24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Son Lomri by Son Lomri
December 28, 2024
in Persona
Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

HARI kedua Selonding Bali Aga Fest 2024, Rabu, 25 Desember, tersuguh pementasan yang sangat menarik hati para penonton. Sesi ini disebut Neo Selonding. Isinya pementasan musik selonding dengan garapan kreatif dari tiga komposer yang sudah punya nama di Bali.  

Sore menjelang malam, masyarakat sudah berkumpul di depan Pura Bukit Gumang, Sanghyang Ambu, Desa Adat Bugbug-Karangasem,  tempat acara itu digelar. Penonton bersiap menunggu, hingga para seniman tampil di atas panggung.

Di awal acara ada pemandangan yang bagus. Di atas panggung ada satu nilai lebih yang eksotis—Tarian Kalanguaning Deha garapan Ni Made Tuindah Rai Masyoni, dan musiknya digarap komposer Pande Made Widnyana dari Komunitas Selonding Bali Aga. Tarian itu menyambut para pengunjung yang datang.

Tari Kalanguaning Deha pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Asap mengepul di atas panggung. Empat penari membelah asap itu, lalu berbaris menarikan selendangnya. Diiringi oleh gamelan selonding tentunya, Tarian Kalanguaning Deha sebagai tari penyambutan telah menggambarkan keanggunan, kelembutan dan keelokan perempuan dan suasana desa sejuk pepohonan.

Tarian itu dituangkan dalam gerak tari yang harmonis dan dinamis di tengah lantunan bunyi selonding yang kalem. Para pengunjung tampak santai di posisinya masing-masing sambil menonton. Ada yang berdiri. Ada yang duduk.

Di Karangasem, ada banyak tarian rejang adat yang unik di setiap desanya. Tari Kalanguaning Deha ini tentu saja terinspirasi dari gerakan tari rejang yang sudah ada. Warna kuning emas yang dominan pada kostum empat penari itu, melambangkan keceriaan dan penghormatan mereka sebagai penari.

“Tarian ini terinspirasi dari gerak tari rejang yang ada di Karangasem,” kata Ni Made Tuindah Rai Masyoni, koreografer Tari Kalanguaning Deha itu. Tuindah berasal dari Sanggar Seni Surya Candra.

Usai Tari Kalanguaning Deha, penonton jeda sebentar, lalu terkesima ketika terdengar repertoar selonding dari komposer perempuan, Ni Nyoman Srayamurtikanti. Repertoar yang bertajuk “Tegteg” itu membuat semua penonton cukup betah bertahan hingga malam. Seorang penonton remaja putri, Purnawaningsih, bahkan berdiri dengan beberapa temannya sampai penampilan Srayamurtikanti selesai.

Dalam rangakaian acara “Neo Selonding” malam itu, ada tiga penampilan dari komposer muda. Mereka adalah I Kadek Janurangga yang membawa repertoar “Yehniti”, kemudian “Kembang Tanding” oleh Andika Pastika Putra dan “Tegteg” oleh Ni Nyoman Srayamurtikarti.

Menariknya, “Tegteg” dimainkan oleh beberapa penabuh perempuan, yakni Ni Nyoman Srayamurtikarti itu sendiri, dan Ni Putu Shinta. Kemudian Ni Made Ayu Anggita, Kadek Candy Cintya Dewi, Gusti Ayu Mingguwati, Ni Kadek Galuh Dwikayanti dan Ni Kadek Popi Wilantari. Mereka dari Sanggar S’mara Murti.

Siapa itu Srayamurtikarti?

Sraya—atau Ni Nyoman Srayamurtikarti, adalah seorang musisi dan komposer dari Celuk, Sukawati, Gianyar. Ia termasuk komposer perempuan yang menjadi kebanggan Bali. Praktik musikal yang dilakukan mengarah pada eksperimental, teatrikal, dan respon ruang, yang berpijak pada latar belakang musik gamelan Bali.

Sraya merupakan ketua dan direktur artistic Sanggar S’mara Murti yang didirikan oleh ayahnya, I Nyoman Suryadi, sejak tahun 1996.

Sebagai komposer, Sraya mendapat kesempatan menampilkan karya komposisi dan presentasi karya seni dalam ranah internasional di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Kanada, Thailand, dan lainnya.

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Karya terbarunya adalah “Silversmith” yang dipentaskan oleh Third Coast Percussion—yang terinspirasi dari bunyi lingkungan yang ada di Desa Celuk. Sraya juga baru saja menyelesaikan residensi sebagai Guest Music Director di Gamelan Sekar Jaya Barkeley, California, dan sebagai Guest Music Teacher di University of California, Barkeley, California (2022-2024). ‘

Sraya sejak kecil memang berkutat dengan gamelan yang personelnya bisa mencapai 30 orang. Tetapi kecintaannya berlabuh pada gamelan selonding beberapa tahun ke belakang. Baginya, alat musik selonding atau gamelan tua ini, sebuah alternatif untuk mengembangkan imajinasi karena tidak membutuhkan banyak personel.

“Apa yang ada di dalam gamelan selonding itu membuat saya tertarik. Kompleks. Walaupun sedikit instrumennya, tetapi banyak hal yang bisa diimajinasikan dan dipelajari,” kata Saraya.

Selain itu, Sraya juga menjadikan gamelan selonding sebagai alat perjuangannya dalam mengeksplor perkembangan diri secara kreatif dalam bentuk eksperimental bunyi—yang lebih kontemporer. Tentu saja, bagi Sraya, berkarya adalah bentuk lain dari spiritual itu sendiri sebagaimana selonding itu tercipta pada zamannya.

Dan pada malam di Desa Bugbug itu, ia mecoba mempresentasikan “Tegteg” sebagai hasil percobaan bunyi yang ditangkapnya dari ruang sekitar. Yang kemudian digabungkannya dengan beberapa elemen musik pada karya-karya Sraya sebelumnya.

Tabuhan “Tegteg” terinspirasi dari proses latihan Sraya bersama teman-temannya di sanggar. Ada banyak repertoar-reperoar gending selonding yang Sraya pelajari itu, ada beberapa yang mirip-mirip menurutnya secara bunyi.

Ketika proses latihan, kata Sraya, ia dan beberapa temannya terkadang kebingungan. “Misalnya gending A ke gending B, itu ada beberapa kemiripan, jadi kami secara tidak sadar, kaya ‘Oh bisa ke gending B’, akhirnya kami harus terus melanjutkan kalau semisalkan sedang pentas. Harus terus jalan, tidak boleh putus di tengah jalan. Ya, harus tegteg (tidak goyah),” kata Sraya tentang kenapa reportoar itu dinamai Tegteg.  

Barangkali para pemukul selonding harus tetap tegteg, harus tetap bertahan pada bunyi. Kemana pun arus bunyi membawa mereka.

Srayamurtikanti | Foto: tatkala.co/Rusdy

Meski bunyi itu tak sepenuhnya bisa dipahami, namun bunyi selonding yang terdengar dlung-ding dlung-ding itu, yang direpertoarkan oleh Sraya, seperti jadi peneman dalam sebuah acara meditasi—atau terapi, bagi para pengunjung.

Di dekat tenda setting alat sound panitia, Purwaningsih—remaja putri yang setia menonton itu, berdiri sambil mendekap tangannya di dada. Ia barangkali merasakan sesuatu, barangkali perasaan takjub atas bunyi-bunyi yang dihasilkan dalam permainan “Tegteg” itu, juga dalam beberapa repertoar lainnya sebelum itu.

“Kaya tenang gitu rasanya, Bli,” kata Purwaningsih. “Saya juga pemain selonding, Bli, di desa. Tapi gak sebisa yang dimainkan oleh kakak-kakaknya tadi. Apalagi mereka perempuan semua, kan, jadi saya merasa (terinspirasi) gimana gitu..,” katanya.

“Gimana itu?” tanya saya.

“Yaa..gitulah hehe…”

Semoga suatu saat, jadi komposer hebat yaa… Kak Purwa. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding
Tags: Desa Bugbuggamelan selondingkarangasemkarawitankarawitan baliSelonding Bali Aga Fest
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika

Next Post

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co