3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Bincang Buku di SMAN 2 Kuta:  Kecintaan  Merawat Literasi

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 14, 2025
in Khas
Dari Bincang Buku di SMAN 2 Kuta:  Kecintaan  Merawat Literasi

Penulis, Nyoman Tingkat, saat membincangkan buku karya siswa SMAN 2 Kuta

SEBELAS Maret 2025, bersamaan dengan 59 tahun fakta sejarah yang sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan seputar Supersemar yang naskah aslinya belum ditemukan, SMA Negeri 2 Kuta menyelenggarakan acara bertajuk, “Bincang Buku Smanduta Menulis Buku”. Acara dibuka Plt. Kepala Sekolah, I Nyoman Tingkat di aula sekolah berlangsung meriah khas gaya Gen Z. Pada sambutan pembukaan ia mengingatkan seluruh peserta yang hadir akan pentingnya buku sebagai lambang kemajuan peradaban sebuah bangsa.

Oleh karena itu, sejumlah negara maju kembali beralih ke buku konvensional, setelah beberapa tahun belajar secara daring dengan flatform digital. Fakta itu menunjukkan adanya kesadaran kembali ke buku konvesional yang mensyaratkan ketangguhan daya juang bagi pembaca buku cetak, ketimbang membaca buku digital yang sering disebut pembaca scrool. Lewat begitu saja di layar HP, malas kembali mengulang bin melelahkan mata.

Sebab itulah, sebagai penyeimbang layak juga sekolah dengan Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mempertimbangkan penerbitan karya siswa dan guru secara kontinu dan konsisten. Bagaimana pun, buku adalah simbol peradaban sekaligus simbol historis sebuah sekolah. Melalui buku, lembaran sejarah  perjalanan sekolah diabadikan.

“Ke laut memasang jaring, dapat ikan beli duku, walau belajar secara daring, jangan lupa baca buku,”  demikian Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan ini  berpantun mengajak hadirin untuk menyeimbangkan antara buku digital dan buku konvensional.

Begitulah, SMA Negeri 2 Kuta memberikan karpet merah bagi siswa menerbitkan buku untuk kedua kalinya. Sebagai bentuk apresiasi, karya mereka diperbincangkan. Acara bincang buku ini dipandu oleh Ayu Sri Utami jurnalis Alis Mata (Anak Jurnalis Smanduta) berlangsung seru berkat kepiawaian  pemandu menggali persoalan dan mengontekstualkan dengan literasi bangsa hari-hari ini.

Tanpa sengaja, setelah Bincang Buku ini, saya menemukan cuplikan podcast penguat dari Gita Wirjawan, mantan Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal dan Menteri Perdagangan  era SBY “Kekuatan komunikasi bangsa ada pada kekuatan storytelling dan intelektual”, kata Gita Wirjawan yang melanglang buana menjadi dosen ke berbagai negara. Melalui kekuatan bercerita, inspirasi muncul menggoda imajinasi.

Dari imajinasi, mimpi diwujudkan jadi kenyataan. “Seorang guru  pencerita lebih berhasil mendekatkan siswa menjadi fisikawan, daripada seorang fisikawan yang tuna cerita walaupun ia ahlinya,” kata Gita Wirjawan mantap yang mengaku lebih banyak membaca nonfiksi tetapi merangsang imajinasi. Batas fiksi dan nonfiksi memang tipis, setipis pemahaman saya di antara keduanya.

Saya yang didaulat sebagai pembincang dalam acara “Bincang Buku, SMANDUTA Menulis Buku” tidak menyangka respon peserta sangat antusias. Keantusiasannya tampak sejak awal acara hingga pertanyaan yang meledak membludak dari berbagai sekolah, tanda haus panggung. Potensi mereka pantas dipanggungkan, sesuai dengan semngat Merdeka Belajar. Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap kesempatan adalah waktu belajar.

Pendeknya, alam semesta beserta isinya adalah guru kita semua. Anies Baswedan bilang, “Semua guru semua murid”. Itulah pula pemantiknya yang saya sampaikan kepada para guru yang mendampingi siswanya dalam acara Bincang Buku di Smanduta. “Jangan malu berguru pada murid”, ajak saya kepada sesama kolega yang datang dari berbagai sekolah di Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan.

Sebelum acara bincang buku dimulai, saya putar lagu Obie Mesakh, “ Kisah Kasih di Sekolah” yang dibawakan Chrisye dengan latar pemainan basket anak SMA yang mampu membawa suasana hati benar-benar SMA. “Kapan lagi SMA,” kata saya memantik ingatan guru dan siswa berbaur akur belajar menyimak dus menyiapkan pertanyaan.

Buku yang dibincang adalah hasil karya siswa SMA Negeri 2 Kuta berjudul, “Dalam Lantunan Gamelan, Aku Ingin  Mencintaimu dengan Perlahan” (Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta). Album ini terdiri atas 21 cerpen ditulis oleh 17 siswa.

Ada dua siswa menyumbang dua cerpen yang menjadi inspirasi judul buku dengan catatan kecil penyunting berjudul, “Album Cerita Kaya Makna”  oleh Raudal Tanjung Banua sekaligus penerbit. Raudal adalah cerpenis, esais, sekaligus penyair dari Padang menetap di Yogyakarta tetapi kepenyairannya dibesarkan di Bali oleh Umbu Landu Paranggi, Presiden Penyair Malioboro.

Dalam Catatan Penyunting, Raudal menyebutkan, album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta kaya makna dari tema berat nan kompleks hingga ringan dan santai. Itu juga menunjukkan bahwa cerpenis muda dalam album ini punya peluang menjadi cerpenis nasional asalkan mereka tangguh menghadapi tantangan ke depan. Kita tahu Gen Z dijuluki generasi strowbery, lembek bin  mudah menyerah cenderung menjadi generasi scrool yang susah kembali berpaling memeriksa detail cerita.

Tanpa bermaksud mengekor, saya juga menilai di antara 21 Cerpen dalam album ini, karya I Made Krisna Ananta Wirya dalam judul, “Jutaan Warna dalam Satu Ruang” layak menjadi Cerpen Pilihan bila mengacu tradisi Kompas. Cerpen Krisna menampilkan keunggulan baik secara tematik maupun dari segi aktualitas dalam konteks Pendidikan yang ramai dengan isu bullying.

Secara tematik, Krisna menggambarkan indahnya perbedaan di sekolah. Membaca cerpen Krisna saya jadi ingat Bung Karno dan Ki Hadjar Dewantara. Bung Karno bilang,  “Taman yang indah adalah taman yang terdiri atas beraneka ragam puspa, demikikian pula dengan Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika”.

Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, jelas menggambarkan sekolah tak ubahnya Taman Indonesia Raya. Di sekolah siswa beraneka ragam karakter berguru tak ubahnya benih tanaman di taman yang semuanya berpeluang menghasilkan bunga yang harum dengan buah ranum untuk kembali dipersembahkan kepada ibu pertiwi yang menanti kehadirannya.

Begitulah, Cerpen Krisna dapat dimaknai. Selain menunjukkan semangat kebangsaan dengan alas perbedaan, ia juga menyisipkan isu perundungan, nilai humanis, semangat berteater, dan cinta dalam cerpennya. Ibarat lukisan, ia berhasil mengisi bidang kanvas dengan penuh tanpa sisa. Krisna memang layak dapat bintang. Siapa tahu ada kritikus yang mengangkatnya, Krisna bisa terbang tanpa sayap. Hebat !

Walaupun dominan cerpen dalam album ini berkisah tentang cinta hingga saya memutar lagu “Kisah Kasih di Sekolah” dari Obie Mesakh mengawali perbincangan. Perbincangan makin seru ketika guru dan siswa adu pertanyaan. Bu Dini, misalnya guru SMAN 1 Kuta adu tangkas dengan siswanya mengajukan pertanyaan. “Bagaimana mengembangkan karakter tokoh protagonis dan antagonis agar kisahnya menjadi seru ? Lalu, seberapa penting unsur instrinsik membangun cerpen?”.

Sebagai orang yang lebih banyak menulis kritik sastra dan resensi, saya menjawab secara normatif untuk pertanyaan kedua. Sebagaimana diketahui umum, unsur pembangun cerita (pendek) adalah unsur intrinsic dan ekstrinsik ibarat jiwa dan raga manusia. Keduanya saling mengada dan saling melengkapi.

Namun, sering orang salah terka, penilaian di permukaan ibarat kemasan yang menarik dari tampilan raga tidak dengan sendirinya mencerminkan isi. Itulah yang dialami tokoh Lia yang diejek dan dibully temannya sebagai orang minoritas di sebuah SMA di Kota Surabaya, yang membuatnya nyaris fobia ke sekolah, bila tidak diselamatkan oleh Pak Ridwan, guru teater bertangan dingin membawa kesejukan.

Untuk pertanyaan kedua, saya minta Krisna sang cerpenis yang berhasil memainkan tokoh Lia sebagai protagonis untuk menjelaskan. Sebagai guru, saya memanggungkan Krisna dihadapan guru yang berguru pada murid. Tampak Krisna tampil dengan tenang percaya diri menjawab. Jawaban Krisna ternyata tidak jauh dari bayangan saya. Cara menampilkan tokoh  dengan seru, yaitu berlatih, berlatih, dan berlatih menulis karakter dengan semangat pantang mudah menyerah. Ibarat nelayan, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Begitulah penulis pada umumnya, memiliki ketangguhan mental bak pahlawan yang rawe-rawe rantas malang-malng putung.

Terhadap jawaban itu, Bu Dini tidak mengkonter kembali. Saya tidak tahu, apakah ibu guru ini puas atau tidak puas terhadap jawaban dua lelaki, tua dan muda sepanggung berkoalisi nenyusun narasi. Sebagai bentuk apresiasi dalam model pembelajaran sastra, kolaborasi seperti ini layak diujicobakan di SMA lebih-lebih bila cerpen yang dibuat siswa dijadikan bahan pembelajaran. Siswa yang cerpennya dibahas merasa dihargai, guru pun tidak merasa dilampau asalkan guru rendah hati mengakui keunggulan karya siswa. Berguru pada siswa.

Sementara itu, seorang siswa dari SMAN 1 Kuta mohon penjelasan bagaimana mendekatkan diri dengan literasi (fiksi, nonfiksi) di tengah dunia informasi yang berlari kencang tak terkejar? Saya pikir diperlukan kesadaran diri dan disiplin positif secara internal dengan dukungan keluarga secara optimal, sehingga fungsi sekolah menguatkan, memupuk, dan memberikan dukungan. Namun, saya sadari tidak mudah bagi guru yang mengampu banyak kelas dengan siswa beragam karakteristiknya. Apalagi, guru yang kemampuannya mengapresiasi dengan bacaan terbatas di tengah banjirnya informasi. Lebih-lebih, guru tamatan Pandemi Covid-19 yang waktu tatap mukanya terbatas dan keburu tamat. Namun, guru Bahasa Indonesia dapat menemukan talenta mereka melalui ektrakurikuler (Jurnalistik, Teater) misalnya. Lagi-lagi, saya temukan tidak banyak yang menekuni apalagi menyuntuki, menggeluti dan menggumuli.

Apa pun itu, sekolah tidak mencetak cerpenis,novelis, esais, penyair. Kompetensi itu lebih banyak diperoleh dalam pergaulan kreatif dengan mereka yang sefrekuensi. Ibarat penabuh gamelan, ia membentuk formasi dengan sendirinya mula-mula di komunitas banjar atau sanggar, ketika ada parade, mereka bergesekan dan bersentuhan antarbanjar atau antarsanggar lintas kabupaten, provinsi, bahkan lintas negara. Persis judul album cerpen yang diperbincangkan, “Dalam Alunan Gamelan, Aku Ingin Mencntaimu dengan Perlahan”.

Acara bincang buku diakhiri dengan memberikan penghargaan kepada para cerpenis muda Smanduta. Dilanjutkan dengan memberikan hadiah buku kepada para penanya dan peserta undangan dari seluruh perwakilan SMA se-Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan. Tidak lupa berfotoria sebagai bukti kegiatan telah terlaksana : Merawat Kecintaan Literasi. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Tentang Cinta dan Lain-lain  pada Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta
Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung
Mengurai Senja dari Timur – Ulasan Buku Puisi karya SMKN 1 Manggis
Tags: buku cerpenLiterasiSMAN 2 Kuta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan dari “Gerak Bersuara”, Sebuah Perayaan Keberlangsungan Berkarya

Next Post

Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co