2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika

Son Lomri by Son Lomri
December 28, 2024
in Khas
Selonding Bali Aga Fest 2024: Metamorfosis Selonding dari Sakral ke Profan, Demi Penguatan Identitas dan Estetika

Selonding bali Aga Fest 2024 di Desa Bugbug, Karangasem, Bali | Foto: tatkala.co/Son

DI sejumlah daerah di Bali, alat musik (gamelan) selonding begitu keramatnya dan kerap dimainkan hanya untuk suatu upacara adat dan. Biasanya dimainkan oleh beberapa personel dan itu laki-laki, dengan pakem bunyi sangat ketat.

Barangkali berbeda yang kita lihat pada acara “Selonding Bali Aga Fest 2024” di Stage Gerbang Pura Bukit Gumang, Sanghyang Ambu, Desa Adat Bugbug-Karangasem, 24-25 Desember 2024.

Pada festival ini, selonding dicoba untuk dimunculkan ke permukaan sebagai alat musik klasik—yang memiliki nilai dan keunikan tersendiri, demi bisa dirasakan semua kalangan tanpa mempersoalkan umur dan gender. Tentu, dengan etika yang tepat sehingga tidak menciderai kesakralannya.

Sebelum malam tiba, sekitar sore itu, masyarakat Desa Bugbug—Karangasem mulai berdatangan dari segala arah untuk menantikan diskusi sarasehan tentang selonding dan beberapa pertunjukannya. Ini menunjukkan acara itu cukup besar dan serius, stand-stand makanan ringan sudah tersedia sejak matahari masih terasa hangat. Penonton datang, nyambi menunggu malam, kopi dipesan dan jajakan dipesan.

Sebuah repertoar selonding dalam acara Selonding Bali Aga Fest 2024 di Desa Bugbug, Karangasem | Foto: tatkala.co/Son

Acara itu diinisiatori oleh Komunitas Selonding Bali Aga berkolaborasi dengan Pasikian Yowana Karangasem,  dengan tujuan untuk meningkatkan pelestarian seni anak muda khususnya Selonding Bali di bagian timur.

“Festival Selonding ini merupakan sebuah event yang digagas sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi para leluhur yang menciptakan selonding sebagai persembahan estetik religius,” kata I Wayan Pande Widiana—Kreator dan Konseptor Selonding Bali Aga Fest.

Ia menjelaskan, selonding adalah salah satu kesenian khas yang persebarannya itu banyak ditemukan di Bali bagian timur, di daerah Karangasem. Di sejumlah tempat napas selonding masih dijaga dengan baik, seperti di Desa Tenganan Pegringsingan, Desa Bungaya, Desa Asak, Desa Timbrah, Desa Selat, Desa Ngis dan Desa Bugbug.

Jejak artefak peninggalan kebudayaan selonding di Bali timur juga dapat ditemukan di beberapa Pura, seperti di Pura Merajan Selonding Besakih, Desa Selat Duda, Desa Tumbu, Desa Seraya, Desa Perasi, Desa Datah.  Namun secara ritus tradisinya sudah tidak begitu aktif.

Dan festival selonding di Desa Bugbug ini bisa disebut sebagai bentuk aktualisasi nilai luhur dalam upaya pencarian jati diri pada ruang ekspresi seni. Selain itu, festival ini juga menjadi pemantik kesadaran masyarakat terkait kreatifitas bermain selonding, yang tak hanya berkutat di bagian spiritualitas.

Acara ini berlangsung dua hari. Pada hari pertama, diadakan lomba selonding dengan dua kategori lomba yaitu Rejang Gucek (kelompok campuran) dan Sekar Gadung (kelompok perempuan), setiap kelompok terdiri 6 juru gamel. Diikuti oleh 9 grup dari berbagai desa di Bali seperti dari Badung, Tabanan, Gianyar dan Karangasem.

Menjadi satu catatan penting bahwa selonding atau musik selonding itu sendiri cukup diminati banyak para anak-anak muda,  bajang-bajang, di desa.

“Ketika selonding menunjukkan kepopulerannya, justru musik itu telah menghadirkan ruang tafsir baru. Tentunya, ini satu kondisi yang sangat membanggakan, juga sesungguhnya menjadi sebuah tantangan,” kata I Kadek Wahyudita, pelaku seni, saat menjadi narasumber dalam sarasehan di acara festival itu.

Walaupun tidak harus dimainkan pada fungsinya di awal, yakni sebagai alat pengiring upacara adat yang sakral, Wahyudita memandang selonding yang kini berkembang itu justru dapat dimanfaatkan menjadi sebuah kreatifitas yang lain sebagai estetika baru, dan itu akan menjadi satu modal penguatan identitas yang lebih kuat. Terlebih upaya-upaya ini bertujuan untuk menjaga rantai regenerasi lebih berkualitas.

Kadek Wahyudita (kiri) berbicara pada sarasehan Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Wahyudita menyebutkan, setiap daerah di Bali, memiliki karakteristik spiritualitas yang ditandai dengan alat musik yang khas. Di Bali bagian barat misalnya, terkenal dengan tabuhnya, kemudian bagaimana di Bali bagian tengah lebih kepada gong gede-nya.

Sementara di Bali bagian timur, dalam hal ini Karangasem, karena gunungnya adalah Maha Agung, Toh Langkir, pemujaannya giri nata atau giri putri, sehingga berbeda juga spiritnya.

“Kalau di barat spiritnya kawisesan, api barat. Kalau di timur api putih. Api putih ini Sanghyang Iswara, yang memberikan kata pada keheningan itu. Maka, ketika kita coba dudukkan dia sebagai kata suluh hening, maka tepatlah dia berada di posisi timur dan dia menjadi spirit kerohanian dari pada Bali,” kata Wahyudita.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan selonding merupakan bagian dari gamelan, dan selonding adalah keheningan itu sendiri, dari kata saluning. Kemudian gamelan itu memiliki dua kata swara. Swa artinya jati diri dan ra artinya cahaya.

Maka, swara adalah pengetahuan yang ditimbulkan dari kejatidirian. Dan selonding, menurut Wahyudita, ada dua, yaitu pikiran dan batin. Pikiran batin inilah yang akan keluar swa dan ra, yang akan bersemayam di tengah-tengah, namanya tita swara. Sehingga sangat kontras, selonding bagi masyarakat Bali Aga merupakan sebuah identitas dan itu cukup kental.

Sehingga, kata Wahyudita, membagi ranah permainan selonding itu penting sebagai penghormatan kepada selonding, sebagai benda yang disakralkan. Setidaknya ada dua hal yang harus ditetapkan untuk melangsungkan permainan alat musik selonding pada ranah yang berbeda. pada fungsi yang berbeda. Yaitu membedakan mana alat selonding untuk upacara dan mana alat selonding untuk digunakan berkreasi di ranah profan yang tidak terlalu sakral.

Dua hal itu, kata Wahyudita,  untuk menjaga nilai kesakralannya yang murni sebagai benda keramat masyarakat Bali Aga, terutama  di Desa Bugbug, sehingga dapat diminimalisir perbedaan pemahaman terkait nilai kegunaannya. Ada selonding yang diperuntukkan untuk rekreasi, dapat—menjadi satu wahana klasik untuk dimainkan secara eksperimental oleh para komposer di Bali Aga sehingga tidak menutup kemungkinan akan menemukan estetikanya yang lebih unik.

Selonding, Alat Musik Kuno dengan Pengalaman Bunyi yang Reflektif

Pande Widiana menjelaskan, silihat dari klasifikasi jenis gamelan dari masa kemunculannya, Selonding masuk dalam klasifikasi gamelan Bali golongan tua, dan diprediksi sudah ada sejak abad ke 9. Itu dikutip dari seorang etnomusikolog dari Belanda bernama Jupt Kunst, dalam penelitian gamelan di Indonesia.

Menurut Pande, Kunst menemukan gamelan berbentuk wilahan pada relief Candi Borobudur, yang dibangun di Jawa Tengah abad IX yang di mana se-zaman dengan Dinasti Selonding di Bali (Dalem Selonding : Sri Kesari Warma Dewa).

Sementara menurut catatan manuskrip terkait Selonding. Di Bali gamelan selonding telah dikenal pada pemerintahan Sri Maharaja Jayacakti (1052-1071 S). Selonding dibahas secara tekstual muncul di Bali  itu tercatat pada Prasasti Campetan 1071 S). Juga ditemukan tercatat pada (Kekawin Hariwangsa) tertera tahun 1072 S masa Kerajaan Kediri, Jawa Timur (Malang).

Para pengunjung Selonding Bali Aga Fest 2024 di desa Bugbug, Karangasem | Foto: tatkala.co/Son

Selain menjelaskan secara ilmiah, Pande Widiana juga membubuhkan cerita yang menarik secara legenda. Di Karangasem, lanjut lelaki itu seperti hendak mendongeng, konon pada zaman dahulu orang-orang Tenganan Pegringsingan dan Bungaya mendengar suara gemuruh guntur di atas langit. Gelap terang suasana langit menimpa desa itu dengan badai petir yang datangnya secara bergelombang.

Pada gelombang pertama suara itu turun di daerah Bungaya, dan gelombang kedua turun di daerah Tenganan Pegringsingan. Setelah suara tersebut sampai di bumi, ternyata di tempat tersebut diketemukan tiga buah bilah, yang kemudian pada perkembangannya dijadikan seperangkat barungan gamelan selonding.

Hingga kini, kata Pande, selonding yang berasal dari tiga buah bilah tersebut disungsung atau disakralkan oleh masyarakat Bungaya dan Tenganan Pegringsingan sebagai lambang suci (Pratima/Pralingga) yang bergelar Betara Ratu Bagus Selonding.

Nah, Selonding Bali Aga Fest ini tak hanya mempersembahkan panggung bagi k para pemain atau komposer untuk pentas dan mengeksplor secara teknik dan eksperimental selonding di atas panggung, tetapi juga sebagai usaha mendekatkan para pendengarnya kepada satu pengalaman meditasi melalui bunyi-bunyian dari selonding yang dimainkan para penabuh kontemporer. Dan, itulah salah satu tujuan acara festival ini digelar,

Pande Widiana percaya, bunyi selonding dapat menjadi satu pengalaman bagi para pendengarnya untuk mendapatkan pikiran yang tenang. Jiwa yang tenang, dan ia menyebutnya The Sound of Healing.

“Vibrasi bunyi dari selonding—mampu menghantarkan pendengarnya seakan berada pada dimensi murni yang hilang, khusyuk sehingga mampu menstimulus ketenangan dan kesejukan yang dapat menjernihkkan pikiran,” kata Pande Widiana

Jadi, mengapa gamelan ini disebut sebagai selonding, lanjut laki-laki itu, karena secara musikal vibes atau gelombang bunyi dari lantunan suara selonding tersebut, mampu membangun ruang atau dimensi (salu) bunyi yang menstimulus keheningan dan ketenangan pikiran (nding).

Pande Widiana (paling kanan) pada sarasehan Selonding Bali Aga Fest 2024 | Foto: tatkala.co/Son

Secara etimologi, tonasi nding tersebut berasal dari kata ening/ning yang dalam Bahasa Bali artinya kejernihan, ketenangan pikiran. Etimologi nding tersebut selaras dengan perspektif sastra mengenai aksara ulu. Jadi, nada ding dengan aksara ulu merupakan simbol dari keheningan pikiran. Hening yang dalam bahasa Bali disebut ening atau ning.

Festival ini diharapkan pula sebagai satu wahana untuk masyarakat atau siapa saja untuk healing—tidak hanya melulu tentang pergi ke suatu tempat wisata, tetapi juga bisa melalui, mendengarkan selonding sebagai alat musik tua tetapi eksotis. Adem.

Setelah sarasehan selesai, para penonton menghela nafas panjang—menantikan “Neo Selonding” akan digelar.

Dalam rangakaian acara “Neo Selonding” malam itu, ada tiga penampilan dari komposer muda. Mereka adalah I Kadek Janurangga yang membawa repertoar “Yehniti”, kemudian “Kembang Tanding” oleh Andika Pastika Putra dan “Tegteg” oleh Ni Nyoman Srayamurtikarti. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • Baca artikel lain tentang Selonding Bali Aga Fest 2024:
Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi
Kadek Janurangga pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Air Meniti Nada-nada Selonding
Tags: Desa Bugbuggamelan selondingkarangasemkarawitan balikesenian baliSelonding Bali Aga Fest
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Made Putra Wijaya, Seniman Tari dari Desa Peliatan: Antara Pengabdian dan Penghargaan

Next Post

Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Nyoman Srayamurtikanti pada “Selonding Bali Aga Fest 2024”: Yang Bertahan dalam Bunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co