3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawan Setan Bermata Runcing — Satu Kenangan dari Kulidan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
December 14, 2024
in Esai
Melawan Setan Bermata Runcing — Satu Kenangan dari Kulidan

Judul buku "Melawan Setan Bermata Runcing"

JIKA seseorang sering mengunjungi satu tempat makan dan minum selama lima tahun , kenangan apa yang dia dapat dari sana? Makanan dan minuman yang lezat? Tempat yang asri dan indah karena berada di tepi sawah atau pinggir pantai dengan menatap laut? Minum minuman hangat sambil mendengar desah air terjun? Pelayanan yang ramah dan amat memuaskan? Ada menu dan fasilitas ramah anak anak dan lansia?

Bagi saya, yang paling berkenang dari Kulidan Kitchen yang berlokasi di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali selama saya berkunjung dari tahun 2019 hingga 2024 adalah satu acara yang saya hadiri pada tanggal 12 Februari 2020. Acara ini merupakan pameran seni dan diskusi buku yang diselenggarakan secara bersamaan dengan tema Melawan Setan Bermata Runcing. Sokola Institute menyelenggarakan acara tersebut. Karya seni yang dipajang di dinding Kulidan Kithen dibuat oleh Oceu Apristawijaya sebagai illustrator. I Komang Adiartha selaku pemilik tempat acara menjadi moderator.

Diskusi buku berjudul Melawan Setan Bermata Runcing menjadi hal yang paling berkenang bagi saya dari kulidan kitchen karena dapat berdialog secara langsung dengan penulis buku dan illustrator dan yang paling menarik adalah pendidikan alternatif yang Sokola Institute selengarakan untuk komunitas terpencil di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi, dan Papua, kritiknya terhadap sistem pendidikan saat ini yang sering jauh dari kehidupan sehari hari dan literasi hadap masalah. Kritik atas sistem pendidikan formal saat ini sesuai dengan yang saya amati saat menempuh pendidikan di sekolah formal.

Beberapa kisah berikut ini saya simak dengan saksama dari sokola institute yang membuat suatu kenangan dari kulidan kitchen. Dodi Rokhdian sebagai salah satu anggota Sokola Insitute yang hadir di Kulidan Kitchen menghaturkan dari pengalamannya saat mengajar baca tulis, anak-anak rimba melontarkan pertanyaan kegunaan membaca dan menulis jika hutan sebagai rumah orang Rimba hancur dan orang Rimba diusir dari hutan yang jadi tempat tinggalnya selama ribuan tahun oleh kebijakan dari Taman Nasional dengan motif konservasi untuk kelestarian alam. Kemudian masalah yang beliau hadapi yaitu orang Rimba menjual hutan untuk mendapat uang dan menjadi konsumtif. Dialog ini menjadi latar belakang Sokola Institute untuk merumuskan strategi pendidikan kontekstual berbasis permasalahan kehidupan yang dihadapi komunitas.

Maka dari itu metode pengajaran dan materi ajar yang diajarkan Sokola Institute kepada anak-anak Rimba di Sumatera berbeda dengan anak-anak Kajang di Sulawei dan anak-anak Asmat di Papua karena permasalahan masing masing suku ini tidak sama sesuai dengan keadaan alam , cara hidup dan kondisi sosialnya. Pendidikan bukan hanya memberi berbagai pengetahuan semata. Pendidikan yang dijalankan oleh Sokola ini berdasarkan pada kebutuhan ‘pihak’ yang menerimanya. Di acara tersebut diceritakan bahwa salah satu sebab anak-anak komunitas adat kurang berminat untuk bersekolah karena materi ajar di sekolah jauh dari kehidupan sehari hari dan tidak berfungsi untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan mereka.

Dari bagian awal acara ,jadi teringat bahwa saya terkadang merasakan keterasingan saat di sekolah karena materi pelajaran yang saya terima jauh dari kehidupan sehari hari. Sekolah mengutamakan murid untuk menghafal materi pelajaran memperburuk situasi. Belajar di sekolah dianggap supaya cepat dapat ijazah kelulusan. Akhirnya murid-murid kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Kulidan Kitchen and Space

Saya sering bertanya-tanya untuk apa murid-murid diharuskan belajar trigonometri, logaritma, optik, fluida, kalkulus dan aljabar? Apa kegunaan hal itu dalam kehidupan sehari hari? Mungkin akan berguna dalam arsitektur, komputer atau yang ingin menjadi dosen. Akan tetapi orang yang ingin menjadi advokat untuk lingkungan hidup, membangun bisnis ramah lingkungan atau ahli memperbaiki sepeda dayung dan kendaraan lainnya,mereka sama sekali tidak akan menggunakan hal hal tersebut. Hampir tidak ada satupun dari mereka yang dapat mengingat dan menjawab soal soal tertulis di buku berkaitan dengan hal hal tersebut. 

Anak-anak Rimba itu kritis atas pelajaran yang mereka dapat. Ada dua momen di mana guru mengajar menghitung bilangan pecahan seperti berapa asilnya bila dua pertiga ditambah sepertiga, murid-murid Rimba ini protes bahwa itu tak berguna karena dalam kehidupan sehari hari tidak pernah membeli barang sebanyak dua pertiga kilo atau sepertiga kilo. Mereka juga tidak pernah menggunakan ukuran demikian saat membuat sesuatu. Dalam kehidupan sehari hari, mereka gunakan ukuran setengah, satu, satu setengah atau dua.  Kemudian, saat guru menerangkan bahwa jarak bumi ke bulan sejauh 384.400 km sehingga dibutuhkan pesawat luar angkasa untuk mencapainya, anak-anak rimba ini justru bertanya pada guru dengan pertanyaan berikut: “ buat apa kita tahu jarak ke bulan? Kalau kami tidak akan pernah ke bulan, buat apa dipelajari?”

Sikap anak-anak Rimba yang kritis ini membuat Sokola Institute menegaskan pentingnya pendidikan dan materi mengajar menyesuaikan dengan permasalahan  orang Rimba. Model pendidikan Sokola berlangsung dalam tiga tahap yang berkesinambungan. Tahap pertama adalah literasi dasar. Kisah dari Butet Manurung mengenai cara dia mengajarkan huruf kepada anak-anak Rimba saya dengar dengan penuh perhatian karena amat menarik dan menjadi kenangan saya dari kulidan.

Butet Manurung menunjukkan atap rumah pondok orang Rimba yang menyerupai huruf A saat mulai memperkenalkan huruf A. Jadi saat melihat atap rumah pondok, anak-anak Rimba terus ingat huruf A. Benda-benda yang akrab dan tempat yang sering dilihat anak-anak Rimba digunakan untuk pelajaran mengenal huruf berikutnya. Dia membawa kail yang dipakai memancing sehari hari untuk mengingatkan bahwa ini menyerupai huruf J. Dia mengingatkan anak-anak ini deretan bukti dekat rumah mereka serupa dengan huruf M. Mengajak ke tepi sungai supaya anak-anak Rimba tahu bahwa huruf S menyerupai itu. Untuk pelajaran bahasa Indonesia, kosa kata yang dipakai dominan dijumpai dalam kehidupan sehari hari antara lain hutan, durian, rusa, ladang, adat, taman nasional, konservasi dan desa.

Metode pengajaran Butet Manurung membuat mereka cepat memahami huruf dan kata. Juga membangkitkan rasa antusias yang tinggi untuk belajar membaca dan menulis. Jadi, bukan hanya sekedar abstrak dan jauh dari kenyataan melainkan dihubungkan langsung dengan permasalahan yang dijumpai sehari-hari. Esensi pendidikan menurut Butet Manurung adalah bekal kita hidup saat dewasa nanti.

Saat Butet mengajak anak-anak Rimba ke Jakarta, mereka melontarkan pertanyaan yang mengejutkan seperti mengapa sungai-sungai di Jakarta itu amat kotor padahal sebagian besar orang orang di sana bersekolah? Mengapa banyak mobil berhenti? Mengapa macet parah dan banyak orang mau berada di kemacetan? Yang mana pertanyaan-pertanyaan ini adalah suatu peringatan mengenai pendidikan itu sendiri. Pembelajaran lokal pada masyarakat adat umumnya mencakup tiga unsur yaitu: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesame manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Tiga unsur ini di Bali disebut tri hita karana.

Tahap kedua yaitu literasi terapan yang saya sebut sebagai literasi hadap masalah. Literasi hadap masalah merupakan literasi yang disesuaikan dengan kehidupan sehari hari dan kondisi lingkungan program ini dijalankan dengan tujuan manfaatnya harus dapat dirasakan langsung oleh pihak yang mengikutinya. Dalam literasi hadap masalah, kurikulum dan materi ajar disesuaikan dengan kondisi terkini komunitas tempat program berlangsung serta disusun berdasarkan masalah masalah yang terjadi di lapangan dan dirancang bersama dengan komunitas setempat.

Sokola Insitute melakukan wawancara mendalam, focus group discussion (diskusi bersama kelompok mengenai permasalahan kelompok tersebut) dan pengamatan di komunitas Asmat untuk menyusun kurikulum literasi hadap masalah. Dari tiga tindakan awal, masalah yang dihadapi komunitas Asmat antara lain penebangan pohon kayu besi, bagi hasil yang tidak seimbang antara komunitas asmat dan pemodal. Di pelabuhan, pekerja Asmat menerima sistem pembayaran kerja dan bongkar muat yang tidak adil, jadual pembagian kerja yang kacau sehingga ada seseorang yang bekerja sampai tiga kali dalam sehari dan ada yang tidak dapat jatah pekerjaan sama sekali dan penerapan keselamatan kerja yang buruk. Tidak sedikit pula orang Asmat kesulitan membaca takaran, timbangan transaksi jual-beli dan juga belum mampu membaca dan menulis surat menyurat terkait perjanjian dagang. Kisah yang membuat saya terkejut dari Fawaz yaitu ada anak-anak Asmat yang meninggal dunia karena overdosis obat. Orangtua tidak memahami tulisan yang tertera dalam resep obat bahwa obat ini harus diminum sehari tiga kali dan satu tablet sekali minum. Mereka pikir dengan menghabiskan obat satu botol atau satu kotak, penyakit yang diderita cepat sembuh.

Buku “Melawan Setan Bermata Runcing”

Dari permasalahan permasalahan tersebut, Kurikulum tersebut kemudian dipresentasikan kepada komunitas dan komunitas memiliki keputusan mutlak untuk menerima maupun menolak kurikulum ini. Tema yang dipilih untuk literasi hadap masalah adalah hutan, pelabuhan, kios, adat dan kesehatan. Jadi anak-anak , remaja dan  orang dewasa belajar membaca menulis dan berhitung dengan lima tema tersebut sesuai dengan permasalahan yang mereka hadapi. 

Literasi hadap masalah yang Sokola Institute adakan di komunitas Asmat bertujuan supaya peserta mampu bercerita, menulis dan membacakan kembali hal hal yang ditulis dengan menggunakan 5 W + 1 H serta mampu membaca kalimat, paragraf, dan tulisan utuh kemudian memahami apa yang mereka baca lalu menceritakan kembali hasil pemahaman mereka. Topik membaca dan menulis memfokuskan pada:

  • pemanfaatan hasil hutan dengan memahami informasi tertulis kayu besi dan  harga kayu besi dan peraturan yang terkait kehutanan.
  • arti, peranan, pelaku dan aktivitas yang terjadi di pelabuhan
  • mampu menyusun jadwal pembagian kerja dan mempraktikkan sistem keselamatan kerja
  • aktivitas yang terjadi di kios sembako, asal usul suatu produk hingga sampai ke komunitasnya , sebab naik dan turunnya suatu harga serta mampu memahami perjanjian utang piutang
  • suatu proses  aktivitas budaya dan mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari hari
  • mampu membaca resep obat ,keterangan kandungan obat , efek samping penggunaan obat sintetis.
  • mengetahui ragam penyakit yang ada di komunitas dan cara penanganan serta pencegahan
  • memahami sistem pengobatan tradisioal yang sudah dipraktekkan komunitas Asmat

Literasi hadap masalah juga mencakup kemampuan matematika yang digunakan langsung untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi. Kompetensi ini terdiri dari kemampuan menghitung hasil kayu, buah dan buruan yang didapat lalu mengkonversikannya dalam hitungan rupiah jika menjual hasil hasil hutan tersebut. Perhitungan hasil kayu menuntut peserta harus menguasai satuan panjang, dan volume kayu dan juga luas lahan.

Belajar matematika tidak hanya dilaksanakan di ruang kelas tapi juga di luar sekolah seperti pelabuhan, kios dan fasilitas kesehatan. Di pelabuhan murid diajarkan untuk mampu menggunakan matematika untuk pembagian upah bongkar muat ,jumlah dan volume muatan kapal. Guru Sokola Institute mengajak murid untuk menghitung jumlah uang belanja, hasil penjualan, satuan takaran dan berat barang sehingga dapat membeli dan menjual barang sesuai kebutuhan. Saat belajar di fasilitas kesehatan mengenai hidup sehat,  murid-murid mempelajari bilangan pecahan untuk takaran obat yang harus diminum.

Ketika sudah menguasai literasi dasar dan literasi hadap masalah, pada tahap ketiga yaitu pengorganisasian yang bertujuan untuk kemandirian dan pemberdayaan komunitas sehingga mampu mengorganisir secara mandiri dalam menyelesaikan masalah komunitas. Menghasilkan kader-kader yang menjadi perantara komunitas dalam menghadapi pihak luar dan organisasi yang solid sebagai bentuk bahwa keberadaan komunitas itu sah di mata hukum. Yang berarti komunitas punya hak dan mempertahankan hak tempat hidupnya seperti orang Rimba yang mempertahankan hutan dan keberadaannya di hutan saat terjadi pembalakan dan diancam diusir dari situ untuk proyek taman nasional.

Acara ini merupakan kenangan yang paling saya ingat dari Kulidan Kitchen. Sedikit banyak bersinggungan dengan pengalaman dan pengamatan saya. Kulidan Kitchen bukan hanya menyediakan makanan dan minuman tapi juga memberikan suatu kisah, pengetahuan dan informasi yang belum pernah saya dengar maupun baca sebelum tahun 2020. Keistimewaan Kulidan kitchen adalah sebagai tempat minum dan makan yang berada di tengah sawah Guwang menjadi tempat untuk berdiskusi, bedah buku, dan memajang karya seni yang menyuarakan isu isu seperti pendidikan, sosial dan ekologi. Saya berterima kasih kepada I Komang Adiartha selaku pengelola Kulidan Kitchen yang menyediakan tempat untuk acara yang meninggalkan kesan istimewa serta minuman pelepas dahaga. Juga kepada Pembicara dari Sokola Institue yaitu Butet Manurung, Fawaz, Aditya Dipta Anindita dan Ilustrator yang karyanya dipajang di Kulidan Kitchen Oceu Apristawijaya. [T]

BACA artikel lain dari penulis DONI SUGIARTO WIJAYA

Tanah Subur dan Air Bersih: Dua Infrastruktur yang Luput Dari Perhatian
“Dari Air” Pada Karya Rupa Eka Suta
Penderitaan Kehidupan Liar | Dari Pameran SSRI Crew Art di Kulidan Kitchen
Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”
Pariwisata Macet, Jalan Raya Lancar
Tags: BukuButet ManurungKulidan KitchenSakola Rimba
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Next Post

Kecemasan Burung-burung ketika Padi Menipis — Dari “Subak Bercerita” di Jatiluwih

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kecemasan Burung-burung ketika Padi Menipis — Dari “Subak Bercerita” di Jatiluwih

Kecemasan Burung-burung ketika Padi Menipis --- Dari “Subak Bercerita” di Jatiluwih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co