14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Janger Kolok Layak Jadi WBTB Indonesia? Inilah Sisi Unik Seni dari Desa Bengkala itu

Jaswanto by Jaswanto
March 5, 2025
in Panggung
Kenapa Janger Kolok Layak Jadi WBTB Indonesia? Inilah Sisi Unik Seni dari Desa Bengkala itu

Janger Kolok dari Desa Bengkala, Buleleng, Bali | Foto: tangkap layar dari youtube Balai Pelestarian Kebudayaan XV

SELAIN tradisi Meamuk-amukan dari Desa Padangbulia, ada satu atraksi seni dari Kabupaten Buleleng yang juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Atransi seni itu adalah Janger Kolok. Sertifikat WBTB itu diserahkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster Kepada Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Nyoman Wisandika, bersamaan penutupan Bulan Bahasa Bali di Taman Budaya Bali, Denpasar, Sabtu 1 Maret 2025.

“Ditetapkannya tradisi dan atraksi seni dari Buleleng itu sebagai WBTB Indonesia bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga amanah bagi seluruh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Nyoman Wisandika.

Janger kolok memang layak ditetapkan jadi WBTB Indonesia. Selain memiliki sisi-sisi unik yang sangat menarik, janger kolok juga memiliki semacam “keajaiban” yang membuat karya seni itu kerap jadi obyek penelitian dari sejumlah pakar di dunia.

Didirikan Tahun 1969

Menurut Ketut Kanta, Ketua Paguyuban Janger Kolok—yang juga dikenal sebagai penyambung lidah masyarakat kolok Desa Bengkala—kesenian janger kolok didirikan oleh (almarhum) Wayan Nedeng (sosok yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa kolok) pada 1969 di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Tak terang betul latar belakang (atau motif) pembentukan sekaa janger yang beranggotakan orang-orang kolok (tuna rungu berbicara) ini, kecuali narasi “pemberdayaan”.

Namun, yang jelas, kelompok kesenian ini menjadi bukti bahwa kesenian begitu dinamis—bisa dinikmati, digarap, dikreasikan oleh siapa pun, termasuk masyarakat kolok Desa Bengkala.

Secara umum, Janger merupakan jenis tarian pergaulan, terutama bagi muda-mudi, yang sangat populer di Bali. Kesenian ini ditarikan oleh, kurang lebih, 10 pasang muda-mudi. Selama tarian berlangsung, kelompok penari wanita (janger) dan kelompok penari pria (kecak) akan menari dan bernyanyi, bersahut-sahutan.

Pada umumnya, lagu-lagu yang digunakan bersifat gembira, ceria, romantis, penuh rayuan. Sedangkan gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari janger disebut batel (tetamburan) yang dilengkapi sepasang gender wayang.

Yang membedakan tari janger dengan janger kolok adalah senimannya. Tari janger biasanya ditarikan oleh orang normal; sedangkan janger kolok ditarikan orang tuna rungu-wicara. Nyanyian dalam janger kolok hanya menggunakan bahasa isyarat—atau suara-suara yang sebisa mungkin dihasilkan dari orang tuli-bisu.

Janger kolok secara logika begitu rumit untuk dipahami. Mereka menerobos batas-batas kenormalan dalam penciptaan seni. Apalagi seni tari, yang notabene menggunakan suara musik sebagai pengalun jiwa tarian. Melalui janger, orang-orang kolok Bengkala bersikeras menuangkan ekspresi kreatif yang khas—dengan emosi yang meledak dan menerobos aturan-aturan lazim.

  • BACA JUGA:
Zaman Berkembang, Sekaa Janger Kolok dari Desa Bengkala Tetap Eksis

Janger kolok dapat memecah kenormalan janger yang selama ini dikenal sebagai seni gerak dan nyanyian. Ia eksis di panggung-panggung festival besar macam Pesta Kesenian Bali (PKB) atau hajatan-hajatan pemerintah lainnya.

Pada awal pembentukan, sebagaimana diungkapkan Ni Nyoman Murni dalam Perkembangan Sekaa Janger Kolok di Desa Bengkala Periode 1998-2011, pakaian dan asksesoris sekaa janger kolok mengalami perkembangan. Tahun 70-80an penari janger kolok memakai kebaya, senteng, dan kamen. Sedangkan yang kecak hanya menggunakan udeng dan kamen. Namun, pada periode selanjutnya sampai sekarang, pakaian mereka terlihat lebih modern dengan menggunakan gelungan, kamen, kepet, selendang, dan lain-lain; sementara pemain kecak memakai udeng, rompi, saput, dan kamen.

Dalam jurnal Kesetaraan Hak Warga Kolok sebagai Wujud Integrasi Sosial Warga Desa Bengkala (2021), Chrisantya Angelita mengungkapkan bahwa proses pembelajaran gerakan tari janger berjalan cukup lama, yaitu 3-5 bulan. Hal tersebut wajar terjadi, sebab warga kolok belum ada yang pernah belajar menari. Pada mulanya, gerakan tari Janger Kolok adalah gerakan tari Janger pada umumnya—yang menampilkan gerakan tari Kecak. Gerakan itu juga dikolaborasikan dengan gerakan pencak silat yang menggunakan senjata tajam.

Dalam perkembangannya terdapat perubahan koreografi pada tari Sekaa Janger Kolok Bengkala sehingga gerakan pencak silat tidak lagi ditampilkan.

Menurut C. Angelita dalam penelitiannya, Eksistensi Sekaa Janger Kolok di Desa Bengkala, Buleleng, Bali (2021), Tari Janger Kolok biasanya dipentaskan pada acara-acara hiburan. Sekaa Janger Kolok pertama kali pentas di acara yang digelar oleh saudara Wayan Nedeng. Acara tersebut digelar di Desa Jagaraga. Saat itu, akses jalan menuju Jagaraga masih sulit, harus menyebrangi sungai dan mendaki tebing. Belum ada transportasi yang bisa mengantar, sehingga perjalanan menuju Jagaraga ditempuh dengan berjalan kaki. Di awal perkembangannya, Sekaa Janger Kolok belum diupah seperti sekarang.

Sebagai ganti upah, seniman kolok hanya diberikan konsumsi. Lama kelamaan kabar keberadaan Sekaa Janger Kolok semakin meluas beredar. Sekaa Janger Kolok sudah pernah tampil di berbagai acara nasional bahkan internasional.

Sampai di sini, sebagaimana telah diungkapkan I N Payuyasa dalam Eksistensi dan Perspektif Nilai Moral Janger Kolok di Desa Bengkala Singaraja (2016), keberadaan Sekaa Janger Kolok memberi warna baru—yang unik—dalam sejarah seni budaya di Bali. Sebelumnya, warga kolok tidak diperhitungkan dalam melestarikan kebudayaan. Salah satu apresiasi untuk Sekaa Janger Kolok yaitu kesempatan untuk pentas dalam acara Pesta Kesenian Bali 2002.

Pemerintah membantu perkembangan Sekaa Janger Kolok sebagai wujud kepedulian terhadap budaya lokal. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari pakaian penari yang lebih modern. Dalam perkembangannya, antusias warga terhadap Sekaa Janger Kolok terus meningkat.

Tari Janger Kolok menunjukkan potensi warga kolok di bidang seni. Potensi ini juga dikembangkan melalui program KEM (Kawasan Ekonomi Masyarakat) Kolok Bengkala, di mana warga kolok diajarkan beberapa variasi tarian baru di samping belajar baca-tulis-hitung. Alhasil, sekarang warga kolok bisa menampilkan Tari Baris Bebek Bingar Bengkala (Baris Bebila), Tari Jalak Anguci, dan Tari Puspa Arum Bengkala.

Berbagai Cerita Rakyat

Kisah ini diceritakan secara turun-temurun. Wajar bila Penyarikan Desa Adat Bengkala Ketut Darpa dapat menceritakannya kembali dengan baik. Kepada Jembrana Express (2024) ia bercerita tentang sekelumit asal-usul nama Bengkala secara etimologis. Menurutnya, nama Bengkala berasal dari dua kata: Bang dan Kala. Bang berarti merah, dan kala itu waktu.

“Sesuai dengan cerita para tetua kami, katanya dulu ada penjarah yang datang dari luar Bali. Mereka bertanya (kepada masyarakat setempat), tetapi tidak dijawab, diduga karena tidak nyambung (mengerti) bahasanya. Mungkin si penjarah itu memiliki janana tinggi, sehingga dikutuklah warga setempat itu. Lalu si penjarah menamakan desa ini Bang Kala—karena datang di saat matahari memerah di ufuk barat. Itu dari sudut mitologi,” tutur Ketut Darpa.

  • BACA JUGA:
Ketika Gadis Kolok Bengkala Menari Puspa Arum Bengkala, Semangat dan Penuh Ekspresi

Ada versi lain yang berkembang. Dulu, ceritanya, masyarakat  Bengkala hidup nomaden, berpindah-pindah, sebelum menetap di Bengkala (nama desa saat ini). Di Bengkala mereka bertetangga dengan Desa Batu Pimula atau yang saat ini dikenal dengan Desa Bila.

“Leluhur kami selalu diajak adu babi. Saat adu babi (dimulai), masyarakat Desa Batu Pimula mengeluarkan bangkal atau induk babi. Namun, leluhur kami bersiasat dengan membawa kucit (anak babi). Ketika diadu, kucit itu langsung mencari bangkal dan hendak menyusu. Sehingga larilah bangkal itu. Jadilah nama Bangkala,” terang Darpa.

Sebagai semacam bukti peristiwa adu babi tersebut, Darpa mengungkapkan bahwa di Desa Bengkala terdapat pelinggih Ratu Bawi di Pura Puseh. Pelinggih inilah yang dihaturkan sesajen saat upacara nedeh. Kemudian, oleh para arkeolog patung ini diteliti dan disimpulkan sebagai Arca Nandi, lingganya Siwa.

“Tetapi bentuk pelinggihnya seperti babi. Nah, kalau orang yang punya ternak babi agar ternaknya sehat, biasanya mereka nunas di pelinggih Ratu Bawi,” ujar pria yang juga sebagai guru di SMPN 1 Kubutambahan ini.

Terkait keberadaan warga kolok di Bengkala, Darpa merujuk pada Prasasti Bengkala yang belum diketahui pasti angka tahunnya. Pastinya, di prasasti itu memuat jika masyarakat Desa Bengkala diperlakukan semena-mena oleh admak  akmitan  apigajih (para  petugas  pemungut  pajak)  setiap  bulan cetra (sasih kesanga) dari pihak kerajaan di Indrapura. Warga Bengkala bahkan diwajibkan membayar 27 jenis pajak.

Atas sikap pemungut pajak yang sewenang-wenang, tak pelak membuat masyarakat Bengkala meradang dan melakukan perlawanan. Salah satunya dengan mengabaikan perintah raja. Mereka tidak hormat, tidak mau bekerja, serta tidak mau bicara.

“Ditanya diam, disuruh bekerja tidak mau, tidak mau dengar perintah Maharaja Jayapangus. Kalau bahasa sekarang, mungkin mogok—mogok bicara, mogok bekerja, dan tidak mau tunduk kepada perintah raja. Tentu saja raja marah, sehingga dikutuk menjadi kolok sampai seribu tahun,” jelas Darpa.

Atas kutukan tersebut, empat perwakilan masyarakat Bengkala dipanggil ke Kerajaan Indrapura untuk menghadap Maharaja. Mereka yang dipanggil adalah Bapane I Marungua,  Bapane I Pait,  Bapane Kerti, Bapane Timur Jati. Mereka dipanggil untuk menyampaikan keluh kesah. Dari sanalah akhirnya empat tokoh tersebut menceritakan kondisi masyarakat Bengkala sembari menyerahkan prasasti. Sehingga Bengkala diakui sebagai desa mandiri.

“Apakah kutukan dari Maharaja itu yang menyebabkan masyarakat kami kolok? Tentu kami tidak berani memastikan. Apalagi dulu, suara raja adalah suara Tuhan,” katanya lagi.

Orang Kolok Bengkala

Dalam Kesetaraan Hak Warga Kolok sebagai Wujud Integrasi Sosial Warga Desa Bengkala (2021), Chrisantya Angelita mencatat terdapat 43 warga tuli bisu (kolok) di Desa Bengkala. Terlepas dari  mitos yang berkembang menjadi cerita rakyat tentang kutukan Sri Maharaja Jayapangus kepada warga Bengkala yang menolak dipungut pajak, menurut A.S Michi (2017), fenomena ini disebabkan oleh perkawinan endogami lokal yang dipraktikkan dari generasi ke generasi pada populasi kecil. Alhasil, warga kolok tersebar di 14 dadia (klan) Desa Bengkala.

Lebih dulu, penelitian medis yang dilakukan John Hinan dari Universitas Archipelago, Amerika Serikat, pada tahun 1993, dari 200 orang Bengkala yang diambil sampel darahnya, berpeluang memiliki keturunan kolok. Sedangkan pada 1998, ada penelitian yang mengatakan bahwa kelainan pendengaran  yang dialami kolok di Desa Bengkala merupakan kelainan yang bersifat genetik—dengan rumus genetik DFNB3 yang memiliki kemiripan struktur dengan sebuah gen di India.

“Jadi itu genetik. Suami-istri normal, anaknya bisa saja kolok. Atau orang suami-istri kolok, anaknya belum tentu kolok. Saat ini warga kolok di Bengkala sebanyak 44 orang. Rinciannya, 24 orang berjenis kelamin perempuan, dan 20 orang berjenis kelamin laki-laki,” ujar Ketut Darpa.

  • BACA JUGA:
Mengenal Bahasa Isyarat “Kata Kolok” dalam Lingkup Kesehatan Individu dan Pengobatan di Desa Bengkala

Meski tak bisa berbicara layaknya manusia pada umumnya, warga kolok Desa Bengkala tetap biasa bergaul, bermasyarakat, bersosial. Sejauh ini, mereka tidak pernah mendapat diskriminasi—walaupun tetap tak terhindarkan dari konflik-konflik kecil. Jika ada konflik antara warga kolok dengan warga lainnya, I Komang Wisnu selaku pembina warga kolok yang akan menjadi penengahnya.

Menurut Komang Wisnu, biasanya konflik yang timbul disebabkan karena miskomunikasi. Di Bengkala, warga kolok mendapat kesempatan yang setara dengan warga pada umumnya.

Di bidang kesenian, misalnya, warga kolok Bengkala berhimpun di Sekaa Janger Kolok Bengkala. Untuk pendidikan, mereka belajar di SDN 2 Bengkala—sekolah inklusi bagi warga kolok—walaupun tak semua dapat mengaksesnya, khususnya orang kolok dewasa.

Di bidang ekonomi, warga kolok mendapat kesempatan kerja yang sama. Warga kolok juga mempunyai hak berpendapat. Mereka kerap dilibatkan dalam pertemuan rapat desa. Mereka juga mempunyai hak pilih dalam pemilu.

Namun, soal pendidikan, pada 2019, dari total kolok di desa tersebut, National Geographic Indonesia mencatat hanya ada 4 orang yang berpendidikan SMP, 5 orang lulus SD, sisanya 39 orang masih buta huruf.

“Sebelum 2007, komunitas tuli-bisu di Bengkala tidak mengenyam pendidikan. Namun, setelah ada inklusi, anak-anak kolok bisa belajar. Mereka ditempa berbagai ilmu matematika, sains, dan juga diajarkan tiga bahasa isyarat yang berbeda: lokal, Bisindo, dan ISL. Mereka diajarkan bersaing,” ujar I Made Arpana, mantan Kepala Desa Bengkala.

Pada pembukaan Asian Para Games 2018 di Jakarta, salah seorang anak kolok Bengkala, bersama 12 orang tuli-bisu lainnya, ikut serta menyanyikan Indonesia Raya dengan bahasa isyarat. Namanya I Ketut Ariana. Ia adalah salah satu anak kolok yang lulus SD Inklusi Bengkala dan memegang ijazah SD.

Ia bercerita, ketika sekolah, ia belajar dan bergaul bersama orang normal tanpa batasan. Ia mengaku senang belajar. Hanya saja, dalam bahasa isyarat ia mengatakan, kalau sekolah lanjutannya jauh di kota. Oleh karena itu, ia putus sekolah.

Keberadaan SD Inklusi di Desa Bengkala ternyata belum cukup mengeluarkan masyarakat kolok dari buta huruf. Banyak orang kolok dewasa yang tidak bisa ikut bersekolah di SD Inklusi karena faktor usia. Banyak juga anak kolok yang sudah lulus SD Inklusi, dan ingin meneruskan sekolah, harus putus harapan karena SMP Inklusi jauh dari desa—sekolah SMP Inklusi hanya ada di kota. Akibatnya, mereka seringkali lebih memilih bekerja selepas lulus SD untuk membantu ekonomi keluarga.

Pada 2013, FlipMas (Forum Layanan Iptek Masyarakat) Indonesia dan FlipMas Ngayah Bali menginisiasi program KEM (Kawasan Ekonomi Masyarakat) Kolok Bengkala—yang kemudian mendapat dukungan PT Pertamina (Persero) DPPU Ngurah Rai pada 2015.

Menurut I Wayan Karyasa, anggota FlipMas Ngayah Bali Divisi Pendidikan, yang juga adalah dosen Universitas Pendidikan Ganesha, ada tiga komponen dalam program edukasi di KEM. Terdiri dari keaksaraan dasar di mana masyarakat kolok belajar calistung (baca-tulis-hitung), keaksaraan fungsional di mana mereka memelajari ilmu alam, ilmu sosial, berhitung, dan lain-lain lewat keterampilan sosial, lalu melanjutkan pendidikan SMP Inklusi. Akhirnya, bentuk pendidikannya adalah SPNF (Satuan Pendidikan Nonformal)—karena usia yang belajar berbeda-beda, tidak bisa dijadikan pendidikan formal.

Keberlangsungan program edukasi KEM Kolok Bengkala ini sehari-hari dapat berjalan berkat bantuan Ketut Kanta selaku guru dan pembina program, serta para tutor dari Universitas Pendidikan Ganesha. Di sela jadwal kuliah yang padat, para tutor ini secara sukarela mengajar masyarakat kolok, baik itu dalam keaksaraan dasar maupun keaksaraan fungsional yang kegiatan belajarnya bertempat di antara KEM atau ruang kelas SDN 2 Bengkala.

Dalam keaksaraan fungsional, ada lima mata pelajaran yang sudah dimulai sejak tujuh tahun yang lalu, yakni belajar mejejahitan (canang, sesajen), memasak, belajar batik lukis, membuat keripik, dan menyulam. Yang belum terlaksana adalah membuat dupa. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta program menjadi objek pendidikan. Selayaknya sembari menyelam minum air, mereka bisa belajar ilmu berhitung atau ilmu alam sekaligus melatih life skill yang bisa digunakan di kehidupan nyata.

  • BACA JUGA:
Buleleng pun Punya Seniman Ogoh-ogoh dengan Karya yang Keren : Juni Pariawan dari Bengkala

Selain itu, mereka juga mendapat pembinaan menenun, membuat kue, dan meramu jamu. Kain tenun yang dihasilkan warga kolok di KEM menjadi kain tenun khas dari Desa Bengkala. Kain tenun tersebut mempunyai motif kuda laut. Sedangkan aneka kue yang terbuat dari singkong, ubi, dan tepung terigu sudah terjual di pasar dan toko sekitar Desa Bengkala—warga kolok menjualnya sendiri. Begitu pula dengan jamu yang berbahan dasar kunyit.

Tak hanya memberikan fasilitas pendidikan bagi warga kolok, KEM Kolok Bengkala juga menyediakan kandang ternak, dan kebun untuk menanam berbagai tanaman pangan. Zero waste integrated farming diterapkan sebagai sistem peternakan, di mana limbah peternakan dikelola sehingga tidak mencemari lingkungan. Jadi, limbah dari sapi, babi, dan ayam diproses agar dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.

Program edukasi Sekolah Inklusi Pra SMP ini memang belum berjalan lama, tetapi Kanta sebagai pendamping masyarakat kolok, merasakan perubahan positif yang terjadi secara bertahap. Masyarakat kolok kini lebih berani berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka pelan-pelan melek aksara.

Berdasarkan wawancara Dian Rahmani Putri dengan Ketut Kanta dalam Tuhan Orang-Orang Kolok Desa Bengkala (2020), dalam hal keagamaan, warga kolok di Desa Bengkala mengikuti peribadatan menurut agama Hindu Bali. Warga kolok juga biasa bersembahyang seperti orang normal. Kanta sering bertanya kepada warga kolok apakah mereka bisa bersembahyang? Jawaban mereka,meskipun mereka tidak bisa mengucapkan mantra, mereka bersembahyang dengan cara mereka sendiri, memohon kepada Tuhan (isyarat: menyembah dan menunjuk ke atas/ ke langit) agar sehat, bisa bekerja dengan baik, memperoleh rejeki dan permohonan lainnya.

Warga kolok juga mengetahui sembahyang purnama, tilem, dan lain-lain, biasanya mereka bersembahyang di Pura Dadia dan Pura Kahyangan Tiga.

Saat kegiatan upacara keagamaan, warga kolok dipercaya untuk melaksanakan tugas kebersihan di lokasi upacara atau di pura. Sebelum upacara dimulai, warga kolok bertugas untuk membersihkan lokasi upacara. Demikian pula setelah upacara keagamaan selesai, warga kolok kembali bertugas untuk membersihkan lokasi tersebut.

Mereka juga ditugaskan untuk membuat rajon, yaitu tempat untuk mencampur dan menyajikan lawar. Pada saat memasak untuk keperluan upacara, apabila aliran air terputus, dua-tiga orang kolok akan ditugaskan untuk mencari dan mengangkut air, sementara para kolok yang lain tetap membantu proses memasak.

Berdasarkan penjelasan ini, dapat ditemukan pula bahwa keaktifan warga kolok di Desa Bengkala juga tidak terlepas dari peran dan kesediaan warga desa yang normal untuk menerima, membantu, bahkan melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan keagamaan—walaupun warga kolok menempati posisi sebagai tenaga pendukung, tidak ada yang berperan sebagai pimpinan dalam upacara keagamaan. [T]

Reporter/Pengumpul Data: Tim Tatkala (Jas, Son, Rus, Ado)
Penulis: Jaswanto
Editior: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Meamuk-amukan” dari Desa Padangbulia Jadi WBTB Indonesia: Apa Menariknya Tradisi Itu?
Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya
Terdapat Sekitar 110 Tradisi dan Upacara Unik di Kabupaten Buleleng
Tags: bulelengDesa Bengkalajanger kolokkesenian baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sekber SPAB Bali “Healing” ke Yogyakarta untuk Menambah “Eling”

Next Post

BATU KOLKATA

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BATU KOLKATA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co