24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 21, 2025
in Esai
Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Ilustrasi tatkala.co | Arix

MENJELANG Hari Raya Galungan, ada satu hari yang jatuh pada Senin Pon wuku Dungulan, disebut sebagai Panyajan. Secara harfiah, Panyajan dari kata jaja dapat dimaknai sebagai hari membuat jajan, aneka kudapan tradisional yang akan dijadikan persembahan.

Namun di balik makna harfiah itu, tersembunyi lapisan makna kias ketika panyajahan dimaknai dengan bersumber dari kata saja, yang berarti ‘sungguh-sungguh’.

Maka, Panyajan bukan sekadar momentum membuat jajan, melainkan ajakan untuk menseriuskan diri, niat dan batin sebagai bentuk persiapan rohani menuju puncak Galungan. Hari ini menjadi semacam penanda yang mengingatkan bahwa menyambut kemenangan dharma tak cukup dengan tangan yang sibuk, tetapi juga hati yang sungguh-sungguh serius dan reflektif.

***

Ketika saya masih kecil, setiap kali hari Panyajan mendekat, nenek akan menyuruh saya menumbuk ketan. Ketan putih yang harum itu akan menjadi bahan dasar jaja uli, salah satu jenis jajan bali yang paling sering hadir dalam sesajen. Prosesnya tidak sebentar: mengukus, menumbuk, membentuk, sampai mungkin membungkus.

Proses ini menumbuhkan sebuah refleksi bahwa sebuah jaja bukan sekadar kudapan. Jaja bisa jadi adalah doa yang dipadatkan menjadi bentuk dan rasa.

Kini, waktu telah berubah. Saya tidak lagi disuruh menumbuk ketan. Saya mengunjungi toko-toko kue modern, memilih kue modern dan jajanan pabrikan dalam plastik transparan. Lebih cepat, lebih bersih,  lebih awet dan jujur saja akan lebih cepat habis dimakan ketika menjadi lungsuran, dibandingkan jaja uli, gina atau jaja satuh yang cenderung diabaikan, bahkan dianggap jadul.

Dikotomi antara jaja bali atau jajan pasar dengan jajan toko bukanlah fenomena baru. Ruang-ruang upacara hari ini sering memperlihatkan hal tersebut. Banten yang didominasi snack dan kue modern bermerk seharga puluhan ribu dalam plastik, tetap menyelipkan sebungkus jaja uli begina seharga 500-2000 rupiah sebagai penanda tradisi. Kehadiran satu bungkusan kecil itu dianggap sudah cukup untuk melambangkan seluruh warisan kuliner-spiritual dari masa lampau.

Belakangan, jaja bali pun sudah berinovasi dari segi rasa hingga tampilan agar lebih menarik. Sayangnya, ada pula produksi jaja bali yang “sekadar” jaja sebagai simbol tanpa bisa dikonsumsi. Siapa yang mau makan jaja gina dengan warna merah ngejréng yang orang awam akan berpraduga bila jajan ini diwarnai dengan kesumba?

Fenomena ini tidak semata soal praktis atau tidak, melainkan menyimpan refleksi tentang selera dan nilai yang berubah. Sebagian orang beranggapan jajan toko adalah representasi kebersihan, daya tahan, dan “status”.

Bagi sebagian lain, jaja bali adalah lambang keaslian, pakem, spiritualitas, dan keberlanjutan tradisi. Ketika banten menjadi arena percampuran keduanya, kita dihadapkan pada pertanyaan, apakah ini tanda akulturasi? Atau pelan-pelan akan menjadi penggantian?

Ketika Jajan yang Bicara

Kita memang tidak bisa memaksakan semua orang kembali ke dapur, menumbuk ketan atau membuat uli sendiri. Zaman bergerak cepat, waktu pun semakin mahal. Tetapi jelasnya bukan berarti kita harus rela kehilangan kepekaan atas makna simbolik jaja dalam banten. Jaja bali tidak hadir sekadar untuk disantap, melainkan sebagai representasi unsur alam dan kesatuan nilai.

Ketika membaca lontar berjudul Teges ing Sarwa Bebanten, saya menyimak bila jaja-jaja ini diberi interpretasinya tersendiri.

Saya kutipkan terjemahannya sebagai berikut. Jajan gina adalah simbol pengetahuan (guṇa?), satuh atau tempani adalah simbol perhitungan, wajik adalah simbol rasa dari sastra.

Dodol adalah simbol kesetiaan, jaja uli merah dan putih adalah simbol kebahagiaan yang cemerlang dan hubungan yang harmonis. Bantal adalah simbol ada dan tiada. Kira-kira itu adalah segelintir jajan tradisionalyang disebutkan dalam teks. Di luar itu, masih banyak lagi ragam jaja bali yang menemani setiap persembahan kita.

Ada baiknya, jajan-jajan seperti disebutkan dalam teks itu tidak dilupakan. Mereka penting untuk menjaga ingatan kolektif kita pada nilai tradisi dan sejarah. Lebih-lebih sejumlah sajen khusus mensyaratkan ada jaja bali yang mutlak hadir di dalamnya. Banten bendu piduka mewajibkan ada jaja bendu di dalamnya. Tak boleh diganti roti kasur. Roti kasur dalam kasus banten seperti ini berperan hanya sebagai pelengkap, bukan substitusi komponen pokok berupa jaja bendu. Demikian juga dalam upacara seperti usabha dodol. Jelaslah dodol adalah si pemeran utama.

Kembali menyimak penjelasan lontar tersebut, ini adalah pembenaran jika dalam banten rupanya jajan bukan sekadar makanan, bukan pula sekadar pengisi belaka. Ia adalah bahasa spiritual.

Ketika jaja uli mulai digantikan, bukan hanya rasa yang berubah, tetapi juga makna persembahan kita. Persembahan yang kita lakukan menjadi lebih efisien, namun pelan-pelan juga kehilangan sisi reflektifnya. Namun ini bukan soal menyalahkan perubahan. Sekarang kita mesti memahami tentang apa yang sedang bergeser. Tradisi tidak pernah benar-benar hilang dalam sekejap, tetapi sering menyusut menjadi simbol kecil, barulah pelan-pelan dilupakan.

Apakah salah menggunakan jajan toko dalam banten? Rasanya tidak. Tetapi menjadi reflektif atas pilihan itu sangat penting. Setiap jajan yang kita letakkan di atas dulang adalah pernyataan nilai. Mungkin saja kita dapat memberi makna baru atas jajan cheesecake? Misalnya dia mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang empuk dan tidak keras hati.

Lalu jajan sus adalah perwujudan diri yang tidak pamer isi, tetapi diam-diam menyimpan makna yang meleleh di lidah orang lain. Kemudian jajan tart adalah simbol yang mengingatkan kita bahwa hidup terdiri dari banyak lapisan dan terkadang penuh krim berlebihan.

Siapa tahu, dapat dimaknai begitu? Ini hanya pikiran random saya. Pikiran random saya lainnya adalah andaikata jajan-jajan ini sudah dikenal leluhur kita di masa lampau, saya yakin pasti ada teks lontar yang menguraikan pemaknaan jajan-jajan modern ini. Hal ini didasari sebuah keniscayaan jika lontar adalah kesaksian zaman. Lontar adalah pengawet memori masa lampau (bagi yang benar-benar berasal dari masa lampau).

Secara umum, kita kembalikan saja makna jajan sebagai: “Ini rasa syukur kami, Ya Tuhan!” Lalu pada akhirnya, bukan seberapa modern atau seberapa klasik jajan kita yang akan menilai kualitas banten itu, tetapi seberapa tulus dan sadar kita menatanya di dalam banten. Seperti itu kiranya jaja dapat bertransformasi makna menjadi saja.

***

Panyajan bukan semata hari membuat jajan, tetapi hari kita menumbuk dengan semangat, menabur cinta ke dalam adonan, mengolah kesejatian itu dengan sang diri sebagai tungkunya dan diam-diam bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah kita sungguh-sungguh bersiap menjadi manusia yang layak bagi kemenangan dharma?”

Entah jaja uli dari olahan tangan keriput, atau brownies dalam plastik dari rak toko modern, keduanya akan selalu tergantung pada cara kita memaknainya. Terkadang, bukan bahan atau bentuknya yang paling penting, tetapi sejauh mana kita tulus menaruh rasa dan niat di dalamnya.

Setiap jajan di dalam banten adalah cermin kecil dari hati kita. Apakah hati itu masih sederhana, polos dan sabar seperti ketan yang ditumbuk? Atau sudah menjadi cepat, ringkas, bersaing dan prestisius seperti kue bermerk beken? Tak ada yang salah, selama kita masih bisa menunduk sebentar dan paham, “Untuk apa sebenarnya persembahan ini dibuat? Untuk siapa sebenarnya ia ditujukan?” [T]

Enjung Cengkir, 21-4-2025

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Tags: hari raya galunganhindukue tradisonalkuliner
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Next Post

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co