23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Macet, Jalan Raya Lancar

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 16, 2021
in Esai
Pariwisata Macet, Jalan Raya Lancar

Lukisan di atas kardus. Karya ini diberi judul “Pariwisata Macet Jalan Raya Lancar”.

Pada tanggal 1 Agustus 2002  Kulidan Kitchen  mengadakan pameran seni dengan tema kedaulatan pangan di masa pandemi. Pameran ini merupakan suara dari para seniman untuk memperhatikan kedaulatan pangan dan akses pangan yang adil bagi semua kalangan di masa pandemi. Masing masing seniman menuangkan gagasan kreatifnya di berbagai sarana.

Di dinding ruang galeri sisi selatan, ada satu lukisan yang unik. Keunikannya terletak pada media yang digunakan dalam karya seni tersebut yaitu kardus bekas kemasan barang elektronik yang dipotong berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 44 inch dan lebar hampir 31 inch.

Kardus bekas dilukis dengan tinta china berwarna hitam dan putih serta dihiasi dengan tulisan. Hasil lukisan itu tampak seperti gambar nyata berwarna hitam putih.  Kehandalan Slinat di sini yaitu memanfaatkan wadah pengemasan barang yang biasanya dibuang setelah diambil isinya menjadi media untuk bersuara lewat paduan kuas dan tinta. Hasil dari karya ini diberi judul “Pariwisata Macet Jalan Raya Lancar”.

Saat lukisan tersebut diamati dari kiri ke kanan, akan tampak tiga hal yaitu: tulisan di kiri atas, seorang perempuan yang memikul hasil panen dari ladang sambil mengenakan masker penutup wajah dan tulisan di kanan bawah. Tiga hal ini mengandung pesan yang berkaitan satu sama lain yang kemudian dapat mengundang suatu pertanyaan  mengenai posisi pertanian dan pariwisata dalam kehidupan sosial ekonomi Bali.

Tulisan di kiri atas berupa korona, pariwisata macet, jalan raya lancar. Dijabarkan dalam suatu paragraf dapat diungkapkan bahwa sejak pandemi covid-19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke Bali menurun drastis. Banyak negara melarang warganya melancong ke luar negeri. Pemerintah daerah di Indonesia memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk mencegah penularan virus. Pariwisata terpukul keras hingga pertumbuhan di sektor tersebut nyaris 0%.

Masyarakat Bali sudah merasakan bagaimana beratnya memelihara akomodasi pariwisata seperti perawatan gedung, fasilitas untuk tamu dan peralatan penunjang kegiatan bisnis di tengah sepinya pemasukan. Puluhan ribu pekerja dirumahkan bahkan di PHK. Ratusan ribu yang masih bekerja di gaji tak tentu karena pengurangan jam kerja.

 Mereka pusing tujuh keliling untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Para pekerja ini sulit memperoleh nutrisi yang layak sehingga perlu diadakan bantuan sosial. Saatnya mempertanyakan pariwisata massal yang berlangsung karena ketidakadilan terhadap pekerja sering terjadi. Perlu diadakan diskusi publik hingga rapat umum mengenai pariwisata yang berkeadilan sosial.

Di sisi lain, volume kendaraan yang datang dari luar Bali mengalami penurunan. Sepinya kunjungan menyebabkan jumlah kendaraan yang terparkir meningkat karena rendahnya penyewaan dan perjalanan. Ditambah dengan himbauan PKM dan pembatasan kerumuman publik , lalu lintas di Bali lebih lengang daripada biasanya. Ada sedikit hal baik di tengah masalah berat yaitu waktu tempuh ke tempat tujuan lebih singkat juga tingkat kebisingan yang mereda. Bagi yang amat tidak suka bising, ini membawa segelintir kebahagiaan.

Geser kedua bola mata ke tengah, akan dijumpai gambar seorang petani perempuan yang mengenakan masker menjual hasil panen ke pasar. Ini menandakan wabah covid 19 berdampak serius pada warga di pedesaan. Di Bali setengah atau lebih total konsumsi hasil pertanian, peternakan dan perikanan dilakoni oleh  sektor pariwisata seperti rumah makan, hotel, dan tempat wisata. Belum lagi vila dan penginapan murah yang menyediakan dapur buat pada pelancong yang sering ke pasar atau swalayan membeli bahan makanan.

Rendahnya tingkat keramaian di pusat perbelanjaan dan banyaknya pekerja dirumahkan menyebabkan penurunan konsumsi makanan di sana maupun di pinggir jalan atau kios makanan kecil untuk menghemat pengeluaran. Roda perekonomian melambat. Para petani yang biasa bergantung pada hal-hal tersebut kewalahan karena banyak sekali produknya yang tidak terserap sehingga selisih hasil penjualan dengan biaya produksi amat tipis bahkan lebih besar yang kedua sehingga mengalami kerugian.

Banyak pedagang pasar tradisional menyadari menurunnya permintaan terhadap produk yang biasa dijajakan. Ini dipengaruhi oleh lesunya pariwisata Bali karena dua per tiga penduduk Bali secara langsung maupun tidak langsung hidup dari pariwisata. Kecilnya pendapatan memaksa untuk membeli sedikit.

Di bawah gambar lengan kanan , terdapat tulisan yang bunyinya bercocok tanam, panen makan, subak macet. Lahan hijau di Bali terus dikikis demi pariwisata. Sawah dan kebun ditutupi bangunan dan beton untuk melayani wisatawan dan kendaraan. Daerah resapan air menipis.

Pendirian vila dan penginapan dapat dikatakan nyaris liar. Tidak ada informasi apakah semua itu sudah memenuhi ketentuan Izin Mendirikan Bangunan atau Analisa Dampak Lingkungan bagi bangunan besar seperti hotel berbintang. Penegakan hukum tata ruang tidak dijalankan dengan tegas.

 Air yang seharusnya mengaliri sawah, pekarangan dan kebun yang terdapat tanaman dapat dimakan dialihkan untuk vila dan hotel. Ini yang membuat subak jadi macet. Konsekuensinya, sawah sulit mendapat pasokan air yang vital bagi produksi beras. Kemudian, beras yang dihasilkan dari lahan tersebut tidak maksimal. Hal ini mendorong para petani semakin meninggalkan mata pencahariannya lalu mendorong subak beralih fungsi untuk dapat uang dalam jumlah banyak dan singkat supaya  hidup layak.

Dalam hubungan antara sawah, ruang hijau dan bangunan yang membetoni lahan, wisatawan asng ingin menikmati Bali yang otentik dengan subak dan kebun sayur dan buah tropis dimana jarang ada di kebanyakan negara asal wisatawan ini melancong. Terus terkikisnya sawah dan kebun yang ditanami tanaman yang dapat dimakan, semakin membuat udara jadi gerah karena beton dan aspal membuat gas rumah kaca tidak diserap menjadi nutrisi bagi tanaman untuk hasilkan oksigen. Lahan hijau berbentuk kebun organik yang diselingi pepohonan tinggi dan hutan berfungsi untuk penyerapan dan penampungan air saat hujan. Keduanya berfungsi sebagai nutrisi bagi manusia.

Dalam hal ini, ekowisata subak Sembung di Denpasar utara menjadi oase di tengah himpitan lahan beton. Ia adalah contoh dimana produksi pangan berjalan bersamaan dengan pariwisata. Di situ menjadi tempat yang menampung keragaman flora dan fauna kota Denpasar. Akses yang dekat dari kota menjadi daya tariknya untuk dikunjungi.

Masyarakat dapat menelusuri persawahan sekaligus memperoleh udara yang lebih segar. Pengelolaannya dilakukan oleh komunitas di sana. Uang dari biaya parkir kendaraan menjadi pendapatan tambahan untuk petani di situ.

 Untuk ke depannya, perlu dibangun sejenis pusat informasi dimana menyajikan sejarah pendirian subak Sembung, jenis tanah dan kandungan kimia tanah di situ, dan keragaman hayati hewan dan tumbuhan serta perannya dalam menjadikan padi hidup layak. Ini membuat pengunjung lebih menghargai ekosistem sawah. Berpotensi menjadi wisata ilmiah karena pengunjung mendapat ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yaitu peran tanah, biotanya serta hewan lain di sawah dalam produksi beras.

Pemerintah semestinya memodali petani di sana untuk mendirikan tempat penggilingan sekam dan pengolahan jerami padi serta limbah sekam untuk menjadi suatu produk bernilai ekonomi yang akan meningkatkan taraf hidup petani sehingga mereka mendapat semakin banyak manfaat yang berkelanjutan dari merawat subak. Di sinilah peran pemerintah dalam penelitian dan pengembangan.

Di masa pandemi ini juga ada komunitas seka teruna  yang bercocok tanam seperti di Kebun Berdaya yang terletak di banjar Tegeh Sari, Desa Pakraman Tonja, Kota Denpasar. Komunitas di Banjar tersebut mengelola kebunnya dari membabat semak lalu ditanami horticultura. Ada juga yang membangun kolam lele di situ. Ini berarti memproduksi vitamin, serat dan protein dalam satu lokasi.

Dalam budidaya lele, para pemuda ini kreatif dalam mensiasati mahanya pakan yaitu membudidayakan magot. Jika ketiga pesan dalam karya seni itu ditarik kesimpulan dalam satu kalimat maka intinya adalah jagalah pertanian di tengah dominasi ekonomi pariwisata karena manusia jauh lebih butuh nutrisi daripada pariwisata. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Noorca M. Massardi | 7 Puisi Sapta dan 5 Puisi Panca

Next Post

Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Jukut Paku, Dari Tepi Sungai ke Pasar Kota | Kisah Tengkulak Budiman dari Manikyang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co