6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 6, 2025
in Cerpen
Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co by Canva

SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawitannya akan berubah menjadi villa-villa yang menampilkan keindahan semu. Ia tak akan bisa lagi merasakan jernihnya air di jelinjing sawahnya.

Ia tak akan lagi bisa mendengar orang-orang berteriak menghalau burung sawah. Tak akan ada lagi upacara biakukung yang sering ia lakoni bersama ibu tercintanya. Ia usap-usap air matanya yang merembes perlahan. Ibu bumi yang menghidupinya selama ini tak lagi bersamanya. Sawah kawitannya tak lagi memberi keindahan di hatinya.

Hedonisme telah merambati kehidupan desanya. Uang membalikkan hati nurani manusia. Ia tak bisa bertahan menjaga tanah kawitannya. Orang-orang suruhan mendekatinya dengan beragam keinginannya. Hanya satu harapannya agar tanah kawitannya mau dilepaskan jika tidak akan tertutup akses jalan ke sawahnya.

Tanah di sebelahnya telah lebih dulu menjadi villa. Hanya tanahnya yang masih bertahan, tetapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Ia tak memiliki kekuatan menjaga tanah kawitannya. Ia harus lapang melepasnya.

“Maafkan Putu, Ibu. Tiang tak bisa menjaga tanah kawitan ini. Tiang tahu uang hasil penjualan tanah ini akan habis. Tiang sadar tanah ini bukan hasil keringat anak Ibu. Tanggung jawab yang Ibu berikan pada tiang, tak bisa tiang jaga. Maafkan tiang, Ibu!” Putu Ari berbicara pada dirinya.

Keperihan hatinya tak bisa dihempaskannya. Ia seakan memendam bara marah pada keadaan.

“Kenapa tanah kawitan tak ada yang mau menjaganya?” Putu Ari bertanya-tanya.

Paman-paman terdekatnya sepertinya memberikan kesempatan agar tanah itu cepat laku. Entah apa sebabnya? Apa karena pembagian warisan untuknya sudah habis juga?

Putu Ari yakin tanahnya juga ditawarkan pada pengembang itu. Karena saat pengembang datang mendekatinya, tak ada sepatah kata pun yang membela dirinya. Atau jangan-jangan, ada permainan dengan pengembang.

 “Ah, dasar manusia tak pernah puas atas apa yang diterima dari Tuhan,” bisiknya dalam hati.

“Tu, tak ada seorang perempuan  berhak atas tanah kawitan. Hasil penjualan tanah itu mesti dibagi kepada pamanmu ini. Jika tidak, Putu juga tidak berhak tinggal lagi di rumah ini,” kata paman Putu Ari.

      “Maksud Bapa?”

      “Seorang perempuan tidak punya hak atas warisan.”

      Putu Ari nyengir. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukan pamannya itu ternyata ada permainan dengan pengembang villa.

“Pantesan Bapa terus menyuruh Putu menjual tanah sawah ini. Sekarang, Putu sadar akan sikap Bapa. Ingin mengusir Putu dari tanah ini termasuk dari rumah yang Putu tempati sekarang ini. Baiklah Bapa. Ambil saja penjualannya. Dan, sekarang juga, Putu tak lagi tinggal di rumah warisan orang tua Putu. Ambil saja semuanya. Tapi ingat, segala upakara dan upacara di sanggah kawitan, Bapa yang bertanggung jawab. Termasuk nanti jika Putu mati, tak usah Bapa repot memikirkannya. Toh sudah ada krematorium biar diselesaikan di sana saja. Biar karma Putu saja yang mengantar ke alam keabadian,” kata Putu Ari kepada pamannya.

Putu Ari meninggalkan pamannya yang merasa memiliki hak atas warisannya. Ia tak lagi memikirkan tentang warisan. Ia menjauh dan terus menjauh. Ia tetapkan hidup di luar. Tak ada beban yang mengganggunya lagi.

“Maafkan Putu, Meme-Bapa. Putu tak bisa menjaga tanah sawah warisan Meme dan Bapa. Segalanya telah habis terjual. Penjualannya telah diambil saudara Bapa. Biarkan Putu menjalani hidup seperti ini. Menjauh dari beban itu, bukan berarti Putu lari dari tanggung jawab. Putu ingin tahu ke mana maunya saudara Bapa itu.”

Malam menghampiri hidupnya. Putu mencari rumah temannya. Ia sampaikan segala masalah yang dialaminya. Ia juga menyadari hidup menumpang di rumah orang juga kurang bagus. Ia katakan hanya sebentar saja. Ia tak mau mengganggu hubungan keluarga temannya dengan kehadirannya. Ia tatap langit-langit kamar tempat menginapnya. Bayang-bayang  orang tuanya terlintas di benaknya.

Ia ingat kata-kata paranormal dalam upacara memanggil roh ayahnya.

“Tak ada yang salah Putu lakukan. Saudara bapa memang tak akan pernah merasa puas. Bapa sendiri juga di-cetik oleh pamanmu. Kematian bapa ini harapannya sedari dulu. Bapa saja yang berani melawan saat tanah dibagi. Tapi, bapa kalah. Dengan berat hati, tanah kawitan itu dibagi-bagi dan sekarang tak lagi menjadi milik keluarga kita. Habis tak jelas jadinya!”  

“Di-cetik, Bapa? Tega sekali saudara Bapa itu.”

“Itulah manusia Tu. Segala cara bisa digunakan demi sebuah keinginan. Tapi, percayalah akan hukum karma. Tuhan tak pernah  tidur, Anakku. Tak usah timbul rasa dendam di hati Putu. Jalani saja hidupmu seperti sekarang ini. Bapa yakin Putu akan menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dendam tak akan pernah menyelasaikan masalah. Jauhi saja bapamu itu. Biarkan ia menikmati nafsunya. Keinginan tak ada batasnya Tu. Tapi, belajarlah menata keinginan itu. Carilah kehidupan yang memberi kedamaian di hatimu.”

Malam itu, Putu menumpahkan isi hatinya pada ruang batinnya. Matanya tak sempat dipejamkannya hingga dini hari kantuk tak menghampirinya. Ia tata lagi suasana hatinya agar tak terlihat oleh temannya. Ia ucapkan terima kasih pada temannya karena telah menerimanya. Ia lanjutkan langkahnya menuju dunia baru. Ia pergi ke pulau seberang memulai penghidupan barunya. Nasib baik selalu menghampirinya.

Semakin hari kehidupannya semakin bersinar. Usaha dagangnya perlahan-lahan mendapatkan pembeli yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Setiap senja memanggil semesta, ia haturkan canang sari di pemujaannya. Hatinya tertuju di sanggah kawitannya. Ia memohon walau dari jauh.

“Maafkan hambamu ini Hyang Widhi. Dari tempat ini hamba memujamu. Dengan canang sari ini, hamba memohon kabulkanlah permohoan hamba agar leluhur hamba selalu diberikan kedamaian di alam-Mu.”

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang menyatakan bahwa pamannya sedang sakit keras. Tukang tenung mengatakan bahwa pamannya kena pastu dari kawitannya. Hanya Putu Ari saja yang bisa melepaskan kutukan itu. Jika tidak, pamannya tak akan bisa sembuh kembali. Tangan Putu Ari terasa kaku saat mau membalasnya. Ia berulang-ulang membaca pesan di ponselnya.

Catatan:

  • Biakukung: upacara padi menjelang bunting
  • Bapa: Ayah, paman
  • Cetik: racun
  • Jelinjing: saluran air di sawah
  • Meme: ibu
  • Kawitan: leluhur
  • Sanggah: tempat pemujaan di keluarga
  • Tiang: saya
  • Tukang tenung: paranormal

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Next Post

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah "Bersama Seni di Sukawati"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co