3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 21, 2025
in Esai
Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Ilustrasi tatkala.co | Arix

MENJELANG Hari Raya Galungan, ada satu hari yang jatuh pada Senin Pon wuku Dungulan, disebut sebagai Panyajan. Secara harfiah, Panyajan dari kata jaja dapat dimaknai sebagai hari membuat jajan, aneka kudapan tradisional yang akan dijadikan persembahan.

Namun di balik makna harfiah itu, tersembunyi lapisan makna kias ketika panyajahan dimaknai dengan bersumber dari kata saja, yang berarti ‘sungguh-sungguh’.

Maka, Panyajan bukan sekadar momentum membuat jajan, melainkan ajakan untuk menseriuskan diri, niat dan batin sebagai bentuk persiapan rohani menuju puncak Galungan. Hari ini menjadi semacam penanda yang mengingatkan bahwa menyambut kemenangan dharma tak cukup dengan tangan yang sibuk, tetapi juga hati yang sungguh-sungguh serius dan reflektif.

***

Ketika saya masih kecil, setiap kali hari Panyajan mendekat, nenek akan menyuruh saya menumbuk ketan. Ketan putih yang harum itu akan menjadi bahan dasar jaja uli, salah satu jenis jajan bali yang paling sering hadir dalam sesajen. Prosesnya tidak sebentar: mengukus, menumbuk, membentuk, sampai mungkin membungkus.

Proses ini menumbuhkan sebuah refleksi bahwa sebuah jaja bukan sekadar kudapan. Jaja bisa jadi adalah doa yang dipadatkan menjadi bentuk dan rasa.

Kini, waktu telah berubah. Saya tidak lagi disuruh menumbuk ketan. Saya mengunjungi toko-toko kue modern, memilih kue modern dan jajanan pabrikan dalam plastik transparan. Lebih cepat, lebih bersih,  lebih awet dan jujur saja akan lebih cepat habis dimakan ketika menjadi lungsuran, dibandingkan jaja uli, gina atau jaja satuh yang cenderung diabaikan, bahkan dianggap jadul.

Dikotomi antara jaja bali atau jajan pasar dengan jajan toko bukanlah fenomena baru. Ruang-ruang upacara hari ini sering memperlihatkan hal tersebut. Banten yang didominasi snack dan kue modern bermerk seharga puluhan ribu dalam plastik, tetap menyelipkan sebungkus jaja uli begina seharga 500-2000 rupiah sebagai penanda tradisi. Kehadiran satu bungkusan kecil itu dianggap sudah cukup untuk melambangkan seluruh warisan kuliner-spiritual dari masa lampau.

Belakangan, jaja bali pun sudah berinovasi dari segi rasa hingga tampilan agar lebih menarik. Sayangnya, ada pula produksi jaja bali yang “sekadar” jaja sebagai simbol tanpa bisa dikonsumsi. Siapa yang mau makan jaja gina dengan warna merah ngejréng yang orang awam akan berpraduga bila jajan ini diwarnai dengan kesumba?

Fenomena ini tidak semata soal praktis atau tidak, melainkan menyimpan refleksi tentang selera dan nilai yang berubah. Sebagian orang beranggapan jajan toko adalah representasi kebersihan, daya tahan, dan “status”.

Bagi sebagian lain, jaja bali adalah lambang keaslian, pakem, spiritualitas, dan keberlanjutan tradisi. Ketika banten menjadi arena percampuran keduanya, kita dihadapkan pada pertanyaan, apakah ini tanda akulturasi? Atau pelan-pelan akan menjadi penggantian?

Ketika Jajan yang Bicara

Kita memang tidak bisa memaksakan semua orang kembali ke dapur, menumbuk ketan atau membuat uli sendiri. Zaman bergerak cepat, waktu pun semakin mahal. Tetapi jelasnya bukan berarti kita harus rela kehilangan kepekaan atas makna simbolik jaja dalam banten. Jaja bali tidak hadir sekadar untuk disantap, melainkan sebagai representasi unsur alam dan kesatuan nilai.

Ketika membaca lontar berjudul Teges ing Sarwa Bebanten, saya menyimak bila jaja-jaja ini diberi interpretasinya tersendiri.

Saya kutipkan terjemahannya sebagai berikut. Jajan gina adalah simbol pengetahuan (guṇa?), satuh atau tempani adalah simbol perhitungan, wajik adalah simbol rasa dari sastra.

Dodol adalah simbol kesetiaan, jaja uli merah dan putih adalah simbol kebahagiaan yang cemerlang dan hubungan yang harmonis. Bantal adalah simbol ada dan tiada. Kira-kira itu adalah segelintir jajan tradisionalyang disebutkan dalam teks. Di luar itu, masih banyak lagi ragam jaja bali yang menemani setiap persembahan kita.

Ada baiknya, jajan-jajan seperti disebutkan dalam teks itu tidak dilupakan. Mereka penting untuk menjaga ingatan kolektif kita pada nilai tradisi dan sejarah. Lebih-lebih sejumlah sajen khusus mensyaratkan ada jaja bali yang mutlak hadir di dalamnya. Banten bendu piduka mewajibkan ada jaja bendu di dalamnya. Tak boleh diganti roti kasur. Roti kasur dalam kasus banten seperti ini berperan hanya sebagai pelengkap, bukan substitusi komponen pokok berupa jaja bendu. Demikian juga dalam upacara seperti usabha dodol. Jelaslah dodol adalah si pemeran utama.

Kembali menyimak penjelasan lontar tersebut, ini adalah pembenaran jika dalam banten rupanya jajan bukan sekadar makanan, bukan pula sekadar pengisi belaka. Ia adalah bahasa spiritual.

Ketika jaja uli mulai digantikan, bukan hanya rasa yang berubah, tetapi juga makna persembahan kita. Persembahan yang kita lakukan menjadi lebih efisien, namun pelan-pelan juga kehilangan sisi reflektifnya. Namun ini bukan soal menyalahkan perubahan. Sekarang kita mesti memahami tentang apa yang sedang bergeser. Tradisi tidak pernah benar-benar hilang dalam sekejap, tetapi sering menyusut menjadi simbol kecil, barulah pelan-pelan dilupakan.

Apakah salah menggunakan jajan toko dalam banten? Rasanya tidak. Tetapi menjadi reflektif atas pilihan itu sangat penting. Setiap jajan yang kita letakkan di atas dulang adalah pernyataan nilai. Mungkin saja kita dapat memberi makna baru atas jajan cheesecake? Misalnya dia mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang empuk dan tidak keras hati.

Lalu jajan sus adalah perwujudan diri yang tidak pamer isi, tetapi diam-diam menyimpan makna yang meleleh di lidah orang lain. Kemudian jajan tart adalah simbol yang mengingatkan kita bahwa hidup terdiri dari banyak lapisan dan terkadang penuh krim berlebihan.

Siapa tahu, dapat dimaknai begitu? Ini hanya pikiran random saya. Pikiran random saya lainnya adalah andaikata jajan-jajan ini sudah dikenal leluhur kita di masa lampau, saya yakin pasti ada teks lontar yang menguraikan pemaknaan jajan-jajan modern ini. Hal ini didasari sebuah keniscayaan jika lontar adalah kesaksian zaman. Lontar adalah pengawet memori masa lampau (bagi yang benar-benar berasal dari masa lampau).

Secara umum, kita kembalikan saja makna jajan sebagai: “Ini rasa syukur kami, Ya Tuhan!” Lalu pada akhirnya, bukan seberapa modern atau seberapa klasik jajan kita yang akan menilai kualitas banten itu, tetapi seberapa tulus dan sadar kita menatanya di dalam banten. Seperti itu kiranya jaja dapat bertransformasi makna menjadi saja.

***

Panyajan bukan semata hari membuat jajan, tetapi hari kita menumbuk dengan semangat, menabur cinta ke dalam adonan, mengolah kesejatian itu dengan sang diri sebagai tungkunya dan diam-diam bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah kita sungguh-sungguh bersiap menjadi manusia yang layak bagi kemenangan dharma?”

Entah jaja uli dari olahan tangan keriput, atau brownies dalam plastik dari rak toko modern, keduanya akan selalu tergantung pada cara kita memaknainya. Terkadang, bukan bahan atau bentuknya yang paling penting, tetapi sejauh mana kita tulus menaruh rasa dan niat di dalamnya.

Setiap jajan di dalam banten adalah cermin kecil dari hati kita. Apakah hati itu masih sederhana, polos dan sabar seperti ketan yang ditumbuk? Atau sudah menjadi cepat, ringkas, bersaing dan prestisius seperti kue bermerk beken? Tak ada yang salah, selama kita masih bisa menunduk sebentar dan paham, “Untuk apa sebenarnya persembahan ini dibuat? Untuk siapa sebenarnya ia ditujukan?” [T]

Enjung Cengkir, 21-4-2025

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Tags: hari raya galunganhindukue tradisonalkuliner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Next Post

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co