2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Macet, Jalan Raya Lancar

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 16, 2021
in Esai
Pariwisata Macet, Jalan Raya Lancar

Lukisan di atas kardus. Karya ini diberi judul “Pariwisata Macet Jalan Raya Lancar”.

Pada tanggal 1 Agustus 2002  Kulidan Kitchen  mengadakan pameran seni dengan tema kedaulatan pangan di masa pandemi. Pameran ini merupakan suara dari para seniman untuk memperhatikan kedaulatan pangan dan akses pangan yang adil bagi semua kalangan di masa pandemi. Masing masing seniman menuangkan gagasan kreatifnya di berbagai sarana.

Di dinding ruang galeri sisi selatan, ada satu lukisan yang unik. Keunikannya terletak pada media yang digunakan dalam karya seni tersebut yaitu kardus bekas kemasan barang elektronik yang dipotong berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 44 inch dan lebar hampir 31 inch.

Kardus bekas dilukis dengan tinta china berwarna hitam dan putih serta dihiasi dengan tulisan. Hasil lukisan itu tampak seperti gambar nyata berwarna hitam putih.  Kehandalan Slinat di sini yaitu memanfaatkan wadah pengemasan barang yang biasanya dibuang setelah diambil isinya menjadi media untuk bersuara lewat paduan kuas dan tinta. Hasil dari karya ini diberi judul “Pariwisata Macet Jalan Raya Lancar”.

Saat lukisan tersebut diamati dari kiri ke kanan, akan tampak tiga hal yaitu: tulisan di kiri atas, seorang perempuan yang memikul hasil panen dari ladang sambil mengenakan masker penutup wajah dan tulisan di kanan bawah. Tiga hal ini mengandung pesan yang berkaitan satu sama lain yang kemudian dapat mengundang suatu pertanyaan  mengenai posisi pertanian dan pariwisata dalam kehidupan sosial ekonomi Bali.

Tulisan di kiri atas berupa korona, pariwisata macet, jalan raya lancar. Dijabarkan dalam suatu paragraf dapat diungkapkan bahwa sejak pandemi covid-19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke Bali menurun drastis. Banyak negara melarang warganya melancong ke luar negeri. Pemerintah daerah di Indonesia memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk mencegah penularan virus. Pariwisata terpukul keras hingga pertumbuhan di sektor tersebut nyaris 0%.

Masyarakat Bali sudah merasakan bagaimana beratnya memelihara akomodasi pariwisata seperti perawatan gedung, fasilitas untuk tamu dan peralatan penunjang kegiatan bisnis di tengah sepinya pemasukan. Puluhan ribu pekerja dirumahkan bahkan di PHK. Ratusan ribu yang masih bekerja di gaji tak tentu karena pengurangan jam kerja.

 Mereka pusing tujuh keliling untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Para pekerja ini sulit memperoleh nutrisi yang layak sehingga perlu diadakan bantuan sosial. Saatnya mempertanyakan pariwisata massal yang berlangsung karena ketidakadilan terhadap pekerja sering terjadi. Perlu diadakan diskusi publik hingga rapat umum mengenai pariwisata yang berkeadilan sosial.

Di sisi lain, volume kendaraan yang datang dari luar Bali mengalami penurunan. Sepinya kunjungan menyebabkan jumlah kendaraan yang terparkir meningkat karena rendahnya penyewaan dan perjalanan. Ditambah dengan himbauan PKM dan pembatasan kerumuman publik , lalu lintas di Bali lebih lengang daripada biasanya. Ada sedikit hal baik di tengah masalah berat yaitu waktu tempuh ke tempat tujuan lebih singkat juga tingkat kebisingan yang mereda. Bagi yang amat tidak suka bising, ini membawa segelintir kebahagiaan.

Geser kedua bola mata ke tengah, akan dijumpai gambar seorang petani perempuan yang mengenakan masker menjual hasil panen ke pasar. Ini menandakan wabah covid 19 berdampak serius pada warga di pedesaan. Di Bali setengah atau lebih total konsumsi hasil pertanian, peternakan dan perikanan dilakoni oleh  sektor pariwisata seperti rumah makan, hotel, dan tempat wisata. Belum lagi vila dan penginapan murah yang menyediakan dapur buat pada pelancong yang sering ke pasar atau swalayan membeli bahan makanan.

Rendahnya tingkat keramaian di pusat perbelanjaan dan banyaknya pekerja dirumahkan menyebabkan penurunan konsumsi makanan di sana maupun di pinggir jalan atau kios makanan kecil untuk menghemat pengeluaran. Roda perekonomian melambat. Para petani yang biasa bergantung pada hal-hal tersebut kewalahan karena banyak sekali produknya yang tidak terserap sehingga selisih hasil penjualan dengan biaya produksi amat tipis bahkan lebih besar yang kedua sehingga mengalami kerugian.

Banyak pedagang pasar tradisional menyadari menurunnya permintaan terhadap produk yang biasa dijajakan. Ini dipengaruhi oleh lesunya pariwisata Bali karena dua per tiga penduduk Bali secara langsung maupun tidak langsung hidup dari pariwisata. Kecilnya pendapatan memaksa untuk membeli sedikit.

Di bawah gambar lengan kanan , terdapat tulisan yang bunyinya bercocok tanam, panen makan, subak macet. Lahan hijau di Bali terus dikikis demi pariwisata. Sawah dan kebun ditutupi bangunan dan beton untuk melayani wisatawan dan kendaraan. Daerah resapan air menipis.

Pendirian vila dan penginapan dapat dikatakan nyaris liar. Tidak ada informasi apakah semua itu sudah memenuhi ketentuan Izin Mendirikan Bangunan atau Analisa Dampak Lingkungan bagi bangunan besar seperti hotel berbintang. Penegakan hukum tata ruang tidak dijalankan dengan tegas.

 Air yang seharusnya mengaliri sawah, pekarangan dan kebun yang terdapat tanaman dapat dimakan dialihkan untuk vila dan hotel. Ini yang membuat subak jadi macet. Konsekuensinya, sawah sulit mendapat pasokan air yang vital bagi produksi beras. Kemudian, beras yang dihasilkan dari lahan tersebut tidak maksimal. Hal ini mendorong para petani semakin meninggalkan mata pencahariannya lalu mendorong subak beralih fungsi untuk dapat uang dalam jumlah banyak dan singkat supaya  hidup layak.

Dalam hubungan antara sawah, ruang hijau dan bangunan yang membetoni lahan, wisatawan asng ingin menikmati Bali yang otentik dengan subak dan kebun sayur dan buah tropis dimana jarang ada di kebanyakan negara asal wisatawan ini melancong. Terus terkikisnya sawah dan kebun yang ditanami tanaman yang dapat dimakan, semakin membuat udara jadi gerah karena beton dan aspal membuat gas rumah kaca tidak diserap menjadi nutrisi bagi tanaman untuk hasilkan oksigen. Lahan hijau berbentuk kebun organik yang diselingi pepohonan tinggi dan hutan berfungsi untuk penyerapan dan penampungan air saat hujan. Keduanya berfungsi sebagai nutrisi bagi manusia.

Dalam hal ini, ekowisata subak Sembung di Denpasar utara menjadi oase di tengah himpitan lahan beton. Ia adalah contoh dimana produksi pangan berjalan bersamaan dengan pariwisata. Di situ menjadi tempat yang menampung keragaman flora dan fauna kota Denpasar. Akses yang dekat dari kota menjadi daya tariknya untuk dikunjungi.

Masyarakat dapat menelusuri persawahan sekaligus memperoleh udara yang lebih segar. Pengelolaannya dilakukan oleh komunitas di sana. Uang dari biaya parkir kendaraan menjadi pendapatan tambahan untuk petani di situ.

 Untuk ke depannya, perlu dibangun sejenis pusat informasi dimana menyajikan sejarah pendirian subak Sembung, jenis tanah dan kandungan kimia tanah di situ, dan keragaman hayati hewan dan tumbuhan serta perannya dalam menjadikan padi hidup layak. Ini membuat pengunjung lebih menghargai ekosistem sawah. Berpotensi menjadi wisata ilmiah karena pengunjung mendapat ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yaitu peran tanah, biotanya serta hewan lain di sawah dalam produksi beras.

Pemerintah semestinya memodali petani di sana untuk mendirikan tempat penggilingan sekam dan pengolahan jerami padi serta limbah sekam untuk menjadi suatu produk bernilai ekonomi yang akan meningkatkan taraf hidup petani sehingga mereka mendapat semakin banyak manfaat yang berkelanjutan dari merawat subak. Di sinilah peran pemerintah dalam penelitian dan pengembangan.

Di masa pandemi ini juga ada komunitas seka teruna  yang bercocok tanam seperti di Kebun Berdaya yang terletak di banjar Tegeh Sari, Desa Pakraman Tonja, Kota Denpasar. Komunitas di Banjar tersebut mengelola kebunnya dari membabat semak lalu ditanami horticultura. Ada juga yang membangun kolam lele di situ. Ini berarti memproduksi vitamin, serat dan protein dalam satu lokasi.

Dalam budidaya lele, para pemuda ini kreatif dalam mensiasati mahanya pakan yaitu membudidayakan magot. Jika ketiga pesan dalam karya seni itu ditarik kesimpulan dalam satu kalimat maka intinya adalah jagalah pertanian di tengah dominasi ekonomi pariwisata karena manusia jauh lebih butuh nutrisi daripada pariwisata. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Noorca M. Massardi | 7 Puisi Sapta dan 5 Puisi Panca

Next Post

Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co