GELAK tawa tidak bisa dibendung dari penonton saat film “Rita Coba Rokok” di Kedai Umah Pradja, Singaraja, ditayangkan dalam program Layar Kolektif Bali Utara yang digagas Komunitas Singaraja Menonton, 20 Juni 2025 malam .
Film itu berjenis dokumenter, digarap oleh Natania Marcella. Dengan durasi 05.32, cukup membuat orang-orang gembira oleh ekspresi Rita (tokoh utama) saat mencoba rokok, dan bertanya-tanya, apakah boleh perempuan merokok? Dan yang paling—imut, apakah boleh perempuan belajar merokok?
Begitulah kira-kira, bisik-bisik di antara para penonton.
Itu memang bukan film biasa, bahkan tidak klise. Di tengah poster-poster dan seruan negara jika “Merokok membunuhmu!” atau “Merokok dapat merusak janinmu, jantungmu, bibirmu..!”, film itu—justru, mengajarkan, jika merokok, dengan cara tingwe (ngelinting dewek) ataumembuat rokok sendiri dari tembakau, itu sama saja menaburkan cinta.
Di satu warung di Denpasar dengan tulisan “Warung Azkiya: Khas Lumajang” itu, Rita menjajal rokok, karena merasa aneh, apakah enaknya merokok itu, dari seorang pria bertopi bernama Edo Wulia—yang sedang ngelinting.
Lantas Edo Wulia menyilakan Rita untuk mencobanya. Diambilnya oleh Rita selembar kertas dan secubit tembakau. Ia ngelinting sendiri sambil tersenyum-senyum malu.
Karena itu kali pertama ia menjajal, membuat rokok, lalu membakarnya. Memang lintingannya tidak sempurna, juga bakarannya. Tapi ekspresi lepas—ketawa, dan rasa ingin tahu Rita pada rokok, setidaknya mulai tercecer.

Satu adegan dalam film “Rita Coba Rokok” | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Saya memperhatikan betul film itu. Saya juga memperhatikan betul, bagaimana kawan di samping saya, agaknya, sedikit aneh tentang film—pelajaran merokok, kok bisa terpikirkan dibuat. Padahal, negara sudah final, bahwa merokok berbahaya.
Tapi saya menangkap lain dari pada film itu, di mana tembakau dikenalkan di film itu. Proses membuat rokok, juga dikenalkan, tapi ini bukan soal bagaimana rokok itu tuntas dibuat oleh Edo Wulia, tapi bagaimana Edo Wulia menikmati betul ketika melinting, ketika membakar rokok itu, ketika ia menghisapnya juga. Juga mengingat para petani tembakau, yang kini mulai redup khususnya di Bali.
Wajah Rita agaknya memperhatikan jelas ekspresi Edo Wulia sangat menikmati. Dan di sanalah, perbincangan mereka, cukup asik. Ketika rokok tidak hanya disedot, dari tingwe, di sanalah “cinta” bisa ditabur dari selintingan tembakau, begitu kira-kira kata Edo Wulio.
Di Bali sendiri, khususnya di Buleleng, tembakau sudah tidak lagi seksi, tingwe sudah tidak lagi seksi. Di Desa Panji Anom, misalnya, bangunan bernama oven tembakau milik keluarga Mangku Ketut Kadi, terbengkalai. Sudah tidak ada aktivitas produksi di sana sejak 2013. Padahal, sebagai petani tembakau, ia sudah geluti sejak tahun 1995. Menyoal gulung tikarnya, cukup disayangkan banyak orang, termasuk Gede Ganesha, salah satu penonton yang ketika itu bercerita tentang Mangku Ketut Kadi, cukup tersohor di jamannya.

Satu adegan dalam film “Rita Coba Rokok” | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Ada banyak faktor mengapa ia tak lagi memproduksi tembakau untuk orang-orang melakukan tingwe. Tentu, selain karena tidak dikenalkan oleh pemerintah—betapa asiknya ngelinting itu, tembakau juga tak lagi tampak di tongkrongan anak muda sebagai gaya hidup sederhana.
Apalagi dunia industri rokok yang terus mencecar para konsumen dengan varian rasa, dengan segala bentuk iklan yang menarik, dan, dihubungkan dengan gaya hidup yang hedon sekarang, menjadi saingan terberat bagi para petani kecil tembakau.

Satu adegan dalam film “Rita Coba Rokok” | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Kemudian di tengah derasnya penolakan terhadap rokok, seperti bea cukai mulai menjangkiti si perokok, rokok illegal merebak akhirnya. Dan film itu, membuat pesan, kenapa tidak kembali merokok tembakau yang langsung diambil dari petani tembakau ketika sebungkus rokok sudah naik-naik harganya?
Dan di Bali, ada banyak para pemuda yang menggunakan vave, untuk menghindari pemborosan kantong mereka, pula agar tidak terlalu candu, agar tidak terus-terusan beli rokok yang harganya bisa setengah gaji harian seorang pekerja warteg.

Suasana menonton film “Rita Coba Rokok” | Foto: Dok. Singaraja Menonton
Melalui nge-vave, selain dianggap hemat, dan tidak terlalu berbahaya, juga terlihat sangat gaul dan modern. Tapi, tak banyak juga mereka yang tidak nge-vave, lari ke rokok ilegal—secara diam-diam. Yang kandungannya barangkali memang berbahaya.
Bagi Rita sendiri, tingwe jadi pengalaman cukup unik. Ada proses belajar sebelum mencobanya, dan, ya, tentang rasanya, Rita masih dikoyak pertanyaan: di mana sih enaknya merokok? [T]
Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























