PANGGUNG Rabu Puisi Komunitas Mahima terus bergulir, dari tema cinta pada edisi lalu hingga kini soal rindu. Dan, ini, salah satunya, tentang puisi rindu yang disampaikan Putu Indah Apriliani yang ia baca pada acara Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima di Kedai Umah Pradja Singaraja, Rabu malam, 2 Juli 2025.
Sudah tiga kali Putu Indah Apriliani terpilih sebagai pembaca puisi di acara Rabu Puisi. Namun, pada Rabu malam 2 Juli itu, Indah merasakan sesuatu yang berbeda. Puisi yang ia bawakan berjudul “Ayah, Aku Rindu”, karya salah satu Sahabat Vamale bernama Zahra. Ia pilih puisi itu bukan hanya karena sekadar keindahan kata, tapi setiap baitnya mencerminkan hidupnya sendiri.
“Meski bukan aku yang menulis, puisi ini terasa seperti lahir dari perasaanku sendiri,” ucap Indah dengan wajahnya tenang, tapi suaranya menyimpan getar luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Rabu Puisi #11 Komunitas Mahima di Kedai Umah Pradja Singaraja | Foto: tatkala.co
Indah tumbuh sebagai anak perempuan yang tidak pernah mengenal sosok figur ayah. Bukan karena ia membenci, tetapi karena ketidakhadiran itu sudah menjadi kenyataan yang ia terima sejak lama. Ia tak pernah tahu seperti apa rasanya dipeluk atau dijemput oleh seorang ayah, tapi juga tidak punya dendam atas keadaan tersebut. Salah satu bagian puisi yang paling menyentuh baginya adalah:
Ayah, aku tahu keadaan ini tak akan mungkin membuat kita bisa bersama. Aku pun juga tidak banyak mengharapkan hal itu. Tapi aku selalu berdoa semoga kita bisa bahagia dengan jalan hidup kita masing-masing.
Menurut Indah, bagian itu menggambarkan perasaan yang rumit, tidak banyak berharap, tetapi tetap mendoakan. Ia mengaku pernah berada di titik itu, di mana ada keinginan untuk mendekat, namun hal itu terasa mustahil karena hubungan mereka sudah terlalu asing.
”Dalam keadaan seperti itu, mendoakan menjadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan,” katanya pelan.

Putu Indah Apriliani | Foto: Komunitas Mahima
Indah juga membawakan puisi berbahasa Inggris ciptaannya sendiri berjudul The Unmissed Shadow. Meski secara eksplisit menyatakan ”tidak rindu”, puisi ini justru menyiratkan kerinduan yang tertahan. Puisi ini ditulisnya tahun 2025
I don’t miss the man, for he wasn’t truly known,
But the idea of a father, firmly sown.
So I build my own bridges, and sail my own sea,
Still needing the solace of what you could be.
Artinya:
Tidak ada yang benar-benar saya rindukan,
Tapi gagasan seorang ayah itu tertanam kuat.
Saya membangun jembatan saya sendiri, dan mengarungi lautan saya sendiri,
Masih membutuhkan penghiburan dari apa yang bisa Anda lakukan.
Jejak Tanpa Wajah dan Cinta Tanpa Syarat
Kisah serupa tentang kerinduan pada sosok orang tua yang tak tergapai datang dari Chatrine Florentine Ndrotndrot, mahasiswi asal Papua, melantunkan larik demi larik karyanya. Puisi berjudul ”Jejak Tanpa Wajah” itu sebuah ekspresi dari pengalaman hidup yang selama ini ia simpan rapat-rapat dalam diam. “Aku menulis puisi itu terinspirasi dari kisahku sendiri,” ujarnya usai tampil.
Dia yang tak pernah ku kenal wajahnya,
namun hidupku bermula dari nadinya.
Sembilan bulan dalam dekat sunyi dijaga, dirawat, meski tak pernah kumiliki.
Puisinya ditulis tahun 2025, yang bercerita tentang kehilangan sosok ibu, hubungan yang tak pernah terjalin sejak awal, rindu yang tidak memiliki bentuk, dan keterikatan yang tetap terasa meski tanpa kebersamaan.

Cathrine | Foto: Komunitas Mahima
Dalam kebuntuan untuk mengungkapkan perasaannya, Cathrine menemukan pelariannya pada puisi. Ia mulai hobi menulis puisi sejak SMA, dan hasrat itu semakin terasah ketika ia bertemu mata kuliah poetry atau puisi di kampusnya. “Waktu tahu ada kelas puisi, aku senang karena bisa menulis yang sesuai dengan apa yang pernah aku alami,” katanya. Puisi memberinya bahasa untuk menyuarakan apa yang selama ini membisu.
Bagi Cathrine yang menyaksikan sendiri bagaimana sosok ayah yang membesarkannya mewujudkan cinta tulus tanpa syarat, dan dari sanalah ia mengerti mengapa figur ayah sering disebut sebagai cinta pertama seorang anak perempuan. Inilah yang kemudian ia salurkan dengan penuh penghayatan saat membawakan puisi adaptasi, How Do I Love Tee, karya Elizabeth Barret Browning.
Ragam Rindu
Lebih dari 30 orang membaca puisi secara bergiliran dalam acara Rabu Puisi itu. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa Undiksha dan Institut Mpu Kuturan, juga ada siswa dari SMKN 3 Singaraja. Pembaca puisi dari kalangan umum juga tak kalah serunya. Mereka membaca puisi yang mereka tulis sendiri atau membaca puisi dari penyair terkenal seperti Sapardi Djoko Damono.

Gede Ganesha | Foto: Komunitas Mahima
Gede Ganesha, komisioner Bawaslu Buleleng yang juga pemerhati sampah, membaca puisi sendiri sebagai hadiah ulang tahun untuk istrinya. Padahal istrinya tak ikut dalam acara itu. Tapi puisinya, bagi peserta yang hadir pada malam itu, mendengarkan dengan seksama puisi romantis untuk seorang istri itu.
Kadek Wisnu Oktaditya, siswa SMKN 3 Singaraja, membaca puisi Sapardi.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu…
Alasan Wisnu memilih puisi itu sangat sederhana, sama seperti judul puisi itu sendiri.
“Puisi ini mencerminkan bagaimana kerinduan yang mendalam keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat yang cintai dan sayangi,” ujar Wisnu.
Sementara, Gede Yoga Wismantara, siswa SMKN 3 Singaraja, menulis sebuah puisi berjudul “Penenang”. Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami skizofrenia, dan bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kesehariannya. Puisi itu dibuat Juli 2025.
Jika penenang ini menjanjikan hening,
mengapa dunia tetap terbalik dan miring?
Jika pil ini menjanjikan tenang,
mengapa mimpi terus menebas terang?
“Ia digambarkan sebagai sosok yang merindukan kembali hidup yang stabil dan tenang, tapi terus diganggu oleh batas yang kabur antara kenyataan dan halusinasi,” tutur Yoga.



Foto-foto: Komunitas Mahima
Kemudian Gede Bayu Sukradia Adi Putra, mahasiswa Institut Mpu Kuturan (IMK) membuat puisi spontan berjudul “Akan Dirindukan”. Dengan nada tegas, ia menyebut dirinya sebagai Bung Bayu saat tampil membacakan karyanya sendiri.
Kedai Umah Pradja sebagai saksi bahwa kita pernah bersama duduk manis menikmati bacaan puisi yang apik.
Pak Ole di atas, bunda Sonia di bawah menikmati kopi hangat dan kentang yang tersedia.
Ini akan dirindukan,
Tidak akan terulang di tempat ini lagi, dengan orang yang sama, dan dengan suasana yang serupa.
Puisi Sebagai Salam Perpisahan untuk yang Pergi
Kadek Sonia Piscayanti, Founder Komunitas Mahima mengatakan bahwa tema rindu pada “Rabu Puisi ini tak hanya membicarakan tentang rindu tentang kekasih, tapi juga bisa kepada keluarga, seperti Indah pada ayahnya atau Cathrine pada ibunya,” ucap Sonia.



Foto-foto: Komunitas Mahima
Sebagai penutup, Sonia membawakan puisinya sendiri, “Prihentemen” ditulis pada tahun 2022. Salah satu puisinya berbunyi demikian:
“Bapak, Bapak, Bapak”
Kadang kau dengar mereka memanggil
Kali ini kau tak bisa kembali
Kali ini kau harus tahu batas tegas
Antara dharma dan karma
Semua telah selesai tuntas pada waktunya
Ucapan selamat jalan biasanya kita dengar ketika seseorang pergi, ke mana pun tujuannya. Dalam puisinya, Sonia menggambarkan bentuk perpisahan melalui sebuah nyanyian. Bagi Sonia, ini adalah perpisahan dengan sosok yang sangat ia cintai yaitu ayahnya. Saat sang ayah meninggal, ucapan “selamat jalan” menjadi doa terakhir yang ia panjatkan. Bukan sekadar kata-kata, tetapi harapan agar kepergian ayahnya membawa kedamaian menuju sunia. [T]

Kadek Wisnu Oktaditya, Putu Indah Apriliani, Chatrine Floretine Ndrotndrot, Gede Yoga Wismantara, Gede Bayu Sukradia Adi Putra (diwakili oleh Wira) pemenang nominasi pembaca puisi terbaik Rabu Puisi ke-11 di Kedai Umah Pradja | Foto: Komunitas Mahima
Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
- BACA JUGA:



























