23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Nakal Janger Menyali: “Ade Roko?”, “Ade!”, Lalu Penabuh pun Merokok Bersama

Kardian Narayana by Kardian Narayana
February 2, 2018
in Feature

Janger Menyali saat pentas di Pesta Kesenian Bali 2017./ Foto-foto: Kardian Narayana

iya iya roto

iya iya roto

iya iya roto

iya iya roto

iya roto

ara ara ara ijang ijang ijang

ade roko

 

BAIT lagu itu dinyanyikan penabuh saat pementasan Janger Menyali, seni hasil rekontruksi dari Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, di Kalangan Angsoka  Taman Budaya Denpasar, 19 Juni, serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 tahun 2017.

Bait lagu yang terdengar unik itu sudah bisa mengundang penonton PKB untuk mendekati Kalangan Angsoka. Namun yang lebih membuat penonton agak kaget adalah dialog penabuh usai lagu pembuka itu dinyanyikan.

Tukang Kendang tiba-tiba nyeletuk : “Ade roko ne?” (Ada rokok ini?). Lalu penabuh lain menjawab dengan kompak:  “Ade….!” (Ada…!)

Dan sungguh tak diduga para penabuh pun merokok bersama dengan santai. Penonton tercengang melihat penabuh asyik merokok atau meroko atau ngeroko. Ada yang tertawa melihat aksi penabuh yang merokok dengan berbagai tingkah: lucu, serius, sekadar akting, dan ada yang benar-benar menikmati.

Dari kerumun penonton ada juga yang memandang ke panggung dengan pandangan tegang lalu nyeletuk: “Pak, ten dados, ten dados, Pak!”  Artinya: “Pak, tidak boleh, tidak boleh, Pak!”.

Namun penonton itu kemudian senyum-senyum agak manis, setelah melihat tingkah para penabuh yang asyik menghisap rokok dengan gaya yang sesungguhnya memang dibuat sebagai sekadar tontonan. Bukan iklan, bukan anjuran, bukan pula kampanye anti rokok. Adegan merokok ini berlangsung tak lebih dari setengah menit, dan pertunjukan dilanjutkan kembali.

Saya tak tahu apakah kamera TVRI Bali yang sedang melakukan siaran langsung, atau kamera TV lain yang sedang merekam, mengalihkan moncong kameranya ke sudut lain agar adegan merokok itu tak terekam. Bukankah adegan orang merokok dilarang untuk terlihat di layar televisi. Jika melanggar, tentu stasiun televisi bisa mendapatkan surat cinta dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Yang lebih aneh lagi, seluruh areal Taman Budaya tempat berlangsungnya Pesta Kesenian Bali ditetapkan sebagai areal bebas asap rokok. Di sejumlah titik dipasangi stiker besar dengangamabr rokok dicoret dan di bawahnya berisi tulisan Kawasan Bebas Asap Rokok. Artinya, ya, tak boleh merokok di Taman Budaya.

Seorang teman sempat bercerita bahwa merokok di areal Taman Budaya bisa di-juk (ditangkap) petugas Satpol PP lalu dikenai denda Rp 500 ribu karena dianggap melanggar Perda Provini Bali Nomor 10 tahun 2011 tentang kawasan anti rokok.

Saya sungguh-sungguh tak tahu apakah pernah ada pengunjung di Pesta Kesenian Bali yang ditangkap dan didenda Rp 500 ribu. Tapi, bisa dibayangkan apabila itu terjadi pada penabuh Janger Menyali yang sedang merokok. Mereka bisa dianggap melanggar Perda, lalu dipanggil beramai-ramai dan masing-masing dikenai denda Rp 500 ribu, maka total sebanyak 15 penabuh itu bisa mengeluarkan uang Rp 7,5 juta. Bukan hanya itu, pentas Janger Menyali bisa batal dan suasana di Pesta Kesenian Bali pun bisa gaduh dan jadi berita nasional. Judulnya beritanya bisa heboh: “Karena Merokok saat Pentas, Penabuh Janger Menyali Ramai-ramai Didenda”.

Syukurlah, adegan penabuh merokok itu tetap diangap sebagai bagian dari pementasan kesenian sehingga adegan merokok dianggap sebagai adegan pura-pura (meski ada juga yang menikmatinya). Namun begitu, jika adegan itu dilihat oleh aktivis anti rokok, mungkin akan ada semacam usulan ke dinas kebudayaan agar adegan merokok itu dihilangkan karena dianggap sebagai bentuk anjuran merokok dan itu berbahaya bagi anak bangsa.

Kostum mirip tentara Belanda dalam pentas Janger Menyali

Bukan berarti para penabuh Janger Menyali tak mengerti soal bahaya merokok dan Perda Anti Rokok. Mereka tahu soal itu. Tapi adegan itu tetap dilakukan karena Janger Menyali adalah hasil dari rekontruksi sehingga mereka ingin menunjukkan bahwa Janger Menyali sejak dulu kala memang unik, nakal, inovatif dan kreatif. Selain bisa dilihat dari kostumnya yang menggunakan pakaian gaya Belanda, ya kenakalan kreatif bisa dilihat dari aksi merokok itu.

Sebelum pentas pun Ketut Rediasa yang menjadi penata tabuh Janger Menyali sempat ditanyai oleh salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bali. “Pak, adi misi roko di selagan gongne?” (Pak, kok ada rokok di sela-sela perangkat gong?”

Ketut Rediasa yang akbrab dipanggil Pak Dede menjawab santai: “Nggih, Pak, tiang nak niki dapet, untuk rekontruksi Janger Menyali!” (Ya, Pak. Saya ini yang dapatkan saat rekonstruksi Janger Menyali).

Dulu, ketika Janger Menyali berkembang sekitar tahun 1920-an tentu saja belum ada Perda Anti Rokok. Dan dari gending “Ya Ya Roto” ini, digambarkan bagaimana keliaran dan kenakalan kreatif para pencipta terdahulu yang menjadikan kebiasaan keseharian mereka digarap dengan indah ke dalam bentuk pementasan. Adegan itu, dulu, tentu dianggap biasa, dan menjadi salah satu daya tarik untuk membuka pementasan.

Tapi kini, ketika rokok dianggap “barang negatif” dan perilaku merokok dianggap “perilaku negatif”, tentu saja adegan itu menjadi tak biasa, bahkan dianggap luar biasa, bahkan dianggap sangat berani. Padahal, merokok saat pementasan yang ditampilkan dalam Janger Menyali merupakan salah satu bagian dari keunikan, keliaran dan kenakalan kreatif para pencipta seni terdahulu di Desa Menyali. Selain adegan merokok, pada penari Janger Menyali  sejak awal abad ke-20 sudah menggunakan Bahasa Indonesia dalam syair lagu-lagunya, serta mengadopsi gaya pakaian tentara Belanda.

Pertanyaannya sekarang apakah sebuah kesenian yang direkonstruksi dibiarkan berkembang kembali sebagaimana aslinya demi jargon pelestarian, atau dikreasikan lagi atas nama etika dan peraturan sesuai zaman kini?  (T)

 

Tags: antirokokbalibulelengjangerPesta Kesenian Balirokok
Share307TweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Kebajikan Politik pada Politisinya – Bedah Buku tentang Kiprah Politik Surya Paloh

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tri Sadaka & Siwa Wesnawa dalam Lontar Resi Wesnawa

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tri Sadaka & Siwa Wesnawa dalam Lontar Resi Wesnawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co