15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teguh Fatchur Rozi dan Belajar Sejarah di Luar Sekolah

Jaswanto by Jaswanto
February 18, 2025
in Persona
Teguh Fatchur Rozi dan Belajar Sejarah di Luar Sekolah

Teguh Fatchur Rozi | Foto: Dok. Teguh

PADA 2014 sampai 2018, ia bertungkus-lumus di kelas Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Di bawah bimbingan dosen dan para pakar, pemuda yang lahir di Tuban, 16 November 1995 itu, mempelajari sejarah dan peradaban Islam dari berbagai aspek, seperti sosial, budaya, politik, ekonomi, dan seni. Jurusan ini juga mengajarkan bagaimana agama Islam berubah dari waktu ke waktu.

Seperti tak puas memamahbiak pengetahuan di jenjang S1, ia “hijrah” ke Tulungagung, Jawa Timur, 155 km dari Surabaya, dan 164 km dari tanah kelahirannya, Tuban—tak jauh-jauh amat. Di kabupaten tempat legenda Joko Baru dikisahkan itu, ia melanjutkan pendidikan. Pada 2019 sampai 2021, gelar Magister Pendidikan Agama Islam UIN (Universitas Islam Negeri) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berhasil dibubuhkan di belakang namanya. Jadilah ia sebagai intelektual muda Muslim yang bergairah dalam ilmu sejarah.

Namanya Teguh Fatchur Rozi, akrab dipanggil Teguh. Ia lahir dan besar di Dusun Palang Utara, Desa Palang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, di kawasan pesisir utara yang kaya. Dalam khazanah Islam di Nusantara, Palang menyimpan sejarah yang tak terlupakan. Di bumi ini terdapat makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi, ayah Sunan Ampel yang suci, kakek dari Sunan Bonang dan Drajat yang masyhur. Syekh Asmoroqondi lahir di Samarkand (Uzbekistan), Asia Tengah, pada paruh kedua abad ke-14.

Teguh Fatchur Rozi | Foto: Dok. Teguh

Hidup di lingkungan yang menyimpan sejarah Islam, menjadikan Teguh secara perlahan tertarik mendalami ilmu sejarah. Begitulah, seperti teori empirisme John Locke, perkembangan seseorang dipengaruhi oleh pengalaman yang diperolehnya sejak lahir hingga dewasa. Di masa-masa pertumbuhan otak manusia, seorang anak akan menyerap informasi sebanyak-banyaknya—yang akan mengendap sebagai dasar pikirannya.

“Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan situs-situs sejarah oleh orang tua saya, walaupun baru sebatas di makam-makam wali [orang-orang suci yang dekat dengan Tuhan]. Tapi hal itu menjadi landasan kenapa di kemudian hari saya bisa menyukai sejarah, apalagi saya kuliah di Program Studi Sejarah dan aktif di organisasi-komunitas sejarah sejak mahasiswa,” terang Teguh kepada tatkala.co, Selasa (18/2/2025) pagi.

Sejarah bagi Teguh bukan sekadar ilmu yang mempelajari masa lalu, lebih dari itu, seperti orang rang bijak bilang, sejarah menyisakan banyak hal, pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebajikan—yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan. Jangan menengok pada yang buram karena hidup di kala mendatang memerlukan obor terang.

Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna, kita ditantang merawatnya agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang serat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. Babad-babad klasik mengajarkan pada kita melalui sabda pandita serta fatwa resi-resi nan bijaksana. Tambo—karya sastra sejarah yang merekam kisah-kisah legenda-legenda yang berkaitan dengan asal usul suku bangsa, negeri dan tradisi dan alam—mengisahkan buramnya masa silam agar kita tak kembali terperosok dalam hitam yang serupa.

Demikianlah hieroglif—sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet—ditata pada dinding-dinding gua di Mesir. Begitu pula maksud aksara Jawa kuno yang tertoreh di lontar-lontar yang berusia lanjut.

“Kalau keahlian khusus mungkin sama dengan teman-teman yang lain, tapi untuk hari-hari ini saya sedang menyukai hal-hal yang berbau aksara dan benda purbakala,” ujar Teguh.

Tuban Bercerita: Sejarah di Luar Sekolah

Pada 2023, saat Teguh memutuskan pulang ke Tuban, ia merasa gelisah. Apa yang harus ia buat? Saat itu, terlintaslah untuk membuat akun media sosial yang bersifat edukatif yang berfokus pada narasi sejarah dan kebudayaan di Tuban, Jawa Timur—semacam media tindak lanjut dari apa yang tercantum dalam Undang-Undang (UU) Pemajuan Kebudayaan No. 5 tahun 2017.

“UU Pemajuan Kebudayaan telah menyebut bahwa ada sepuluh objek pemajuan kebudayaan, antara lain: tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus,” Teguh menegaskan garis batas gerakannya. Atas dasar itulah, akun “Tuban Bercerita” lahir, tepat pada 12 Februari 2023. Akun dengan tagline “ghibah tentang sejarah & budaya di Tuban” itu, kini, di Instagram, sudah menarik 3.836 pengikut.

“Sebenarnya menjadi admin di akun-akun edukasi sejarah seperti ini sudah pernah saya lakukan sejak masih kuliah,” Teguh menambahkan.

Potret kaum buruh saat menyambut Presiden Soekarno di Alun-Alun Tuban pada tahun 1952 | Foto: Akun “Tuban Bercerita”

Awalnya Tuban Bercerita hanya sekadar mengunggah narasai seputar sejarah Tuban saja, tapi belakangan Teguh membuka kelas “Sinau Aksara Jawa Kuno (Kawi)” secara online via grup WhatsApp dengan peserta terbatas, hanya dari wilayah Karesidenan Bojonegoro saja (Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan). Dalam pelaksanaannya, ia dibantu oleh teman-temannya yang mendalami bidang tersebut.

Menurut Teguh, Tuban Bercerita berkomitmen membawa sejarah kepada publik—khususnya generasi muda—melalui konten yang lebih segar, cair, dan dinamis-populer (poster, infografis, audiovisual). Tidak seperti dulu, sejarah kerap kali disampaikan secara kaku, formal, akademis, ilmah, sehingga sulit dimengerti dan cenderung membosankan. “Kami menyederhanakan bahasa dari para peneliti yang bahasanya sangat akademisi banget ke dalam bahasa populer.” Teguh berkata.

Konten-konten Tuban Bercerita berasal dari manapun yang bisa dijadikan rujukan. Bisa dari jurnal, buku, tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi), dan tak jarang hasil perbimbangan. Dan jika pembahasannya tentang masa Kolonial Belanda, website-website Belanda yang terbuka untuk umum, seperti KITLV, Tropenmuseum, Delpher.nl, dan lain-lain, sungguh sangat membantu.

Tuban Bercerita tak hanya menyampaikan sejarah umum yang diajarkan di sekolah-sekolah, tapi sejarah yang tak banyak diketahui orang-orang—sejarah di luar sekolah. Pada pertengahan 2024 lalu Tuban Bercerita mengunggah sebuah potret siswa-siswi Eurospeesche Lagere School (ELS) Tuban. Bisa dipastikan itu merupakan anak-anak bangsawan Tuban pada masa itu. Sayang, Teguh belum bisa melacak nama-nama dalam foto hitam putih tersebut.

Lain waktu foto kaum buruh menyambut kedatangan Presiden Soekarno di Alun-Alun Tuban pada 1952 diunggah dengan narasi singkat, padat, dan jelas. Yang menarik, dari foto tersebut kita dapat melihat sepanduk yang bertuliskan: KAUM BURUH MENUNTUT SEMUA PERUSAHAAN ASING DINASIONALISASIKAN.

Teguh Fatchur Rozi | Foto: Dok. Teguh

Baru-baru ini Tuban Bercerita memosting tokoh pers nasional dari Tuban yang kiprahnya disingkirkan: Djawoto. Djawoto lahir di Tuban, 10 Agustus 1906. Ia merupakan jurnalis terpandang pada masanya—bahkan ia pernah menjadi sekretaris Sarekat Islam Indonesia pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto cabang Makassar. Tak lama kemudian, Djawoto pindah ke Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Soekarno. Dan setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Partai Sosialis pimpinan Amir Sjarifudin dan Sjahrir, di sana ia didapuk menjadi Kepala Departemen Pendidikan. Djawoto juga sempat memusatkan pikiran dan tenaganya untuk Berita Antara.

“Sejauh ini saya sendiri yang menjalankan akun Tuban Bercerita—walaupun di beberapa hal sempat minta tolong ke teman-teman,” aku Teguh.

Dengan membuat akun Tuban Bercerita, Teguh mengaku mau tidak mau harus terus belajar sejarah dan kebudayaan lebih luas—yang awalnya hanya sekadar tematik sekarang harus multidisiplin ilmu. Selain itu, melalui Tuban Bercerita ia bisa kenal dengan orang-orang baru, baik pelaku budaya maupun masyarakat umum.

“Saya pernah dihubungi salah satu followers untuk pendampingan manuskrip miliknya, dan ada beberapa mahasiswa sejarah yang mengajak diskusi dan menanyakan sumber untuk tugas akhirnya—dan itu sangat menyenangkan,” ujar Teguh.

Di Tuban, secara personal ia pernah berkolaborasi dengan pemerintah, namun untuk Tuban Bercerita sendiri belum. Meski begitu, menurut Teguh, secara regulasi bidang sejarah dan kebudayaan, Kabupaten Tuban sudah cukup baik jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Tuban sudah punya Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dan punya Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya.

Masjid Agung Tuban pada masa kolonial Belanda | Foto: KITLV

Sampai di sini, Tuban Bercerita baru menjalin kolaborasi dengan salah satu perguruan tinggi di Tuban, organisasi mahasiswa sejarah dari beberapa kota, dan berelasi dengan komunitas-komunitas yang dikenal Teguh secara pribadi.

Pada akhirnya, Tuban Bercerita telah melakukan pendokumentasian sejarah Tuban dan mendistribusikannya kepada khalayak dengan bahasa yang mudah dipahami, kekinian—dengan kemampuan yang prima, antusiasme yang sulit dihentikan, dan tingkat keterlibatan emosi yang kuat. Hasilnya, sebuah sajian dokumentasi yang informatif, inspiratif, dan edukatif.

Semua ini dilakukan Teguh bukan sekadar sebuah upaya prestisius, namun juga sebuah usaha untuk “mengabadikan” Tuban, jejak, dan citra korporasi, untuk membuat Tuban yang lebih baik kelak. Intinya, mengajak setiap orang untuk menemukan kembali Tuban yang sesungguhnya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Menyigi Masa Depan Petani Jagung di Tuban, Jawa Timur
Air Terjun Putri Nglirip: Surga di Tuban yang Sayang untuk Dilewatkan
Tags: Kabupaten TubanPendidikansejarahTubanTuban Bercerita
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pujawali Pura Gunung Payung: Ketika “Sekaa Unen Masolah”

Next Post

Awalnya Coba-Coba, Eh, Ternyata Juara  |  Cerita Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Awalnya Coba-Coba, Eh, Ternyata Juara  |  Cerita Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Awalnya Coba-Coba, Eh, Ternyata Juara  |  Cerita Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co