22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
March 14, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

TAK jelas siapa yang memulai, jika membuka tiktok tentang Bali, algoritma akan mempertemukan kita dengan FYP yang berbunyi ‘bawa lukamu ke Bali’ yang secara langsung mengukuhkan citra pulau berjuluk dewata itu sebagai tujuan Healing.  

Sama seperti Yogyakarta dan Bandung yang kita romantisasi begitu juga Bali bahkan romantisme ini tertuang dalam banyak tulisan oleh penulis-penulis mancanegara, saat menulis artikel saya baru saja menghabiskan buku berjudul “Bali: A Paradise Created” karya Adrian Vickers tentang dialektika antara persepsi masyarakat adat dan imajinasi Barat terhadap pulau merubah citra bali  itu, penulis menjuluki Bali sebagai “The last paradise” tempat bertemunya budaya Asia dan Pasifik yang berbeda dari semua kawasan di region tropis.

Di Bali, pesona alam  memang berpadu dengan ritus yang selalu bergema seperti Dhanvantari, Dewa Ayurveda yang tak hanya membawa amerta (keabadian), tetapi juga penyembuhan.  

Namun pesona ini menyimpan paradoks antara yang sakral dan yang rapuh. Misalnya saja, alam yang menyembuhkan justru rentan terluka oleh tangan manusia yang ia rawat begitupun budaya yang boleh tergerus kesakralannya pada akhirnya Bali sendiri memiliki setumpuk luka yang tak kunjung sembuh bahkan semakin mengangga menunggu ke tahapan kritis, kiranya Dewataku Sayang, Dewataku Malang,

Bagi saya kondisi dan situasi ini memantik  refleksi antropologis tentang otentisitas, agensi budaya, dan resistensi. Sebagai bagian dari manusia Bali, tantangan selanjutnya adalah memahami bagaimana yang ekologis, spiritual, dan kultural itu dapat  bertransformasi tanpa kehilangan makna dan manfaatnya.

Tattwa, Susila, Acara: Negosiasi Nilai dalam Pusaran Pasar

Dalam kosmologi Hindu Bali, Ada tiga pilar penting peradaban—yaitu Tattwa (filsafat), Susila (etika), dan Acara (ritual)—ketiganya bukan sekadar struktur statis, melainkan sistem dinamis yang terus beradaptasi. Namun, pariwisata massal sebagai produk kapitalisme  mempercepat transformasi ketiga pilar  ini dengan logika pasar. Pada akhirnya yang ritus harus tunduk pada kalender pariwisata, sebatas event namun dangkal dengan makna.

Acara, seperti Ngaben atau Bhuta Yadnya, seringkali dipentaskan sebagai “atraksi eksotis tanpa makna transendentalnya. Pura Besakih dan Tanah Lot misalnya, menjadi medan pertarungan simbolis, dimana  kamera turis menggeser fokus sembahyang. Persoalan etika juga mulai tergerus, saat ini Bali selalu dilanda masalah turis yang berkendak sesukahati, hal ini diperparah dengan warga lokal yang seringkali membiarkan atau malah ikut-ikutan, belum lagi persoalan pendatang yang tidak bisa dihadang akibat dari abainya pemerintah meratakan kesempatan kerja dan kesejahteraan di sekitar wilayah Provinsi Bali.  

Bali memasuki fetisisme komoditas

Situasi dan kondisi Bali di tengah gempuran kapitalisme ini pada akhirnya menciptakan realitas sosial baru. dalam perspektif Marx (1867), logika dari  akumulasi kapital yang ekspansif  itu mengubah relasi sosial dan budaya menjadi relasi komoditas. Melalui konsep fetisisme komoditas, dari  Marx  kita dapat melihat dan merasakan bagaimana nilai guna (use-value) dari budaya, tradisi, atau bahkan spiritualitas Bali teralienasi menjadi nilai tukar (exchange-value) yang diperdagangkan.

Apa yang esensial—seperti ritual adat, seni sakral, atau hubungan kolektif masyarakat—kini tereduksi menjadi objek konsumsi atau komoditas ekonomi. Yang ekologis berubah menjadi objek private,  dan ironisnya Tri Hita Karana, filosofi Bali tentang keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritual itu hanya menjadi semboyan tak bermakna, terkadang diseminarkan tanpa diterapkan.

Sawah dan pantai berubah menjadi villa dan beach klub,  pohon berusia ratusan tahun harus terbunuh untuk kepentingan industri hiburan, bahkan lautan dipagari atas nama kepemilikan pribadi seperti yang terjadi di sekitar serangan.  Pantai yang menjadi andalan pariwisata berubah landskap bak tambang seperti pantai sekitar Bali selatan dan Nusa Penida, maka benarlah perkataan Gary Bencheghib dalam dokumenter yang dibuatnya di Rahayu Project jika Bali kehilangan kepingan surganya setiap hari.

Proses  ini tidak hanya mencerminkan dominasi modal atas ruang hidup masyarakat, tetapi juga memperlihatkan kontradiksi dialektis antara nilai-nilai komunal tradisional Bali, pemaknaan akan ekologis, dan  imperatif profit kapitalis yang menghisap tenaga kerja dan sumber daya lokal Pulau Dewata.

Pada akhirnya, Bali menjadi bagian dari rantai produksi yang menghisap nilai lebih (Surplus Value) untuk kepentingan pemilik modal atas nama kesejahteraan bersama yang ironisnya masih berdiri di atas ketimpangan dan kertertindasan.

Nyala perlawanan dari yang paling mungkin

Perlu ditegaskan masyarakat Bali tidak menolak pembangunan selama berpedoman pada skala prioritas dan pada dasarnya masyarakat Bali juga tidak tinggal diam menanggapi situasi dan kondisi yang ada.  Berpasrah pada keadaan yang menindas jelas bukan sifat alamiah manusia; selalu ada nyala perlawanan dalam setiap kondisi yang dirasa sudah amat buruk.

Dalam perspektif dharma (kewajiban suci) dan adharma (penyimpangan dari kebenaran), perlawanan ini tidak hanya sekadar respons sosial, tetapi juga upaya menjaga keseimbangan kosmis antara rita (keteraturan) dan anrita (kekacauan). Setiap tindakan mempertahankan tradisi, lingkungan, hak, atau nilai budaya adalah wujud dharma (kebaikan)—sebagai tanggung jawab moral untuk melindungi keharmonisan alam, manusia, dan spiritualitas. Sebaliknya, praktik eksploitasi, privatisasi, atau dominasi yang merusak tatanan kolektif merupakan bentuk adharma (kezaliman) yang harus dilawan.

Perihal perlawanan, tidak selalu   frontal, tetapi juga tercermin dalam laku sehari-hari. Misalnya, para petani di Bali Utara yang mempertahankan subak—sistem irigasi tradisional berbasis nilai Tri Hita Karana (harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam)—adalah upaya menegakkan dharma dengan menjaga warisan leluhur yang berkelanjutan. Nelayan di Serangan yang melaut melawan batas privatisasi adalah perlawanan terhadap adharma kapitalistik yang mengancam ruang hidup. Begitu pula pemuda-pemudi Bali yang mengangkat isu sosial melalui ogoh-ogoh: mereka mengubah ritual Bhuta Yadnya (upacara penyucian) menjadi medium kritik, menyelaraskan dharma kreatif dengan kesadaran zaman.

Pada akhirnya Bali akan tetap melawan, tetapi dengan caranya sendiri melalui jalan yang selaras dengan nilai-nilai lokal seperti gotong-royong, kreativitas ritual, dan keteguhan hati dan tentu saja agama  sebagaimana penegasan revolusioner dari bhagavid ghita yang berbunyi “Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati Bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmyaham “, yang artinya  “Kapan pun dharma merosot dan adharma bangkit, wahai Bharata, pada saat itulah Aku mewujudkan diri-Ku.”

Seperti api dalam sekam, perlawanan ini mungkin tak selalu bergemuruh, tetapi menyala-nyala dalam kesadaran, empati, dan konsistensi. Dengan demikian, dharma tidak hanya bertahan, tetapi menjadi cahaya penuntun menuju kemajuan Bali  yang  lebih beradab, bukan semata-mata menjadi surga konglomerat seperti yang direncanakan penguasa, konglomerat, atau penguasa yang sekaligus juga konglomerat. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Jaswanto

BALI: Bakal Amblas Lantaran Investor
Bali Menjadi Subjek, Bukan Objek
“Kemacetan” Berpikir Para Pemimpin Bali
Tags: balikapitalismePulau Dewata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Bincang Buku di SMAN 2 Kuta:  Kecintaan  Merawat Literasi

Next Post

“Influencer” dan Promosi Pariwisata

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Influencer” dan Promosi Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co