2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
November 5, 2024
in Esai
Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

LANGSUNG saja kita kembali ke tahun 2010, empat belas tahun yang lalu, ketika saya mulai menonton timnas sepak bola Indonesia. Indonesia baru saja mendatangakan Alfred Riedl pada Piala AFF 2010 dengan pemain cukup komplet seperti Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Irfan Bachdim, hingga pemain naturalisasi dan bomber di Liga Indonesia, Cristian Gonzales—dan, dengan demikian, banyak yang menyebut ini merupakan tim terbaik di turnamen yang dulu bernama Piala Tiger itu.

Tetapi sebutan “tim terbaik” itu nyatanya hanya gombongan kepada tim nasional sepak bola yang nyaris setengah abad hanya menjadi pecundang di jagat sepak bola dunia—atau lebih dari seperempat abad di turnamen Asia Tenggara tersebut. Di final Piala AFF 2010, terlepas dari kasuk-kusuk di luar lapangan, jelas menambah gelar pecundang itu, bagaimana timnas kita seolah pendulum yang tak pernah menyentuh puncak lagi sejak tahun 1991.  Fakta, titik, akhir cerita.

Dari waktu ke waktu timnas hanya berputar-putar bak gasing di dasar dalam kebingungan, kekonyolan berulang, dan senyum busuk politikus yang menjadi benalu dalam tubuh PSSI kala itu, yang jelas membikin mual dan darah tinggi. Kita bisa berjilid-jilid menulis makian kepada PSSI dan segala kroni-nya. Beruntung waktu itu saya baru saja lulus SMP dan belum tahu apa-apa soal ini—bahkan tak tahu sosok Nurdin Halid yang brengsek itu.

Timnas Indonesia tercatat lolos ke babak final Piala AFF sebanyak enam kali (2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020), tapi tidak pernah berhasil mengangkat satu pun trofinya. Tapi sekarang, kabarnya, Piala AFF bukan lagi prioritas—sebagaimana sering digaungkan PSSI dan para konten kreator, yang nggak kreatif-kreatif amat itu, bahwa kini Asia Tenggara bukan lagi habitat yang cocok bagi timnas, melainkan Eropa. Taik. Sebuah kecongakan yang tak tahu diri!

Dan hadirnya Shin Tae-yong dan beberapa pemain naturalisasi yang terlalu diglorifikasi itu, dan sejak PSSI dipegang Erick Thohir, publik sepak bola Indonesia seolah mendapat secercah harapan. Sejak 2020 melatih, Tae-yong langsung membawa timnas melaju ke final Piala AFF untuk yang kesekian. Lagi-lagi, kita merasa ada harapan. Waktu itu Indonesia menang atas tuan rumah Singapura di semifinal lewat drama dua leg yang dramatis. Tapi dasar pecundang, Thailand-lah juaranya. Sekali lagi, kita patah hati.

Saat ini timnas sedang berjuang di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Kita masuk di putaran ketiga dan satu grup (C) bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China. Empat pertandingan telah dijalani. Tiga imbang dan satu kalah. Dan di pertengahan bulan ini, Indonesia akan menjamu Jepang dan Arab Saudi di GBK. Kekalahan dari China 2-1 bulan lalu adalah patah hati yang kesekian.

Artinya, menonton Timnas Indonesia selama ini sepertinya merupakan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Ia semacam kelainan psikis yang berbahaya bagi kesehatan emosi dan perasaan. Timnas Indonesia dihubungkan oleh serangkaian narasi kekalahan—frasa yang Mahfud Ikhawan pakai untuk judul sebuah tulisan yang menggambarkan kekalahan Indonesia dari Malaysia di Sea Games 2011. Lebih banyak buruk dan sedihnya dibanding bahagianya.

Meski demikian, penonton timnas tampaknya adalah jenis manusia yang kebal akan patah hati. Sudah berkali-kali “tersakiti” tapi masih saja menggantungkan harapan kepadanya. Dan mengutip kata Darmanto Simaepa dalam Setengah Abad Menjadi Pecundang (2018), “publik sepakbola Indonesia adalah pecundang yang tawakal. Kita nyaris tahu timnas akan dibantai lawan, kalah dengan cara yang buruk, atau gagal di final oleh lawan yang tak lebih bagus, namun kita terus bertahan dengan harapan akan adanya kemungkinan akhir yang bahagia.”

Tapi itulah sepak bola. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Keajaiban bisa saja datang dari tim busuk dalam sebuah turnamen yang berhasil mencundangi jagoan favorit dengan pemain bintang macam Italia yang kalah lawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002—terlepas aroma kecurangannya yang terjadi.

Sepak bola seperti karya sastra, cerpen atau novel. Ia mengandung plot, tokoh, emosi, drama, dan tak jarang terjadi ending yang mengejutkan, tak tertebak. Karena itulah barangkali ia disukai. Dan di Indonesia, sepak bola adalah olahraga dengan jumlah pentonton terbanyak, meski timnas selalu dirundung oleh kegagalan demi kegagalan.

Lalu banyak orang bertanya kenapa bisa selalu gagal? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung dari mana jawaban itu datang. PSSI menilai masalah datang dari kualitas pelatih dan pemain. Lainnya menuding karena skema dan pengelola liga. Pengamat berkata itu karena pembibitan pemain muda yang belum maksimal. Dan tak jarang luasnya wilayah menjadi kambing hitam.

Sementara, kata Darmanto, bagi orang yang mudah putus asa bisa dengan gampang menyimpulkan bahwa kepecundangan sepakbola Indonesia dikarenakan akumulasi dan komplikasi semua masalah yang bisa kita sebut. Ini adalah cara yang paling gampang dan tak perlu pikir panjang. Setiap alasan sudah pasti akan dibenarkan oleh fakta bahwa kita memang tak pernah menang—dalam arti membanggakan.

Kalau soal federasi yang busuk dan brengsek, negara-negara di Amerika Latin jelas lebih parah daripada kita. Tapi Brazil dan Argentina bisa jadi raksasa—bahkan penguasa—sepak bola. Atau sepak bola di negara-negara Amerika Tengah dan di Afrika “juga diurus oleh orang-orang yang sama buruknya, tapi mereka lumayan berprestasi. Kompetisi sepakbola Mesir juga lebih tidak teratur, penuh kekerasan, namun mereka toh menjadi juara Piala Afrika dan kini ada di Piala Dunia,” kata Darmanto.

Pertanyaan kenapa sepak bola Indonesia seperti begini-begini saja jelas sebuah pertanyaan yang sia-sia sebab kita hanya akan mendapat jawaban yang begini-begini lagi, saling tuding-menuding mencari kambing hitam, hanya sekadar asumsi-asumsi sambil tipis-tipis berusaha menyalahkan satu sama lain.

Meski kritis, bukan berarti timnas dan kita sebagai publik sepak bola kehilangan harapan, apalagi peluang di ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 masih terbuka dan jika dalam dua pertandingan di kandang pada hari mendatang Indonesia meraih tren positif, bisa jadi ini adalah, seperti yang sering dikatakan orang-orang, mementum kebangkitan sepak bola Indonesia.

Kemenangan timnas hari-hari ini, atau barangkali juga yang sudah-sudah, bukan saja sekadar poin di klasmen, tapi bisa jadi kemenangan atau obat penawar rakyat (kolektif) dari banyak kekalahan dalam bidang-bidang lain, khususnya politik dan ekonomi. Kemenangan itu bisa jadi semakin berarti. Meski, sekali lagi, menonton dan mencintai timnas Indonesia adalah kecenderungan menyakiti diri sendiri.[T]

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air
Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang
Bola Bukan (Pertaruhan) Nyawa…
Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik
Tags: Piala AFFPiala DuniaSEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”

Next Post

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co