak perpustakaan diminta untuk menyerahkan saja buku itu ke pihak orang tua atau keluarga mahasiswa yang meninggal dalam kecelakaan. Dengan harapan, tidak lagi ada kejadian misterius di perpustakaan.
Kepala perpustakaan merespons saran dosen senior itu. Dia sendiri yang mengantar buku “Mati Tak Berarti Pergi” ke rumah orang tua mahasiswa untuk disimpan. Tangis haru orang tua mahasiswa menerima buku itu. Namun mereka berjanji untuk menyimpan buku itu di bekas kamar anaknya yang kini sudah tenang di alam baka.
Tidak ada lagi kejadian aneh yang menyeramkan di perpustakaan setelah buku misterius itu diserahkan kepada keluarga mahasiswa yang meninggal karena kecelakaan. Meski begitu, perpustakaan tetap saja tidak banyak pengunjung. Mahasiswa lebih banyak berdiskusi di kafe sambil bergosip soal drama Korea dan perselingkuhan selebritis. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)










![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [4]–Kegembiraan Datang Nyeri pun Hilang](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/wirya.-sepeda4.1-75x75.jpeg)















