14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Yabes Roni (kanan) disambut Irfan Bachdim (kiri) usai mencetak gol kedua bagi Bali United pada laga uji coba Bali United lawan Persib Bandung di GBLA, Sabtu (8/4/2017)/ Foto: www.baliutd.com

LUAR biasa baru kali ini melihat semangat I Gede Sukadana bermain sepak bola selama berseragam Bali United. Karakter pantang menyerah diperagakan dalam laga penuh drama antara Bali Unitedmeladeni tuan rumah Persib Bandung, Sabtu 8 April 2017, malam. Meski laga bertajuk uji coba yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini tak ubahnya pertunjukan para pahlawan Bali melawan penjajah.

Melihat pentas malam itu, seolah jiwa para gerilyawan Bali United bak disusupi bara puputan yang menggelora di tengah lautan api. Diprediksi bakal kalah bertandang di tanah Sunda, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) menang 1-2. Perlu diingat, Persib Bandung adalah tim kuat digadang-gadangkan bakal menjadi juara Liga Indonesia 2017.

Laga itu juga disaksikan ribuan suporter fanatik Persib “Bobotoh” dan “Viking”. Istimewanya Persib memainkan pemain termahal di Indonesia bertitel marquee player Michael Essien. Ya, pemain yang pernah membela klub top Eropa di antaranya Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan. Lebih istimewa lagi, sejak menit ke-73, Bali United harus bermain 10 orang karena Yabes Roni diusir wasit setelah insiden tendangan ke arah sang mega bintang Essien.

Malam sejarah baru bagi Bali United. Namun, bagi pendukung tuan rumah seperti fans Nirvana yang meratap penuh ketidakpercayaan bahwa sang idola Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya tepat pada 8 April 1994 lalu.

Lalu; Sukadana malam itu menguasai peran barunya gelandang bertahan dari biasanya gelandang serang. Pemain asal Pegok, Sesetan, Denpasar ini tampak garang. Ia tak segan-segan beradu fisik hingga emosi dengan pemain tuan rumah. Dan benar saja, ia beberapa terlibat adu mulut dan hampir terlibat perseteruandengan gelandang pengangkut air “Maung” Bandung, Hariono.

Hanya Sukadana? Tentu tidak. Nama lain yang tak kalah moncernya dalam laga malam itu, I Made Andhika Pradana Wijaya. Ontong, panggilan akrab Andhika Wijaya yang notebene putra legenda hidup sepak bola Bali I Made Pasek Wijaya ini mampu menjaga daerahnya dari gempuran barisan penyerang Persib. Ontong tampak lugas menyapu meski ia berstatus pemain promosi. Pemain yang beroperasi di jantung pertahanan kiri Bali United mampu mematikan sayap lincah Persib Febri.

Begitu juga kiper I Kadek Wardana patut diacungi jempol. Ia mampu mengamankan gawangnya hingga menit-menit terakhir. Tak gentar dengan incaran eksekusi bola mati ala Essien. Mau bukti lain, pada menit ke-64, Bli Kadek mempelihatkan kelasnya. Ia mampu menyapu bersih bola berbahaya yang masih dikontrol pemain Persib Atep. Meski akhirnya ia harus memungut bola dari gawangnya setelah pada menit ke-87 sepakan keras Maitimo tak bisa ia jangkau.

Dalam balutan rasa bangga tidak perlu ragu dan setuju nama Irfan Bachdim pantas dielu-elukan. Betapa tidak, pemain kelahiran Belanda ini adalah pencipta petaka bagi sang tuan rumah. Pada menit ke-14 habitus Bali United menciptakan gol perdana sejak berseragam hitam-putih-merah. Melalui akselerasi kilat, hampir setengah lapangan Bachdim menggiring bola ke kotak penalti Persib. Lalu diselesaikan dengan tendangan cannonball.

Yabes Roni, satu nama menjadi bintang duel malam itu. Yabes menciptakan gol kedua bagi Bali United di menit 68. Melalui skema counter full speed ala Yabes dilanjutkan umpan silang ke Hamdi yang terbuka. Hamdi shooting, ditepis kiper Persib M Natsir. Namun bola muntah, ditendang Yabes dan gol.

Namun bukan karena gol itu yang mungkin akan selalu diingat Essien dan pencinta sepak bola Tanah Air. Namun insiden tendang bola Yabes mengenai Essien. Debut perdana Essien di Indonesia “tercoreng”. Essien mengejar penuh emosi setelah terkena bola tendangan anak muda asal NTT itu. Yabes lalu diganjar kartu merah dan diusir wasit. Setelah laga itu, Essien dan Yabes menjadi trending topic mengalahkan skor akhir pertandingan. Beritanya bukan hanya ramai di Indonesia, namun merambah media-media luar negeri.

Siapa Pahlawan

Nah, siapa sebenarnya pahlawan dalam laga itu? Sukadana? Ontong? Bli Kadek, Bachdim, ataukah Yabes? Atau juru taktik pelatih Bali United Hans Peter Schaller? Yapria asal Austria ini memberikan sentuhan magis skema 4-1-4-1 dan motivasi sehingga mampu meredam Persib yang berkarakter bermain lebih agresif. Pemain cadangan, suporter, atau pemilik klub? Kalau itu hitungan hanya di tengah lapangan maka sudah cukup man of match atau pemain yang paling menonjol perannya dalam sebuah laga itu. Mari kita telisik pahlawan itu.

Dalam KBBI,kata pahlawan/pah·la·wan/ termasuk kata bendayang berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran, pejuang gagah berani. (Tulisan ini pun sengaja ditulis berapi-api, daya kobar). Sedangkan bahasa Inggris pahlawan disebut “hero” sosok legendaris dalam mitologi yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberanian dan kemampuan, serta diakui keturunan dewa. Juga sosok yang selalu membela kebenaran.

Ada juga yang mendefinisikan pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya yang memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Mumpung masih hangat, kita lihat tulisan Gde Aryantha Soethama dalam buku “Menitip Mayat di Bali” (Kompas: 2016). Dalam esainya “Pahlawan Puputan” ada identifikasi gambaran pahlawan dan hakikat puputan. Ia menyebutkan pahlawan lazimnya lahir dalam perang, ketika situasi onar, dan saat kawan atau lawan susah diukur. Dalam kemelut, ketika harapan terus-menerus didengung-dengungkan, seseorang bisa muncul menjadi pahlawan. Zaman kacau-balau, hiruk-pikuk, penuh sumpah serapah, di situlah pahlawan-pahlawan lahir, muncul menjadi sosok yang dielu-elukan. Kepahlawanan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberanian, tetapi juga kekuasaan.

Lantas apakah ada pahlawan dalam laga sepak bola? Atau sekadar mitos?

Hakikat puputan lebih jelas diulas. Puputan, bagi orang Bali, menjadi perang paling dahsyat. Puputan Badung, Margarana, Klungkung adalah puncak perang. Puputan menjadi sejarah perang yang tidak hanya membahas tentang serangan, bukan sekadar perihal serbuan untuk merampas, tidak pula tentang kegigihan bertahan.

Puputan menurutnya adalah klimaks sebuah perang. Kalah menang bukan lagi persoalan. Sikap satria adalam puputan, kendati harus terkapar kalah, jauh lebih dihargai tinimbang keberhasilan menikam musuh atau kemahiran menyusun strategi. Apakah para pemain Bali United memiliki punya jiwa puputan? (T)

Tags: bali unitedpahlawansepakbola
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Seperti Nonton Drama, Bali Ikut Deg-degan Menunggu Ending Pilkada DKI

Next Post

Jero Nyoman Franklin

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post

Jero Nyoman Franklin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co