12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
November 5, 2024
in Esai
Menonton Timnas Indonesia Adalah Kecenderungan Menyakiti Diri Sendiri

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

LANGSUNG saja kita kembali ke tahun 2010, empat belas tahun yang lalu, ketika saya mulai menonton timnas sepak bola Indonesia. Indonesia baru saja mendatangakan Alfred Riedl pada Piala AFF 2010 dengan pemain cukup komplet seperti Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Irfan Bachdim, hingga pemain naturalisasi dan bomber di Liga Indonesia, Cristian Gonzales—dan, dengan demikian, banyak yang menyebut ini merupakan tim terbaik di turnamen yang dulu bernama Piala Tiger itu.

Tetapi sebutan “tim terbaik” itu nyatanya hanya gombongan kepada tim nasional sepak bola yang nyaris setengah abad hanya menjadi pecundang di jagat sepak bola dunia—atau lebih dari seperempat abad di turnamen Asia Tenggara tersebut. Di final Piala AFF 2010, terlepas dari kasuk-kusuk di luar lapangan, jelas menambah gelar pecundang itu, bagaimana timnas kita seolah pendulum yang tak pernah menyentuh puncak lagi sejak tahun 1991.  Fakta, titik, akhir cerita.

Dari waktu ke waktu timnas hanya berputar-putar bak gasing di dasar dalam kebingungan, kekonyolan berulang, dan senyum busuk politikus yang menjadi benalu dalam tubuh PSSI kala itu, yang jelas membikin mual dan darah tinggi. Kita bisa berjilid-jilid menulis makian kepada PSSI dan segala kroni-nya. Beruntung waktu itu saya baru saja lulus SMP dan belum tahu apa-apa soal ini—bahkan tak tahu sosok Nurdin Halid yang brengsek itu.

Timnas Indonesia tercatat lolos ke babak final Piala AFF sebanyak enam kali (2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020), tapi tidak pernah berhasil mengangkat satu pun trofinya. Tapi sekarang, kabarnya, Piala AFF bukan lagi prioritas—sebagaimana sering digaungkan PSSI dan para konten kreator, yang nggak kreatif-kreatif amat itu, bahwa kini Asia Tenggara bukan lagi habitat yang cocok bagi timnas, melainkan Eropa. Taik. Sebuah kecongakan yang tak tahu diri!

Dan hadirnya Shin Tae-yong dan beberapa pemain naturalisasi yang terlalu diglorifikasi itu, dan sejak PSSI dipegang Erick Thohir, publik sepak bola Indonesia seolah mendapat secercah harapan. Sejak 2020 melatih, Tae-yong langsung membawa timnas melaju ke final Piala AFF untuk yang kesekian. Lagi-lagi, kita merasa ada harapan. Waktu itu Indonesia menang atas tuan rumah Singapura di semifinal lewat drama dua leg yang dramatis. Tapi dasar pecundang, Thailand-lah juaranya. Sekali lagi, kita patah hati.

Saat ini timnas sedang berjuang di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Kita masuk di putaran ketiga dan satu grup (C) bersama Jepang, Australia, Arab Saudi, Bahrain, dan China. Empat pertandingan telah dijalani. Tiga imbang dan satu kalah. Dan di pertengahan bulan ini, Indonesia akan menjamu Jepang dan Arab Saudi di GBK. Kekalahan dari China 2-1 bulan lalu adalah patah hati yang kesekian.

Artinya, menonton Timnas Indonesia selama ini sepertinya merupakan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Ia semacam kelainan psikis yang berbahaya bagi kesehatan emosi dan perasaan. Timnas Indonesia dihubungkan oleh serangkaian narasi kekalahan—frasa yang Mahfud Ikhawan pakai untuk judul sebuah tulisan yang menggambarkan kekalahan Indonesia dari Malaysia di Sea Games 2011. Lebih banyak buruk dan sedihnya dibanding bahagianya.

Meski demikian, penonton timnas tampaknya adalah jenis manusia yang kebal akan patah hati. Sudah berkali-kali “tersakiti” tapi masih saja menggantungkan harapan kepadanya. Dan mengutip kata Darmanto Simaepa dalam Setengah Abad Menjadi Pecundang (2018), “publik sepakbola Indonesia adalah pecundang yang tawakal. Kita nyaris tahu timnas akan dibantai lawan, kalah dengan cara yang buruk, atau gagal di final oleh lawan yang tak lebih bagus, namun kita terus bertahan dengan harapan akan adanya kemungkinan akhir yang bahagia.”

Tapi itulah sepak bola. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Keajaiban bisa saja datang dari tim busuk dalam sebuah turnamen yang berhasil mencundangi jagoan favorit dengan pemain bintang macam Italia yang kalah lawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002—terlepas aroma kecurangannya yang terjadi.

Sepak bola seperti karya sastra, cerpen atau novel. Ia mengandung plot, tokoh, emosi, drama, dan tak jarang terjadi ending yang mengejutkan, tak tertebak. Karena itulah barangkali ia disukai. Dan di Indonesia, sepak bola adalah olahraga dengan jumlah pentonton terbanyak, meski timnas selalu dirundung oleh kegagalan demi kegagalan.

Lalu banyak orang bertanya kenapa bisa selalu gagal? Jawabannya bisa berbeda-beda, tergantung dari mana jawaban itu datang. PSSI menilai masalah datang dari kualitas pelatih dan pemain. Lainnya menuding karena skema dan pengelola liga. Pengamat berkata itu karena pembibitan pemain muda yang belum maksimal. Dan tak jarang luasnya wilayah menjadi kambing hitam.

Sementara, kata Darmanto, bagi orang yang mudah putus asa bisa dengan gampang menyimpulkan bahwa kepecundangan sepakbola Indonesia dikarenakan akumulasi dan komplikasi semua masalah yang bisa kita sebut. Ini adalah cara yang paling gampang dan tak perlu pikir panjang. Setiap alasan sudah pasti akan dibenarkan oleh fakta bahwa kita memang tak pernah menang—dalam arti membanggakan.

Kalau soal federasi yang busuk dan brengsek, negara-negara di Amerika Latin jelas lebih parah daripada kita. Tapi Brazil dan Argentina bisa jadi raksasa—bahkan penguasa—sepak bola. Atau sepak bola di negara-negara Amerika Tengah dan di Afrika “juga diurus oleh orang-orang yang sama buruknya, tapi mereka lumayan berprestasi. Kompetisi sepakbola Mesir juga lebih tidak teratur, penuh kekerasan, namun mereka toh menjadi juara Piala Afrika dan kini ada di Piala Dunia,” kata Darmanto.

Pertanyaan kenapa sepak bola Indonesia seperti begini-begini saja jelas sebuah pertanyaan yang sia-sia sebab kita hanya akan mendapat jawaban yang begini-begini lagi, saling tuding-menuding mencari kambing hitam, hanya sekadar asumsi-asumsi sambil tipis-tipis berusaha menyalahkan satu sama lain.

Meski kritis, bukan berarti timnas dan kita sebagai publik sepak bola kehilangan harapan, apalagi peluang di ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 masih terbuka dan jika dalam dua pertandingan di kandang pada hari mendatang Indonesia meraih tren positif, bisa jadi ini adalah, seperti yang sering dikatakan orang-orang, mementum kebangkitan sepak bola Indonesia.

Kemenangan timnas hari-hari ini, atau barangkali juga yang sudah-sudah, bukan saja sekadar poin di klasmen, tapi bisa jadi kemenangan atau obat penawar rakyat (kolektif) dari banyak kekalahan dalam bidang-bidang lain, khususnya politik dan ekonomi. Kemenangan itu bisa jadi semakin berarti. Meski, sekali lagi, menonton dan mencintai timnas Indonesia adalah kecenderungan menyakiti diri sendiri.[T]

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api
Tarian Indah Bernama Sepakbola dan Nasibnya di Tanah Air
Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang
Bola Bukan (Pertaruhan) Nyawa…
Liga Camplung Sepak Bola Kampung: Taktik dan Mistik
Tags: Piala AFFPiala DuniaSEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menguak Janji Prabowo jadikan Bali sebagai “The New Hong Kong”

Next Post

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Uji Publik Calon Pemimpin Bali di Undiksha: Setumpuk Masalah di Bali, dari Bandara sampai Sumber Daya Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co