6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba by Luh Aninditha Wiralaba
July 12, 2025
in Cerpen
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

Ilustrasi tatkala.co

“Radhea, ke sini sebentar, Nak. Bantu dulu ibu metanding banten untuk besok,” seru ibuku dari dapur, suaranya bercampur dengan aroma tum ayam.

Namaku Radhea, Ni Wayan Radhea Putri. Indah bukan? Sekarang usiaku sudah enam belas tahun. Besok merupakan Hari Raya Kuningan, rentetan dari Hari Raya Galungan, hari yang selalu kutunggu. Tak hanya karena suasananya yang meriah, atau aroma lawar dan sate yang begitu menggoda, tapi karena Juwita akan pulang.

Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Dulu kami berdua seperti bayangan untuk satu sama lain. Duduk sebangku, pulang sekolah bersama, bahkan kami mengikuti latihan tari di sanggar yang sama. Ia harus pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya, yang kini katanya menjadi direktur di perusahaan  besar. Kabarnya Juwita pulang ditemani banyak pengawal, bak putri raja.

Aku masih menyimpan sebuah gantungan kunci yang ia berikan padaku. “Supaya kita tidak lupa,” katanya waktu itu. Tapi mungkin aku terlalu naif, menganggap kenangan dapat menyambung jarak sejauh itu.

Beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki diri. Rambut yang dulunya lepek kini mulai terawat. Kacamata kutanggalkan kecuali di kelas. Aku bahkan mulai memakai skincare dasar yang kusembunyikan dari ibu agar tidak dikira bermewah-mewah.

Malam sebelum Kuningan, aku menulis di sebuah buku kecil. Menulis hal-hal yang akan kuceritakan pada Juwita. Tentang masa orientasi SMA saat aku bermain teater Kasih Tak Sampai dan menjadi pemeran utama. Tentang Samsul Bahri versi sekolahku, yang kini menjadi pacarku. Tentang sahabat baru yang diam-diam menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Mungkin aku akan bertanya apakah ia masih suka menonton film Korea, atau bahkan bagaimana keadaan sekolah di Jakarta.

Aku jadi tidak sabar mendengar ucapan dari mulutnya, “Aku sungguh rindu kamu, Dhe.” Pasti itu akan sangat membuat rasa rinduku juga terobati. Tapi yang paling membuatku bersemangat adalah rencana kecil sore besok. Menonton Tari Gambuh bersama Juwita, seperti dulu sewaktu masih bersama. Di antara gemerincing gamelan dan aroma dupa, di petang yang menyimpan langit jingga begitu indah.

Ayam berkokok begitu riuh, menandakan waktu sudah pagi. Aku memulai pagiku dengan senyuman yang menghiasi wajahku. Aku membantu ibu sembahyang di area rumah. Di pura aku perhatikan setiap wajah yang datang. Beribu detik sudah ku lewati, namun Juwita tak kunjung datang. “Apa mungkin dia tidak sembahyang ke pura?” batinku.

Dalam gelisah aku bergegas pulang dan berganti pakaian. Lalu dengan nekat aku datang ke rumahnya. Rumah itu kini tampak begitu besar dan megah. Ada mobil mewah di garasi, taman penuh anggrek dan kupu-kupu yang beterbangan, seperti sebuah lukisan hidup.

Aku mendekat ke gerbang.

“Juwita ini aku, Radhea!” teriakku sembari melihat ke sana kemari mencari keberadaan Juwita. Seorang satpam mendekat, kemudian melarangku untuk masuk. Di balik tirai kaca, aku melihat sesosok gadis berdiri mengintip. Wajah Juwita, jelas. Ia sempat menoleh, dan pandangan kami sempat bertemu. Tapi ia membalikkan badan, dan kemudian menghilang di sana.

“Mungkin dia lelah… mungkin nanti sore kami akan menonton Tari Gambuh bersama,” gumamku menolak percaya.

Sore tiba. Langit terlihat berwarna jingga, sangat cantik. Cahaya matahari tampak meredup. Suasana pura tempat pementasan Tari Gambuh sungguh meriah, aroma dupa menyeruak di tengah keramaian. Orang-orang berdatangan dengan pakaian adat madya, begitupun juga aku. Lama aku menunggu sendirian sembari menonton Tari Gambuh.

Penarinya mengenakan kostum yang sangat megah. Gerakannya khas, lambat, namun penuh makna. Diiringi lantunan gamelan. Pandanganku masih terpaku saat sorak penonton terdengar sedikit riuh. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Hingga dari kejauhan, segerombol pecalang tampak mengawal sebuah keluarga. Ketika wajah itu tampak jelas di antara kerumunan, aku sadar. Itu Juwita.

“Juwita! kemarilah dan menonton bersamaku,” ucapku berteriak dan menghampirinya. Namun, langkahku dihentikan oleh para pecalang. “Juwita, ini aku, Radhea!” ulangku berteriak lebih keras, tapi ia tak menoleh sama sekali. Aku terus memanggilnya, namun ia tak menghiraukanku. Sedih untukku, rasanya begitu asing. Ternyata aku tidak cukup berarti untuk dikenang.

Aku berdiri membeku. Dunia di sekitarku masih terus bergerak, namun aku diam.

Akhirnya aku memilih menonton Tari Gambuh sendirian. Menikmati keramaian sendirian. Menikmati cerita yang ku siapkan sendirian. Terasa kosong. Hatiku begitu hampa. Tari Gambuh tetap berlangsung. Alunan gamelannya masih terdengar sama, tapi tak dapat menyentuhku seperti saat pertama.

Penari itu melangkah perlahan. Ia tidak tahu, seorang gadis di antara penonton sedang patah hati. Bukan karena cinta, tapi karena kenangan yang tak diakui. Aku duduk di antara puluhan manusia, menatap ke panggung, tetapi tidak benar-benar memperhatikan. Ragaku di sana, namun jiwaku entah dimana. Mungkin sedang menyusuri kenangan yang gagal menjadi kenyataan.

Malam datang menyapa, dinginnya angin menusuk kulitku. Pementasan telah usai. Orang-orang datang dengan senyum, pulang juga dengan senyum. Sedangkan aku? Aku datang dengan cerita, pulang juga dengan cerita yang tak sempat dimulai.

Sembari berjalan, aku teringat gerakan Tari Gambuh. Penarinya mengangkat tangan tinggi, lalu menunduk perlahan. Mungkin begitu juga aku harus belajar. Mengangkat kenangan, kemudian menguburnya dalam dengan perlahan. [T]

Penulis: Luh Aninditha Wiralaba
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo

Next Post

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Luh Aninditha Wiralaba

Luh Aninditha Wiralaba

Siswa SMAN 1 Amlapura

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, “Belajar Mengaji Pada Ibu” 

Akhiri Habitus, Muda Wijaya Belajar Mengaji Lewat Buku Puisinya, "Belajar Mengaji Pada Ibu" 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co