22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Kebajikan Politik pada Politisinya – Bedah Buku tentang Kiprah Politik Surya Paloh

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Ulasan

ISTILAH Politik Kebajikan, mungkin terdengar ‘antik’ dalam realitas politik yang sedang mengalami senjakalanya. Suatu keadaan yang ditandai setidaknya oleh tiga hal, yakni mandulnya dunia politik dari gagasan transformasi kemasyarakatan, merosotnya kepercayaan publik pada politik sebagai alat perjuangan kemakmuran, dan kosongnya tahta politik dari figur pemimpin yang kuat menegakkan moral. Untuk alasan-alasan semacam ini, politik kebajikan tampaknya hanya eksis dalam dongeng-dongeng belaka.

Namun, kita tak perlu berpatah arang, karena politik– seperti yang dikatakan Vaclav Havel – juga mengandung sisi ketakterdugaan. Ia merupakan seni untuk mengubah situasi yang tak mungkin menjadi mungkin.

Soalnya adalah bagaimana memelihara optimisme untuk mewujudkan ketidakmungkinan itu. Dan kerja semacam itu memerlukan kelas pejuang yang konsisten. Yang di dalamnya terdapat figur-figur politik yang mempunyai keberanian untuk keluar dari arus budaya politik yang konsumeris, dan pragmatis-oportunis. Apakah Surya Paloh dan partainya, termasuk dalam model figur-figur konsisten itu? Mari kita simak uraian buku Moralitas Republikan yang ditulis Willy Aditya, eksponen aktivis 98 yang kini menjadi seorang cendikiawan terpenting dalam jajaran partai Nasdem yang dipimpin Surya Paloh. Latar belakang penulis ini sengaja kita singgung, untuk lebih meyakinkan kita bahwa si penulis memang cukup independen dan adil dalam memberi penilaian pada subjek yang dibahasnya.

Buku ini dimulai dengan pernyataan-pernyataan optimis dari figur Surya Paloh berkaitan dengan masa depan politik baik di Indonesia. Misalnya rasa optimisnya pada masa depan RI di bawah Jokowi-JK, keyakinannya akan terwujudnya restorasi Indonesia, politik bersih melalui perubahan pada partai politik, dan pernyataan lainnya. Apabila diringkas, sikap optimisnya itu tersimpul dalam tema-tema res-publika (kerakyatan), restorasi dan kedaulatan nasional. Tiga tajuk kebangsaan yang tampaknya berada pada posisi “powerless” dalam arus politik kontemporer kita.

Menurut Yudi Latif dalam kata pengantarnya pada buku ini, sang jendral partai Nasdem itu termasuk tipe figur pemimpin yang mengedepankan kepentingan publik sebagai orientasi pergerakan politiknya. Lebih jauh, Yudi menilai langkah-langkah politik Surya Paloh sejauh ini dapat menjadi “modal moral” bukan hanya bagi partai yang dipimpinnya, tetapi juga proses perbaikan citra partai politik di Indonesia. Hal itu katanya, terlihat manakala Surya Paloh menolak tawaran PDIP untuk menjadi Cawapres pasangan Jokowi pada pilpres 2014. Sementara pada saat yang bersamaan ia berkomitmen mendukung Jokowi.  Suatu sikap profetik, yang di mata Yudi Latif, mengandung konsekwensi jangka panjang bagi proses tegaknya nilai dalam dunia politik.

Buku Moralitas Republikan memang membahas secara mendalam pandangan dan putusan-putusan politik Surya Paloh bersama partainya, sehubungan dengan dukungannya yang “tanpa syarat” pada pemerintahan Jokowi-Jusuf Kala. Cukup menarik, karena di buku ini dijelaskan bahwa dukungan itu dilandasi oleh adanya kesamaan visi antara Surya Paloh dan partainya dengan jargon revolusi mental yang diusung Jokowi. Artinya, dukungan kepada Jokowi tidak dimaksudkan untuk memperoleh kue kekuasaan. Sebaliknya, dilihat sebagai bagian dari proses restorasi politik, yang menjadi jargon dari partai Nasdem pimpinan Surya Paloh selama ini. Testimoni yang diberikan oleh Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kala pada sampul belakang buku ini, kiranya memperkuat klaim itu.

Ditulis dengan gaya bertutur yang lancar, buku ini juga menghidangkan behind the scene dari sejumlah peristiwa politik yang menjadi perhatian publik pada Pilpress 2014 lalu. Namun, seperti yang dikatakan Willy Aditya, sudut pandang yang dipergunakan untuk membaca peristiwa-peristiwa tersebut adalah sudut pandang kebajikan, yang oleh penulisnya disebut dengan istilah virtue.

Ia menjelaskan, istilah itu berasal dari filsuf Machiavelli yang mengartikan kebajikan bersumber dari subyek pemimpin. Virtue seorang pemimpin, kata penulis buku ini, ditandai oleh keterampilan dalam memilih cara-cara yang efektif, kekuatan dan semangat, serta usaha keras untuk mencapai tujuan (hal 7). Dengan konsep virtue dari Machiavelli itu, penulis buku ini berpendapat, politik dikembalikan pada situasi moralnya yang unik, yang dalam tindakannya tidak memiliki sisi benar dan salah (hal 8), tetapi termanifestasi sebagai kebajikan tertinggi warga. Karena politik itu katanya, adalah kebajikan itu sendiri dengan konstitusi sebagai rambu-rambunya. Konsekwensinya, sebuah kebijakan politik yang menyimpang dari rambu-rambu itu, pada dasarnya menyimpang pula dari makna politik yang dasar itu.

Tentu saja, setiap kita bisa jadi berbeda pandangan sehubungan dengan ketepatan memaknai konsep virtue dari Machiavelli di atas. Termasuk berbeda pendapat mengenai ketepatan serta urgensi menggunakan konsep tersebut dalam membaca politik Indonesia mutakhir. Namun tema kepemimpinan dan kebajikan, saya kira memang dua tema yang cukup mendesak untuk diberikan perhatian oleh masyarakat Indonesia saat ini. Mengingat, krisis negara kita saat ini, seperti kata banyak ahli, antara lain bersumber dari kosongnya tahta politik dari nilai kepemimpinan yang kuat, dan hampanya proses politik dari nilai-nilai kebajikan.

Situasi ini pada gilirannya membuat kepercayaan rakyat kepada politik makin menipis. Bahkan pada titik yang ekstrim, masyarakat mungkin saja sedang berada pada era yang disebut Geoff Mulgan sebagai era anti politik. Yang antara lain ditandai dengan menghilangnya gagasan untuk melakukan transformasi sosial pada partai-partai politik. Sementara pada saat yang bersamaan, peran institusi non politik seperti bidang bisnis dan budaya justru semakin besar dalam proses transformasi sosial itu.

Perpustakaan milik Willy Aditya, penulis buku Moralitas Republikan

Kapal Alternatif Bagi Jokowi

Di Indonesia, kecurigaan pada menguatnya peran pelaku bisnis (pemodal) dalam proses transformasi masyarakat (termasuk politik) berkembang menjadi wacana tentang oligarki politik dan kartelisasi. Tak luput, Presiden Jokowi pun ‘diserang’ dengan isu ini melalui sejumlah paparan akademisi di forum-forum diskusi. Salah satu yang ramai adalah ‘peringatan’ profesor politik asal AS, Jeffrey Winters pada potensi oligarki di Indonesia. Dalam beberapa kuliah umumnya di Jakarta, ia mewanti-wanti bahwa oligarki di Indonesia, merupakan contoh oligarki yang tidak produktif.

Berbeda dengan di China dan Amerika yang oligarkinya mendorong negara-negara itu menjadi terdepan dalam ekonomi dunia dan industrialisasi, di Indonesia menurutnya hal itu belum kelihatan. Terbukti dari meningkatnya kesenjangan dan indikator-indikator lain yang menempatkan Indonesia selalu berada pada posisi bawah pada level internasional. Ia juga menjelaskan, bahwa demokrasi prosedural yang telah dicapai Indonesia, sama sekali tidak banyak dampaknya bagi kebangkitan ekonomi dan industrialisasi bagi negara ini. Istilah-istilah seperti “koalisi” yang muncul dalam porses demokrasi menurutnya adalah penghalusan dari kerja oligarki.

Sejauh ini, belum ada kajian yang ilmiah yang membantah pendapat profesor Winters di atas. Sehingga pendapatnya itu seakan menjadi satu-satunya pegangan dalam percakapan mengenai topik oligarki Indonesia. Padahal, Jeffrey Winters sendiri mengatakan bahwa karakter oligarki di setiap negara mempunyai perbedaan. Kita tidak cukup punya gambaran misalnya, bagaimana orang-orang kuat itu berperan dalam proses politik. Apakah positif apakah negatif?

Pada titik ini, buku Moralitas Republikan saya kira dapat menjadi permulaan alternatif bagi studi tentang peran orang-orang kuat itu.  Walaupun tidak berbicara mengenai topik oligarki, bagaimanapun sosok yang menjadi subjek bahasan buku ini dikenal sebagai sosok orang kuat. Ia seorang bos media, jauh sebelum membentuk partai politik. Kenyataan, bahwa ia ternyata menggunakan kekuatannya untuk berkontribusi secara positif kepada republik (seperti yang digambarkan dalam buku ini) kiranya membuat definisi tentang orang kuat yang  selama ini negatif, perlu dikaji ulang kembali.  Bagaimana jika ada lebih banyak orang seperti Surya Paloh yang berkontribusi dalam cara yang sama kepada republik seperti yang diuraikan buku ini? Tentu pandangan profesor Winters perlu dikaji ulang lagi. (T)

 

Jakarta, Juli 2017

Tags: BukuNasdemPartai PolitikPolitikresensiSurya Paloh
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Ke Twin Lake Buyan-Tamblingan, Selfie adalah Sebuah Cita-cita

Next Post

Sisi Nakal Janger Menyali: “Ade Roko?”, “Ade!”, Lalu Penabuh pun Merokok Bersama

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Sisi Nakal Janger Menyali: “Ade Roko?”, “Ade!”, Lalu Penabuh pun Merokok Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co