Rawe-rawe rantas,
malang-malang putung!
—Peribahasa Jawa
—
HARI pecah ketika perang itu dimulai. Pagi itu, Sabtu, 10 November 1945, kapal perang 5th Cruiser Squadron yang dipimpin Real Admiral W. R. Petterson berlabuh di Surabaya dan mulai memborbardir kota dengan meriam-meriamnya. Jenderal Sir Eric Carden Robert Mansergh—perwira senior Angkatan Darat Britania Raya selama Perang Dunia II—memulai serangan setelah ultimatum Inggris tidak digubris arek-arek Surabaya.
Tak hanya di sekitaran pantai, perang juga meletus di lapangan terbang Morokrembangan— vliegkamp yang dibangun Belanda pada tahun 1926, bersebelahan dengan pangkalan/pelabuhan laut Tanjung Perak, Surabaya. Sayang, setelah melalui pertempuran selama dua jam, lapangan itu berhasil dikuasai Inggris dan mulai berfungsi sebagai pendaratan serta lepas landas pesawat-pesawat RAF.
15 ribu serdadu Sekutu mulai merangsek, 18 ribu pejuang—laki-laki-perempuan—Surabaya yang dipimpin Mayjen Sungkono, Mayjen TKR HR Mohammad Mangoendiprojo, Mayjen Moestopo dan tokoh-tokoh penting lainnya, dengan senjata seadanya tak mau kalah. Sekitar pukul 10.00, meriam-meriam arteleri meluncur dari laut dan udara, menyebarkan malapetaka di tengah-tengah kota. Sasarannya adalah Gedung HVA (Handels Vereniging Amsterdam), Viaduk Semut, daerah Pasar Besar, sampai daerah Pasar Turi dan Kemayoran. Belum tengah hari, langit Surabaya sudah gelap. Hari itu, Kota Surabaya menjadi saksi bagaimana kekuasaan telah mengubah kota yang permai menjadi neraka berwarna kesumba.
Hari pertama perang, pasukan pejuang kemerdekaan sempat terdesak. Tapi saat pasukan Sekutu istirahat dan lengah, pada saat itulah mereka menemukan momentum. Arek-arek Suroboyo menyerang dari berbagai titik dan berhasil menumbangkan banyak korban dari pihak Sekutu. Tentara-tentara dengan senjata canggih itu kocar-kacir dan memilih mundur. Kegigihan pejuang di Surabaya membuahkan hasil kemenangan di hari pertama. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!—yang berjurai dipotong, yang menghalangi dipatahkan. “Merdeka atau mati!” teriak Bung Tomo dalam pidatonya yang menggelora. “Membela negara dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain [wajib bagi setiap individu],” fatwa KH. Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Sekutu tak mau kalah. Asmandi dalam buku Pelajar Pejuang (1985) mencatat, pasukan Inggris dan Belanda meningkatkan kekuatannya dengan mendatangkan tank dan persenjataan lain setelah hari pertama perang. Pada minggu ketiga pertempuran, Sekutu berhasil menguasai 4/5 dari Kota Surabaya. Sementara itu, saat sudah benar-benar terdesak, pasukan Indonesia mundur ke wilayah-wilayah sekitar Surabaya—yang jauh dari pusat kota.
Pada Minggu, 2 Desember 1945, perang mulai mereda. Pasukan Sekutu menghentikan serangan. Mereka mendapat banyak kecaman dari dunia internasional dan seruan solidaritas dari sejumlah negara mengalir untuk mendukung perjuangan dan penderitaan rakyat Surabaya.

Patung Soekarno-Hatta di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan
Dalam buku A History of Modern Indonesia (1993), M.C. Ricklefs menulis sekitar 6.000 hingga 16 ribu orang dari pihak Indonesia menjadi korban perang. Sementara pasukan Sekutu yang tewas berkisar 600 hingga 2.000 orang. Stanley Woodburn Kirby dalam buku The War Against Japan (1965) menyampaikan sekitar 200.000 rakyat sipil harus mengungsi ke daerah-daerah yang lebih aman akibat Perang Surabaya. Sedangkan Arsip Inggris mencatat, setidaknya ada 6.135 korban jiwa dari pihak Indonesia. Dan mereka kehilangan Jendral Brigjen Mallaby dan Brigjen Symonds, yang kini dimakamkan di Menteng Pulo, Jakarta, bersama para prajurit Sekutu lainnya.
Meski Indonesia kalah dalam peperangan ini, tapi Inggris menyebut Perang Surabaya (The Battle of Soerabaja) sebagai pengalaman tempur terberat setelah Perang Dunia II—bahkan New York Times edisi 15 November 1945 memberitakan, “serdadu Inggris menjuluki Pertempuran Surabaya sebagai inferno atau neraka di timur Jawa.” Mayor RB Houston dalam What Happened in Java mencatat, orang Surabaya baru dapat digusur dari Surabaya setelah Inggris mengerahkan artileri dan meriam kapal perang dalam 21 hari pertempuran—sebagaimana dikutip Pramodya Ananta Toer.
Semangat juang pasukan Indonesia dalam pertempuran Surabaya sangat berpengaruh besar terhadap perjuangan di daerah-daerah lain di Indonesia. Lord Killearn, Komisioner Istimewa di Asia Tenggara yang pernah ditugaskan Inggris untuk menyelesaikan persoalan di Indonesia, menulis di buku hariannya pada 15 November 1946 bahwa “membiarkan tentara Inggris lebih lama di Indonesia merupakan tindakan bunuh diri.”
***
SAYA berdiri tepat di depan patung Sukarno-Hatta di pintu masuk Tugu Pahlawan, Surabaya, pada Minggu pagi yang ramai, saat seorang ibu “memaksa” anaknya berfoto dengan latar patung yang ikonik itu. Si anak berontak sambil merengek. “Nggak mau! Aku mau main layangan, Bu!” kata anak umur lima tahunan itu. Perempuan berkacamata itu kalah dan menghela napas penyesalan. Ia pasrah. Lalu menggelandang anaknya ke padang-lapang Tugu Pahlawan, tempat anak-anak main bola, layangan, dan lari-larian. Bagi beberapa orang ini tempat bersejarah, tapi tak sedikit pula yang menganggapnya sekadar tempat hiburan.

Diorama peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato di Surabaya 1945. Diorama statis ini dipajang di lantai 2 Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan
Hampir 80 tahun berlalu, perang telah usai. Tak ada dentum meriam. Tak ada pasir laut yang membuncah. Di bekas Gedung Kempetai yang hancur dilalap meriam Sekutu dari arah Tanjung Perak itu, setiap akhir pekan kini ramai pengunjung. Gedung Kempetai sudah tidak ada, tentu saja, hanya sisa fotonya saja. Tempat itu kini menjelma ruang publik—taman kota—dengan sebuah monumen setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Monumen itu dikenal dengan sebutan Tugu Pahlawan—yang menjulang menunjuk langit Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Di kawasan ini, selain Tugu Pahlawan, juga berdiri Museum Sepuluh November yang memajang serba-serbi, jejak-jejak neraka di timur Jawa.
Saya memasukinya saat hari beranjak siang. Di depan pintu masuk museum, saya melihat mobil lawas milik Bung Tomo; mobil merk “Opel Kapitan” 1956 buatan Jerman. Fisiknya tampak masih terawat, tidak seperti mobil I Gusti Ketut Pudja di Museum Buleleng, Bali. Di loket tiket, antrean lumayan panjang. Beruntung, museum ini memiliki layanan tiket online. Jadi, saya tidak perlu repot-repot berdiri mengular seperti kebanyakan orang. Cukup memindai kode batang, satu tiket sudah di tangan. Tunjukan saja foto bukti transaksinya kepada petugas jaga, Anda akan langsung dipersilakan masuk museum tanpa mengantre.
“Delapan ribu satu tiket, Bu,” terang petugas loket kepada seorang ibu muda yang menggendong anaknya—yang sedaritadi rewel di pelukan sang ayah. “Kalau siswa dan mahasiswa gratis. Tinggal tunjukan kartu siswa atau mahasiswa,” sambungnya. Saya mendengarkan dan mengamati dari seberang.
Museum Sepuluh November dibangun dua lantai di bawah tanah dengan atap serupa piramida— seperti atap Museum Louvre di Perancis—berlapis kaca. Pada 10 November 1991, museum yang memiliki luas 1.366 meter persegi dengan kedalaman tujuh meter di bawah permukaan tanah ini mulai dibangun. Namun, baru diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sekira tujuh tahun setelahnya, tepatnya pada 19 Februari 2000.
Di lantai pertama, Anda akan disuguhi situasi pertempuran dan keadaan Kota Surabaya pada masa proklamasi. Di lantai ini terdapat ruang diorama elektronik yang memutar film dan video dokumenter peristiwa bersejarah di Indonesia, khususnya Perang Surabaya. Ruangan ini didesain menyerupai bioskop mini tapi tanpa kursi. Ada tribun beton untuk penonton.
Tetapi, ruangan diorama elektronik itu jelas jauh dari standar pemutaran film. Orang-orang yang bergelut di Minikino, misalnya, bisa tidak jenak saat melihatnya. Dan di lantai ini pula, saya menemukan patung Bung Tomo dan sebuah auditorium—suatu tempat di mana Anda dapat mendengarkan pidato historis Bung Tomo—juga patung besar yang menggambarkan sepuluh pejuang, lambang keberanian dalam menghadapi perang, dan sekelumit tentang sosok Darijah Soerodikoesoemo (Bu Dar Mortir) yang legendaris itu.

Diorama perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Sekutu di Surabaya pada 1945. Diorama statis ini dipajang di lantai 2 Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan
Saya naik ke lantai dua. Dan saya disambut foto tokoh-tokoh penting selama Pertempuran Surabaya berlangsung yang tertempel di piramida terbalik yang menggantung di tengah-tengah di bawah atap kerucut. Ada banyak sosok di sana, di antaranya KH. Hasim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansur, Mustopo, RM. Jono Sewopo, Prawiro Soedirdjo, Ruslan Abdul Gani, dan sejumlah tokoh lainnya termasuk Soekarno dan Hatta—yang gambarnya dicetak paling besar di antara gambar tokoh lainnya.
Berbeda dengan lantai satu, lantai dua Museum Sepuluh November berisi hiasan dan barang bersejarah berupa senjata tinggalan pasukan Inggris-Belanda; senjata Arek-arek Suroboyo; perintilan-perintilan perang macam helm, geranat, wadah minuman, peluru, dan sebagainya; catatan harian Bung Tomo; benda-benda pribadi tinggalan pejuang; serta peralatan medis yang digunakan kala itu. Tapi seperti lantai satu, di sini juga terdapat ruang diorama statis—yang di antara menampilkan perundingan Soekarno dan Hatta dengan pihak Sekutu, peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, kapal Sekutu di perairan Surabaya, dan peristiwa penting lainnya—dan diorama dapur umum semasa perang.
***
“INI sepertinya replika Perjanjian Meja Bundar ini,” celetuk seorang ibu kepada anaknya. “Ayo foto dan catat,” perintahnya kemudian. Sang anak yang umurnya sekira sepuluh tahunan itu membuka buku dan mulai mencatat penjelasann sang ibu. Sepertinya ia sedang mendapat tugas dari sekolah.
Saya tahu apa yang dikatakan ibu itu jelas salah. Diorama yang ia maksud tentu saja bukan menunjukkan peristiwa Perjanjian Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda, jauh setelah Perang Surabaya. Itu jelas saat Soekarno dan Hatta, bersama Amir Sjarifuddin (yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan), Gubernur Suryo, Residen Sudirman, Doel Arnowo, Soengkono, Atmaji, dan Sumarsono berunding dengan pihak Sekutu yang diwakili Mayor Jendral Hawtorn yang didampingi Brigadir Jendral Mallaby dan Kolonel Pugh sebelum Perang Surabaya meletus.
Tetapi ibu itu tidak sepenuhnya salah. Toh memang tak ada keterangan apa-apa tentang diorama di balik kaca itu. Jadi, pihak museumlah yang patut disalahkan. Dan itu artinya, Museum Sepuluh November—pun museum-museum lain di daerah di seluruh Indonesia—saya kira harus segera berbenah, perlu diubah, dan perlu reimajinasi agar lebih relevan dengan kebutuhan saat ini. Hal-hal mengenai desain, reprogramming, redesigning, dan reinvigorating harus segera ditinjau ulang. Museum perlu didesain agar lebih akrab dengan semua kalangan, khsususnya anak-anak, dan bisa mengomunikasikan kotennya dengan baik supaya tidak ada informasi yang keliru—atau lebih banyak orang tua yang salah memberitahu anak-anaknya.

Foto-foto pejuang Pertempuran Surabaya di Museum Sepuluh November Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswan
Dan untuk Museum Sepuluh November, narasi soal pejuang perempuan dalam Pertempuran Surabaya sepertinya perlu ditebalkan, kalau perlu diberi ruang atau sudut khusus sebagai penegasan bahwa perempuan—sebut saja Lukitaningsih, Riet, Darijah Soerodikoesoemo (Bu Dar Mortir), dll—juga ikut andil di antara desing peluru dan lontaran mortir, di garda depan maupun belakang, dalam perjuangan mempertahankan Kota Surabaya dari gempuran Sekutu.
Jadi, rasanya museum memang perlu memprogram kembali kuratorial dan koleksinya untuk meningkatkan interaksi dan pengetahuan sejarah yang utuh, komprehensif; juga memaknainya sebagai ruang kata kerja yang bergerak aktif, bukan bangunan kata benda yang diam statis, dingin, dan seram. “Sebab museum bukan hanya tempat untuk berkunjung dan mendapatkan pengetahuan, tetapi juga tempat bagi masyarakat menemukan kembali jati dirinya,” ujar Hilmar Farid saat masih menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan.
Namun, jika demikian, di balik otak pragmatis politik, apakah pembangunan museum dengan serius dapat menarik investasi atau mendatangan keuntungan ekonomi? Penting bagi pemerintah untuk membuat pembedaan antara keuntungan (profit) dan manfaat (benefit). Investasi yang mungkin lambat menghasilkan keuntungan finansial bisa jadi sangat cepat membawa manfaat sosial.
Museum menyimpan segala hal yang berkaitan dengan gerak sejarah, ingatan kolektif, dan—kalau boleh agak berlebihan—jati diri sebuah bangsa (peradaban), seperti kata Hilmar Farid. Oleh karena itu, negara atau pemerintah di daerah harus mulai memikirkan rumusan untuk mengonversi social return dan cultural return itu secara finansial—di beberapa negara perhitungan tersebut sudah menjadi bagian dalam pembuatan kebijakan pembangunan secara umum dan khususnya di bidang pembangunan infrastruktur kebudayaan.

Beberapa foto arsip seputar Pertempuran Surabaya di Museum Sepuluh November | Foto: tatkala.co/Jaswan
Saat ini, banyak orang mengetahuinya, banyak infrastruktur kebudayaan—termasuk museum-museum—kita masih jauh dari memadai, apalagi untuk menghasilkan nilai sosial dan budaya yang bisa berkontribusi pada perekonomian secara umum. Di Museum Buleleng, misalnya, tak ada satu pun kamera pengawas yang dapat memantau keamanan koleksi benda-benda bersejarah. Ini membuktikan bahwa urusan museum (baca: sejarah dan kebudayaan di sampingnya) masih kalah dengan program bagi-bagi sembako atau program makan bergizi gratis.
Kerja-kerja pengarsipan, penggalian dan perawatan benda-benda bersejarah sepertinya memang tidak lebih penting dan populer daripada program-program populis macam bedah rumah di negara ini. Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Politik Tanpa Dokumen (2018) menyebut Indonesia sebagai “bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.” Artinya, dalam hal ini, kita masih punya pekerjaan rumah yang sangat banyak.
Saya kira, museum kini perlu sistem manajemen yang lebih tangkas dan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman serta tenaga profesional yang mumpuni untuk fungsi kuratorial, artistik, sistem informasi, penelitian, dan administrasi. Perencanaan menyeluruh dan berwawasan jauh ke depan tentu sangat esensial, tetapi yang tidak kalah penting adalah komitmen dari semua pihak yang terlibat dan kesadaran bahwa semua ini adalah usaha bersama—sebuah gotong royong kebudayaan.

Berpose dengan latar Tugu Pahlawan Surabaya | Foto: Dok. Jaswan
Surabaya sangat terik. Saya keluar museum dan duduk di kantin depan pintu keluar. Dari kejauhan saya memandang patung-patung pahlawan yang berdiri di dekat pagar tembok kawasan Tugu Pahlawan. Dari sorot matanya, patung-patung itu seolah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Saya menandaskan sebotol air mineral.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























