23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Karang Boma, Benteng Penyelamatan  di Gumi Delod Ceking   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
December 14, 2024
in Esai
Pura Karang Boma, Benteng Penyelamatan  di Gumi Delod Ceking   

Sekaa Unen dari berbagai daerah di Denpasar ngaturang ayah di Pura Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge, di Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan.

DI Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan, Badung, terdapat dua Pura yang bernama Pura Karang Boma, yaitu Pura Karang Boma di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge dan Pura Karang Boma di Banjar Tengah  Desa Adat Pecatu.

Pura Karang Boma di wilayah Banjar Sawangan terletak di sisi timur kawasan ngampan dalam posisi di kerendahan, sedangkan Pura Karang Boma di wilayah Banjar Tengah,  Pecatu, berdekatan dengan Pura Uluwatu di sisi barat kawasan ngampan dalam posisi di ketinggian.

Kedua Pura Karang Boma itu mewakili kerendahan dan ketinggian sekaligus dalam bentang alam ngampan bukit di Gumi Delod Ceking. Oleh karena Pura sebagai benteng moral spiritual, maka kedua Pura ini merepresentasikan kerendahhatian dari umat-Nya sekaligus ketinggian budaya spiritual yang adiluhung.

Umat-Nya perlu menjaga secara  konsisten dan kontinu merawat dan melihara agar terjaga dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks Pendidikan dan Kebudayaan ala Ki Hadjar Dewantara ini adalah best practice dari ajaran Trikon.

Secara semantik, Karang Boma adalah ornamen tradisional Bali yang berbentuk kepala raksasa. Kisahnya  diambil dari cerita Bomantara tentang kelahiran Boma sebagai pelindung hutan belantara. Kehadirannya kini digunakan untuk hiasan gamelan, wadah/bade, pintu kori agung.

Sekaa Unen dari berbagai daerah di Denpasar ngaturang ayah di Pura Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge, di Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan. | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Penulis swafoto saat Pujawali di Pura Karang Boma Sawangan Desa Adat Peminge, di Gumi Delod Ceking, Kuta Selatan | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Berpijak pada pengertian itu, Pura Karang Boma di Gumi Delod Ceking dapat ditafsirkan sebagai pura untuk melindungi hutan belantara di sekitarnya agar tetap terpelihara dan lestari. Itu pula sebabnya Pura-Pura tertentu berada di tengah hutan memiliki alas kekeran dan keramat dijaga oleh binatang buas. Masyarakat awam sering menyebut binatang penjaga itu sebagai Duwe.  

Dua Pura Karang Boma di Gumi Delod Ceking memang berada di tebing ngampan dan tersembunyi di tengah hutan tempo dulu. Kini hutannya nyaris tidak tampak sehingga monyet di sekitarnya pun menjauh dan sering menjadi tamu tak diundang ke rumah-rumah penduduk, : mengganggu. Walaupun demikian, masyarakat setempat memeliharanya dengan melaksanakan Pujawali secara rutin. 

Pujawali di Pura Karang Boma Sawangan jatuh pada Sanisacara Kliwon Landep (Tumpek Landep). Pura ini menjadi istimewa karena banyaknya sekaa unen atau “grup seni berbasis spiritual”, umumnya barong dan rangda dari berbagai daerah di Denpasar, khususnya Pegok, Sidakarya, Suci, di Denpasar, selain sekaa unen dari Bualu dan Peminge. Ibarat rapat dalam bebanjaran, saat Pujawali sekaa unen itu parum mewakili sekala (penyungsung) dan pralingga berupa rangda dan barong sebagai simbolisasi yang mewakili  niskala (spirit). 

Dengan demikian, Pura Karang Boma di Sawangan menjadi tempat penyatuan para penyungsung sekaa unen dari berbagai daerah khususnya Gumi Delod Ceking di Badung Selatan dan Denpasar.

Baik Badung maupun Denpasar pada awalnya adalah nama salah satu kabupaten di Bali yaitu Kabupaten Badung  dengan ibu kota Denpasar. Seiring dengan perkembangan zaman, sejak 1992, Denpasar ditetapkan sebagai Kota Madya dipimpin oleh Wali Kota. Walaupun terpisah secara kewilayahan administrasi, Badung dan Kodya Denpasar tak terpisahkan secara historis seperti  Peken Payuk Badung di Jalan Gadjah Mada Denpasar.

Secara spirit juga Gumi Delod Ceking awalnya juga menjadi bagian wilayah Puri yang ada di Denpasar. Dilihat dari segi pawongan, tampaknya manusia Delod Ceking sejak dahulu kala terhubung ke Denpasar entah melalui proses maguru-siwa yang melahirkan hubungan peradaban yang terawat hingga kini.

Adanya sekaa unen di banyak desa adat di Gumi Delod Ceking sejak dulu tampak juga hasil proses berguru  dengan  perguruan di Denpasar, yang berpusat di Geria dan Puri. Proses itu sampai kini terawat baik. Contohnya tradisi ngerebong di Kesiman Petilan ternyata juga menghubungkan Sekaa Unen Banjar Swangan Desa Adat  Peminge secara spirit sampai sekarang. Hubungan inilah yang disebut mategul tanpa tali (terikat tanpa tali), terhubung karena persamaan frekuensi spirit.

Dari hubungan demikianlah, tampaknya terjadi proses berguru secara tradisional yang kemudian melahirkan perguruan rohani melalui lembaga pendidikan dalam wadah Sekaa Unen  untuk melestarikan seni, budaya, dan tradisi. Itulah cara beragama berkearifan lokal yang membumi dengan semangat  manyama braya sekala niskala. Makna mendalam dari hubungan itu adalah saling pinjam peralatan berkesenian antar sekaa terjadi secara alamiah. Baik yang meminjamkan maupun yang meminjam tampak sefrekuensi, saling menghormati dan menghargai secara lascarya walaupun mereka dari sekaa unen yang berbeda. Saya meyakini keterhubungan mereka adalah atas tuntunan Hyang dipuja. Itulah makna pertama.

Pemedek disuguhkan hiburan di Jaba Tengah Pura saban Pujawali, saat Tumpek Landep | Foto: Dok. Nyoman Tingkat

Kedua, Sekaa Unen sebagai wadah berkesenian sekala niskala merepresentasikan hubungan keindahan yang tergarap dari perbedaan antarunsur yang diharmonisasikan sebagaimana tecermin dalam tabuh gamelan dengan bilah-bilah kerawang yang berbeda bunyinya dengan penabuh yang juga berbeda wataknya. Namun suara keindahan yang dihasilkan memukau beradu dengan deburan ombak pantai selatan dengan gerak-gerik ritmis pragina yang mengikuti angsel, tanjek, sledet, nyeregseg kadang-kadang diiringi syair yang dipetik dari kalangan pragina (tempat pentas, ngaturang ayah).

Ketiga, Sekaa Unen juga menggambarkan laku beragama secara komunal dalam suasana riang gembira. Kelebihan dan keunikan masing-masing anggota sekaa, semua mendapat tempat. Tidak ada yang pandai, tidak ada yang bodoh. Yang ada adalah semua pandai, semua bodoh. “Sing ada nak dueg, sing ada nak belog. Ne ada makejang dueg, makejang belog”, begitulah sekaa unen sering berkelakar. Semangat itu menunjukkan kurve normal dalam sekolah formal. Jika dihubungkan dengan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran di sekolah formal  inilah yang disebut pembelajaran yang menyenangkan bin mendalam. Deef learning (pembelajaran mendalam) dengan  Joyfull learning (pembelajaran menyenangkan) berbasis kealaman.

Begitulah Sekaa Unen membuat budaya Bali menjadi ajeg hingga kini. Di mana ada sekaa unen,  aura ke-tenget-an dan kesakralan Desa Adat akan dirasa oleh mereka yang memiliki kepekaan rasa. Oleh karena itulah, tidak secara kebetulan bila Pura Karang Boma di Sawangan oleh krama-nya juga sering disebut Pura Barong-Barong yang mengingatkan saya pada Pura Puncak Padang Dawa di Baturiti Tabanan.

 Pura Karang Boma di wilayah Banjar Sawangan   Desa Adat Peminge  adalah tempat bertemunya Sekaa Unen Badung dan Kodya ngaturang ayah setiap Saniscara Kliwon Landep (Tumpek Landep) merepresentasikan penyatuan kekuatan laut (sagara), sedangkan Pura Puncak Padang Dawa merepresentasikan kekuatan gunung (giri) dengan basis kekuatan pada sekaa unen juga dari berbagai wilayah lintas kabupaten.

Saya meyakini, tempat Pura Karang Boma di Sawangan itu dipilih orang-orang suci tempo dulu berdasarkan kekuatan jnana sehingga aura taksu menembus batas waktu dan batas geografis yang sulit ditempuh ketika Gumi Delod Ceking menjadi wilayah hutan tutupan dan tempat pembuangan yang ternyata menjadi titipan masa lampau untuk pengingat masa kini. Begitulah semesta mendukung.

Kini Pura Karang Boma di Sawangan terdesak oleh keangkuhan pariwisata. Kanan-kiri Pura berdiri fasilitas pariwisata yang tampak angkuh. Saya tidak tahu berapa persen krama Desa Adat Peminge bekerja di sana yang nota bena penjaga asli Pura Karang Boma Sawangan. Disebut penjaga asli karena merekalah krama ngarep yang mipil dan nyungsung Pura Karang Boma dengan aneka ritual dari dulu hingga kini.

Dari sejak tanah-tanah Delod Ceking tiada berharga hingga kini dengan harga melangit bahkan menjadi rebutan investor dan membuat guncangan tak terlawan krama adat akibat keterbatasan yang dimiliki untuk bernegosiasi. Seyogyanya mereka mendapatkan keadilan dan kesetaraan sehingga tidak menjadi penonton di tengah glamour pesta pariwisata. Jangan sampai ada ayam mati kelaparan di lumbung padi.

Jika Pura Karang Boma di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge berada di ujung timur ngampan Delod Ceking, maka Pura Karang Boma di ujung barat ngampan  Delod Ceking berdekatan dengan Pura Uluwatu. Pujawali di Pura ini bersamaan dengan Pujawali di Pura Uluwatu, Selasa Kliwon Medangsia yang disebut Anggarkasih Medangsia.

Berdasarkan penelusuran saya, Pura Karang Boma ini disungsung oleh salah satu keluarga Bandesa Manik Mas, bukan oleh krama Desa Adat Pecatu. Namun demikian, I Nyoman Sudama, tokoh adat setempat, mengatakan, “Di Pura ini krama Desa Adat Pecatu melaksanakan upacara Nyegara Gunung”. Hal itu juga dibenarkan oleh I Nyoman Sujendra sebagai Panyarikan ‘sekretaris’ Desa Adat Pecatu.

Perlu pula dicatat bahwa Puri Jro Kuta Denpasar menjadi penanggung jawab pembiayaan ritual di Pura Luhur Uluwatu, sedangkan Puri Celagi Gendong penanggung jawab Pura Dalem Bejurit di Madya Mandala Kawasan Pura Uluwatu. Namun demikian, menurut Pengelola Destinasi Kawasan Luar Uluwatu, I Wayan Wijana, juga menyisihkan keuntungan 3-5% untuk Pura Uluwatu yang dikelola oleh Desa Adat Pecatu. 

Begitulah Desa Adat Pecatu berperan  terkait aci di Pura Uluwatu dengan Pura Prasanaknya : Pura Pererepan di Pusat Desa Pecatu, Pura Pengleburan di Pantai Labuhan Sait, Pura Slonding, dan Pura Kulat.  Itu menunjukkan tanggung jawab Pura sejak dulu sudah dilimpahkan ke Desa Adat setempat oleh  Puri, sebagai strategi pemberdayaan dan pembelajaran bagi masyarakat lokal.

Kedua Pura Karang Boma di Gumi Delod Ceking adalah catatan abadi untuk melawan lupa. Bersyukurlah  Gumi Delod Ceking tempat pembuangan bagi orang-orang yang nyineb wangsa dapat menyelamatkan diri dari dulu hingga kini. Dulu, hutan Delod Ceking adalah hutan tutupan dan tempat titipan. Tempat titipan itu kini makin menyala seiring dengan lirikan investor yang tergoda dengan bentang ngampan yang memukau, deburan ombak yang menggoda para omm dan mbak-mbak menikmati kisah butir-butir pasir putih di laut. [T]

  • BACA artikel tentang GUMI DELOD CEKING
  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Membaca Gumi Delod Ceking dari Tol Bali Mandara    
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Tags: BadungDesa Adat PecatuGumi Delod CekingHindu Balikuta selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kecemasan Burung-burung ketika Padi Menipis — Dari “Subak Bercerita” di Jatiluwih

Next Post

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian

SMKN 1 Petang: Dari Lahan Sekolah, Mencetak Generasi Muda Cinta Pertanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co