23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 13, 2025
in Esai
Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP memandang lengan kanan saya, rasa sedih diam-diam menyelimuti. Tangan saya cacat dan tak sempurna. Fraktur, dalam istilah kedokteran. Dulu, saat mulai menginjak bangku SMP, saya mengalami patah tulang ketika ngebut naik sepeda BMX di sebuah lapangan bola di Negara, kota kecil di ujung barat Bali, kampung halaman saya.

Pagi hari itu, seorang kawan mengajak saya main basket. Kebetulan hari itu libur sekolah. Saya tak ikut main basket, memilih asyik dengan sepeda BMX yang kala itu sedang menjadi tren anak-anak kecil dan remaja. Sebelumnya, sepeda itu saya modifikasi dengan mengelas gir belakang, sehingga tak bisa bergerak mundur. Doortrap, istilahnya, dari bahasa Belanda kalau tidak salah.

Ketika itu, kami yang beranjak remaja suka ikut-ikutan apa yang teman lain lakukan. Wajar juga jika dilihat dari psikologi, identitas yang masih terus dicari oleh anak usia remaja, dengan mencoba menjadi ini dan itu. Sepeda BMX tak hanya dipakai untuk balapan di jalan raya, tapi juga untuk atraksi “jumping-jumpingan”, begitu kami menyebutnya. Mengangkat stang sekuat mungkin sehingga roda depan “melayang” atau lompat sementara sepeda terus berjalan. Siapa yang paling lama jumping dianggap hebat.

Namun, saya tidak hanya jumping pagi itu. Bahkan, mirip pemain sirkus, saya berdiri di batang sepeda, sementara roda terus melaju. “Gila” juga saya saat kecil, jika kini mengingatnya. Hingga sepeda menabrak sebongkah batu, dan saya terpental.

Krakkk!—suara itu jelas. Lengan saya patah, lunglai menjuntai. Saya mengaduh keras, hingga teman saya datang panik. Saat diantar pulang, ibu dan ayah angkat saya terkejut sekaligus marah, membuat saya yang kesakitan tambah terpojok.

Saya tak dibawa ke rumah sakit. Kakak angkat saya, yang kala itu seorang guru dan cukup mapan, hanya melihat tanpa memberi solusi memadai. Ibu angkat kemudian membawa saya ke pengobat patah tulang tradisional. Awalnya, keluarga pengobat itu mengaku tak sanggup, menyarankan kami mendatangi pengobat lain di ujung timur kota Negara.

Saat kami tiba, banyak orang mengantre. Ada yang keseleo, terkilir, bahkan patah tulang. Pengobat itu tua, bertubuh tegap, kumis melintang di atas bibir. Saat giliran saya dipijat sambil diajak bicara, rasa sakit luar biasa menjalari lengan kanan saya. Hampir menangis, saya berteriak tak tahan.

Sekitar 20 menit pijatan tahap pertama, lalu dua minggu kemudian saya harus kembali. Begitu seterusnya, hampir dua bulan lamanya. Sayang, kondisi lengan saya tidak membaik. Tulang siku yang terlepas dari sendi, tetap bengkok dan tak bisa lurus. Saya bilang pada ayah angkat saya yang kasihan melihat bengkak setiap kali pulang dari pijatan, agar pengobatan dihentikan saja, yang artinya lengan saya cacat seumur hidup.

Mungkin jika dibawa ke rumah sakit, kondisi saya bisa lebih baik. Tapi hidup berjalan. Lengan cacat ini membuat saya minder, sering menarik diri dari lingkungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman. Meski seiring waktu saya mulai terbiasa, tatapan orang yang baru pertama kali bertemu saya tetap terasa menusuk. Tak sedikit yang bertanya mengapa tangan saya begitu.

Saya jadi teringat, sebelum kecelakaan itu, ibu angkat saya pernah marah mendengar saya memodifikasi sepeda BMX dan ikut “jumping-jumpingan”. Dengan muka tegang, ia berkata, “Awas ada nanti tanganmu kutung (patah)!” Kalimat itu ia lontarkan dengan murka. Dan, entah kebetulan atau tidak, beberapa hari kemudian hal itu benar-benar terjadi.

Bukan soal menggugat masa lalu, saya hanya heran. Kata-kata dari seorang ibu, apalagi saat marah, mengapa begitu mudah dilontarkan tanpa memikirkan akibatnya. Dalam budaya kita, ucapan orang tua sering diyakini punya daya magis yang bisa menjadi kenyataan. Seorang gadis yang suka memberontak “dikutuk” jadi perawan tua. Anak laki-laki yang membuat malu keluarga “dikutuk” tak selamat di jalan atau hidupnya penuh kesialan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, kutukan (curse) bukan sekadar sumpah serapah. Di banyak kebudayaan di Indonesia, ia memiliki sejarah panjang sebagai sarana kontrol sosial dan moral. Kutukan biasanya dilontarkan oleh figur otoritatif, seperti orang tua, tetua adat, pemuka agama, yang diyakini memiliki kekuatan batin atau restu leluhur.

Folklore Nusantara sarat dengan cerita kutukan. Kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat mungkin yang paling populer: seorang anak durhaka dikutuk ibunya menjadi batu. Di Bali, ada cerita I Ketut Bungkling, rakyat jelata yang kerap membuat lelucon sinis kepada raja, namun pada akhirnya menerima akibatnya. Di Jawa, ada kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Kutukan dalam cerita-cerita ini sering menjadi penegasan moral, bahwa siapa yang melanggar norma, akan menerima balasannya.

Secara antropologis, kutukan memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi normatif, yakni menegakkan nilai dan aturan. Kedua, fungsi sosial, sebagai peringatan agar generasi muda patuh pada otoritas dan tradisi. Ketiga, fungsi psikologis, yakni menjadi pelepasan emosi pihak yang merasa dirugikan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber trauma ketika diinternalisasi oleh penerima kutukan, seperti yang saya alami.

Dalam tradisi lisan, kekuatan kutukan sering dikaitkan dengan konsep performative speech. Artinya, ucapan yang tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga menciptakannya. Dalam kepercayaan tradisional, kata-kata yang dilontarkan dengan niat, emosi kuat, dan posisi sosial tertentu dianggap mampu memanggil kekuatan gaib atau restu leluhur.

Sayangnya, keyakinan ini bisa berdampak buruk ketika digunakan secara gegabah. Banyak kasus di mana anak merasa hidupnya “dirantai” oleh ucapan orang tua. Bahkan ketika secara rasional ia tahu itu hanya kata-kata, secara emosional ia tetap merasa terikat. Trauma ini bisa membentuk kepribadian; anak menjadi penakut, menarik diri, atau justru pemberontak.

Saya tidak tahu apakah kecelakaan saya murni kebetulan atau benar-benar “hasil kutukan” ibu angkat saya. Namun, yang jelas, kata-kata itu membekas lebih lama dari rasa sakit patah tulang. Hingga kini, setiap melihat lengan saya, ingatan itu muncul.

Mungkin, inilah alasan saya tertarik mempelajari hubungan antara bahasa, emosi, dan kekuasaan dalam budaya. Kutukan adalah salah satu bentuknya, bahasa yang bisa menjadi “senjata” atau “doa terbalik”. Ia adalah pengingat bahwa kata-kata tak pernah benar-benar hilang setelah diucapkan. Mereka tinggal di tubuh, di ingatan, dan kadang di takdir. Hari ini, saya memilih untuk tidak melihat kutukan itu sebagai takdir buruk, tetapi sebagai pelajaran hidup. Bahwa kita harus berhati-hati dalam berbicara, terutama pada mereka yang kita cintai. Dan bahwa luka yang ditinggalkan kata-kata bisa sama dalamnya dengan luka yang ditinggalkan batu di lapangan bola bertahun-tahun lalu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: ibukutukanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daftar Harga dan Rekomendasi Smartwatch Huawei Terbaru 2025

Next Post

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co