PERNAH main ke kawasan Desa Budaya Kertalangu di Jalan By Pass Ngurah Rai, Tohpati, Denpasar? Jika belum, ya, sebaiknya sempatkan diri ke tempat itu, karena di kawasan itu terdapat warung nasi tradisional. Namanya, Nasi Tekor Bali.
Tekor adalah wadah makanan tradisional yang terbuat dari daun pisang, dilipat sedemikian rupa membentuk segitiga. Dulu, tekor sebagai wadah makanan sebenarnya tidak berisi alas apa pun lagi. Namun kini, tekor, sesuai dengan kebutuhan, diisi alas, semacam piring yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan.
Nah, Nasi Tekor Bali menyediakan makanan khas tradisional Bali yang dikemas dengan tekor. Selain ramah lingkungan, juga estetik dan terkesan unik di zaman piring porselin dan marmer ini.

Warung Nasi Tekor Bali di Desa Budaya Kertalangu | Foto: Dila
Pemilik Warung Nasi Tekor biasa dipanggil Pekak Tekor. Nama aslinya Pande Nyoman Darta. “Warung ini dibangun dengan konsep yang berdasarkan kehidupan saya sendiri,” kata Pekak Tekor saat ditemui30 Mei 2025.
Sejak kecil Pekak Tekor sudah terbiasa hidup dalam lingkungan budaya Bali yang sangat kental. Kegiatan seperti bertani, memasak dan berjualan adalah rutinitas kehidupan Pekak Tekor sehari-hari.
Masa kecil dan masa muda Pekak Tekor dipenuhi pengalaman baik. Ia berjualan makanan secara berkeliling di area desa dan sawah. Di masa tuanya ia memabngun warung Nasi Tekor yang bukan hanya sekadar dibangun dari semangat bisnis di bidang makanan, tetapi dibangun dari cita rasa terhadap budaya dan tradisi Bali.
“Saya membuat warung sederhana untuk tetap bisa mewariskan budaya dan tradisi yang ada,” kata pekak Tekor.

Wawancara dengan Pekak Tekor (kanan) | Foto: Dok Dila
Warung Nasi Tekor resmi berdiri pada tahun 2015. Dulu, tempat ini hanya sebuah lokasi yang disebut sebagai Desa Budaya yang menampilkan seni budaya yang ada di Bali, khususnya di Desa Budaya Kertalangu. Tapi ternyata dalam kenyataannya budaya di sana masih belum dikenal sehingga Kakek Tekor masuk ke Desa ini untuk menampilkan budaya kuliner tradisional khas Bali.
“Tujuannya untuj menjawab kerinduan masyarakat kota akan suasana desa atau suasana kampung, bertemu dengan kakek dan nenek,” kata pekak Tekor.
Strategi awal yang diterapkan berfokus pada pembangunan konsep budaya dan filosofi yang mendalam. Dengan memanfaatkan lokasi yang dahulu merupakan bagian dari Desa Budaya Kertalangu, Nasi Tekor dirancang untuk memberikan suasana desa dan kampung Bali tempo dulu, yang memberikan pengalaman seperti sedang berkunjung ke rumah kakek dan nenek.
Hal ini dirancang untuk menjawab kerinduan masyarakat kota khususnya wisatawan, terhadap nuansa desa yang damai dan hangat. Tidak hanya itu konsep ini juga diperkuat dengan tagline yang menjadi ciri khas Nasi Tekor yaitu “Olahan Masa Lalu, Rasa Masa Kini, Kuliner Masa Depan”.
Melalui tagline itu, warung Nasi Tekor menyampaikan pesan bahwa maknan yang disajikan tidak sekedar hidangan, melainkan bentuk pelestarian budaya dan rasa yang diwariskan lintas generasi.

Konsep Warung yang Sederhana | Foto: Dila
Nasi Tekor tidak hanya sekadar menyajikan makanan biasa, melainkan menyajikan sebuah pengalaman budaya. Konsepnya sangat khas karena pengunjung disambut seperti tamu keluarga, bukan seperti pengunjung restoran pada umumnya, tidak menggunakan sistem pelayanan yang formal seperti restoran biasa.
Pekak menyebut tempatnya sebagai “rumah pekak odah” bukan hanya sebagai warung nasi biasa tetapi warung ini juga dijadikan tempat tinggal oleh Pekak Tekor dan istrinya.
Selain itu konsep yang unik dari hidangan yang disajikannya menggunakan tekor dan daun pisang, menghadirkan nuansa makanan seperti dirumah kakek dan nenek sendiri. Semua makanan yang disajikan memiliki nilai rasa dan tradisi. Bahkan, bentuk wadah “tekor” yang berbentuk segitiga juga memiliki makna spiritual yang melambangkan kekuatan, keseimbangan energi, serta hubungan antara manusia, alam dan Tuhan yaitu masuk pada konsep Tri Hita Karana.

Makanan yang disajikan dengan tekor di Warung Nasi Tekor | Foto: Dila
Warung Nasi Tekor menjadi unik karena mengutamakan keunikan lokal Bali yang tidak bisa ditiru secara utuh oleh warung lainnya. Pekak Tekor menekankan bahwa banyak yang bisa meniru bentuk luar menunya, namun tidak dengan jiwa atau makna didalamnya. Keunikan lainnya yaitu dari bahan makanannya sebagaian besar dari hasil kebun dan ternak sendiri.
Memiliki menu yang unik seperti kuliner berbahan daging ayam, cumi, dan kambing dengan harga yang sangat terjangkau. Bahkan, kambing genyol adalah versi unik dari menu di warung ini, yang menjadikan sajian khas yang tidak umum ditemukan.
Warung ini dikatakan unik karena memiliki konsep yang berbeda dari segi penataan arsitekturnya. Pintu masuknya terdiri dari gapura sederhana dengan tulisan Nasi Tekor di atasnya. Di tempat ini pengunjung akan merasakan suasana yang berbeda saat memasuki warung. Warung ini didekorasi dengan bambu dan kayu, serta pernak pernik klasik. Ini merupakan salah satu keistimewaan pada warung ini yang tidak dapat ditemui pada tempat lainnya. [T]
Reporter/Penulis: Ni Putu Dila Rossita Yanti
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























