22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 13, 2025
in Esai
Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP memandang lengan kanan saya, rasa sedih diam-diam menyelimuti. Tangan saya cacat dan tak sempurna. Fraktur, dalam istilah kedokteran. Dulu, saat mulai menginjak bangku SMP, saya mengalami patah tulang ketika ngebut naik sepeda BMX di sebuah lapangan bola di Negara, kota kecil di ujung barat Bali, kampung halaman saya.

Pagi hari itu, seorang kawan mengajak saya main basket. Kebetulan hari itu libur sekolah. Saya tak ikut main basket, memilih asyik dengan sepeda BMX yang kala itu sedang menjadi tren anak-anak kecil dan remaja. Sebelumnya, sepeda itu saya modifikasi dengan mengelas gir belakang, sehingga tak bisa bergerak mundur. Doortrap, istilahnya, dari bahasa Belanda kalau tidak salah.

Ketika itu, kami yang beranjak remaja suka ikut-ikutan apa yang teman lain lakukan. Wajar juga jika dilihat dari psikologi, identitas yang masih terus dicari oleh anak usia remaja, dengan mencoba menjadi ini dan itu. Sepeda BMX tak hanya dipakai untuk balapan di jalan raya, tapi juga untuk atraksi “jumping-jumpingan”, begitu kami menyebutnya. Mengangkat stang sekuat mungkin sehingga roda depan “melayang” atau lompat sementara sepeda terus berjalan. Siapa yang paling lama jumping dianggap hebat.

Namun, saya tidak hanya jumping pagi itu. Bahkan, mirip pemain sirkus, saya berdiri di batang sepeda, sementara roda terus melaju. “Gila” juga saya saat kecil, jika kini mengingatnya. Hingga sepeda menabrak sebongkah batu, dan saya terpental.

Krakkk!—suara itu jelas. Lengan saya patah, lunglai menjuntai. Saya mengaduh keras, hingga teman saya datang panik. Saat diantar pulang, ibu dan ayah angkat saya terkejut sekaligus marah, membuat saya yang kesakitan tambah terpojok.

Saya tak dibawa ke rumah sakit. Kakak angkat saya, yang kala itu seorang guru dan cukup mapan, hanya melihat tanpa memberi solusi memadai. Ibu angkat kemudian membawa saya ke pengobat patah tulang tradisional. Awalnya, keluarga pengobat itu mengaku tak sanggup, menyarankan kami mendatangi pengobat lain di ujung timur kota Negara.

Saat kami tiba, banyak orang mengantre. Ada yang keseleo, terkilir, bahkan patah tulang. Pengobat itu tua, bertubuh tegap, kumis melintang di atas bibir. Saat giliran saya dipijat sambil diajak bicara, rasa sakit luar biasa menjalari lengan kanan saya. Hampir menangis, saya berteriak tak tahan.

Sekitar 20 menit pijatan tahap pertama, lalu dua minggu kemudian saya harus kembali. Begitu seterusnya, hampir dua bulan lamanya. Sayang, kondisi lengan saya tidak membaik. Tulang siku yang terlepas dari sendi, tetap bengkok dan tak bisa lurus. Saya bilang pada ayah angkat saya yang kasihan melihat bengkak setiap kali pulang dari pijatan, agar pengobatan dihentikan saja, yang artinya lengan saya cacat seumur hidup.

Mungkin jika dibawa ke rumah sakit, kondisi saya bisa lebih baik. Tapi hidup berjalan. Lengan cacat ini membuat saya minder, sering menarik diri dari lingkungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman. Meski seiring waktu saya mulai terbiasa, tatapan orang yang baru pertama kali bertemu saya tetap terasa menusuk. Tak sedikit yang bertanya mengapa tangan saya begitu.

Saya jadi teringat, sebelum kecelakaan itu, ibu angkat saya pernah marah mendengar saya memodifikasi sepeda BMX dan ikut “jumping-jumpingan”. Dengan muka tegang, ia berkata, “Awas ada nanti tanganmu kutung (patah)!” Kalimat itu ia lontarkan dengan murka. Dan, entah kebetulan atau tidak, beberapa hari kemudian hal itu benar-benar terjadi.

Bukan soal menggugat masa lalu, saya hanya heran. Kata-kata dari seorang ibu, apalagi saat marah, mengapa begitu mudah dilontarkan tanpa memikirkan akibatnya. Dalam budaya kita, ucapan orang tua sering diyakini punya daya magis yang bisa menjadi kenyataan. Seorang gadis yang suka memberontak “dikutuk” jadi perawan tua. Anak laki-laki yang membuat malu keluarga “dikutuk” tak selamat di jalan atau hidupnya penuh kesialan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, kutukan (curse) bukan sekadar sumpah serapah. Di banyak kebudayaan di Indonesia, ia memiliki sejarah panjang sebagai sarana kontrol sosial dan moral. Kutukan biasanya dilontarkan oleh figur otoritatif, seperti orang tua, tetua adat, pemuka agama, yang diyakini memiliki kekuatan batin atau restu leluhur.

Folklore Nusantara sarat dengan cerita kutukan. Kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat mungkin yang paling populer: seorang anak durhaka dikutuk ibunya menjadi batu. Di Bali, ada cerita I Ketut Bungkling, rakyat jelata yang kerap membuat lelucon sinis kepada raja, namun pada akhirnya menerima akibatnya. Di Jawa, ada kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Kutukan dalam cerita-cerita ini sering menjadi penegasan moral, bahwa siapa yang melanggar norma, akan menerima balasannya.

Secara antropologis, kutukan memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi normatif, yakni menegakkan nilai dan aturan. Kedua, fungsi sosial, sebagai peringatan agar generasi muda patuh pada otoritas dan tradisi. Ketiga, fungsi psikologis, yakni menjadi pelepasan emosi pihak yang merasa dirugikan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber trauma ketika diinternalisasi oleh penerima kutukan, seperti yang saya alami.

Dalam tradisi lisan, kekuatan kutukan sering dikaitkan dengan konsep performative speech. Artinya, ucapan yang tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga menciptakannya. Dalam kepercayaan tradisional, kata-kata yang dilontarkan dengan niat, emosi kuat, dan posisi sosial tertentu dianggap mampu memanggil kekuatan gaib atau restu leluhur.

Sayangnya, keyakinan ini bisa berdampak buruk ketika digunakan secara gegabah. Banyak kasus di mana anak merasa hidupnya “dirantai” oleh ucapan orang tua. Bahkan ketika secara rasional ia tahu itu hanya kata-kata, secara emosional ia tetap merasa terikat. Trauma ini bisa membentuk kepribadian; anak menjadi penakut, menarik diri, atau justru pemberontak.

Saya tidak tahu apakah kecelakaan saya murni kebetulan atau benar-benar “hasil kutukan” ibu angkat saya. Namun, yang jelas, kata-kata itu membekas lebih lama dari rasa sakit patah tulang. Hingga kini, setiap melihat lengan saya, ingatan itu muncul.

Mungkin, inilah alasan saya tertarik mempelajari hubungan antara bahasa, emosi, dan kekuasaan dalam budaya. Kutukan adalah salah satu bentuknya, bahasa yang bisa menjadi “senjata” atau “doa terbalik”. Ia adalah pengingat bahwa kata-kata tak pernah benar-benar hilang setelah diucapkan. Mereka tinggal di tubuh, di ingatan, dan kadang di takdir. Hari ini, saya memilih untuk tidak melihat kutukan itu sebagai takdir buruk, tetapi sebagai pelajaran hidup. Bahwa kita harus berhati-hati dalam berbicara, terutama pada mereka yang kita cintai. Dan bahwa luka yang ditinggalkan kata-kata bisa sama dalamnya dengan luka yang ditinggalkan batu di lapangan bola bertahun-tahun lalu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: ibukutukanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daftar Harga dan Rekomendasi Smartwatch Huawei Terbaru 2025

Next Post

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co