3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Son Lomri by Son Lomri
December 28, 2024
in Persona
Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

HARI kedua Selonding Bali Aga Fest 2024, Rabu, 25 Desember, tersuguh pementasan yang sangat menarik hati para penonton. Sesi ini disebut Neo Selonding. Isinya pementasan musik selonding dengan garapan kreatif dari tiga komposer yang sudah punya nama di Bali.  

Sore menjelang malam, masyarakat sudah berkumpul di depan Pura Bukit Gumang, Sanghyang Ambu, Desa Adat Bugbug-Karangasem,  tempat acara itu digelar. Penonton bersiap menunggu, hingga para seniman tampil di atas panggung.

Di awal acara ada pemandangan yang bagus. Di atas panggung ada satu nilai lebih yang eksotis—Tarian Kalanguaning Deha garapan Ni Made Tuindah Rai Masyoni, dan musiknya digarap komposer Pande Made Widnyana dari Komunitas Selonding Bali Aga. Tarian itu menyambut para pengunjung yang datang.

Tari Kalanguaning Deha pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Asap mengepul di atas panggung. Empat penari membelah asap itu, lalu berbaris menarikan selendangnya. Diiringi oleh gamelan selonding tentunya, Tarian Kalanguaning Deha sebagai tari penyambutan telah menggambarkan keanggunan, kelembutan dan keelokan perempuan dan suasana desa sejuk pepohonan.

Tarian itu dituangkan dalam gerak tari yang harmonis dan dinamis di tengah lantunan bunyi selonding yang kalem. Para pengunjung tampak santai di posisinya masing-masing sambil menonton. Ada yang berdiri. Ada yang duduk.

Di Karangasem, ada banyak tarian rejang adat yang unik di setiap desanya. Tari Kalanguaning Deha ini tentu saja terinspirasi dari gerakan tari rejang yang sudah ada. Warna kuning emas yang dominan pada kostum empat penari itu, melambangkan keceriaan dan penghormatan mereka sebagai penari.

“Tarian ini terinspirasi dari gerak tari rejang yang ada di Karangasem,” kata Ni Made Tuindah Rai Masyoni, koreografer Tari Kalanguaning Deha itu. Tuindah berasal dari Sanggar Seni Surya Candra.

Usai Tari Kalanguaning Deha, penonton jeda sebentar, lalu terkesima ketika terdengar repertoar selonding dari komposer perempuan, Ni Nyoman Srayamurtikanti. Repertoar yang bertajuk “Tegteg” itu membuat semua penonton cukup betah bertahan hingga malam. Seorang penonton remaja putri, Purnawaningsih, bahkan berdiri dengan beberapa temannya sampai penampilan Srayamurtikanti selesai.

Dalam rangakaian acara “Neo Selonding” malam itu, ada tiga penampilan dari komposer muda. Mereka adalah I Kadek Janurangga yang membawa repertoar “Yehniti”, kemudian “Kembang Tanding” oleh Andika Pastika Putra dan “Tegteg” oleh Ni Nyoman Srayamurtikarti.

Menariknya, “Tegteg” dimainkan oleh beberapa penabuh perempuan, yakni Ni Nyoman Srayamurtikarti itu sendiri, dan Ni Putu Shinta. Kemudian Ni Made Ayu Anggita, Kadek Candy Cintya Dewi, Gusti Ayu Mingguwati, Ni Kadek Galuh Dwikayanti dan Ni Kadek Popi Wilantari. Mereka dari Sanggar S’mara Murti.

Siapa itu Srayamurtikarti?

Sraya—atau Ni Nyoman Srayamurtikarti, adalah seorang musisi dan komposer dari Celuk, Sukawati, Gianyar. Ia termasuk komposer perempuan yang menjadi kebanggan Bali. Praktik musikal yang dilakukan mengarah pada eksperimental, teatrikal, dan respon ruang, yang berpijak pada latar belakang musik gamelan Bali.

Sraya merupakan ketua dan direktur artistic Sanggar S’mara Murti yang didirikan oleh ayahnya, I Nyoman Suryadi, sejak tahun 1996.

Sebagai komposer, Sraya mendapat kesempatan menampilkan karya komposisi dan presentasi karya seni dalam ranah internasional di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Kanada, Thailand, dan lainnya.

Srayamurtikanti saat memainkan repertoar Tegteg pada Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Karya terbarunya adalah “Silversmith” yang dipentaskan oleh Third Coast Percussion—yang terinspirasi dari bunyi lingkungan yang ada di Desa Celuk. Sraya juga baru saja menyelesaikan residensi sebagai Guest Music Director di Gamelan Sekar Jaya Barkeley, California, dan sebagai Guest Music Teacher di University of California, Barkeley, California (2022-2024). ‘

Sraya sejak kecil memang berkutat dengan gamelan yang personelnya bisa mencapai 30 orang. Tetapi kecintaannya berlabuh pada gamelan selonding beberapa tahun ke belakang. Baginya, alat musik selonding atau gamelan tua ini, sebuah alternatif untuk mengembangkan imajinasi karena tidak membutuhkan banyak personel.

“Apa yang ada di dalam gamelan selonding itu membuat saya tertarik. Kompleks. Walaupun sedikit instrumennya, tetapi banyak hal yang bisa diimajinasikan dan dipelajari,” kata Saraya.

Selain itu, Sraya juga menjadikan gamelan selonding sebagai alat perjuangannya dalam mengeksplor perkembangan diri secara kreatif dalam bentuk eksperimental bunyi—yang lebih kontemporer. Tentu saja, bagi Sraya, berkarya adalah bentuk lain dari spiritual itu sendiri sebagaimana selonding itu tercipta pada zamannya.

Dan pada malam di Desa Bugbug itu, ia mecoba mempresentasikan “Tegteg” sebagai hasil percobaan bunyi yang ditangkapnya dari ruang sekitar. Yang kemudian digabungkannya dengan beberapa elemen musik pada karya-karya Sraya sebelumnya.

Tabuhan “Tegteg” terinspirasi dari proses latihan Sraya bersama teman-temannya di sanggar. Ada banyak repertoar-reperoar gending selonding yang Sraya pelajari itu, ada beberapa yang mirip-mirip menurutnya secara bunyi.

Ketika proses latihan, kata Sraya, ia dan beberapa temannya terkadang kebingungan. “Misalnya gending A ke gending B, itu ada beberapa kemiripan, jadi kami secara tidak sadar, kaya ‘Oh bisa ke gending B’, akhirnya kami harus terus melanjutkan kalau semisalkan sedang pentas. Harus terus jalan, tidak boleh putus di tengah jalan. Ya, harus tegteg (tidak goyah),” kata Sraya tentang kenapa reportoar itu dinamai Tegteg.  

Barangkali para pemukul selonding harus tetap tegteg, harus tetap bertahan pada bunyi. Kemana pun arus bunyi membawa mereka.

Srayamurtikanti | Foto: tatkala.co/Rusdy

Meski bunyi itu tak sepenuhnya bisa dipahami, namun bunyi selonding yang terdengar dlung-ding dlung-ding itu, yang direpertoarkan oleh Sraya, seperti jadi peneman dalam sebuah acara meditasi—atau terapi, bagi para pengunjung.

Di dekat tenda setting alat sound panitia, Purwaningsih—remaja putri yang setia menonton itu, berdiri sambil mendekap tangannya di dada. Ia barangkali merasakan sesuatu, barangkali perasaan takjub atas bunyi-bunyi yang dihasilkan dalam permainan “Tegteg” itu, juga dalam beberapa repertoar lainnya sebelum itu.

“Kaya tenang gitu rasanya, Bli,” kata Purwaningsih. “Saya juga pemain selonding, Bli, di desa. Tapi gak sebisa yang dimainkan oleh kakak-kakaknya tadi. Apalagi mereka perempuan semua, kan, jadi saya merasa (terinspirasi) gimana gitu..,” katanya.

“Gimana itu?” tanya saya.

“Yaa..gitulah hehe…”

Semoga suatu saat, jadi komposer hebat yaa… Kak Purwa. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding
Tags: Desa Bugbuggamelan selondingkarangasemkarawitankarawitan baliSelonding Bali Aga Fest
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika

Next Post

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co