24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyair Memanfaatkan Pengalaman

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 1, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

“Poets treat their experiences shamelessly: they exploit them” ― Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil

“Para penyair memperlakukan pengalaman mereka tanpa rasa malu: mereka memanfaatkannya.”. Kutipan dari filsuf Friedrich Nietzsche di atas saya dapatkan secara tidak sengaja, dalam artian bukan membaca dari ‘Beyond Good and Evil, buku dimana kalimat tersebut dituliskan.

Sengaja saya cantumkan dalam tulisan kali ini, karena mendapat tanggapan atas nukilan cerita pendek berjudul ‘Rumah Neraka’ yang saya tulis dan unggah di akun Facebook saya, pada Kamis, 27 Februari 2025.

Kalimat Nietzsche tersebut saya yakin bukan hanya tentang penyair, melainkan semua penulis, baik itu esais, cerpenis, maupun novelis.

Pengalaman menjadi bekal bagi kami untuk dijadikan karya. Baik itu pengalaman masa kecil, remaja maupun pengalaman saat usia dewasa dan juga tua. Seperti Pramoedya Ananta Toer katakan dalam sebuah wawancara sebuah media cetak, pikiran bawah sadar ibarat sebuah perpustakaan besar, tempat banyak pengalaman hidup tersimpan rapi dalam memori otak.

Para penyair (baca: penulis) kemudian memanfaatkannya. Saya sengaja tidak menggunakan kata ‘mengeksploitasi’ seperti pada kata asli Nietszche dalam bahasa Inggris. Kita gunakan saja kata ‘memanfaatkan’, agar tidak bias. Sebab sekarang kata ‘eksploitasi’ lebih bermakna negatif.

Ribuan bahkan jutaan karya sastra di dunia, banyak yang memuat pengalaman hidup penulis, baik pengalaman baik maupun buruk. Dengan menuliskannya, penulis merasa menjadi lebih baik, dilihat dari kondisi batin atau psikologis. Ada perasaan lega ketika isi pikiran dan perasaan dituangkan dalam tulisan yang menjadi buah karya dari penulis dan juga para sastrawan.

Penulis berharap apa yang mereka tulis tentang pengalaman hidup mereka bisa dijadikan cerminan, panduan atau bahkan inspirasi bagi khayalak umum, para pembaca buku-buku atau tulisan lepas mereka. Menulis juga bisa dibilang sebagai terapi psikologis bagi para penulis.

Pada diri saya; sejak beberapa bulan ini pengalaman masa kecil sering muncul dalam pikiran saya. Itu terjadi secara otomatis, di luar kehendak saya. Apakah ini sebuah trauma psikologis? Bisa jadi. Ibarat gelas kopi, ampas kopi di dasar gelas bisa naik ke atas jika terdapat guncangan.

Trigger, dalam istilah psikologi, yakni stimulus atau pemicu yang menyebabkan respons emosional atau perilaku tertentu. Trigger dapat berupa suara, bau, gambar, atau situasi yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis.

Sudut pandang pun perlu diubah; daripada mengira saya sedang tegang atau bahkan relapse/kambuh dari skizofrenia, lebih baik berpikir atau berkata, “Oh, Angga sudah mulai menulis cerpen, itu sangat bagus”, atau “Kisah hidup ditulisnya dengan sangat indah”, atau juga “Angga selain dikenal sebagai penyair, dia punya bakat sebagai cerpenis dan novelis.”.

Sekali lagi, pengalaman hidup yang ditulis oleh para penulis adalah sesuatu yang sangat biasa dan alamiah. Di tengah krisis budaya membaca buku; apa yang kami sampaikan mungkin bisa saja orang-orang awam sebut dengan “lebay”, “belum selesai dengan masa lalu” atau bahkan “sampah emosi kok ditulis?”. Polemik wajar adanya, tentu baiknya setelah membaca karya, bukan hanya bersifat pendapat atau pandangan tendensius, apalagi, menghakimi secara sepihak.

Cerpen dan Novel

Sejak lama saya telah menulis puisi dan esai. Ada baiknya kini saya mulai menulis cerita pendek (cerpen), bahkan juga novel. Meskipun belum pernah mengikuti kelas pelatihan menulis dua genre karya sastra tersebut, saya merasa telah memiliki bekal yang cukup untuk memulainya. Kembali lagi pada apa yang dikatakan Nietszche, bahwa pengalaman hidup oleh penyair (baca: penulis) banyak dimanfaatkan, untuk dijadikan karya, saya merasa apa yang telah saya lewati pada usia 41 tahun ini menarik untuk ditulis menjadi cerpen atau novel pada kemudian hari.

Semoga saya bisa mulai menuliskannya, sama halnya pada “calon” cerpen saya yang berjudul “Rumah Neraka”, yang saya tulis secara spontan, tentang perjalanan hidup saya terutama saat duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pengalaman sebagai anak adopsi, dengan tugas harian yang membuat saya jarang bergaul, bermain dengan anak-anak seusia saya. Hal itu menimbulkan karakter soliter, penyendiri, dan suka akan kesunyian. Tentu ada dampak baik dan juga buruk.

Memulai genre baru tulisan, tentu saya membutuhkan waktu dan suasana kreatif yang mendukung. Dini hari dan subuh adalah waktu yang bagi saya sangat baik untuk menulis. Bolehlah jika pagi atau siang hari menulis coretan atau sketsa cerpen, disimpan dalam fitur catatan di ponsel pintar atau komputer. Lalu diendapkan, untuk kemudian dibaca dan disunting kembali saat dini hari atau subuh; sewaktu pikiran masih segar seusai istirahat di malam hari.

Pada cerpen atau novel, tentu saya membei ruang yang lebih luas menuangkan ide jika dibandingkan dengan puisi. Tergantung sekarang cara menyampaikannya. Pemilihan kata, plot, konflik, dan bagaimana “mengakhiri” tulisan menjadi sangat penting. Jujur saja, saya tidak banyak tahu dan menguasai teori-teori kepenulisan sastra. Saya belajar secara otodidak, dengan cara banyak membaca karya-karya, baik itu puisi, cerpen, atau novel dari banyak penulis Indonesia atau terjemahan karya penulis asing dalam bahasa Indonesia. Dari sana, saya mendapat gambaran bahwa ada karya yang sangat bagus, bagus, cukup baik, dan tentunya ada juga karya yang kurang baik—gagal dalam membangun cerita, hambar, atau ide cerita terlalu umum.

Karya yang baik, bagi saya, adalah karya yang tidak berpretensi tinggi atau muluk-muluk. Penulis memposisikan diri sebagai pencerita, menyampaikan gagasan dan ide dengan apa adanya. Tidak juga menggurui, sebab kini banyak sastrawan yang seolah-olah bertindak sebagai ahli agama, sehingga karya mereka berupa cerpen atau novel tidak ubahnya sebagai kumpulan khotbah yang menurut saya bukan merupakan kapasitas mereka. Sebab sastrawan, sekali lagi, bukan pendeta atau orang suci yang memang tugasnya memberikan bimbingan pada umat beragama. Semoga saya bisa meluangkan waktu untuk menulis cerpen dan bahkan novel. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Kita Semua Berdagang
Ibu Menemaniku Saat Skizofrenia Mendera
Pekerja Anak Dalam Kenangan
“Galbay” di Negeri “Wakanda”: Sebuah Renungan
Setelah Suami Berpulang
Enam Bulan Kerinduan
Tags: Penyair
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Winar Ramelan | Aqil Baligh

Next Post

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Determinisme Ekonomi dalam Estetika Wajah: Telaah Struktural atas Awet Muda dan Penuaan Dini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co