3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 21, 2025
in Esai
Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Ilustrasi tatkala.co | Arix

MENJELANG Hari Raya Galungan, ada satu hari yang jatuh pada Senin Pon wuku Dungulan, disebut sebagai Panyajan. Secara harfiah, Panyajan dari kata jaja dapat dimaknai sebagai hari membuat jajan, aneka kudapan tradisional yang akan dijadikan persembahan.

Namun di balik makna harfiah itu, tersembunyi lapisan makna kias ketika panyajahan dimaknai dengan bersumber dari kata saja, yang berarti ‘sungguh-sungguh’.

Maka, Panyajan bukan sekadar momentum membuat jajan, melainkan ajakan untuk menseriuskan diri, niat dan batin sebagai bentuk persiapan rohani menuju puncak Galungan. Hari ini menjadi semacam penanda yang mengingatkan bahwa menyambut kemenangan dharma tak cukup dengan tangan yang sibuk, tetapi juga hati yang sungguh-sungguh serius dan reflektif.

***

Ketika saya masih kecil, setiap kali hari Panyajan mendekat, nenek akan menyuruh saya menumbuk ketan. Ketan putih yang harum itu akan menjadi bahan dasar jaja uli, salah satu jenis jajan bali yang paling sering hadir dalam sesajen. Prosesnya tidak sebentar: mengukus, menumbuk, membentuk, sampai mungkin membungkus.

Proses ini menumbuhkan sebuah refleksi bahwa sebuah jaja bukan sekadar kudapan. Jaja bisa jadi adalah doa yang dipadatkan menjadi bentuk dan rasa.

Kini, waktu telah berubah. Saya tidak lagi disuruh menumbuk ketan. Saya mengunjungi toko-toko kue modern, memilih kue modern dan jajanan pabrikan dalam plastik transparan. Lebih cepat, lebih bersih,  lebih awet dan jujur saja akan lebih cepat habis dimakan ketika menjadi lungsuran, dibandingkan jaja uli, gina atau jaja satuh yang cenderung diabaikan, bahkan dianggap jadul.

Dikotomi antara jaja bali atau jajan pasar dengan jajan toko bukanlah fenomena baru. Ruang-ruang upacara hari ini sering memperlihatkan hal tersebut. Banten yang didominasi snack dan kue modern bermerk seharga puluhan ribu dalam plastik, tetap menyelipkan sebungkus jaja uli begina seharga 500-2000 rupiah sebagai penanda tradisi. Kehadiran satu bungkusan kecil itu dianggap sudah cukup untuk melambangkan seluruh warisan kuliner-spiritual dari masa lampau.

Belakangan, jaja bali pun sudah berinovasi dari segi rasa hingga tampilan agar lebih menarik. Sayangnya, ada pula produksi jaja bali yang “sekadar” jaja sebagai simbol tanpa bisa dikonsumsi. Siapa yang mau makan jaja gina dengan warna merah ngejréng yang orang awam akan berpraduga bila jajan ini diwarnai dengan kesumba?

Fenomena ini tidak semata soal praktis atau tidak, melainkan menyimpan refleksi tentang selera dan nilai yang berubah. Sebagian orang beranggapan jajan toko adalah representasi kebersihan, daya tahan, dan “status”.

Bagi sebagian lain, jaja bali adalah lambang keaslian, pakem, spiritualitas, dan keberlanjutan tradisi. Ketika banten menjadi arena percampuran keduanya, kita dihadapkan pada pertanyaan, apakah ini tanda akulturasi? Atau pelan-pelan akan menjadi penggantian?

Ketika Jajan yang Bicara

Kita memang tidak bisa memaksakan semua orang kembali ke dapur, menumbuk ketan atau membuat uli sendiri. Zaman bergerak cepat, waktu pun semakin mahal. Tetapi jelasnya bukan berarti kita harus rela kehilangan kepekaan atas makna simbolik jaja dalam banten. Jaja bali tidak hadir sekadar untuk disantap, melainkan sebagai representasi unsur alam dan kesatuan nilai.

Ketika membaca lontar berjudul Teges ing Sarwa Bebanten, saya menyimak bila jaja-jaja ini diberi interpretasinya tersendiri.

Saya kutipkan terjemahannya sebagai berikut. Jajan gina adalah simbol pengetahuan (guṇa?), satuh atau tempani adalah simbol perhitungan, wajik adalah simbol rasa dari sastra.

Dodol adalah simbol kesetiaan, jaja uli merah dan putih adalah simbol kebahagiaan yang cemerlang dan hubungan yang harmonis. Bantal adalah simbol ada dan tiada. Kira-kira itu adalah segelintir jajan tradisionalyang disebutkan dalam teks. Di luar itu, masih banyak lagi ragam jaja bali yang menemani setiap persembahan kita.

Ada baiknya, jajan-jajan seperti disebutkan dalam teks itu tidak dilupakan. Mereka penting untuk menjaga ingatan kolektif kita pada nilai tradisi dan sejarah. Lebih-lebih sejumlah sajen khusus mensyaratkan ada jaja bali yang mutlak hadir di dalamnya. Banten bendu piduka mewajibkan ada jaja bendu di dalamnya. Tak boleh diganti roti kasur. Roti kasur dalam kasus banten seperti ini berperan hanya sebagai pelengkap, bukan substitusi komponen pokok berupa jaja bendu. Demikian juga dalam upacara seperti usabha dodol. Jelaslah dodol adalah si pemeran utama.

Kembali menyimak penjelasan lontar tersebut, ini adalah pembenaran jika dalam banten rupanya jajan bukan sekadar makanan, bukan pula sekadar pengisi belaka. Ia adalah bahasa spiritual.

Ketika jaja uli mulai digantikan, bukan hanya rasa yang berubah, tetapi juga makna persembahan kita. Persembahan yang kita lakukan menjadi lebih efisien, namun pelan-pelan juga kehilangan sisi reflektifnya. Namun ini bukan soal menyalahkan perubahan. Sekarang kita mesti memahami tentang apa yang sedang bergeser. Tradisi tidak pernah benar-benar hilang dalam sekejap, tetapi sering menyusut menjadi simbol kecil, barulah pelan-pelan dilupakan.

Apakah salah menggunakan jajan toko dalam banten? Rasanya tidak. Tetapi menjadi reflektif atas pilihan itu sangat penting. Setiap jajan yang kita letakkan di atas dulang adalah pernyataan nilai. Mungkin saja kita dapat memberi makna baru atas jajan cheesecake? Misalnya dia mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang empuk dan tidak keras hati.

Lalu jajan sus adalah perwujudan diri yang tidak pamer isi, tetapi diam-diam menyimpan makna yang meleleh di lidah orang lain. Kemudian jajan tart adalah simbol yang mengingatkan kita bahwa hidup terdiri dari banyak lapisan dan terkadang penuh krim berlebihan.

Siapa tahu, dapat dimaknai begitu? Ini hanya pikiran random saya. Pikiran random saya lainnya adalah andaikata jajan-jajan ini sudah dikenal leluhur kita di masa lampau, saya yakin pasti ada teks lontar yang menguraikan pemaknaan jajan-jajan modern ini. Hal ini didasari sebuah keniscayaan jika lontar adalah kesaksian zaman. Lontar adalah pengawet memori masa lampau (bagi yang benar-benar berasal dari masa lampau).

Secara umum, kita kembalikan saja makna jajan sebagai: “Ini rasa syukur kami, Ya Tuhan!” Lalu pada akhirnya, bukan seberapa modern atau seberapa klasik jajan kita yang akan menilai kualitas banten itu, tetapi seberapa tulus dan sadar kita menatanya di dalam banten. Seperti itu kiranya jaja dapat bertransformasi makna menjadi saja.

***

Panyajan bukan semata hari membuat jajan, tetapi hari kita menumbuk dengan semangat, menabur cinta ke dalam adonan, mengolah kesejatian itu dengan sang diri sebagai tungkunya dan diam-diam bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah kita sungguh-sungguh bersiap menjadi manusia yang layak bagi kemenangan dharma?”

Entah jaja uli dari olahan tangan keriput, atau brownies dalam plastik dari rak toko modern, keduanya akan selalu tergantung pada cara kita memaknainya. Terkadang, bukan bahan atau bentuknya yang paling penting, tetapi sejauh mana kita tulus menaruh rasa dan niat di dalamnya.

Setiap jajan di dalam banten adalah cermin kecil dari hati kita. Apakah hati itu masih sederhana, polos dan sabar seperti ketan yang ditumbuk? Atau sudah menjadi cepat, ringkas, bersaing dan prestisius seperti kue bermerk beken? Tak ada yang salah, selama kita masih bisa menunduk sebentar dan paham, “Untuk apa sebenarnya persembahan ini dibuat? Untuk siapa sebenarnya ia ditujukan?” [T]

Enjung Cengkir, 21-4-2025

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Tags: hari raya galunganhindukue tradisonalkuliner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Next Post

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co