4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

IG Mardi Yasa by IG Mardi Yasa
March 31, 2021
in Esai
Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Foto: Jayen Photography

Perempuan juga berarti wanita. Wanita juga berarti ibu. Ibu bisa jadi akronim dari Insting Budi Utama. Yang berarti seorang perempuan memiliki insting yang sangat utama.

Dengan berkembangnya sosial media yang semakin marak saat ini, maka seiring itu pula banyak perempuan yang menggunakan sosial media untuk menonjolkan dan mencitrakan diri. Itu sah-sah saja. Namun, yang agaknya adalah perempuan menonjolkan dirinya dalam  berpakaian, seakan-akan pakaian hal paling penting dalam hidup ini. Misalnya, banyak perempuan yang melihatkan dirinya dengan menggunakan pakaian serba mini dengan gaya kebarat-baratan.

Perempuan terlihat anggun atau tidak bukan hanya dilihat dari penampilan, tapi dari tingkah laku yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, perempuan dengan pakaian sopan pun bisa menarik perhatian. Kewajiaban menjadi seorang perempuan tidak hanya dalam hal penampilan. Ada hal lebih penting, misalnya perempuan mampu menjaga kesuciannya sebagai seorang perempuan.

Perempuan dalam Sastra

Mari kita lihat salah satu buku yang mungkin menjadi tolak ukur dalam keseharian seorang perempuan. Buku tersebut ialah kekawin Ramayana jilid II pada kakawin LAKṢMĪWATĪ. Yang berbunyi:


Kěmbang jěnūttama wěḍihana malit marū,

Rangkang hěmās jamanika biddhanāga lén,

Molěs tilām wara taruni warāpsarī,

lakṣmīwatī mrědu paḍa paṇḍité siwo.


Terjemahan:

Bunga, pupur, kain sutra halus dan harum,

Balai emas, tirai serta sangkutanya berbentuk naga,

Kasur yang empuk serta para wanita muda remaja bagaikan bidadari yang utama,

Semuanya cantik-cantik, lemah lembut semuanya ahli dalam bercumbu.

(Tim Penyusun, 2001:376)


Melihat kutipan di atas diungkapkan bahwa wanita itu semuanya cantik dan mampu untuk berhias diri sesuai dengan kemampuanya. Di sana juga diungkapkan bahwa wanita itu bagaikan seorang bidadari yang mempunyai rupa yang cantik serta bagaikan seorang wanita yang utama. Akan tetapi, pikiran saya merasa terganggu dengan kata bercumbu. Bercumbu apakah yang dimaksud?

Untuk mamastikan hal itu saya mencoba untuk mencari di KBBI secara online dalam KBBI dungkapkan bahwa bercumbu merupakan bersenda gurau, berkelakar. Namun, saya tetap masih ambigu dengan maksud tersebut. Ataukah memang ia seperti itu, saya tidak dapat memastikanya secara pasti.

Jlantik, 1982:11, menjelaskan betapa beratnya menjadi seorang perempuan yang harus melakonin kehidupan sehari-hari dan berbakti kepada seorang laki-laki yang konon sebagai guru. Melihat hal seperti itu, dalam bukunya dijelaskan dalam bentuk sebuah  Pupuh Sinom: XVI:4. Yang berbunyi:

Aketo masih sahimbang, beratan anake istri, duk bajang patut tan hima, muruk  mangayahin laki, cara bakti ring sang aji, baktine ring kakung pungkur, aketo reko patutnya, reh lakine kaadanin, guru kakung, sangkan twara nyandang ampah.

[…Jika dilihat dari keseimbangannya, bahwa  brata seorang perempuan, ketika masih muda tidak boleh melakukan hal yang hina, belajarlah untuk melayani seoarang laki-laki, sama dengan menghargai Sang Aji berbaktilah sampai akhir hayat, begitulah yang sebenarnya, yang seperti itu, laki-laki namanya, Guru Kakung, itulah sebabnya tidak boleh ragu…]

Dari kutipan di atas dapat kita ketahui bahwa sejatinya menjadi seorang perepuan itu sangatlah suasah karena harus melakukan  berata. Selain melakukan  berata, harus berbakti kepada sorang laki-laki karena laki-laki adalah seorang guru. Namun, guru yang seperti mana yang dimaksud belum dapat dipastikan. Itulah sebabnya ketika menjadi seorang perempuan harus berbakti serta mampu untuk melakukan  berata untuk menjaga kesuciannya. Berata yang dimaksud adalah mampu untuk mengendalikan hawa nafsu dari sebuah rayuan yang berbau manis dan penuh nafsu.

Mode Pakaian yang Silih Berganti.

Dalam keseharian kita tidak terlepas dari adanya sebuah gaya pakian. Yang mana pakian dapat mempercantik dan dapat menarik perhatian orang-orang. Selain itu, dapat memikat suatu pandang lawan jenis ataupun sejenis. Dengan perkembangan zaman yang semakin marak yang dapat mengubah semua tatanan. Tidak hanya mengubah tatanan kehidupan, salah satu tatanan yang diubah adalah mode pakaian.

Dari foto-foto masa lalu  dapat kita ketahui bahwa pada zaman dulu di 1970-an hanya menggunakan kain sebagai penutup badan. Di era globalisasi saat ini pakaian adat yang semestinya dipakai dengan benar dan patut untuk dikembangkan. Karena sejatinya pakaian adat Bali pada khususnya sudah diatur dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Mode pakaian adat pun mesti disesuaikan pada zaman sekarang. Pakaian yang digunakan dalam acara kundangan atau menghadiri resepsi tentu saja berbeda dengan pakaian yang dipergunakan ke Pura atau tempat suci.  Jadi pakaian memang harus disesuaikan dengan ruang, waktu dan keadaaan, bukan semata-mata sesuai dengan keinginan  [T]                                                                                                     

Bibliography:

  • Jlantik, Ida Ketut.1982.Geguritan Sucita II.Denpasar.Cv.Kayu Agung.
  • https://kbbi.web.id/cumbu.html
  • Tim Penyusun.2001.Kekawin Ramāyana Jilid II.Denpasar.Dapertemen Agama RI (Kanwil Dapertemen Agama Provinsi Bali)
Tags: balimodepakaianPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harapan dan Kematian: Simbiosis Angga Wijaya

Next Post

Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

IG Mardi Yasa

IG Mardi Yasa

Lahir dan besar dan tinggal di Bukit Tunggal, sekarang sedang menempuh pendidikan.

Related Posts

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails
Next Post
Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Interkonektivitas | Dari Lukisan “All Being are Connected”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co