3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 21, 2025
in Esai
Moshing di Lagu yang Salah, Normalisasi FOMO Melucuti Esensi Musik

Ilustrasi tatkala.co | Arix

“Tidak datang untuk validasi keren, ini caraku untuk mengekspresikan diri dan merayakan musik yang kucintai!”

Begitu ungkapan yang seringkali ada di benak saya ketika mengunjungi acara musik.

Gigs dan konser bukan sekadar mendengar dan menonton musik. Kedua hal itu bagai ruang interaksi, tempat energi kolektif dituangkan, dan ruang bagi musisi serta penikmat musik untuk saling berbagi pengalaman.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya melihat semakin banyak anak muda yang hadir di gigs dan konser, walaupun jujur saja, saya tidak terlalu sering datang ke acara-acara musik itu. Tapi yang saya ingat ketika menonton, orang-orang membawa semangat baru sekaligus fenomena yang menarik perhatian saya, mereka yang datang banyak yang menikmati, tapi tidak sedikit juga yang hanya demi FOMO (fear of missing out), tanpa benar-benar memahami esensi musik yang dihidangkan.      

Apa Itu Gigs, Pogo, dan Moshing?

Mari kita kenali beberapa istilah yang sering muncul di dunia musik. Gigs singkatan dari “engagement” adalah pertunjukan musik skala kecil hingga menengah, biasanya digelar di bar, kafe, atau ruang komunitas.

Istilah “gig” dalam dunia musik berasal dari bahasa gaul para musisi jazz di Amerika Serikat awal abad ke-20.  Acara yang menjadi wadah bagi band lokal atau musisi independen untuk menampilkan karya mereka, dan biasanya penggemar mereka tidak terlalu banyak.

Berbeda dengan konser yang sering kali megah dan terorganisasi secara komersial, gigs memiliki suasana lebih intim, seperti di khususkan untuk para pendengar VIP, hahahaa.

Dalam beberapa skena musik, seperti punk, metal, atau hardcore, muncul bentuk ekspresi fisik unik dari penonton, pogo dan moshing. Pogo, tarian yang dipopulerkan oleh Bassis Sex Pistols Sid Vicious sekitar tahun 1976, adalah gaya menari yang sederhana namun energik, di mana orang melompat naik turun mengikuti irama musik, keringat bercucuran tanda ungkapan semangat.

Sementara itu, moshing, yang mulai berkembang pada akhir 1970-an dan awal 1980-an di California Selatan, Amerika Serikat. Saat itu, moshing disebut “slam dancing”, adalah bentuk ekspresi yang lebih agresif. Diiringi oleh musik keras dan cepat, penonton saling mendorong dan bertabrakan dalam area yang disebut mosh pit.

Meskipun terlihat kasar, dan tidak jarang memakan korban luka, moshing sebenarnya memiliki aturan tidak tertulis. Jika ada yang jatuh, mereka akan segera dibantu bangkit. Tidak ada amarah, hanya kesenangan, kesenangan, dan kesenangan.

Moshing mencerminkan semangat kebersamaan, energic, dan ungkapan perasaan yang tulus terhadap musik. Namun, aturan ini seolah tidak berlaku ketika fenomena FOMO mengambil alih.

FOMO di Gigs dan Konser

FOMO, atau rasa takut ketinggalan akan hal baru, menjadi salah satu pendorong utama tidak hanya generasi muda untuk hadir di gigs dan konser. Media sosial memperkuat fenomena ini. Unggahan di Instagram, dan cerita di TikTok menjadi alasan banyak anak muda datang ke acara musik, bukan untuk menikmati musik itu sendiri, melainkan demi dokumentasi.

Seolah menciptakan dinamika acara musik. Beberapa penonton tidak lagi datang dengan niat untuk memahami atau meresapi aliran musik tertentu. Mereka hadir dengan pakaian yang menonjol, gaya yang mencolok, dan keinginan untuk terlihat keren. Salah satu hasilnya adalah aksi pogo dan moshing yang dilakukan secara sembarangan, termasuk di lagu yang tidak sesuai.

Moshing di Lagu yang Salah

Bayangkan saja, jujur ini pasti sering terjadi, suasana gigs kecil dengan band yang memainkan lagu balada akustik. Ini kan harusnya menjadi momen untuk menikmati lirik yang menyentuh dan melodi yang menenangkan. Namun, tiba-tiba beberapa penonton mulai pogo atau bahkan mencoba moshing, menciptakan kekacauan di tengah suasana yang seharusnya damai.

Fenomena ini tidak hanya mengganggu pengalaman orang lain, tetapi juga menunjukkan ketidaktahuan akan budaya musik yang sedang dimainkan. Dan berlaku juga di konser yang boleh di kunjungi secara gratis, karena gratis juga, menyebabkan orang-orang dari kalangan mana pun bisa datang. Maka tak heran di konser gratis kalian bisa melihat orang yang mabuk.

Aksi seperti ini sering dianggap sebagai bentuk “pemberontakan gaya baru” oleh sebagian anak muda. Mereka ingin tampil beda, tetapi justru kehilangan esensi musik itu sendiri. Moshing di lagu keras sejatinya ungkapan perasaan, energi, dan kebersamaan. Namun, melakukannya di lagu yang salah justru mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap seni dan budaya musik tersebut, menimbulkan kekacauan dan akhirnya baku pukul. Kami para penikmat musik biasa menyebutnya dengan istilah “Kampungan!!!.”

Skena Musik

Menurut saya, fenomena ini memiliki dampak positif dan negatif. Di satu sisi, meningkatnya antusiasme generasi muda terhadap gigs dan konser membantu mempopulerkan skena musik lokal. Semakin banyak orang yang datang berarti semakin besar peluang bagi musisi untuk mendapatkan dukungan, harusnya begitu kan?

Namun, di sisi lain, aksi-aksi nyeleneh ini dapat merusak suasana dan mengganggu penonton lain yang lebih serius menikmati musik. Argumen saya ini di perkuat oleh pernyataan vokalis dari salah satu band Grindcore legend di Bali, ANTIPOP.

“Sekarang banyak yang sekedar ikut-ikutan (poser) datang ke gigs ngelakuin  two step ala New York malahan jadinya  crowd killin, kalo fenomena yang sekarang saya liat malahan two step bertujuan untuk menyakiti bukan lagi sebuah ekspresi dari emosi yang dicurahkan secara positif, bahkan banyak juga yang ga tau teknik pogo, two step, stage diving itu malahan ujung-ujungnya jadi nyakitin diri sendiri dan berujung perkelahian (agak ndeso klo ini),” kata Agung Yudha (vokalis ANTIPOP).

Band atau musisi pun bisa merasa kurang dihargai ketika penonton tidak memberikan respons yang sesuai dengan suasana musik mereka. Walaupun memang, tak banyak yang tahu dan malah menghakimi bahwa bentuk ekspresi diri lewat moshing dan pogo itu salah dan tak wajar, balik lagi itu adalah bentuk ekspresi kami terhadap musik.

Mengembalikan Esensi Musik

Musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia secara emosional. Konser dan gigs adalah ruang di mana seni bertemu dengan apresiasi, bukan sekadar ajang pamer. Untuk generasi muda, memahami konteks musik yang dimainkan adalah langkah awal untuk menikmati acara dengan lebih mendalam.

Bagi musisi, fenomena ini menjadi tantangan baru, bagaimana menciptakan koneksi dengan penonton yang sebagian besar hanya mengejar FOMO. Dengan memberikan edukasi ringan atau menciptakan ruang khusus bagi penonton yang ingin sekadar berdokumentasi, pengalaman musik bisa tetap terjaga tanpa kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, musik adalah tentang merasakan, bukan sekadar terlihat merasakan. “the right music, the right gigs and the right way, sehingga tidak crowd killing, setiap genre musik memiliki cara untuk dapat dinikmati, jadi jangan sampai salah Alamat” tambah Agung Yudha (vokalis ANTIPOP). Karena sesungguhnya, gigs dan konser adalah tentang kebersamaan, bukan sekadar kehadiran. Jangan sampai esensi musik dilucuti hanya karena sekedar update story. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi
Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Lagu “Guru Oemar Bakrie” Karya Iwan Fals
Catatan Amburadul Usai Menyaksikan VMO (Violent Magic Orchestra) di Bali — Serangkain Indonesia Tour VMO
Tags: FOMOGigsmoshingmusikpogo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kudapan dan Kesungguhan: “Jaja” dan Bagaimana Kita Menjadi “Saja” – Renungan Hari Panyajan

Next Post

Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Dilema Suku Baduy [2]:Krisis Lahan Huma, Hilangnya “Bera” dan Solusinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co