3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Son Lomri by Son Lomri
December 28, 2024
in Persona
Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

HARI kedua Selonding Bali Aga Fest 2024, Rabu, 25 Desember, tersuguh pementasan yang sangat menarik hati para penonton. Sesi ini disebut Neo Selonding. Isinya pementasan musik selonding dengan garapan kreatif dari tiga komposer yang sudah punya nama di Bali.  

Sore menjelang malam, masyarakat sudah berkumpul di depan Pura Bukit Gumang, Sanghyang Ambu, Desa Adat Bugbug-Karangasem,  tempat acara itu digelar. Penonton bersiap menunggu, hingga para seniman tampil di atas panggung.

Di awal acara ada pemandangan yang bagus. Di atas panggung ada satu nilai lebih yang eksotis—Tarian Kalanguaning Deha garapan Ni Made Tuindah Rai Masyoni, dan musiknya digarap komposer Pande Made Widnyana dari Komunitas Selonding Bali Aga. Tarian itu menyambut para pengunjung yang datang.

Tari Kalanguaning Deha pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Asap mengepul di atas panggung. Empat penari membelah asap itu, lalu berbaris menarikan selendangnya. Diiringi oleh gamelan selonding tentunya, Tarian Kalanguaning Deha sebagai tari penyambutan telah menggambarkan keanggunan, kelembutan dan keelokan perempuan dan suasana desa sejuk pepohonan.

Tarian itu dituangkan dalam gerak tari yang harmonis dan dinamis di tengah lantunan bunyi selonding yang kalem. Para pengunjung tampak santai di posisinya masing-masing sambil menonton. Ada yang berdiri. Ada yang duduk.

Di Karangasem, ada banyak tarian rejang adat yang unik di setiap desanya. Tari Kalanguaning Deha ini tentu saja terinspirasi dari gerakan tari rejang yang sudah ada. Warna kuning emas yang dominan pada kostum empat penari itu, melambangkan keceriaan dan penghormatan mereka sebagai penari.

“Tarian ini terinspirasi dari gerak tari rejang yang ada di Karangasem,” kata Ni Made Tuindah Rai Masyoni, koreografer Tari Kalanguaning Deha itu. Tuindah berasal dari Sanggar Seni Surya Candra.

Usai Tari Kalanguaning Deha, penonton jeda sebentar, lalu terkesima ketika terdengar repertoar selonding dari komposer perempuan, Ni Nyoman Srayamurtikanti. Repertoar yang bertajuk “Tegteg” itu membuat semua penonton cukup betah bertahan hingga malam. Seorang penonton remaja putri, Purnawaningsih, bahkan berdiri dengan beberapa temannya sampai penampilan Srayamurtikanti selesai.

Dalam rangakaian acara “Neo Selonding” malam itu, ada tiga penampilan dari komposer muda. Mereka adalah I Kadek Janurangga yang membawa repertoar “Yehniti”, kemudian “Kembang Tanding” oleh Andika Pastika Putra dan “Tegteg” oleh Ni Nyoman Srayamurtikarti.

Menariknya, “Tegteg” dimainkan oleh beberapa penabuh perempuan, yakni Ni Nyoman Srayamurtikarti itu sendiri, dan Ni Putu Shinta. Kemudian Ni Made Ayu Anggita, Kadek Candy Cintya Dewi, Gusti Ayu Mingguwati, Ni Kadek Galuh Dwikayanti dan Ni Kadek Popi Wilantari. Mereka dari Sanggar S’mara Murti.

Siapa itu Srayamurtikarti?

Sraya—atau Ni Nyoman Srayamurtikarti, adalah seorang musisi dan komposer dari Celuk, Sukawati, Gianyar. Ia termasuk komposer perempuan yang menjadi kebanggan Bali. Praktik musikal yang dilakukan mengarah pada eksperimental, teatrikal, dan respon ruang, yang berpijak pada latar belakang musik gamelan Bali.

Sraya merupakan ketua dan direktur artistic Sanggar S’mara Murti yang didirikan oleh ayahnya, I Nyoman Suryadi, sejak tahun 1996.

Sebagai komposer, Sraya mendapat kesempatan menampilkan karya komposisi dan presentasi karya seni dalam ranah internasional di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Kanada, Thailand, dan lainnya.

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Karya terbarunya adalah “Silversmith” yang dipentaskan oleh Third Coast Percussion—yang terinspirasi dari bunyi lingkungan yang ada di Desa Celuk. Sraya juga baru saja menyelesaikan residensi sebagai Guest Music Director di Gamelan Sekar Jaya Barkeley, California, dan sebagai Guest Music Teacher di University of California, Barkeley, California (2022-2024). ‘

Sraya sejak kecil memang berkutat dengan gamelan yang personelnya bisa mencapai 30 orang. Tetapi kecintaannya berlabuh pada gamelan selonding beberapa tahun ke belakang. Baginya, alat musik selonding atau gamelan tua ini, sebuah alternatif untuk mengembangkan imajinasi karena tidak membutuhkan banyak personel.

“Apa yang ada di dalam gamelan selonding itu membuat saya tertarik. Kompleks. Walaupun sedikit instrumennya, tetapi banyak hal yang bisa diimajinasikan dan dipelajari,” kata Saraya.

Selain itu, Sraya juga menjadikan gamelan selonding sebagai alat perjuangannya dalam mengeksplor perkembangan diri secara kreatif dalam bentuk eksperimental bunyi—yang lebih kontemporer. Tentu saja, bagi Sraya, berkarya adalah bentuk lain dari spiritual itu sendiri sebagaimana selonding itu tercipta pada zamannya.

Dan pada malam di Desa Bugbug itu, ia mecoba mempresentasikan “Tegteg” sebagai hasil percobaan bunyi yang ditangkapnya dari ruang sekitar. Yang kemudian digabungkannya dengan beberapa elemen musik pada karya-karya Sraya sebelumnya.

Tabuhan “Tegteg” terinspirasi dari proses latihan Sraya bersama teman-temannya di sanggar. Ada banyak repertoar-reperoar gending selonding yang Sraya pelajari itu, ada beberapa yang mirip-mirip menurutnya secara bunyi.

Ketika proses latihan, kata Sraya, ia dan beberapa temannya terkadang kebingungan. “Misalnya gending A ke gending B, itu ada beberapa kemiripan, jadi kami secara tidak sadar, kaya ‘Oh bisa ke gending B’, akhirnya kami harus terus melanjutkan kalau semisalkan sedang pentas. Harus terus jalan, tidak boleh putus di tengah jalan. Ya, harus tegteg (tidak goyah),” kata Sraya tentang kenapa reportoar itu dinamai Tegteg.  

Barangkali para pemukul selonding harus tetap tegteg, harus tetap bertahan pada bunyi. Kemana pun arus bunyi membawa mereka.

Srayamurtikanti | Foto: tatkala.co/Rusdy

Meski bunyi itu tak sepenuhnya bisa dipahami, namun bunyi selonding yang terdengar dlung-ding dlung-ding itu, yang direpertoarkan oleh Sraya, seperti jadi peneman dalam sebuah acara meditasi—atau terapi, bagi para pengunjung.

Di dekat tenda setting alat sound panitia, Purwaningsih—remaja putri yang setia menonton itu, berdiri sambil mendekap tangannya di dada. Ia barangkali merasakan sesuatu, barangkali perasaan takjub atas bunyi-bunyi yang dihasilkan dalam permainan “Tegteg” itu, juga dalam beberapa repertoar lainnya sebelum itu.

“Kaya tenang gitu rasanya, Bli,” kata Purwaningsih. “Saya juga pemain selonding, Bli, di desa. Tapi gak sebisa yang dimainkan oleh kakak-kakaknya tadi. Apalagi mereka perempuan semua, kan, jadi saya merasa (terinspirasi) gimana gitu..,” katanya.

“Gimana itu?” tanya saya.

“Yaa..gitulah hehe…”

Semoga suatu saat, jadi komposer hebat yaa… Kak Purwa. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding
Tags: Desa Bugbuggamelan selondingkarangasemkarawitankarawitan baliSelonding Bali Aga Fest
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika

Next Post

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co