15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Cinta dan Lain-lain  pada Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 12, 2025
in Ulas Buku
Tentang Cinta dan Lain-lain  pada Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta

SALAH satulegasi Anies Baswedan ketika menjabat Mendikbud yang sampai kini diwariskan adalah Program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Hilir dari program ini berada di sekolah yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Walaupun Anies Baswedan hanya menjabat Mendikbud selama 18 bulan, legasi Anies Baswedan ini tampaknya akan terus berlanjut secara konsisten dan kontinu. Mengapa?

Dunia Pendidikan tidak mungkin terlepas dari literasi yang makin hari makin banjir informasi dan memerlukan orang-orang cerdas untuk memilah dan memilih sehingga tidak terjadi bencana komunikasi.

Bencana komunikasi tidak saja mencerminkan rendahnya kecerdasan linguistik, tetapi juga menggambarkan rendahnya peradaban suatu bangsa.

Dasar Hukum Program Literasi di sekolah adalah Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang memuat kewajiban membaca 15 menit sebelum mulai pembelajaran di sekolah setiap hari efektif belajar.

Program ini sudah berlangsung 9 tahun  sejak 2016 dan melewati 2 Kurikulum (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) dan melewati 3 Menteri (Muhadjir Effendi, Nadiem Makarim, Abul Mut’ti). Walaupun Abdul Mu’ti santer mengevaluasi kebijakan Nadiem Makarim terkait Kurikulum Merdeka, tampaknya tidak mengevaluasi Program GLN dan GLS karena program ini adalah pondasi membangun pendidikan yang memerdekakan dan mencerdaskan.

Bagaimana program ini dirawat di sekolah-sekolah? Sejak 2016, program ini dilaksanakan mengawali pembelajaran tiap hari di sekolah dengan 15 menit membaca buku nonteks (fiksi dan nonfiksi) sesuai dengan bakat dan minat siswa. Untuk mengukur keberhasilan ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Pertama, dengan menceritakan kembali buku yang telah dibaca dihadapan teman-teman sekelas difasilitasi guru di kelas.

Kedua, merayakan literasi setiap akhir bulan dalam apel bendera di lapangan sekolah dengan menampilkan peserta terbaik versi tim literasi dan diberikan penguatan.

Ketiga, mengapresiasi karya siswa dan guru dengan menerbitkan majalah atau buku secara konsisten dan kontinu.

Cara ketiga ini dilakukan oleh SMA Negeri 2 Kuta dengan menerbitkan Antologi Cerpen karya siswa bertajuk, “Dalam Lantunan Gamelan, Aku Ingin Mencintaimu dengan Perlahan”  (Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta).

Sesuai dengan judulnya, dominan cerpen dalam album ini berkisah tentang cinta. Hal ini bisa dimaklumi karena penulisnya remaja dengan pengalaman batin dan kegelisahannya mencari identitas diri.

Hal itu juga sudah dikisahkan oleh Obbie Mesakh dalam lagu, “Kisah Kasih di Sekolah”  “…Tiada masa paling indah/Masa-masa di sekolah/Tiada kisah paling indah/Kisah kasih di sekolah…”

Album ini  berisi 21 cerpen ditulis oleh 19 siswa diterbitkan oleh Frimepublishing Yogyakarta. Catatan penyunting ditulis oleh Raudal Tanjung Banua dalam tajuk “Album Cerita Kaya Warna”.

Ada 2 siswa menyumbang dua cerpen yaitu I Made Krisna Ananta Wirya dan Ni Putu Wina Febriani. Krisna dengan cerpen berjudul, “Jutaan Warna dalam Satu Ruang” dan cerpen “Di Waktu yang Singkat, Aku Ingin Mencitaimu dengan Perlahan”. Febriani dengan cerpen berjudul “Sang Pelukis” dan “Di Kala Cinta, Menggoda”.

Cerpen Krisna berjudul “Jutaan Warna dalam Satu Ruang” mengisahkan tragedi  ayah dan ibu dibalut dalam warna gelap. Kegelapan demi kegelapan menyertai keluarga ini dinarasikan bak lukisan di atas kanvas dengan pilihan warna yang berimbang dan serasi sehingga semua bidang kanvas penuh berisi.

Namun, pada awal kisah, dilukiskan warna hitam selalu mengganggu pikiran tokoh Aku. Hitam sebagai warna berkabung, hitam sebagai gelapnya hubungan pergaulan, hitam sebagai lambang bullying, hitam sebagai lambang kekeruhan suasana hati, hitam sebagai lambang kelamnya SARA yang menimbulkan dengki dan irihati, bahkan pembunuhan. Lebih-lebih yang bernasib baik dan karier melejit berhasil diraih oleh golongan minoritas dapat memicu benih-benih kegelapan. Dalam konteks kekinian tampak aktual dengan narasi “Indonesia Gelap” yang dibangun oleh kaum aktivis.

Namun demikian, tokoh Aku (Lia) yang ditimpa kegelapan bertubi-tubi, ditemukan oleh Pak Ridwan, guru teater yang tampaknya mencari pemain peran yang menggambarkan  Nusantara yang terbangun dari aneka perbedaan. Aku  bangga berguru pada Pak Ridwan dan memainkan peran yang sesuai walaupun sebelumnya aku dibuly teman-teman. Nyaris aku menyerah.

“… Sinar matahari dari jendela menerangi seluruh ruangan. Lukisan bertemakan Nusantara disebarkan di mana-mana. Tak hanya itu,anak-anak yang seumuran denganku memakai pakaian yang berbeda-beda. Pakaian itu dipakai berdasarkan adat suku di Indonesia yang beragam adanya. Mereka juga dikumpulkan sesuai dengan tempat asal nya. Ada dari Aceh, Batak,Minang, Jawa, Sunda, Dayak, Banjar, Bugis, Minahasa, Bali, hingga Papua”.

Di teater, Lia menemukan potensi dirinya dan membuatnya semangat ke sekolah pagi-pagi. Tiba-tiba ia dikejutkan suara seruling yang merdu, ditiup anak yang duduk di kursi roda dengan menggunakan alat bantu dengar di telinganya. Itu makin membesarkan hati Lia, yang sempurna pancaindranya dan berfungsi baik.

Pada kesempatan lain, Lia bertemu dengan seorang anak kecil lagi menggambar Indonesia, kira-kira warna apa yang cocok ya, Kak?

Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Oawalah, gampang, Dik. Gabungin aja semua warna yang adik punya. Indonesia punya banyak warna…”

Begitulah Lia seorang Papua yang digambarkan lian daripada teman-teman sekolahnya dan menimbulkan benih-benih disharmonis di sekolahnya dan selalu mendapat ancamaan.

Syukurlah Pak Ridwan menemukan cara memersatukan perbedaan lewat teater. Lia  bangga dengan perannya. Teman-teman yang selalu mengejeknya, berubah menjadi simpati. Adalah salah, menilai orang dari kulit luarnya, yang ujungnya menimbulkan dskriminasi. Lia mampu melewati fase itu untuk meng-Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Sebagaimana cerpen remaja pada umumnya, cerpen Krisna juga dibumbui cinta walaupun tidak dominan. Namun, secara umum tema cinta dominan dalam album ini, aktualisasi Kurikulum Merdeka juga tampak jelas, terutama terkait dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) yang kabarnya dievaluasi Mendikdasmen, Abdul Mu’ti. 

Selain itu, isu-isu terkini tentang sekolah aman, bullying, pertentangan antara orang tua dan anak, penggunaan media sosial, penguatan budaya lokal, hubungan sekolah dengan pariwisata digarap dengan apik dalam jalinan kisah.

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam album ini menarik dari segi diksi yang melancarkan alur cerita cukup menggugah memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Selain itu, masuknya kosakata Bahasa Bali menunjukkan penulisnya kesulitan memadankan ke dalam Bahasa Indonesia, selain mencerminkan kearifan lokal yang membingkai cerita.

Pengakuan tokoh tua di akhir kisah mengamini bakat dan minat anaknya, menunjukkan kekuatan generasi Z memengaruhi keputusan orang tua. Hal ini juga menunjukkan, generasi Z tidak membabibuta memaksakan kehendaknya, tetapi dibuktikan dengan kerja nyata dan berhasil.

Orang tua ditaklukkan anak dengan bukti prestasi. Orang tua menyesal ketika hendak menghalangi cita-cita anaknya, seperti tergambar dalam Cerpen “Lantunan Gamelan di Tanah Dewata” karya Ni Luh Anandita Nalya Putri dan Cerpen “Aninda dan Ayah” karya Steffany.

Kedua cerpenis muda ini mampu memengaruhi tokoh orang tua yang pada awalnya menentang cita-cita anaknya menjadi penari atau penabuh gamelan, tetapi pada akhir kisah penyesalan sekaligus penyadaran terjadi. Pada ujungnya, orang tua minta maaf kepada tokoh anak.

Kisah itu ditulis oleh Stefany dalam cerpen berjudul  “Aninda dan Ayah”. Karena ingin melaksanakan hoby menari, Anin sampai minggat  selama 5 tahun dari rumah karena ayahnya tidak setuju dengan pilihannya.

Ternyata Ayah trauma dengan Ibu Anin yang juga penari, saking fokusnya, ia lupa dengan penyakitnya. Ibu meninggal ketika Anin berumur 5 tahun.

“…Ibumu terlalu fokus menjadi penari lupa dengan penyakit yang serius diderita hingga saat usiamu 5 tahun, ibumu meninggal. Bapak sangat terpukul Nak, dan tidak ingin kejadian itu terulang pada dirimu”.

Makna penting dari tokoh Anin dalam cerpen Stefany setidaknya ada dua. Pertama, Anin meneruskan cita-cita ibunya yang penari sekaligus melestarikan Tari Jaipongan di desanya, yang kurang diminati anak seusianya. Kedua, Anin berhasil meyakinkan Ayah sehingga ayah pun mendukung pilihan cita-cita Anin.

Secara keseluruhan, Album Cerpen SMA Negeri 2 Kuta ini berhasil mencuri perhatian pembaca karena mampu menerjemahkan isu-isu terkini di dunia Pendidikan dan situasi kebangsaan dan kenegaraan terkini. Jika kemudian para tokoh tua berhasil diubah cara pikirnya karena prestasi yang ditunjukkan sang anak adalah sebuah pelajaran : saatnya berguru kepada sang anak. Jadikan mereka teman.

Kenyataan itu mengingatkan saya pada kisah Gus Dur yang mengaku berubah caranya beragama, setelah membaca cerpen A.A. Navis berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Saya berharap guru/orang tua yang  membaca Album Cerpen siswa SMA Negeri 2 Kuta selain memberikan persfektif baru dalam mendidik generasi Z yang kreatif dan inovatif memainkan diksi, juga dapat memerkuat ketahanan mentalnya sehingga generasi strawberry yang dilekatkan padanya dapat dianulir.

Sebagai karya pemula, cerpen-cerpen dalam album ini juga memiliki kelemahan, antara lain beberapa cerpen, klimaksnya terasa datar, pertentangan antartokoh perlu diperdalam lagi. Secara teknis, penulisan perlu mengikuti kaidah walaupun dimungkinkan untuk melakukan pendobrakan sebagai wujud licencia poetica.

Namun demikian, album cerita ini dapat menjadi album kenangan bagi penulisnya sebagai Jejak Literasi di Smanduta. “Jika kecil rajin membaca, niscaya dewasa dipenuhi Mutiara kata-kata”, kata Joko Pinurbo. Salam Literasi! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung
Mengurai Senja dari Timur – Ulasan Buku Puisi karya SMKN 1 Manggis
Tags: buku cerpenSMAN 2 Kuta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bayu Sena Putrawan dan Anggi Sutami Dewi Jadi Duta GenRe Buleleng 2025

Next Post

Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co