2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 13, 2025
in Esai
Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP memandang lengan kanan saya, rasa sedih diam-diam menyelimuti. Tangan saya cacat dan tak sempurna. Fraktur, dalam istilah kedokteran. Dulu, saat mulai menginjak bangku SMP, saya mengalami patah tulang ketika ngebut naik sepeda BMX di sebuah lapangan bola di Negara, kota kecil di ujung barat Bali, kampung halaman saya.

Pagi hari itu, seorang kawan mengajak saya main basket. Kebetulan hari itu libur sekolah. Saya tak ikut main basket, memilih asyik dengan sepeda BMX yang kala itu sedang menjadi tren anak-anak kecil dan remaja. Sebelumnya, sepeda itu saya modifikasi dengan mengelas gir belakang, sehingga tak bisa bergerak mundur. Doortrap, istilahnya, dari bahasa Belanda kalau tidak salah.

Ketika itu, kami yang beranjak remaja suka ikut-ikutan apa yang teman lain lakukan. Wajar juga jika dilihat dari psikologi, identitas yang masih terus dicari oleh anak usia remaja, dengan mencoba menjadi ini dan itu. Sepeda BMX tak hanya dipakai untuk balapan di jalan raya, tapi juga untuk atraksi “jumping-jumpingan”, begitu kami menyebutnya. Mengangkat stang sekuat mungkin sehingga roda depan “melayang” atau lompat sementara sepeda terus berjalan. Siapa yang paling lama jumping dianggap hebat.

Namun, saya tidak hanya jumping pagi itu. Bahkan, mirip pemain sirkus, saya berdiri di batang sepeda, sementara roda terus melaju. “Gila” juga saya saat kecil, jika kini mengingatnya. Hingga sepeda menabrak sebongkah batu, dan saya terpental.

Krakkk!—suara itu jelas. Lengan saya patah, lunglai menjuntai. Saya mengaduh keras, hingga teman saya datang panik. Saat diantar pulang, ibu dan ayah angkat saya terkejut sekaligus marah, membuat saya yang kesakitan tambah terpojok.

Saya tak dibawa ke rumah sakit. Kakak angkat saya, yang kala itu seorang guru dan cukup mapan, hanya melihat tanpa memberi solusi memadai. Ibu angkat kemudian membawa saya ke pengobat patah tulang tradisional. Awalnya, keluarga pengobat itu mengaku tak sanggup, menyarankan kami mendatangi pengobat lain di ujung timur kota Negara.

Saat kami tiba, banyak orang mengantre. Ada yang keseleo, terkilir, bahkan patah tulang. Pengobat itu tua, bertubuh tegap, kumis melintang di atas bibir. Saat giliran saya dipijat sambil diajak bicara, rasa sakit luar biasa menjalari lengan kanan saya. Hampir menangis, saya berteriak tak tahan.

Sekitar 20 menit pijatan tahap pertama, lalu dua minggu kemudian saya harus kembali. Begitu seterusnya, hampir dua bulan lamanya. Sayang, kondisi lengan saya tidak membaik. Tulang siku yang terlepas dari sendi, tetap bengkok dan tak bisa lurus. Saya bilang pada ayah angkat saya yang kasihan melihat bengkak setiap kali pulang dari pijatan, agar pengobatan dihentikan saja, yang artinya lengan saya cacat seumur hidup.

Mungkin jika dibawa ke rumah sakit, kondisi saya bisa lebih baik. Tapi hidup berjalan. Lengan cacat ini membuat saya minder, sering menarik diri dari lingkungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman. Meski seiring waktu saya mulai terbiasa, tatapan orang yang baru pertama kali bertemu saya tetap terasa menusuk. Tak sedikit yang bertanya mengapa tangan saya begitu.

Saya jadi teringat, sebelum kecelakaan itu, ibu angkat saya pernah marah mendengar saya memodifikasi sepeda BMX dan ikut “jumping-jumpingan”. Dengan muka tegang, ia berkata, “Awas ada nanti tanganmu kutung (patah)!” Kalimat itu ia lontarkan dengan murka. Dan, entah kebetulan atau tidak, beberapa hari kemudian hal itu benar-benar terjadi.

Bukan soal menggugat masa lalu, saya hanya heran. Kata-kata dari seorang ibu, apalagi saat marah, mengapa begitu mudah dilontarkan tanpa memikirkan akibatnya. Dalam budaya kita, ucapan orang tua sering diyakini punya daya magis yang bisa menjadi kenyataan. Seorang gadis yang suka memberontak “dikutuk” jadi perawan tua. Anak laki-laki yang membuat malu keluarga “dikutuk” tak selamat di jalan atau hidupnya penuh kesialan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, kutukan (curse) bukan sekadar sumpah serapah. Di banyak kebudayaan di Indonesia, ia memiliki sejarah panjang sebagai sarana kontrol sosial dan moral. Kutukan biasanya dilontarkan oleh figur otoritatif, seperti orang tua, tetua adat, pemuka agama, yang diyakini memiliki kekuatan batin atau restu leluhur.

Folklore Nusantara sarat dengan cerita kutukan. Kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat mungkin yang paling populer: seorang anak durhaka dikutuk ibunya menjadi batu. Di Bali, ada cerita I Ketut Bungkling, rakyat jelata yang kerap membuat lelucon sinis kepada raja, namun pada akhirnya menerima akibatnya. Di Jawa, ada kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Kutukan dalam cerita-cerita ini sering menjadi penegasan moral, bahwa siapa yang melanggar norma, akan menerima balasannya.

Secara antropologis, kutukan memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi normatif, yakni menegakkan nilai dan aturan. Kedua, fungsi sosial, sebagai peringatan agar generasi muda patuh pada otoritas dan tradisi. Ketiga, fungsi psikologis, yakni menjadi pelepasan emosi pihak yang merasa dirugikan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber trauma ketika diinternalisasi oleh penerima kutukan, seperti yang saya alami.

Dalam tradisi lisan, kekuatan kutukan sering dikaitkan dengan konsep performative speech. Artinya, ucapan yang tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga menciptakannya. Dalam kepercayaan tradisional, kata-kata yang dilontarkan dengan niat, emosi kuat, dan posisi sosial tertentu dianggap mampu memanggil kekuatan gaib atau restu leluhur.

Sayangnya, keyakinan ini bisa berdampak buruk ketika digunakan secara gegabah. Banyak kasus di mana anak merasa hidupnya “dirantai” oleh ucapan orang tua. Bahkan ketika secara rasional ia tahu itu hanya kata-kata, secara emosional ia tetap merasa terikat. Trauma ini bisa membentuk kepribadian; anak menjadi penakut, menarik diri, atau justru pemberontak.

Saya tidak tahu apakah kecelakaan saya murni kebetulan atau benar-benar “hasil kutukan” ibu angkat saya. Namun, yang jelas, kata-kata itu membekas lebih lama dari rasa sakit patah tulang. Hingga kini, setiap melihat lengan saya, ingatan itu muncul.

Mungkin, inilah alasan saya tertarik mempelajari hubungan antara bahasa, emosi, dan kekuasaan dalam budaya. Kutukan adalah salah satu bentuknya, bahasa yang bisa menjadi “senjata” atau “doa terbalik”. Ia adalah pengingat bahwa kata-kata tak pernah benar-benar hilang setelah diucapkan. Mereka tinggal di tubuh, di ingatan, dan kadang di takdir. Hari ini, saya memilih untuk tidak melihat kutukan itu sebagai takdir buruk, tetapi sebagai pelajaran hidup. Bahwa kita harus berhati-hati dalam berbicara, terutama pada mereka yang kita cintai. Dan bahwa luka yang ditinggalkan kata-kata bisa sama dalamnya dengan luka yang ditinggalkan batu di lapangan bola bertahun-tahun lalu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: ibukutukanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daftar Harga dan Rekomendasi Smartwatch Huawei Terbaru 2025

Next Post

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co