24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gema Dari Menara”: Menelaah Konstruksi Sosial Brunei Darussalam Sebelum Kemerdekaan

Akbar Rafsanjani by Akbar Rafsanjani
July 17, 2025
in Ulas Film
“Gema Dari Menara”: Menelaah Konstruksi Sosial Brunei Darussalam Sebelum Kemerdekaan

Satu adegan dalam film Gema dari Menara

GEMA Dari Menara diklaim sebagai film layar lebar pertama Brunei Darussalam. Film ini diproduksi oleh Departemen Hal Ehwal Ugama Brunei (sekarang dikenal sebagai Departemen Agama) pada tahun 1968 bekerja sama dengan Film Negara Malaysia (Finas).

Gema Dari Menara aslinya direkam dalam format 35 mm selama sekitar 80 menit. Naskahnya ditulis oleh Awang Haji Abdul Saman bin Kahar pada tahun 1967. Gema Dari Menara menceritakan tentang krisis identitas keluarga kelas menengah Brunei Darussalam.

Film ini menggunakan latar belakang kehidupan sosial Brunei sebelum merdeka penuh dari Inggris sebagai lanskap, keadaan negara yang belum menerima masuknya cara hidup kebarat-baratan. Fokus utamanya adalah keluarga Haji Bahar (Abu Bakar bin Ahmad) dan Che Timah (Pengiran Umi binti Pengiran Idrus) dengan sebagian besar alur cerita berkisar pada Azman (Pengiran Abbas P.H. Besar), putra sulung Haji Bahar dan saudara-saudaranya; Nordin (Harun Md. Dom) dan Noriah (Jamaliah Abu).

Azman adalah seorang pemuda berusia antara 20 hingga 30 tahun yang religius, terpelajar, dan modern (menurut kepercayaan ayahnya). Sementara itu, kedua adiknya adalah pembangkang, siswa yang putus sekolah, senang berpesta, melakukan tindakan tidak bermoral (menurut kepercayaan Islam), dan kegiatan hedonistik lainnya yang dianggap sebagai hasil modernisasi/sekularisasi yang melanda Brunei Darussalam saat itu.

Azman dibebani untuk memperbaiki moral Nordin dan Noriah oleh ayahnya. Ia dicap sebagai “tangan kanan” ayahnya. Kedua lelaki ini (Azman dan ayahnya) digambarkan sebagai orang baik dan berhak menjadi panutan dalam keluarga Melayu Brunei dan Islam. Setidaknya, hal ini bersumber dari tafsir tekstual atas perintah Tuhan yang termuat dalam Al-Quran dan faktor politik di mana sistem patriarki begitu kental dalam Islam.

Keluarga Patriarki Monogami

Di sini kita mencoba melihat struktur sosial dalam keluarga Haji Bahar yang merupakan perwujudan realitas yang dipersepsikan oleh penulis film ini (di mana dan dalam sistem sosial bagaimana ia hidup). Banyak di antara kita yang memandang keluarga sebagai sebuah konsep yang diterima begitu saja, seolah-olah sebagai ciptaan alam semesta tanpa ada unsur sejarah yang mengintervensi. Kita dilahirkan dalam sebuah keluarga. Keluarga sudah ada di hadapan kita.

Dari situ, kita tidak mempersoalkan konsep keluarga baik sebagai kategori sosial maupun sebagai unit praktis kehidupan sosial. Dalam realitasnya, baik dalam arti ekonomi-politik, antropologis, maupun filosofis, selalu terjadi pergulatan untuk menafsirkan atau mewacanakan keluarga. Perubahan sosial, perebutan kekuasaan, pertumbuhan penduduk atau pengendalian populasi, pertahanan militer, penyebaran agama semuanya membutuhkan keluarga.

Dalam keluarga Haji Bahar, ia bertindak sebagai kepala keluarga dan anak laki-laki tertuanya sebagai “tangan kanan”. Seseorang yang akan mewarisi hartanya juga dituntut sebagai wakil ayahnya untuk mendidik adik-adiknya. Berikut ini saya berikan model keluarga Haji Bahar sebagai keluarga patriarki monogami. Keluarga patriarki monogami dipimpin oleh seorang suami yang bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya. Konsep keluarga patriarki monogami tidak sepenuhnya bersumber dari syariat Islam.

Satu adegan dalam film Gema dari Menara

Menurut Lewis Morgan dalam Ancient Society, praktik keluarga patriarki monogami lahir pada tahap akhir perkembangan masyarakat barbar menuju panggung peradaban, yakni ribuan tahun sebelum lahirnya Islam. Dengan demikian, pemilihan model keluarga patriarki monogami dalam Gema Dari Menara tentu menempatkan perempuan (dalam hal ini Che’ Timah) hanya sebagai tokoh ketiga (setelah Azman) yang memiliki peran dalam keluarga (selain fungsi reproduksi sosial). Bahkan perempuan lain dalam keluarga (Noriah) merupakan tokoh antagonis yang menjadi lawan (dan penguat karakter pahlawan) bagi Azman.

Mari kita lihat bagaimana arketipe karakter Che’ Timah dan karakternya berubah dari A menjadi B dalam film tersebut. Di awal film, Che’ Timah merupakan salah satu tokoh yang menjadi antagonis bagi Azman dan ayahnya. Che Timah sebagai seorang ibu mendukung apa yang dilakukan dan merupakan pilihan Nordin dan Noriah. Bahkan, ia menyatakan bahwa Azman sudah kolot dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Saat itu, Che’ Timah bahkan mengusir Azman dari rumah karena provokasi Nordin. Nordin menuduh Azman telah menggelapkan harta ayahnya.

Dari pertengahan film hingga akhir, Che Timah beralih ke pihak Azman dan menjadi antitesis dari antagonis lainnya (Nordin dan Noriah). Perubahan karakter Che Timah menunjukkan bagaimana posisi perempuan digambarkan tidak konsisten. Jadi, posisi Che Timah di sini tidak lain hanyalah untuk memperkuat karakter Azman yang sebenarnya, bahwa apa yang dipegang (diyakini) di awal, meskipun ditentang oleh ibunya, ternyata adalah pihak yang benar. Che’ Timah harus mengakui apa yang dipikirkan Azman, meskipun dia adalah ibunya.

Perancangan perubahan karakter dari A ke B untuk karakter Che Timah berimplikasi pada keyakinan bahwa perempuan benar-benar plin-plan. Hal itu akan memperkuat pandangan umum kepada penonton bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin atau menduduki jabatan di pemerintahan atau menjadi kepala keluarga. Dibandingkan dengan kedua tokoh utama dalam film ini (Azman dan Haji Bahar) yang sejak awal digambarkan sebagai tokoh yang berpegang teguh pada apa yang diyakininya. Hal itu semakin memperkuat penjelasan di atas tentang model keluarga patriarki monogami.

Dengan demikian, film ini sangat politis, meskipun kita melupakan variabel bahwa film ini diproduksi oleh penguasa (Jabatan Hal Ehwal Ugama Brunei), dan ditulis oleh seorang laki-laki yang hidup dalam sistem patriarki yang kokoh.

Objektifikasi Tubuh Perempuan

Tokoh perempuan lain yang menjadi bagian dari keluarga Haji Bahar adalah adik bungsu Azman, Noriah. Pertama, yang menarik perhatian adalah Jamaliah Abu memerankan tokoh Noriah. Sebelum kita membahas tokoh Noriah, perlu dijelaskan (seperti yang telah disebutkan sebelumnya) bahwa film ini merupakan hasil kerja sama antara Departemen Hal Ehwal Ugama Brunei dan Film Negara Malaysia (Finas). Beberapa pemeran Gema Dari Menara adalah orang Malaysia, termasuk Jamaliah Abu. Hal ini menarik karena tokoh antagonis yang “jahat” tersebut diperankan oleh aktor Malaysia, bukan aktor lokal.

Dalam hal ini, Azman yang diperankan oleh Pengiran Abbas P.H. Besar adalah seorang pegawai Departemen Hal Ehwal Ugama Brunei Darussalam yang dikirim ke Finas untuk belajar perfilman. Sebelum menerbitkan film ini, mereka telah mengirim sekitar 5 orang pegawai Departemen Hal Ehwal Ugama Brunei ke Malaysia untuk mengambil kursus perfilman (Pengiran Abbas P.H. Besar adalah salah satunya).

Satu adegan dalam film Gema dari Menara

Tokoh Noriah yang merupakan antitesis dari tokoh protagonis (Azman) hadir untuk memperkuat karakternya. Dijelaskan bahwa Azman adalah tipikal pemuda ‘ideal’ karena ia penuh hormat, sopan, bertutur kata lemah lembut, dan memegang nilai-nilai dan cita-cita budaya Melayu Brunei. Noriah memperkuat narasi bahwa ia adalah kebalikan dari karakter Azman; perempuan yang tidak tahu sopan santun, kasar, dan mewakili perempuan muda yang terpengaruh oleh “budaya barat”. Namun, sayangnya, situasi ini bias gender. Sebagaimana karakter Che Timah dalam keluarga Haji Bahar, Noriah digambarkan tidak lebih dari seorang adik perempuan yang nakal.

Selain itu, untuk menunjukkan bahwa ia nakal, Noriah digambarkan melakukan perzinahan (kejahatan yang sering dikaitkan dengan perempuan ‘jahat’ dalam budaya timur). Sepanjang film, Noriah tidak melakukan sesuatu yang ‘baik’. Ia ingin ditampilkan sebagai negasi dari Azman untuk mendikte penonton mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak. Namun seperti yang telah kita bahas sebelumnya, hal itu berimplikasi pada objektifikasi tubuh perempuan.

Secara historis, tubuh perempuan sering kali didominasi oleh kekuasaan. Tubuh perempuan mencerminkan kekuasaan yang beroperasi melalui aturan, citra, dan sebagainya. Tubuh perempuan adalah medan pertempuran untuk memperebutkan kekuasaan, dengan tirani yang mendominasi tubuhnya. Kontrol atas tubuh perempuan selalu menjadi ciri khas kekuasaan konservatif. Tubuh perempuan selalu dicitrakan dalam bentuk dualisme dalam budaya diskriminatif yang mereduksinya menjadi dua poros; bahwa tubuh mereka sakral atau hina. Kedua status ini terus melanggengkan persepsi masyarakat dan penguasa tentang perlunya mengontrol tubuh perempuan. Azman, bukan ibunya, yang seharusnya mengontrol Noriah. Kemudian, ketika dia memberontak, negara/kekuasaan harus turun tangan untuk mengendalikannya melalui disiplin. Noriah dipenjara karena perilakunya, bukan Zulkifle (Abd Kader Cheku), pasangannya zinanya.

Pendisiplinan Msyarakat oleh Kekuasaan

Bagian yang menarik dari pembalikan cerita adalah bagaimana mengubah perilaku Noriah yang “buruk” lewat peran Azman, tokoh utama yang sedari awal menjadi pahlawan dalam film ini, negara seharusnya melakukan pendisiplinan melalui lembaga keagamaannya. Hal ini tidak mengejutkan kita. Negara/kekuasaan memiliki kepentingan politik untuk menyensor produk budaya seperti film. Apa yang seharusnya menjadi konsumsi publik perlu dikontrol untuk melanggengkan kekuasaan. Setidaknya, itulah yang terjadi pada film-film di Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru, Soeharto, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Selain itu, Gema Dari Menara merupakan produk pemerintah Brunei Darussalam melalui lembaga keagamaannya. Bisa jadi apa yang dilakukan lembaga-lembaga ini merupakan bentuk penegasan bahwa negara/kekuasaan sudah berada di jalur yang benar dan masyarakat perlu dibuat “baik” melalui penegakan/hukuman oleh negara/kekuasaan.

Dalam sejarah negara-negara barat, agama telah digunakan oleh kekuasaan untuk mendisiplinkan rakyatnya. Segala sesuatu yang berupa perlawanan terhadap otoritas dianggap melawan Tuhan. Karena penguasa adalah wakil Tuhan di dunia, hal ini dikritik oleh berbagai akademisi kontemporer karena dapat menyebabkan munculnya otoritarianisme di suatu negara, pola pemerintahan yang tidak akan memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Di Eropa kuno, negara berbagi keuntungan dengan gereja. Negara mendisiplinkan rakyatnya melalui doktrin gereja.

Lanskap, Tatapan Turistik, dan Pertarungan Gaya Hidup

Keluarga Haji Bahar tinggal di Kota Brunei (nama sebelumnya dari Bandar Seri Begawan), kota yang sedang berkembang dan mengalami akulturasi budaya. Di kota inilah masuknya “budaya barat”, di mana gaya hidup anak muda mulai “terbaratkan”. Beberapa pemandangan dalam film ini merayakan penemuan sumber daya alam Brunei Darussalam, yaitu migas. Brunei Darussalam mulai memproduksi minyak pertama kali pada tahun 1929. Sedangkan untuk industri gas alam, baru dimulai dan dikembangkan pada tahun 1960-an, tepatnya setelah ditemukannya endapan yang besar.

Pemandangan kota juga mengiringi perjalanan Azman dan Hasan yang tidak jelas tujuannya (sepertinya hanya jalan-jalan seperti orang kaya yang tinggal di kota). Pada suatu kesempatan, Azman dan Hasan sedang berkendara di kota. Di waktu yang lain, mereka berada di ladang minyak, Seria. Pemandangan digunakan untuk menunjukkan betapa makmurnya Brunei Darussalam. Film ini diawali dengan menampilkan Kampong Ayer, sebuah desa air yang diklaim sebagai desa terapung terbesar di dunia. Kampung Ayer kemudian tidak terlihat lagi hingga akhir film.

Satu adegan dalam film Gema dari Menara

Beberapa adegan dalam film ini memperlihatkan sudut-sudut kota dan memamerkan bangunan serta monumen perkotaan yang baru saja dibangun saat itu. Yang paling seru adalah bagaimana Masjid Omar Ali Saifuddin, masjid yang menjadi ikon kota Bandar Seri Begawan, diangkat bukan hanya sebagai pelengkap cerita film Gema Dari Menara. Sesuai judulnya yang berarti Gema dari Menara, dari menara itulah Nordin mendapatkan semacam inspirasi untuk taubat (konsep dalam Islam di mana seseorang mengakui dosanya dan kembali menaati Tuhannya).

Sejak kemunculan masjid ini di awal film yang diiringi dengan suara azan, film ini telah menunjukkan bahwa “panggilan Tuhan” selalu mengandung kekuatan magis yang dapat menghukum manusia yang mengabaikannya. Hal menarik lainnya adalah film ini merupakan satu-satunya film yang dapat menjadi arsip sejarah Bandar Seri Begawan dengan segala model kehidupan sosial pada masa itu. Dimana memperlihatkan orang-orang membeli dan mengkonsumsi minuman keras di tempat umum, berjudi, dan bertaruh pada sabung ayam. Hal tersebut tidak akan terlihat di Brunei Darussalam sekarang. Konsumsi minuman keras di masyarakat dilarang. Film ini tetap menggambarkan Brunei yang lebih liberal. Gema Dari Menara memperlihatkan cara hidup yang berbeda.

Konstruksi lanskap film ini juga disertakan dalam cerita. Batas-batas antara desa dan kota dibuat sangat kontras. Kota merupakan tempat yang maju dengan akulturasi budaya yang pesat. Tempat yang hanya dihuni oleh orang-orang kaya. Argumen ini berlaku ketika Nordin menjual rumah keluarga Haji Bahar karena kerugian dari perjudian dan membeli minuman keras, ibunya, Che’ Timah, harus kembali ke desanya.

Desa adat menjadi tempat karakter-karakter beristirahat setelah mengalami kesulitan. Di desa tersebut, mereka dipertemukan kembali, dengan perubahan semua karakter ke arah yang “baik”; Nordin bertaubat setelah pulih dari perawatan di rumah sakit, Che’ Timah telah menyadari kesalahannya karena telah membela Nordin dan Noriah, dan Noriah akan menikah di desa setelah keluar dari penjara.

Dua tokoh utama lainnya, Azman dan Haji Bahar, tampil sebagai pahlawan. Haji Bahar yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji digambarkan harus bersabar menghadapi cobaan berat hingga membuat mereka terjerumus dalam kemiskinan. Azman tentu saja merupakan tokoh yang membuat penonton bersimpati karena bersedia memaafkan kesalahan Nordin dan Noriah.

Tanpa disadari, batas-batas desa dan kota sebenarnya dibentuk oleh sistem kapitalis yang mulai masuk ke Asia Tenggara melalui kolonialisme. Rezim akumulasi kapital membentuk masyarakat konsumtif perkotaan dengan dalih pembangunan. Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan (yang menjadi/belum menjadi sasaran akumulasi kapital) hidup dengan cara-cara primitif, seperti bercocok tanam, berkebun, dan beternak. Maka jelas terlihat bahwa modernisasi yang ditentang film ini adalah gaya hidup konsumtif masyarakat perkotaan yang mengaku modern. Buktinya, ketika keluarga Haji Bahar kembali ke desa (tempat yang tidak memungkinkan untuk berpesta, membeli minuman keras yang mahal, atau berjudi) dan jatuh miskin, perilaku mereka pun berubah menjadi “baik”. Namun, narasi keagamaan dan alasan teologis tetap menjadi proposisi dominan yang ditawarkan oleh Gema Dari Menara.

Proposisi seperti; Jika berjudi, maka akan jatuh miskin, atau jika minum minuman keras, maka akan rusak akalnya, yang berimplikasi pada kemungkinan meninggalkan perintah Tuhan. Alih-alih melihat penyebab kemiskinan sebagai masalah struktural (sebagian orang menjadi lebih kaya, dan di sisi lain, sebagian pekerja menjadi lebih miskin), Gema Dari Menara memberikan gambaran yang dapat dibaca tentang bagaimana sekularisme merupakan konsekuensi dari kapitalisasi perkotaan, terlepas dari hal-hal lain seperti konsumerisme, eksklusivisme, dan individualisme. Dampak narasi keagamaan yang dominan disajikan untuk melawan sekularisme ini daripada penjelasan yang lebih material. Pada saat ini, sekularisme diterima (dengan diterimanya kapitalisme) karena agama telah menjadi “penerima” kapitalisme sebagai bagian dari kemajuan dunia.

Arsip Asia Tenggara yang Hilang

Gema dari Menara tetap menjadi harta karun arsip-arsip penting bagi sinema Brunei Darussalam dan Asia Tenggara pada umumnya. Gema Dari Menara dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis struktur sosial dan kekuasaan yang membentuk Brunei Darussalam saat ini. Sebab, kehidupan sosial tidak bersifat terberi, melainkan berdasarkan dialektika di masa lalu, yang dapat mengkaji hal ini secara dialektis historis. [T]

Catatan: Gema Dari Menara bisa ditonton gratis di kanal Youtube resmi Finas  RETROSPEKTIF : ‘Gema Dari Menara’ (1968)

Penulis: Akbar Rafsanjani
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sunyi yang Melawan dan Hal-hal yang Kita Bayangkan tentang Hidup : Film “All We Imagine as Light”
Menelusuri Jejak Walter Spies Sembari Membangun Refleksi Pembangunan Bali
“Fireworks Wednesday”: Api Membakar Cadar Rumah Tangga
Tags: Brunei Darussalamfilmresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makan Malam Tidak Dilarang, Tapi…

Next Post

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Akbar Rafsanjani

Akbar Rafsanjani

Programmer dan penulis kritik film yang berasal dari Aceh

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co