14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Cinta dan Lain-lain  pada Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
March 12, 2025
in Ulas Buku
Tentang Cinta dan Lain-lain  pada Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta

SALAH satulegasi Anies Baswedan ketika menjabat Mendikbud yang sampai kini diwariskan adalah Program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Hilir dari program ini berada di sekolah yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Walaupun Anies Baswedan hanya menjabat Mendikbud selama 18 bulan, legasi Anies Baswedan ini tampaknya akan terus berlanjut secara konsisten dan kontinu. Mengapa?

Dunia Pendidikan tidak mungkin terlepas dari literasi yang makin hari makin banjir informasi dan memerlukan orang-orang cerdas untuk memilah dan memilih sehingga tidak terjadi bencana komunikasi.

Bencana komunikasi tidak saja mencerminkan rendahnya kecerdasan linguistik, tetapi juga menggambarkan rendahnya peradaban suatu bangsa.

Dasar Hukum Program Literasi di sekolah adalah Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang memuat kewajiban membaca 15 menit sebelum mulai pembelajaran di sekolah setiap hari efektif belajar.

Program ini sudah berlangsung 9 tahun  sejak 2016 dan melewati 2 Kurikulum (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) dan melewati 3 Menteri (Muhadjir Effendi, Nadiem Makarim, Abul Mut’ti). Walaupun Abdul Mu’ti santer mengevaluasi kebijakan Nadiem Makarim terkait Kurikulum Merdeka, tampaknya tidak mengevaluasi Program GLN dan GLS karena program ini adalah pondasi membangun pendidikan yang memerdekakan dan mencerdaskan.

Bagaimana program ini dirawat di sekolah-sekolah? Sejak 2016, program ini dilaksanakan mengawali pembelajaran tiap hari di sekolah dengan 15 menit membaca buku nonteks (fiksi dan nonfiksi) sesuai dengan bakat dan minat siswa. Untuk mengukur keberhasilan ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Pertama, dengan menceritakan kembali buku yang telah dibaca dihadapan teman-teman sekelas difasilitasi guru di kelas.

Kedua, merayakan literasi setiap akhir bulan dalam apel bendera di lapangan sekolah dengan menampilkan peserta terbaik versi tim literasi dan diberikan penguatan.

Ketiga, mengapresiasi karya siswa dan guru dengan menerbitkan majalah atau buku secara konsisten dan kontinu.

Cara ketiga ini dilakukan oleh SMA Negeri 2 Kuta dengan menerbitkan Antologi Cerpen karya siswa bertajuk, “Dalam Lantunan Gamelan, Aku Ingin Mencintaimu dengan Perlahan”  (Album Cerpen Siswa SMAN 2 Kuta).

Sesuai dengan judulnya, dominan cerpen dalam album ini berkisah tentang cinta. Hal ini bisa dimaklumi karena penulisnya remaja dengan pengalaman batin dan kegelisahannya mencari identitas diri.

Hal itu juga sudah dikisahkan oleh Obbie Mesakh dalam lagu, “Kisah Kasih di Sekolah”  “…Tiada masa paling indah/Masa-masa di sekolah/Tiada kisah paling indah/Kisah kasih di sekolah…”

Album ini  berisi 21 cerpen ditulis oleh 19 siswa diterbitkan oleh Frimepublishing Yogyakarta. Catatan penyunting ditulis oleh Raudal Tanjung Banua dalam tajuk “Album Cerita Kaya Warna”.

Ada 2 siswa menyumbang dua cerpen yaitu I Made Krisna Ananta Wirya dan Ni Putu Wina Febriani. Krisna dengan cerpen berjudul, “Jutaan Warna dalam Satu Ruang” dan cerpen “Di Waktu yang Singkat, Aku Ingin Mencitaimu dengan Perlahan”. Febriani dengan cerpen berjudul “Sang Pelukis” dan “Di Kala Cinta, Menggoda”.

Cerpen Krisna berjudul “Jutaan Warna dalam Satu Ruang” mengisahkan tragedi  ayah dan ibu dibalut dalam warna gelap. Kegelapan demi kegelapan menyertai keluarga ini dinarasikan bak lukisan di atas kanvas dengan pilihan warna yang berimbang dan serasi sehingga semua bidang kanvas penuh berisi.

Namun, pada awal kisah, dilukiskan warna hitam selalu mengganggu pikiran tokoh Aku. Hitam sebagai warna berkabung, hitam sebagai gelapnya hubungan pergaulan, hitam sebagai lambang bullying, hitam sebagai lambang kekeruhan suasana hati, hitam sebagai lambang kelamnya SARA yang menimbulkan dengki dan irihati, bahkan pembunuhan. Lebih-lebih yang bernasib baik dan karier melejit berhasil diraih oleh golongan minoritas dapat memicu benih-benih kegelapan. Dalam konteks kekinian tampak aktual dengan narasi “Indonesia Gelap” yang dibangun oleh kaum aktivis.

Namun demikian, tokoh Aku (Lia) yang ditimpa kegelapan bertubi-tubi, ditemukan oleh Pak Ridwan, guru teater yang tampaknya mencari pemain peran yang menggambarkan  Nusantara yang terbangun dari aneka perbedaan. Aku  bangga berguru pada Pak Ridwan dan memainkan peran yang sesuai walaupun sebelumnya aku dibuly teman-teman. Nyaris aku menyerah.

“… Sinar matahari dari jendela menerangi seluruh ruangan. Lukisan bertemakan Nusantara disebarkan di mana-mana. Tak hanya itu,anak-anak yang seumuran denganku memakai pakaian yang berbeda-beda. Pakaian itu dipakai berdasarkan adat suku di Indonesia yang beragam adanya. Mereka juga dikumpulkan sesuai dengan tempat asal nya. Ada dari Aceh, Batak,Minang, Jawa, Sunda, Dayak, Banjar, Bugis, Minahasa, Bali, hingga Papua”.

Di teater, Lia menemukan potensi dirinya dan membuatnya semangat ke sekolah pagi-pagi. Tiba-tiba ia dikejutkan suara seruling yang merdu, ditiup anak yang duduk di kursi roda dengan menggunakan alat bantu dengar di telinganya. Itu makin membesarkan hati Lia, yang sempurna pancaindranya dan berfungsi baik.

Pada kesempatan lain, Lia bertemu dengan seorang anak kecil lagi menggambar Indonesia, kira-kira warna apa yang cocok ya, Kak?

Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Oawalah, gampang, Dik. Gabungin aja semua warna yang adik punya. Indonesia punya banyak warna…”

Begitulah Lia seorang Papua yang digambarkan lian daripada teman-teman sekolahnya dan menimbulkan benih-benih disharmonis di sekolahnya dan selalu mendapat ancamaan.

Syukurlah Pak Ridwan menemukan cara memersatukan perbedaan lewat teater. Lia  bangga dengan perannya. Teman-teman yang selalu mengejeknya, berubah menjadi simpati. Adalah salah, menilai orang dari kulit luarnya, yang ujungnya menimbulkan dskriminasi. Lia mampu melewati fase itu untuk meng-Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Sebagaimana cerpen remaja pada umumnya, cerpen Krisna juga dibumbui cinta walaupun tidak dominan. Namun, secara umum tema cinta dominan dalam album ini, aktualisasi Kurikulum Merdeka juga tampak jelas, terutama terkait dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) yang kabarnya dievaluasi Mendikdasmen, Abdul Mu’ti. 

Selain itu, isu-isu terkini tentang sekolah aman, bullying, pertentangan antara orang tua dan anak, penggunaan media sosial, penguatan budaya lokal, hubungan sekolah dengan pariwisata digarap dengan apik dalam jalinan kisah.

Secara keseluruhan cerpen-cerpen dalam album ini menarik dari segi diksi yang melancarkan alur cerita cukup menggugah memenuhi syarat kohesi dan koherensi. Selain itu, masuknya kosakata Bahasa Bali menunjukkan penulisnya kesulitan memadankan ke dalam Bahasa Indonesia, selain mencerminkan kearifan lokal yang membingkai cerita.

Pengakuan tokoh tua di akhir kisah mengamini bakat dan minat anaknya, menunjukkan kekuatan generasi Z memengaruhi keputusan orang tua. Hal ini juga menunjukkan, generasi Z tidak membabibuta memaksakan kehendaknya, tetapi dibuktikan dengan kerja nyata dan berhasil.

Orang tua ditaklukkan anak dengan bukti prestasi. Orang tua menyesal ketika hendak menghalangi cita-cita anaknya, seperti tergambar dalam Cerpen “Lantunan Gamelan di Tanah Dewata” karya Ni Luh Anandita Nalya Putri dan Cerpen “Aninda dan Ayah” karya Steffany.

Kedua cerpenis muda ini mampu memengaruhi tokoh orang tua yang pada awalnya menentang cita-cita anaknya menjadi penari atau penabuh gamelan, tetapi pada akhir kisah penyesalan sekaligus penyadaran terjadi. Pada ujungnya, orang tua minta maaf kepada tokoh anak.

Kisah itu ditulis oleh Stefany dalam cerpen berjudul  “Aninda dan Ayah”. Karena ingin melaksanakan hoby menari, Anin sampai minggat  selama 5 tahun dari rumah karena ayahnya tidak setuju dengan pilihannya.

Ternyata Ayah trauma dengan Ibu Anin yang juga penari, saking fokusnya, ia lupa dengan penyakitnya. Ibu meninggal ketika Anin berumur 5 tahun.

“…Ibumu terlalu fokus menjadi penari lupa dengan penyakit yang serius diderita hingga saat usiamu 5 tahun, ibumu meninggal. Bapak sangat terpukul Nak, dan tidak ingin kejadian itu terulang pada dirimu”.

Makna penting dari tokoh Anin dalam cerpen Stefany setidaknya ada dua. Pertama, Anin meneruskan cita-cita ibunya yang penari sekaligus melestarikan Tari Jaipongan di desanya, yang kurang diminati anak seusianya. Kedua, Anin berhasil meyakinkan Ayah sehingga ayah pun mendukung pilihan cita-cita Anin.

Secara keseluruhan, Album Cerpen SMA Negeri 2 Kuta ini berhasil mencuri perhatian pembaca karena mampu menerjemahkan isu-isu terkini di dunia Pendidikan dan situasi kebangsaan dan kenegaraan terkini. Jika kemudian para tokoh tua berhasil diubah cara pikirnya karena prestasi yang ditunjukkan sang anak adalah sebuah pelajaran : saatnya berguru kepada sang anak. Jadikan mereka teman.

Kenyataan itu mengingatkan saya pada kisah Gus Dur yang mengaku berubah caranya beragama, setelah membaca cerpen A.A. Navis berjudul “Robohnya Surau Kami”.

Saya berharap guru/orang tua yang  membaca Album Cerpen siswa SMA Negeri 2 Kuta selain memberikan persfektif baru dalam mendidik generasi Z yang kreatif dan inovatif memainkan diksi, juga dapat memerkuat ketahanan mentalnya sehingga generasi strawberry yang dilekatkan padanya dapat dianulir.

Sebagai karya pemula, cerpen-cerpen dalam album ini juga memiliki kelemahan, antara lain beberapa cerpen, klimaksnya terasa datar, pertentangan antartokoh perlu diperdalam lagi. Secara teknis, penulisan perlu mengikuti kaidah walaupun dimungkinkan untuk melakukan pendobrakan sebagai wujud licencia poetica.

Namun demikian, album cerita ini dapat menjadi album kenangan bagi penulisnya sebagai Jejak Literasi di Smanduta. “Jika kecil rajin membaca, niscaya dewasa dipenuhi Mutiara kata-kata”, kata Joko Pinurbo. Salam Literasi! [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA:
Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung
Mengurai Senja dari Timur – Ulasan Buku Puisi karya SMKN 1 Manggis
Tags: buku cerpenSMAN 2 Kuta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bayu Sena Putrawan dan Anggi Sutami Dewi Jadi Duta GenRe Buleleng 2025

Next Post

Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails
Next Post
Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

Warna, Imajinasi dan Intuisi, dalam Lukisan Anak-Anak dari Rumah Seni Dewi Sri di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co