2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harapan dan Kematian: Simbiosis Angga Wijaya

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
March 31, 2021
in Ulasan
Harapan dan Kematian: Simbiosis Angga Wijaya

Ilustrasi pada sampul buku Menulis Halusinasi karya Angga Wijaya

Tahun 2020 adalah tahun istimewa. Bukan karena kembar angka yang menandainya, melainkan karena peristiwa yang terjadi di dalamnya. Pandemi Covid-19 menunda nyaris semua rencana manusia, memaksa kita menata ulang cara-cara kita berhadapan dengan kenyataan. Pada proses penataan ulang itu kita berhadapan dengan dua kemungkinan yang bertolak belakang: putusnya harapan atau terbitnya harapan baru.

Situasi spekulatif tersebut menebalkan peran empat pilar dalam medan kehidupan kita: sains, agama, filsafat, dan seni. Kita menengok ke sains untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Kita menengok ke agama untuk mencari pegangan di tengah keadaan yang belum terjelaskan. Kita menimbang filsafat untuk menjawab sekaligus memproduksi pertanyaan-pertanyaan perihal posisi kemanusiaan kita. Dan kita berpaling ke dalam seni guna memberi ruang bagi kompleksitas ekspresi yang terpendam dalam diri kita.

Abad 21 baru berjalan tak sampai seperempatnya, namun pandemi telah memaksa kita membongkar peti sejarah untuk mencari tahu apakah hal semacam ini pernah terjadi. Sebagian kita mungkin lega beroleh informasi bahwa wabah ini tak seganas wabah yang terjadi di abad-abad lampau ketika ilmu pengetahuan belum berkembang seperti sekarang. Sayangnya, tak ada satupun situasi, baik alamiah maupun buatan, yang bisa membuat kita dengan persis membandingkan situasi masa lalu dan masa kini ketika pada kenyataannya kita hanya mampu merasakan masa kini. Dengan kata lain, penderitaan (sebagaimana kebahagiaan) tak bisa dibandingkan. Sementara ketika kita menarik garis baik dari masa lalu ke masa kini, maupun sebaliknya, suka atau tidak kita juga akan menarik garis ke masa depan. Pada garis inilah putus atau terbitnya harapan sama-sama dimungkinkan.

Di antara keempat pilar tadi, adalah seni yang paling egaliter dalam memberikan kesempatan bagi ekspresi atas kedua kemungkinan itu, baik yang berpihak pada harapan maupun sebaliknya. Seni sebetulnya tak pernah benar-benar institusional, seni bergerak dari wilayah personal ke wilayah sosial, meski pada medium-medium tertentu dia dibatasi oleh alat ekspresinya sendiri. Sepanjang 2020 banyak karya maupun acara seni di seluruh dunia diciptakan dan berlangsung untuk merespons pandemi dan spektrum di seputarnya, dan karenanya beririsan juga dengan tegangan antara putus dan terbitnya harapan.

Album puisi Menulis Halusinasi karya Angga Wijaya ini nampaknya juga berada di medan itu. Hampir semua puisi di dalamnya ditulis tahun 2020 dan langsung atau tidak berhubungan dengan pandemi Covid-19 sehingga tak terhindarkan pula masuk dalam situasi tegangan antara putus atau terbitnya harapan. Dalam puisi-puisinya, Angga tak berambisi menyusun, meretakkan, atau memelintir bahasa guna menghasilkan efek-efek imaji tertentu. Sebagai penyair Angga memperlakukan bahasa dengan sederhana. Strategi itu memungkinkan kita dapat melihat (dan merasakan) dengan jelas bahwa di dalam puisi-puisi tersebut sedang berlangsung pertarungan sang subjek dengan situasi di sekitarnya untuk menentukan posisi dalam hubungannya dengan putus atau terbitnya harapan.

Dalam puisi-puisi Angga kata ‘harapan’ sering muncul, tapi itu tidak menunjukkan posisinya yang kokoh; Harapan kurasa tak ada lagi/Lari atau hadapi kenyataan (“Kerinduan Doa-doa”), Kita semua akan mati/Bukan oleh penyakit/Tapi karena padamnya/bara harapan (“Kematian Penyair”), Harapan.Hanya itu yang kini tersisa./Kulihat senyum mengembang pagi ini. (“Secangkir Kopi untuk Pak Nyoman”), Kota Semakin sepi, tak ada harapan lagi (“Menulis Halusinasi”), Adakah kau rasakan itu, Kekasih? Kita pecinta sejati.Harapan datang, (“Di Canggu, Sajak Ini Untukmu”).

Dari kutipan-kutipan itu kita bisa melihat betapa harapan terayun-ayun antara ‘padam’ atau ‘tak ada lagi’ dengan yang ‘tersisa’ atau (yang) ‘datang’. Harapan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang pasti sebagai representasi dari optimisme yang sering tidak realistis. Harapan sesungguhnya dikepung oleh fitur-fitur lain yang terus-menerus mencoba mereduksi keberadaannya. Di antara fitur-fitur itu, ‘kematian’ adalah yang paling rajin. Dalam hal ini, puisi-puisi Angga menempatkan ‘kematian’ jauh lebih pasti ketimbang ‘harapan’; Pengarang sudah mati,/walau tubuh masih sehat./Mata tak nanar lagi melihat/kenyataan hidup tak adil (“Kematian Penyair”), Perawat diam menangis/Kematian di depan mata (“Jika Corona Berlalu”), Berita kematian terus hadir di telinga (“Suatu Hari di Tahun Epidemi”), Kata-kata bagiku hanyalah kematian (“Berpisah di Persimpangan Jalan”).

‘Kematian’ dalam kutipan-kutipan itu betul-betul pasti, baik sudah maupun akan, dan ia hadir terus-menerus dengan kemantapan yang tak tergoyahkan. ‘Kematian’ dan ‘harapan’ mengambil posisi berbaku punggung; harapan tak pernah secara verbal dikatakan mati, dan kematian tak pernah disebut akan mendatangkan harapan. Keduanya seolah dua sisi dari jalan melingkar yang tampaknya tak bersinggungan; kita sibuk menjaga harapan meski kita tahu pasti kematian datang/pada malam yang asing/dan bising oleh kata-kata (“Kematian Penyair”).

Sikap itu tampak absurdis –harapan adalah batu di tangan Sisifus dan kematian adalah bukit itu. Namun, jika harapan dan kematian beradu punggung maka akan terbentuk garis/ruang di antara punggung-punggung tersebut, garis/ruang itu tiada lain adalah kehidupan. Kata ‘hidup’ dalam puisi-puisi Angga hadir lebih banyak ketimbang ‘harapan’ atau ‘kematian’. Berbeda dengan keduanya, ‘hidup’ bukanlah sesuatu yang ‘telah’ atau ‘akan’ (berlangsung), ‘hidup’ adalah sesuatu yang ‘sedang’ (berlangsung). Dengan kerangka seperti itu puisi-puisi Angga menempatkan ‘harapan’ dan ‘kematian’dalam suatu simbiosis yang dimungkinkan oleh adanya kehidupan. Maka keduanya bukanlah ‘benda’ (bukan ‘batu’ atau ‘bukit’) melainkan peristiwa ulang-alik (terdaki dan terturuni, terangkat dan tergelinding) yang meski identik, tak pernah benar-benar sama.

Pandemi Covid-19 mendesak kita untuk memperbarui situasi simbiosis tersebut. Seluruh manusia yang sebelumnya tampak terpecah-pecah dalam perbedaan suku, ras, agama, negara, dan kelas sosial saat ini berada dalam medan yang sama, berupaya sekuat bisa dengan bermacam variasi pemikiran, sikap, tindakan, kesepakatan, pertentangan, bahkan benturan untuk kembali dapat ‘menjalani’ kehidupan dengan wajar.

Sebagai deus dari puisi-puisinya, Angga Wijaya telah menciptakan subjek yang ‘menjalani’ kehidupan untuk mencapai titik kewajaran. Maka wajar pula jika Angga mengambil bahan-bahan -dan lalu mengabstraksinya- dari kehidupannya sendiri. ‘Menjalani’ kehidupan adalah pilihan yang ditempuh leluhur-leluhur kita, sehingga kita bisa berada di sini, saat ini, menjalani pula kehidupan ini. [T]

  • Tulisan di atas adalah kata pengantar untuk buku kumpulan puisi ‘Menulis Halusinasi’ karya Angga Wijaya yang baru saja terbit.

Tags: kumpulan puisiPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu | Cerpen Leo Tolstoy

Next Post

Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Perempuan Bali | Sastra dan Mode Berpakaian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co