2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
November 5, 2024
in Esai
Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

LANGSUNG saja kita kembali ke tahun 2010, empat belas tahun yang lalu, ketika saya mulai menonton timnas sepak bola Indonesia. Indonesia baru saja mendatangakan Alfred Riedl pada Piala AFF 2010 dengan pemain cukup komplet seperti Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Irfan Bachdim, hingga pemain naturalisasi dan bomber di Liga Indonesia, Cristian Gonzales—dan, dengan demikian, banyak yang menyebut ini merupakan tim terbaik di turnamen yang dulu bernama Piala Tiger itu.

Tetapi sebutan “tim terbaik” itu nyatanya hanya gombongan kepada tim nasional sepak bola yang nyaris setengah abad hanya menjadi pecundang di jagat sepak bola dunia—atau lebih dari seperempat abad di turnamen Asia Tenggara tersebut. Di final Piala AFF 2010, terlepas dari kasuk-kusuk di luar lapangan, jelas menambah gelar pecundang itu, bagaimana timnas kita seolah pendulum yang tak pernah menyentuh puncak lagi sejak tahun 1991.  Fakta, titik, akhir cerita.

Dari waktu ke waktu timnas hanya berputar-putar bak gasing di dasar dalam kebingungan, kekonyolan berulang, dan senyum busuk politikus yang menjadi benalu dalam tubuh PSSI kala itu, yang jelas membikin mual dan darah tinggi. Kita bisa berjilid-jilid menulis makian kepada PSSI dan segala kroni-nya. Beruntung waktu itu saya baru saja lulus SMP dan belum tahu apa-apa soal ini—bahkan tak tahu sosok Nurdin Halid yang brengsek itu.

Timnas Indonesia tercatat lolos ke babak final Piala AFF sebanyak enam kali (2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020), tapi tidak pernah berhasil mengangkat satu pun trofinya. Tapi sekarang, kabarnya, Piala AFF bukan lagi prioritas—sebagaimana sering digaungkan PSSI dan para konten kreator, yang nggak kreatif-kreatif amat itu, bahwa kini Asia Tenggara bukan lagi habitat yang cocok bagi timnas, melainkan Eropa. Taik. Sebuah kecongakan yang tak tahu diri!

Dan hadirnya Shin Tae-yong dan beberapa pemain naturalisasi yang terlalu diglorifikasi itu, dan sejak PSSI dipegang Erick Thohir, publik sepak bola Indonesia seolah mendapat secercah harapan. Sejak 2020 melatih, Tae-yong langsung membawa timnas melaju ke final Piala AFF untuk yang kesekian. Lagi-lagi, kita merasa ada harapan. Waktu itu Indonesia menang atas tuan rumah Singapura di semifinal lewat drama dua leg yang dramatis. Tapi dasar pecundang, Thailand-lah juaranya. Sekali lagi, kita patah hati.

Saat ini timnas sedang berjuang di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Kita masuk di putaran ketiga dan satu grup (C) bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China. Empat pertandingan telah dijalani. Tiga imbang dan satu kalah. Dan di pertengahan bulan ini, Indonesia akan menjamu Jepang dan Arab Saudi di GBK. Kekalahan dari China 2-1 bulan lalu adalah patah hati yang kesekian.

Artinya, menonton Timnas Indonesia selama ini sepertinya merupakan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Ia semacam kelainan psikis yang berbahaya bagi kesehatan emosi dan perasaan. Timnas Indonesia dihubungkan oleh serangkaian narasi kekalahan—frasa yang Mahfud Ikhawan pakai untuk judul sebuah tulisan yang menggambarkan kekalahan Indonesia dari Malaysia di Sea Games 2011. Lebih banyak buruk dan sedihnya dibanding bahagianya.

Meski demikian, penonton timnas tampaknya adalah jenis manusia yang kebal akan patah hati. Sudah berkali-kali “tersakiti” tapi masih saja menggantungkan harapan kepadanya. Dan mengutip kata Darmanto Simaepa dalam Setengah Abad Menjadi Pecundang (2018), “publik sepakbola Indonesia adalah pecundang yang tawakal. Kita nyaris tahu timnas akan dibantai lawan, kalah dengan cara yang buruk, atau gagal di final oleh lawan yang tak lebih bagus, namun kita terus bertahan dengan harapan akan adanya kemungkinan akhir yang bahagia.”

Tapi itulah sepak bola. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Keajaiban bisa saja datang dari tim busuk dalam sebuah turnamen yang berhasil mencundangi jagoan favorit dengan pemain bintang macam Italia yang kalah lawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002—terlepas aroma kecurangannya yang terjadi.

Sepak bola seperti karya sastra, cerpen atau novel. Ia mengandung plot, tokoh, emosi, drama, dan tak jarang terjadi ending yang mengejutkan, tak tertebak. Karena itulah barangkali ia disukai. Dan di Indonesia, sepak bola adalah olahraga dengan jumlah pentonton terbanyak, meski timnas selalu dirundung oleh kegagalan demi kegagalan.

Lalu banyak orang bertanya kenapa bisa selalu gagal? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung dari mana jawaban itu datang. PSSI menilai masalah datang dari kualitas pelatih dan pemain. Lainnya menuding karena skema dan pengelola liga. Pengamat berkata itu karena pembibitan pemain muda yang belum maksimal. Dan tak jarang luasnya wilayah menjadi kambing hitam.

Sementara, kata Darmanto, bagi orang yang mudah putus asa bisa dengan gampang menyimpulkan bahwa kepecundangan sepakbola Indonesia dikarenakan akumulasi dan komplikasi semua masalah yang bisa kita sebut. Ini adalah cara yang paling gampang dan tak perlu pikir panjang. Setiap alasan sudah pasti akan dibenarkan oleh fakta bahwa kita memang tak pernah menang—dalam arti membanggakan.

Kalau soal federasi yang busuk dan brengsek, negara-negara di Amerika Latin jelas lebih parah daripada kita. Tapi Brazil dan Argentina bisa jadi raksasa—bahkan penguasa—sepak bola. Atau sepak bola di negara-negara Amerika Tengah dan di Afrika “juga diurus oleh orang-orang yang sama buruknya, tapi mereka lumayan berprestasi. Kompetisi sepakbola Mesir juga lebih tidak teratur, penuh kekerasan, namun mereka toh menjadi juara Piala Afrika dan kini ada di Piala Dunia,” kata Darmanto.

Pertanyaan kenapa sepak bola Indonesia seperti begini-begini saja jelas sebuah pertanyaan yang sia-sia sebab kita hanya akan mendapat jawaban yang begini-begini lagi, saling tuding-menuding mencari kambing hitam, hanya sekadar asumsi-asumsi sambil tipis-tipis berusaha menyalahkan satu sama lain.

Meski kritis, bukan berarti timnas dan kita sebagai publik sepak bola kehilangan harapan, apalagi peluang di ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 masih terbuka dan jika dalam dua pertandingan di kandang pada hari mendatang Indonesia meraih tren positif, bisa jadi ini adalah, seperti yang sering dikatakan orang-orang, mementum kebangkitan sepak bola Indonesia.

Kemenangan timnas hari-hari ini, atau barangkali juga yang sudah-sudah, bukan saja sekadar poin di klasmen, tapi bisa jadi kemenangan atau obat penawar rakyat (kolektif) dari banyak kekalahan dalam bidang-bidang lain, khususnya politik dan ekonomi. Kemenangan itu bisa jadi semakin berarti. Meski, sekali lagi, menonton dan mencintai timnas Indonesia adalah kecenderungan menyakiti diri sendiri.[T]

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air
Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang
Bola Bukan (Pertaruhan) Nyawa…
Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik
Tags: Piala AFFPiala DuniaSEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”

Next Post

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co