18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Berkembang, Sekaa Janger Kolok dari Desa Bengkala Tetap Eksis

Komang Mery Sundari Widiani by Komang Mery Sundari Widiani
March 30, 2023
in Esai
Zaman Berkembang, Sekaa Janger Kolok dari Desa Bengkala Tetap Eksis

Janger Kolok dari Desa Bengkala | Foto: tangkap layar youtube BPNB Bali

MASYARAKAT LUAS MENGENAL Bali dengan seni budaya yang  mempesona. Sentuhan nilai estetika yang luar biasa mentransmisikan seni budaya Bali itu hingga ke seluruh  dunia.

Ketika kita berbicara tentang  kebudayaan, kita menemukan berbagai produk budaya, mulai dari seni musik, patung, lukisan, dan yang paling fenomenal adalah seni tari.

Tarian merupakan salah satu dari sekian banyak ragam seni budaya yang dinikmati masyarakat Bali dan masyarakat dunia. Seni tari adalah cara orang Bali untuk mengekspresikan kreativitas, ekspresi emosional, dan ide. Seni tari dalam wujudnya didukung oleh harmonisasi gerak dan instrument berupa musik atau gamelan.

Di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, terdapat komunitas warga terlahir tuli dan bisu. Mereka menghasilkan tarian lain yang disebut janger kolok. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi janger bisu.

Desa Bengkala terletak di bagian utara Bali, tepatnya di wilayah Kecamatan Kubutambahan. Sesuatu yang tidak biasa telah terjadi di desa ini. Puluhan warganya menderita tuli bisu sejak lahir atau yang biasa di sebut kolok.

Di Desa Bengkala ini jumlah orang kolok mencapai 43 jiwa yang tersebar di 14 dadia (semacam kelompok keluarga besar). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh warga Desa Bengkala berkerabat dengan warga kolok. Kekeluargaan ini membantu terciptanya interaksi yang harmonis antara warga biasa dengan warga kolok di Desa Bengkala. Warga kolok di Desa Bengkala umumnya tidak mengalami diskriminasi.

Munculnya janger kolok ini berkat tangan terampil salah seorang penduduk asli desa Bengkala. Janger kolok ini didirikan pada tahun 1969. Berdirinya janger kolok ini unik. Tarian janger adalah tarian yang diiringi nyanyian. Namun, dalam tarian janger kolok ini yang dinyanyikan tidak sama dengan nyanyian  janger biasanya, hanya bahasa isyarat yang di gunakan dalam janger ini.

Keterbatasan yang mereka miliki tidak lantas membuat mereka lemah. Mereka mendobrak batas normalitas untuk menciptakan  seni. Apalagi seni tari yang notabennya adalah seni yang menggunakan suara musik untuk membuat penari lebih bersemangat. Janger kolok bersikeras menuangkan ekspresi kreatif mereka dalam kesenian tari.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa pertunjukan tari janger ini memiliki aura keterpaksaan batin. Namun kembali lagi pada hakikat seni itu sendiri, seni tidak  bisa dibendung. Seni adalah emosi yang bisa meledak dan melanggar aturan yang biasa.

Janger kolok memecah keheningan pada situasi tarian janger selama ini yang dikenal dengan perpaduan gerak dan nyanyian. Komunitas janger kolok di Desa Bengkala secara logika tentu sulit untuk dipahami, namun realitas  luar biasa mereka hadirkan bagi para pencinta seni dan seniman itu sendiri.

Janger kolok hadir membawa warna baru dan unik dalam sejarah seni budaya Bali. Secara umum, mungkin para tuli dan bisu ini ingin menunjukkan eksistensinya.

Memikul beban melestarikan warisan budaya sebagai masyarakat yang bijak bukanlah tugas mudah yang membutuhkan cinta, ketulusan dan pengorbanan. Sejak awal berdirinya, janger kolok masih ada dan memberikan hiburan bagi masyarakat.

Meningkatnya eksistensi ini tercermin dari antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan tarian ini. Janger kolok yang dulunya hanya terdapat di wilayah Desa Bengkala, kini menyebar hingga ke daerah lain di Bali.

Perkembangan janger kolok ini mendapat berbagai macam apresiasi, dan apresiasi ini terlihat dari banyaknya tawaran pentas di luar desa Bengkala. Salah satu pentas panggung janger kolok adalah di Art Centre Bali dalam Pesta Kesenian Bali tahun 2002.

Undangan lain yang mereka terima juga datang dari hotel-hotel besar di Bali. Perkembangan dunia seni dan tekhnologi modern yang pesat saat ini tidak menyebabkan mereka tenggelam. Mereka tidak memiliki rasa putus asa untuk bekerja di tengah gempuran zaman sekarang. Janger kolok terus mengalir di kalangan masyarakat modern. Janger kolok terus memberikan hiburan dengan nuansa yang berbeda dan unik.

Budaya tari memperoleh warna dan pengalaman baru dari warga kolok Desa Bengkala. Dengan kreatifitas yang luar biasa mereka menciptakan komunitas tari janger kolok. Keterbatasan mereka bukanlah halangan, tetapi insentif untuk menonjolkan diri dalam pekerjaan mereka. Janger kolok ini membawa citra positif bagi perkembangan seni dan mengajarkan pada dunia bahwa seni adalah milik semua orang.

Keberadaan janger kolok membuktikan bahwa masyarakat selalu menghargai seniman kreatif. Para penikmat seni dan masyarakat memiliki pendapat yang berbeda tentang arti seni dan kehidupan, karena arti seni adalah membersihkan debu jiwa. [T]

Ketika Gadis Kolok Bengkala Menari Puspa Arum Bengkala, Semangat dan Penuh Ekspresi
Awalnya, Lagu Janger Digubah dari Nyanyi Riang Pengalu Garam di Bali Utara
Sisi Nakal Janger Menyali: “Ade Roko?”, “Ade!”, Lalu Penabuh pun Merokok Bersama
Tags: bulelengDesa Bengkaladisabelitasjangerjanger kolok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

3 Berita Baik dari Buleleng Barat, Setelah Ribut-ribut Nyepi di Sumberklampok

Next Post

Teknodigital | Catatan Pengantar Buku Cerpen “Penari” Karya DN Sarjana

Komang Mery Sundari Widiani

Komang Mery Sundari Widiani

Lahir di Desa Bengkala, Buleleng. Kini mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails
Next Post
Teknodigital | Catatan Pengantar Buku Cerpen “Penari” Karya DN Sarjana

Teknodigital | Catatan Pengantar Buku Cerpen “Penari” Karya DN Sarjana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co