2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Memanfaatkan Pengalaman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 1, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Poets treat their experiences shamelessly: they exploit them” ― Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil

“Para penyair memperlakukan pengalaman mereka tanpa rasa malu: mereka memanfaatkannya.”. Kutipan dari filsuf Friedrich Nietzsche di atas saya dapatkan secara tidak sengaja, dalam artian bukan membaca dari ‘Beyond Good and Evil, buku dimana kalimat tersebut dituliskan.

Sengaja saya cantumkan dalam tulisan kali ini, karena mendapat tanggapan atas nukilan cerita pendek berjudul ‘Rumah Neraka’ yang saya tulis dan unggah di akun Facebook saya, pada Kamis, 27 Februari 2025.

Kalimat Nietzsche tersebut saya yakin bukan hanya tentang penyair, melainkan semua penulis, baik itu esais, cerpenis, maupun novelis.

Pengalaman menjadi bekal bagi kami untuk dijadikan karya. Baik itu pengalaman masa kecil, remaja maupun pengalaman saat usia dewasa dan juga tua. Seperti Pramoedya Ananta Toer katakan dalam sebuah wawancara sebuah media cetak, pikiran bawah sadar ibarat sebuah perpustakaan besar, tempat banyak pengalaman hidup tersimpan rapi dalam memori otak.

Para penyair (baca: penulis) kemudian memanfaatkannya. Saya sengaja tidak menggunakan kata ‘mengeksploitasi’ seperti pada kata asli Nietszche dalam bahasa Inggris. Kita gunakan saja kata ‘memanfaatkan’, agar tidak bias. Sebab sekarang kata ‘eksploitasi’ lebih bermakna negatif.

Ribuan bahkan jutaan karya sastra di dunia, banyak yang memuat pengalaman hidup penulis, baik pengalaman baik maupun buruk. Dengan menuliskannya, penulis merasa menjadi lebih baik, dilihat dari kondisi batin atau psikologis. Ada perasaan lega ketika isi pikiran dan perasaan dituangkan dalam tulisan yang menjadi buah karya dari penulis dan juga para sastrawan.

Penulis berharap apa yang mereka tulis tentang pengalaman hidup mereka bisa dijadikan cerminan, panduan atau bahkan inspirasi bagi khayalak umum, para pembaca buku-buku atau tulisan lepas mereka. Menulis juga bisa dibilang sebagai terapi psikologis bagi para penulis.

Pada diri saya; sejak beberapa bulan ini pengalaman masa kecil sering muncul dalam pikiran saya. Itu terjadi secara otomatis, di luar kehendak saya. Apakah ini sebuah trauma psikologis? Bisa jadi. Ibarat gelas kopi, ampas kopi di dasar gelas bisa naik ke atas jika terdapat guncangan.

Trigger, dalam istilah psikologi, yakni stimulus atau pemicu yang menyebabkan respons emosional atau perilaku tertentu. Trigger dapat berupa suara, bau, gambar, atau situasi yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis.

Sudut pandang pun perlu diubah; daripada mengira saya sedang tegang atau bahkan relapse/kambuh dari skizofrenia, lebih baik berpikir atau berkata, “Oh, Angga sudah mulai menulis cerpen, itu sangat bagus”, atau “Kisah hidup ditulisnya dengan sangat indah”, atau juga “Angga selain dikenal sebagai penyair, dia punya bakat sebagai cerpenis dan novelis.”.

Sekali lagi, pengalaman hidup yang ditulis oleh para penulis adalah sesuatu yang sangat biasa dan alamiah. Di tengah krisis budaya membaca buku; apa yang kami sampaikan mungkin bisa saja orang-orang awam sebut dengan “lebay”, “belum selesai dengan masa lalu” atau bahkan “sampah emosi kok ditulis?”. Polemik wajar adanya, tentu baiknya setelah membaca karya, bukan hanya bersifat pendapat atau pandangan tendensius, apalagi, menghakimi secara sepihak.

Cerpen dan Novel

Sejak lama saya telah menulis puisi dan esai. Ada baiknya kini saya mulai menulis cerita pendek (cerpen), bahkan juga novel. Meskipun belum pernah mengikuti kelas pelatihan menulis dua genre karya sastra tersebut, saya merasa telah memiliki bekal yang cukup untuk memulainya. Kembali lagi pada apa yang dikatakan Nietszche, bahwa pengalaman hidup oleh penyair (baca: penulis) banyak dimanfaatkan, untuk dijadikan karya, saya merasa apa yang telah saya lewati pada usia 41 tahun ini menarik untuk ditulis menjadi cerpen atau novel pada kemudian hari.

Semoga saya bisa mulai menuliskannya, sama halnya pada “calon” cerpen saya yang berjudul “Rumah Neraka”, yang saya tulis secara spontan, tentang perjalanan hidup saya terutama saat duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pengalaman sebagai anak adopsi, dengan tugas harian yang membuat saya jarang bergaul, bermain dengan anak-anak seusia saya. Hal itu menimbulkan karakter soliter, penyendiri, dan suka akan kesunyian. Tentu ada dampak baik dan juga buruk.

Memulai genre baru tulisan, tentu saya membutuhkan waktu dan suasana kreatif yang mendukung. Dini hari dan subuh adalah waktu yang bagi saya sangat baik untuk menulis. Bolehlah jika pagi atau siang hari menulis coretan atau sketsa cerpen, disimpan dalam fitur catatan di ponsel pintar atau komputer. Lalu diendapkan, untuk kemudian dibaca dan disunting kembali saat dini hari atau subuh; sewaktu pikiran masih segar seusai istirahat di malam hari.

Pada cerpen atau novel, tentu saya membei ruang yang lebih luas menuangkan ide jika dibandingkan dengan puisi. Tergantung sekarang cara menyampaikannya. Pemilihan kata, plot, konflik, dan bagaimana “mengakhiri” tulisan menjadi sangat penting. Jujur saja, saya tidak banyak tahu dan menguasai teori-teori kepenulisan sastra. Saya belajar secara otodidak, dengan cara banyak membaca karya-karya, baik itu puisi, cerpen, atau novel dari banyak penulis Indonesia atau terjemahan karya penulis asing dalam bahasa Indonesia. Dari sana, saya mendapat gambaran bahwa ada karya yang sangat bagus, bagus, cukup baik, dan tentunya ada juga karya yang kurang baik—gagal dalam membangun cerita, hambar, atau ide cerita terlalu umum.

Karya yang baik, bagi saya, adalah karya yang tidak berpretensi tinggi atau muluk-muluk. Penulis memposisikan diri sebagai pencerita, menyampaikan gagasan dan ide dengan apa adanya. Tidak juga menggurui, sebab kini banyak sastrawan yang seolah-olah bertindak sebagai ahli agama, sehingga karya mereka berupa cerpen atau novel tidak ubahnya sebagai kumpulan khotbah yang menurut saya bukan merupakan kapasitas mereka. Sebab sastrawan, sekali lagi, bukan pendeta atau orang suci yang memang tugasnya memberikan bimbingan pada umat beragama. Semoga saya bisa meluangkan waktu untuk menulis cerpen dan bahkan novel. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Kita Semua Berdagang
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Tags: Penyair
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Aqil Baligh

Next Post

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co