2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Yabes Roni (kanan) disambut Irfan Bachdim (kiri) usai mencetak gol kedua bagi Bali United pada laga uji coba Bali United lawan Persib Bandung di GBLA, Sabtu (8/4/2017)/ Foto: www.baliutd.com

LUAR biasa baru kali ini melihat semangat I Gede Sukadana bermain sepak bola selama berseragam Bali United. Karakter pantang menyerah diperagakan dalam laga penuh drama antara Bali Unitedmeladeni tuan rumah Persib Bandung, Sabtu 8 April 2017, malam. Meski laga bertajuk uji coba yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini tak ubahnya pertunjukan para pahlawan Bali melawan penjajah.

Melihat pentas malam itu, seolah jiwa para gerilyawan Bali United bak disusupi bara puputan yang menggelora di tengah lautan api. Diprediksi bakal kalah bertandang di tanah Sunda, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) menang 1-2. Perlu diingat, Persib Bandung adalah tim kuat digadang-gadangkan bakal menjadi juara Liga Indonesia 2017.

Laga itu juga disaksikan ribuan suporter fanatik Persib “Bobotoh” dan “Viking”. Istimewanya Persib memainkan pemain termahal di Indonesia bertitel marquee player Michael Essien. Ya, pemain yang pernah membela klub top Eropa di antaranya Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan. Lebih istimewa lagi, sejak menit ke-73, Bali United harus bermain 10 orang karena Yabes Roni diusir wasit setelah insiden tendangan ke arah sang mega bintang Essien.

Malam sejarah baru bagi Bali United. Namun, bagi pendukung tuan rumah seperti fans Nirvana yang meratap penuh ketidakpercayaan bahwa sang idola Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya tepat pada 8 April 1994 lalu.

Lalu; Sukadana malam itu menguasai peran barunya gelandang bertahan dari biasanya gelandang serang. Pemain asal Pegok, Sesetan, Denpasar ini tampak garang. Ia tak segan-segan beradu fisik hingga emosi dengan pemain tuan rumah. Dan benar saja, ia beberapa terlibat adu mulut dan hampir terlibat perseteruandengan gelandang pengangkut air “Maung” Bandung, Hariono.

Hanya Sukadana? Tentu tidak. Nama lain yang tak kalah moncernya dalam laga malam itu, I Made Andhika Pradana Wijaya. Ontong, panggilan akrab Andhika Wijaya yang notebene putra legenda hidup sepak bola Bali I Made Pasek Wijaya ini mampu menjaga daerahnya dari gempuran barisan penyerang Persib. Ontong tampak lugas menyapu meski ia berstatus pemain promosi. Pemain yang beroperasi di jantung pertahanan kiri Bali United mampu mematikan sayap lincah Persib Febri.

Begitu juga kiper I Kadek Wardana patut diacungi jempol. Ia mampu mengamankan gawangnya hingga menit-menit terakhir. Tak gentar dengan incaran eksekusi bola mati ala Essien. Mau bukti lain, pada menit ke-64, Bli Kadek mempelihatkan kelasnya. Ia mampu menyapu bersih bola berbahaya yang masih dikontrol pemain Persib Atep. Meski akhirnya ia harus memungut bola dari gawangnya setelah pada menit ke-87 sepakan keras Maitimo tak bisa ia jangkau.

Dalam balutan rasa bangga tidak perlu ragu dan setuju nama Irfan Bachdim pantas dielu-elukan. Betapa tidak, pemain kelahiran Belanda ini adalah pencipta petaka bagi sang tuan rumah. Pada menit ke-14 habitus Bali United menciptakan gol perdana sejak berseragam hitam-putih-merah. Melalui akselerasi kilat, hampir setengah lapangan Bachdim menggiring bola ke kotak penalti Persib. Lalu diselesaikan dengan tendangan cannonball.

Yabes Roni, satu nama menjadi bintang duel malam itu. Yabes menciptakan gol kedua bagi Bali United di menit 68. Melalui skema counter full speed ala Yabes dilanjutkan umpan silang ke Hamdi yang terbuka. Hamdi shooting, ditepis kiper Persib M Natsir. Namun bola muntah, ditendang Yabes dan gol.

Namun bukan karena gol itu yang mungkin akan selalu diingat Essien dan pencinta sepak bola Tanah Air. Namun insiden tendang bola Yabes mengenai Essien. Debut perdana Essien di Indonesia “tercoreng”. Essien mengejar penuh emosi setelah terkena bola tendangan anak muda asal NTT itu. Yabes lalu diganjar kartu merah dan diusir wasit. Setelah laga itu, Essien dan Yabes menjadi trending topic mengalahkan skor akhir pertandingan. Beritanya bukan hanya ramai di Indonesia, namun merambah media-media luar negeri.

Siapa Pahlawan

Nah, siapa sebenarnya pahlawan dalam laga itu? Sukadana? Ontong? Bli Kadek, Bachdim, ataukah Yabes? Atau juru taktik pelatih Bali United Hans Peter Schaller? Yapria asal Austria ini memberikan sentuhan magis skema 4-1-4-1 dan motivasi sehingga mampu meredam Persib yang berkarakter bermain lebih agresif. Pemain cadangan, suporter, atau pemilik klub? Kalau itu hitungan hanya di tengah lapangan maka sudah cukup man of match atau pemain yang paling menonjol perannya dalam sebuah laga itu. Mari kita telisik pahlawan itu.

Dalam KBBI,kata pahlawan/pah·la·wan/ termasuk kata bendayang berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran, pejuang gagah berani. (Tulisan ini pun sengaja ditulis berapi-api, daya kobar). Sedangkan bahasa Inggris pahlawan disebut “hero” sosok legendaris dalam mitologi yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberanian dan kemampuan, serta diakui keturunan dewa. Juga sosok yang selalu membela kebenaran.

Ada juga yang mendefinisikan pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya yang memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Mumpung masih hangat, kita lihat tulisan Gde Aryantha Soethama dalam buku “Menitip Mayat di Bali” (Kompas: 2016). Dalam esainya “Pahlawan Puputan” ada identifikasi gambaran pahlawan dan hakikat puputan. Ia menyebutkan pahlawan lazimnya lahir dalam perang, ketika situasi onar, dan saat kawan atau lawan susah diukur. Dalam kemelut, ketika harapan terus-menerus didengung-dengungkan, seseorang bisa muncul menjadi pahlawan. Zaman kacau-balau, hiruk-pikuk, penuh sumpah serapah, di situlah pahlawan-pahlawan lahir, muncul menjadi sosok yang dielu-elukan. Kepahlawanan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberanian, tetapi juga kekuasaan.

Lantas apakah ada pahlawan dalam laga sepak bola? Atau sekadar mitos?

Hakikat puputan lebih jelas diulas. Puputan, bagi orang Bali, menjadi perang paling dahsyat. Puputan Badung, Margarana, Klungkung adalah puncak perang. Puputan menjadi sejarah perang yang tidak hanya membahas tentang serangan, bukan sekadar perihal serbuan untuk merampas, tidak pula tentang kegigihan bertahan.

Puputan menurutnya adalah klimaks sebuah perang. Kalah menang bukan lagi persoalan. Sikap satria adalam puputan, kendati harus terkapar kalah, jauh lebih dihargai tinimbang keberhasilan menikam musuh atau kemahiran menyusun strategi. Apakah para pemain Bali United memiliki punya jiwa puputan? (T)

Tags: bali unitedpahlawansepakbola
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Seperti Nonton Drama, Bali Ikut Deg-degan Menunggu Ending Pilkada DKI

Next Post

Jero Nyoman Franklin

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Jero Nyoman Franklin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co