2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 31, 2021
in Esai
Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Lukisan berjudul All being are connected karya buatan I Made Surya Subratha

Sekitar pertengahan Desember 2020   Kulidan Kitchen menyediakan tempat untuk mengadakan pameran seni bertema Membentang Ruang. Pameran kali ini bersifat tunggal yaitu semua karya seni yang ditampilkan adalah buatan I Made Surya Subratha dan dibuka oleh Bapak Popo Danes pada tanggal 18 Desember 2020 dan diulas oleh I Gede Jaya Putra dan Vincent Chandra melalui tulisan mereka berdua. Pameran itu berlangsung hingga 8 Januari 2021. Dari beberapa karyanya ada satu yang menarik. Lukisan itu berjudul All being are connected.  

Karya tersebut berukuran 475 cm dengan lebar 54 cm. Dari pengakuan sang seniman, I Made Surya Subrata, objek dalam karya seninya berupa manusia, hewan dan tumbuhan. Menggunakan tinta akrilik dan cat semprot di atas kanvas dengan warna hitam, merah, putih dan abu abu. Objek berwarna putih dilukis   di atas bidang berwarna hitam. Seniman membuat lukisan ini sebagai bentuk ekspresi bahwa semua mahluk hidup saling terkait satu sama lain dan juga terkait dengan lingkungan dimana mereka berpijak. Bidang yang berwarna hitam dapat ditafsirkan sebagai tanah berhumus karena dalam konteks ekologi, tanah tersebut selalu berwarna gelap. Dalam objek berwarna putih terdapat warna merah darah dan abu abu yang boleh ditafsirkan sebagai dampak buruk yang dihadapi mahluk hidup akibat keterputusan dengan satu sama lain dan lingkungan alamnya. Warna merah darah melambangkan kondisi terluka. Sedangkan warna abu abu menunjukkan kesuraman yang dihadapinya.

Akibat Diskoneksi

Di balik pencemaran air, polusi udara dan tandusnya lahan hingga disebabkan oleh masalah yang sama yaitu diskoneksi. Tiga fenomena pertama terjadi karena lembaga yang ada hanya mementingkan satu faktor yaitu mendapatkan uang tanpa memikirkan efek terhadap lingkungan sehingga air, tanah dan udara hanya dianggap sebagai sumber daya yang dieksploitasi. Industri yang membuang limbah merupakan contoh dari gejala ini karena merasa dirinya terpisah dari sungai dan hanya menganggap sungai itu sesuatu yang terpisah sehingga dianggap kecil dampaknya.

Masalah keterputusan di alam ini adalah akar dari bencana ekologi. Keterputusan ini membuat manusia tidak peka dengan keberadaan dirinya yang saling terkait dengan mahluk hidup dan siklus alam seperti siklus hidrologi, siklus nitrogen, dan siklus karbon. Ketika tiga siklus tersebut rusak maka ancaman bermunculan bahkan peradaban manusia saat ini terancam akan hancur karena tiga siklus itu telah rusak di hampir semua tempat di bumi, bukan seperti dulu dimana hanya terjadi pada wilayah tertentu.

 Kemudian muncul isu yang jadi perhatian akibat dari diskoneksi yaitu pandemi Covid 19. Pandemi ini terjadi karena perusakan lingkungan yang membuat kelelawar dan satwa hutan bermigrasi ke pemukiman manusia dan memperbesar peluang penularan virus. Lalu virus itu menular dari manusia ke manusia. Penebangan hutan merupakan gejala diskoneksi manusia dengan alam yang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek dan mengabaikan efek buruk jangka panjang.

Keterputusan ini dimulai dari sistem pengetahuan yang bersifat reduksionis dimana alam dipandang sebagai bagian yang terpisah pisah dan diangap serupa dengan mesin yang dimanipulasi sesuai keinginan manusia. Perubahan ekosistem alami jadi monokultur untuk mendapatkan produk industri seperti sawit yang memberikan pendapatan jangka pendek dengan mengorbankan integritas lingkungan seperti kejernihan air dan biota biota  lain di situ adalah dampak dari penerapan ini dimana lahan adalah mesin pencetak komoditas bukan sebagai penopang habitat untuk keragaman hayati yang tidak dijumpai di tempat lain di bumi, menjalankan siklus air , sumber makanan dan  bagian dari kearifan komunitas. Tanah, mikroba pada humus, hewan, sungai, tanaman dan komunitas yang tinggal di situ adalah suatu kesatuan yang saling terhubung.

Alam tidak bekerja seperti mesin dimana bila seseorang ingin mesinnya bekerja lebih berat dan lebih cepat, harus dimodifikasi bentuk dan ukurannnya. dan diperbesar kapasitasnya. Di lingkungan alam , sebagai contoh bila ekosistem bakau diubah jadi tambak dan pemukiman pesisir berskala besar, akan terjadi efek yang tidak diinginkan seperti pengikisan air laut ke daratan (abrasi)dan penyusupan air laut ke dalam tanah (intrusi). Kemudian, tambak dan pemukiman yang tidak memiliki fasilitas penyaluran dan pengolahan limbah yang memadai akan mencemari laut.  Lalu ada efek sosial dimana rakyat yang hidup dari bakau secara langsung maupun tidak langsung kehilangan mata pencahariannya. Perubahan ekosistem hutan bakau di  atas terjadi karena manusia memandang lingkungan hidup dari satu dimensi yaitu uang sehingga mengabaikan efek beruntun yang terjadi berikutnya.

Dalam masyarakat , prinsip interkonektivitas seperti alam dengan efek beruntun juga berlaku. Contohnya , kasus jembatan roboh akibat buruknya kontruksi menyebabkan kecelakaan yang menguras harta benda bahkan nyawa. Selain itu koneksi antar wilayah jadi terhambat yang mengakibatkan penyaluran barang dan jasa tidak tercapai. Ini menyebabkan perekonomian terganggu. Kemudian harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaiki atau bangun jembatan yang sama. Ini salah satu pemborosan akibat kelalaian dalam proses pengerjaan, rancangan yang kurang tepat, hingga korupsi anggaran pembangunan yang mana kualitas materialnya dipilih yang lebih rendah. Kasus jembatan roboh disebabkan diskoneksi antar manusia dimana si pekerja, kontraktor, arsitek dan pembuat kebijakan terdiskoneksi dengan sesama manusia sehingga hanya peduli dengan dirinya sendiri tidak pertimbangkan dampak yang terjadi pada orang banyak.

Koneksi Tak Terpisahkan dari Tiga Elemen

Jika kita berada di taman dekat danau yang jernih menikmati bunga yang banyak warna dan memancarkan keharuman sambil menyantap kopi dan teh serta memakan hidangan sore, akan terungkap bahwa semua itu terbentuk berkat kombinasi tiga elemen yang tak terpisahkan di planet bumi. Koneksi tiga elemen ini yang membuat kehidupan di bumi terus berlangsung dan menjadi dasar dari peradaban manusia.  Tiga hal yang saling terkoneksi  yaitu tanah yang hidup, air dan sinar matahari. Dari tanah yang kaya dengan materi organik dan mikroorganisme , rumput untuk makanan ternak, bunga dengan kecantikannya herba untuk obat-obatan dan sayuran, dan pohon untuk diambil buah serta kayunya sebagai bahan bangunan menjadi tempat berpijak baginya. Ia menjadi tempat untuk mendapatkan nutrisi seperti manusia memperoleh makanan.

Air merupakan elemen vital bagi semua mahluk hidup dan menentukan kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan dan organisme di tanah. Air merupakan elemen untuk mengolah nutrisi menjadi zat zat yang berguna. Lebih dari 50% tubuh mahluk hidup tersusun atas air dan setiap hari tubuh tersebut mengeluarkan air melalui organ ekskresi dan kulit agar suhu tubuh terjaga sehingga air merupakan unsur utama penyambung kehidupan.  Air yang ada di daratan dan kita gunakan sehari hari dibentuk dari siklus hidrologi. Hujan adalah hasil  koneksi antara air tawar, air laut dan sinar matahari yang membentuk siklus hidrologi. Bagi semua mahluk hidup di darat siklus hidrologi merupakan penghasil air tawar yang digunakan tiap hari. Air sebagai elemen paling penting bagi kehidupan  diperoleh dari kombinasi siklus alam yaitu penguapan dari laut yang membentuk awan. Lalu awan tersebut bergerak ke daratan mengembun. Embun ini yang membentuk hujan dan membasahi daratan. Kemudian tanah yang kaya humus, materi organik dan keragaman tanaman di suatu tempat menjaga cadangan air yang jatuh dari langit atau mengalir menuruni pegunungan membuat sungai mengalir sepanjang tahun dan air tanah diperbaharui. Yang tidak mengalir terkumpul dalam suatu cekungan dan membentuk danau.

Saat kita perhatikan vitalnya hujan dalam membasahi daratan sehingga berwarna hijau dan di masa ketika mayoritas penduduk adalah bertani momen seperti ini yang paling ditunggu. Koneksi antara air dan tanah dibuktikan dengan kondisi air tawar yang ada. Tanah yang kaya humus dan banyak airnya lengket dan berwarna gelap. Sedangkan di tanah yang tandus air tawarnya cenderung menipis dan tidak diperbaharui. Ketika hutan gundul atau berubah jadi monokultur dengan satu jenis tanaman, air terkuras karena tanaman itu hanya mengonsumsinya saja. Lalu tanah tersebut jadi seperti debu dan mudah tererosi.

Tanah yang jadi tempat berpijak dan air sebagai pemberi kehidupan,  berikutnya adalah sinar matahari dimana elemen tersebut berperan sama pentingnya dengan dua elemen di atas. Tanaman di darat dan plankton di laut berfotosintesis memanfaatkan cahaya matahari menghasilkan nutrisi bagi mahluk lain. Tidak ada cahaya matahari membuat tanaman tidak dapat hidup.   Kombinasi dari tiga element ini menentukan kelangsungan hidup. Jika tidak ada air maka semua organisme akan mati. Jika matahari berhenti bersinar tidak ada nutrisi dan oksigen bahkan hampir tidak dapat bernafas karena makanan dan oksigen dihasilkan oleh tumbuhan dan plankton. Jika tanah itu rusak parah, hanya segelintir organisme yang hidup layak. Itulah sebabnya konektivitas tanah , air dan sinar matahari adalah sesuatu yang paling berharga bagi semua orang apapun keyakinan dan pemikiran yang dianutnya.

Membangun Kontektivitas Manusia dengan Alam dan Sesamanya

Merupakan hal yang sulit di zaman sekarang untuk mewujudkan itu dimana manusia sudah terasing dari satu sama lain. Kemudian terasing dari alam hingga tidak menyadari hal hal di atas. Teknologi memperparah keterasingan ini dimana manusia lebih dekat kepada yang jauh dan larut dalam dunia tidak penting seperti hiburan  dan fiksi hingga mengabaikan hal hal yang nyata dan vital bagi masyarakat dan planet bumi. Lingkungan modern dimana kita hidup cenderung mengecilkan kesadaran diri manusia terhadap elemen vital seperti tanah dan air tawar. Perhatikan degradasi tanah dan menipisnya air yang tidak disadari karena dipikir makanan dan air tersedia terus saat membayar.

Di Indonesia, ekosistem hutan, sawah, sungai, gunung, laut dan kota saling terkait satu sama lain. Kita yang tinggal di kota memakan ikan sarden dan tongkol yang berasal dari lautan. Beras dan jerami diperoleh dengan mengairi lahan dengan menggunakan air dari tanah, hujan dan sungai. Bahan baku kursi dan meja adalah tanaman hutan. Hutan di pegunungan menjadi sumber mata air penting jutaan penduduk di bawahnya bahkan di perkotaan.  Inilah bukti bahwa hidup kita tidak terlepas dari ekosistem alam.

Membangun konektivitas dimulai dari pergeseran paradigma yang bersifat terpisah pisah dimana telah dianut selama lima abad yang menyebabkan berbagai kerusakan ini karena hanya mengejar segelintir tujuan dengan mengabaikan efek yang terjadi berikutnya seperti kasus kebun sawit dengan paradigma holistik yang mana faktor faktor sosial, ekonomi, tanah, air, keragaman hayati dan komunitas menjadi pertimbangan dalam mendirikan suatu proyek.

Kedua, menyadari bahwa ekonomi yang paling esensial dari manusia dan mahluk hidup adalah ekonomi yang berbasis pada kombinasi matahari, tanah yang hidup dan air. Maksudnya sebagai berikut ini:

“Segala kehidupan di bumi itu ditopang oleh tanah, air dan matahari. Perekonomian manusia yang utama yaitu pangan , sandang dan papan bahkan rekreasi , pendidikan dan kesehatan berasal dari kombinasi tiga faktor itu secara langsung maupun tidak langsung. Padi dan ikan sarden yang menghasilkan beras, protein hewani, dan produk turunan seperti jerami yang digunakan untuk bahan kerajinan hidup berkat sinar matahari, air dan tanah. Padi memperoleh kehidupan dari kombinasi unsur hara tanah, pengairan dan sinar matahari. Dalam kasus ikan sarden, dia mendapat makanan dari plankton yang memanfaatkan nutrient dari dasar laut yang muncul ke permukaan dan mengolahnya dengan sinar matahari seperti tanaman padi.

Kemudian dalam aspek rekreasi dan pendidikan, kita mengamati produk seni rupa, tempat rekreasi, peralatan kesenian dan musik serta bangku dan meja tulis berasal dari kayu pepohonan yang tidak terpisahkan  dengan kombinasi surya, tanah dan air. Beberapa spesies tanaman berkayu ini juga dimanfaatkan getah , nira, buah dan daunnya dan mungkin ada lagi manfaat yang muncul di kemudian hari. Lalu, jika kita berlibur ke taman nasional menikmati keindahan terumbu karang, satwa liar yang berukuran besar, bunga yang berwarna warni, dan air  yang jernih semuanya ditopang oleh kombinasi tiga faktor utama. Bahkan di masa depan nanti dimana energi surya disemarakkan, seseorang yang merasa dirinya terpisah dari tiga faktor itu akan menyadari bahwa ia tidak akan hidup tanpa sinar matahari. Semua ini merupakan dasar dari perekonomian yang sejati bukan seperti sekarang dimana basisnya adalah uang fiat yang berbasis utang dicetak oleh bank sentral dan disahkan oleh pemerintah dan nilai uang itu dijadikan tolak ukur keberhasilan ekonomi bukan kelestarian konektivitas tiga faktor esensial”.

Ketiga, pengelolaan hutan, ekosistem air tawar, padang penggembalaan, pantai , lautan, perikanan, lahan pertanian, satwa liar , kualitas udara dan masyarakat secara holistik dan partisipatif. Semua hal di atas mulai dari hutan hingga masyarakat saling terhubung. Ketika salah pengelolaan hutan, dapat  muncul erosi yang menyebabkan keruhnya sungai dan bibir pantai. Kepunahan satwa liar amat rentan karena habitatnya hilang. Masyarakat menderita banjir, tanah longsor, kekeringan bahkan wabah penyakit.  Ingat bahwa semua hal di atas bersifat saling terhubung antar komponennya. Pengelolaan yang salah memicu efek beruntun yang tidak terduga.

Saat ini pembagian ilmu pengetahuan yang semakin terspesialisasi membuat komunikasi menjadi sulit sehingga sering muncul hal hal di atas. Ahli ekonomi menginginkan pertumbuhan PDB yang positif sehingga harus ditebang pohonnya. Lalu pakar kehutanan menginginkan hutan produksi industri dengan tujuan dapat kayu  N ton tiap hektar sekali panen. Ahli konservasi dan lingkungan menentangnya karena ingin melestarikan satwa liar dan biota yang mereka sayangi dan kadang kurang peduli dengan kehidupan komunitas lokal karena bukan bidangnya. Komunitas setempat dipandang sebelah mata oleh pakar ekonomi dan kehutanan karena hidupnya bukan berbasis industri  serta kurang diajak partisipasi untuk melestarikan satwa hutan karena tidak punya pengetahuan formal. Dalam hal ini masyarakat harus tahu dan sadar akan hal hal di atas. Penguatan kesadaran secara efektif dilakukan dengan partisipasi. Inilah hakekat utama dari demokrasi partisipatif. Jadi pengelolaan yang holistik adalah pengelolaan yang memperhatikan kondisi tanah, air (termasuk laut), keragaman hayati dan sistem sosial. Allan Savory , seorang penggembala ternak dan biolog satwa liar meringkas kontek holistik pengelolaan hal hal di atas sebagai berikut:

“Semua orang ingin keluarga yang stabil, kehidupan yang damai dan layak, rasa aman sambil punya kebebasan untuk menjalankan keyakinan spiritual. Makanan bernutrisi yang berkecukupan dan air bersih. Menikmati pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan hidup seimbang dengan waktu untuk keluarga, teman dan komunitas serta hiburan untuk budaya( kesenian ) dan tujuan lain yang mirip. Semuanya terjamin selama bergenerasi generasi yang akan datang , dengan berdasarkan pada kesuburan tanah dan keragaman hayati di daratan, sungai, danau dan lautan”. [T]

Tags: lingkunganSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Next Post

“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

“Rizoma” | Pameran Empat Perupa di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co