2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 13, 2025
in Esai
Teringat Ibu, Teringat Kutukan

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP memandang lengan kanan saya, rasa sedih diam-diam menyelimuti. Tangan saya cacat dan tak sempurna. Fraktur, dalam istilah kedokteran. Dulu, saat mulai menginjak bangku SMP, saya mengalami patah tulang ketika ngebut naik sepeda BMX di sebuah lapangan bola di Negara, kota kecil di ujung barat Bali, kampung halaman saya.

Pagi hari itu, seorang kawan mengajak saya main basket. Kebetulan hari itu libur sekolah. Saya tak ikut main basket, memilih asyik dengan sepeda BMX yang kala itu sedang menjadi tren anak-anak kecil dan remaja. Sebelumnya, sepeda itu saya modifikasi dengan mengelas gir belakang, sehingga tak bisa bergerak mundur. Doortrap, istilahnya, dari bahasa Belanda kalau tidak salah.

Ketika itu, kami yang beranjak remaja suka ikut-ikutan apa yang teman lain lakukan. Wajar juga jika dilihat dari psikologi, identitas yang masih terus dicari oleh anak usia remaja, dengan mencoba menjadi ini dan itu. Sepeda BMX tak hanya dipakai untuk balapan di jalan raya, tapi juga untuk atraksi “jumping-jumpingan”, begitu kami menyebutnya. Mengangkat stang sekuat mungkin sehingga roda depan “melayang” atau lompat sementara sepeda terus berjalan. Siapa yang paling lama jumping dianggap hebat.

Namun, saya tidak hanya jumping pagi itu. Bahkan, mirip pemain sirkus, saya berdiri di batang sepeda, sementara roda terus melaju. “Gila” juga saya saat kecil, jika kini mengingatnya. Hingga sepeda menabrak sebongkah batu, dan saya terpental.

Krakkk!—suara itu jelas. Lengan saya patah, lunglai menjuntai. Saya mengaduh keras, hingga teman saya datang panik. Saat diantar pulang, ibu dan ayah angkat saya terkejut sekaligus marah, membuat saya yang kesakitan tambah terpojok.

Saya tak dibawa ke rumah sakit. Kakak angkat saya, yang kala itu seorang guru dan cukup mapan, hanya melihat tanpa memberi solusi memadai. Ibu angkat kemudian membawa saya ke pengobat patah tulang tradisional. Awalnya, keluarga pengobat itu mengaku tak sanggup, menyarankan kami mendatangi pengobat lain di ujung timur kota Negara.

Saat kami tiba, banyak orang mengantre. Ada yang keseleo, terkilir, bahkan patah tulang. Pengobat itu tua, bertubuh tegap, kumis melintang di atas bibir. Saat giliran saya dipijat sambil diajak bicara, rasa sakit luar biasa menjalari lengan kanan saya. Hampir menangis, saya berteriak tak tahan.

Sekitar 20 menit pijatan tahap pertama, lalu dua minggu kemudian saya harus kembali. Begitu seterusnya, hampir dua bulan lamanya. Sayang, kondisi lengan saya tidak membaik. Tulang siku yang terlepas dari sendi, tetap bengkok dan tak bisa lurus. Saya bilang pada ayah angkat saya yang kasihan melihat bengkak setiap kali pulang dari pijatan, agar pengobatan dihentikan saja, yang artinya lengan saya cacat seumur hidup.

Mungkin jika dibawa ke rumah sakit, kondisi saya bisa lebih baik. Tapi hidup berjalan. Lengan cacat ini membuat saya minder, sering menarik diri dari lingkungan sosial, baik dengan keluarga maupun teman. Meski seiring waktu saya mulai terbiasa, tatapan orang yang baru pertama kali bertemu saya tetap terasa menusuk. Tak sedikit yang bertanya mengapa tangan saya begitu.

Saya jadi teringat, sebelum kecelakaan itu, ibu angkat saya pernah marah mendengar saya memodifikasi sepeda BMX dan ikut “jumping-jumpingan”. Dengan muka tegang, ia berkata, “Awas ada nanti tanganmu kutung (patah)!” Kalimat itu ia lontarkan dengan murka. Dan, entah kebetulan atau tidak, beberapa hari kemudian hal itu benar-benar terjadi.

Bukan soal menggugat masa lalu, saya hanya heran. Kata-kata dari seorang ibu, apalagi saat marah, mengapa begitu mudah dilontarkan tanpa memikirkan akibatnya. Dalam budaya kita, ucapan orang tua sering diyakini punya daya magis yang bisa menjadi kenyataan. Seorang gadis yang suka memberontak “dikutuk” jadi perawan tua. Anak laki-laki yang membuat malu keluarga “dikutuk” tak selamat di jalan atau hidupnya penuh kesialan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, kutukan (curse) bukan sekadar sumpah serapah. Di banyak kebudayaan di Indonesia, ia memiliki sejarah panjang sebagai sarana kontrol sosial dan moral. Kutukan biasanya dilontarkan oleh figur otoritatif, seperti orang tua, tetua adat, pemuka agama, yang diyakini memiliki kekuatan batin atau restu leluhur.

Folklore Nusantara sarat dengan cerita kutukan. Kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat mungkin yang paling populer: seorang anak durhaka dikutuk ibunya menjadi batu. Di Bali, ada cerita I Ketut Bungkling, rakyat jelata yang kerap membuat lelucon sinis kepada raja, namun pada akhirnya menerima akibatnya. Di Jawa, ada kisah Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso. Kutukan dalam cerita-cerita ini sering menjadi penegasan moral, bahwa siapa yang melanggar norma, akan menerima balasannya.

Secara antropologis, kutukan memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi normatif, yakni menegakkan nilai dan aturan. Kedua, fungsi sosial, sebagai peringatan agar generasi muda patuh pada otoritas dan tradisi. Ketiga, fungsi psikologis, yakni menjadi pelepasan emosi pihak yang merasa dirugikan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber trauma ketika diinternalisasi oleh penerima kutukan, seperti yang saya alami.

Dalam tradisi lisan, kekuatan kutukan sering dikaitkan dengan konsep performative speech. Artinya, ucapan yang tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga menciptakannya. Dalam kepercayaan tradisional, kata-kata yang dilontarkan dengan niat, emosi kuat, dan posisi sosial tertentu dianggap mampu memanggil kekuatan gaib atau restu leluhur.

Sayangnya, keyakinan ini bisa berdampak buruk ketika digunakan secara gegabah. Banyak kasus di mana anak merasa hidupnya “dirantai” oleh ucapan orang tua. Bahkan ketika secara rasional ia tahu itu hanya kata-kata, secara emosional ia tetap merasa terikat. Trauma ini bisa membentuk kepribadian; anak menjadi penakut, menarik diri, atau justru pemberontak.

Saya tidak tahu apakah kecelakaan saya murni kebetulan atau benar-benar “hasil kutukan” ibu angkat saya. Namun, yang jelas, kata-kata itu membekas lebih lama dari rasa sakit patah tulang. Hingga kini, setiap melihat lengan saya, ingatan itu muncul.

Mungkin, inilah alasan saya tertarik mempelajari hubungan antara bahasa, emosi, dan kekuasaan dalam budaya. Kutukan adalah salah satu bentuknya, bahasa yang bisa menjadi “senjata” atau “doa terbalik”. Ia adalah pengingat bahwa kata-kata tak pernah benar-benar hilang setelah diucapkan. Mereka tinggal di tubuh, di ingatan, dan kadang di takdir. Hari ini, saya memilih untuk tidak melihat kutukan itu sebagai takdir buruk, tetapi sebagai pelajaran hidup. Bahwa kita harus berhati-hati dalam berbicara, terutama pada mereka yang kita cintai. Dan bahwa luka yang ditinggalkan kata-kata bisa sama dalamnya dengan luka yang ditinggalkan batu di lapangan bola bertahun-tahun lalu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Anjing Jalanan dan Wajah Paradoks Bali
Dea dan Buku-Buku yang Bersayap: Kisah dari Big Bad Wolf Bali 2025
Dari Nasi Bungkus ke Buku Sastra, Kisah Jalanan I Wayan Suardika
Tags: ibukutukanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Daftar Harga dan Rekomendasi Smartwatch Huawei Terbaru 2025

Next Post

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Pati, Bupati, Pemimpin, Cermin, dan Pemimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co