12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepak Bola dan Mitos Pahlawan – Catatan Bara Puputan di Gelora Bandung Lautan Api

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Yabes Roni (kanan) disambut Irfan Bachdim (kiri) usai mencetak gol kedua bagi Bali United pada laga uji coba Bali United lawan Persib Bandung di GBLA, Sabtu (8/4/2017)/ Foto: www.baliutd.com

LUAR biasa baru kali ini melihat semangat I Gede Sukadana bermain sepak bola selama berseragam Bali United. Karakter pantang menyerah diperagakan dalam laga penuh drama antara Bali Unitedmeladeni tuan rumah Persib Bandung, Sabtu 8 April 2017, malam. Meski laga bertajuk uji coba yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini tak ubahnya pertunjukan para pahlawan Bali melawan penjajah.

Melihat pentas malam itu, seolah jiwa para gerilyawan Bali United bak disusupi bara puputan yang menggelora di tengah lautan api. Diprediksi bakal kalah bertandang di tanah Sunda, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) menang 1-2. Perlu diingat, Persib Bandung adalah tim kuat digadang-gadangkan bakal menjadi juara Liga Indonesia 2017.

Laga itu juga disaksikan ribuan suporter fanatik Persib “Bobotoh” dan “Viking”. Istimewanya Persib memainkan pemain termahal di Indonesia bertitel marquee player Michael Essien. Ya, pemain yang pernah membela klub top Eropa di antaranya Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan. Lebih istimewa lagi, sejak menit ke-73, Bali United harus bermain 10 orang karena Yabes Roni diusir wasit setelah insiden tendangan ke arah sang mega bintang Essien.

Malam sejarah baru bagi Bali United. Namun, bagi pendukung tuan rumah seperti fans Nirvana yang meratap penuh ketidakpercayaan bahwa sang idola Kurt Cobain ditemukan tewas di rumahnya tepat pada 8 April 1994 lalu.

Lalu; Sukadana malam itu menguasai peran barunya gelandang bertahan dari biasanya gelandang serang. Pemain asal Pegok, Sesetan, Denpasar ini tampak garang. Ia tak segan-segan beradu fisik hingga emosi dengan pemain tuan rumah. Dan benar saja, ia beberapa terlibat adu mulut dan hampir terlibat perseteruandengan gelandang pengangkut air “Maung” Bandung, Hariono.

Hanya Sukadana? Tentu tidak. Nama lain yang tak kalah moncernya dalam laga malam itu, I Made Andhika Pradana Wijaya. Ontong, panggilan akrab Andhika Wijaya yang notebene putra legenda hidup sepak bola Bali I Made Pasek Wijaya ini mampu menjaga daerahnya dari gempuran barisan penyerang Persib. Ontong tampak lugas menyapu meski ia berstatus pemain promosi. Pemain yang beroperasi di jantung pertahanan kiri Bali United mampu mematikan sayap lincah Persib Febri.

Begitu juga kiper I Kadek Wardana patut diacungi jempol. Ia mampu mengamankan gawangnya hingga menit-menit terakhir. Tak gentar dengan incaran eksekusi bola mati ala Essien. Mau bukti lain, pada menit ke-64, Bli Kadek mempelihatkan kelasnya. Ia mampu menyapu bersih bola berbahaya yang masih dikontrol pemain Persib Atep. Meski akhirnya ia harus memungut bola dari gawangnya setelah pada menit ke-87 sepakan keras Maitimo tak bisa ia jangkau.

Dalam balutan rasa bangga tidak perlu ragu dan setuju nama Irfan Bachdim pantas dielu-elukan. Betapa tidak, pemain kelahiran Belanda ini adalah pencipta petaka bagi sang tuan rumah. Pada menit ke-14 habitus Bali United menciptakan gol perdana sejak berseragam hitam-putih-merah. Melalui akselerasi kilat, hampir setengah lapangan Bachdim menggiring bola ke kotak penalti Persib. Lalu diselesaikan dengan tendangan cannonball.

Yabes Roni, satu nama menjadi bintang duel malam itu. Yabes menciptakan gol kedua bagi Bali United di menit 68. Melalui skema counter full speed ala Yabes dilanjutkan umpan silang ke Hamdi yang terbuka. Hamdi shooting, ditepis kiper Persib M Natsir. Namun bola muntah, ditendang Yabes dan gol.

Namun bukan karena gol itu yang mungkin akan selalu diingat Essien dan pencinta sepak bola Tanah Air. Namun insiden tendang bola Yabes mengenai Essien. Debut perdana Essien di Indonesia “tercoreng”. Essien mengejar penuh emosi setelah terkena bola tendangan anak muda asal NTT itu. Yabes lalu diganjar kartu merah dan diusir wasit. Setelah laga itu, Essien dan Yabes menjadi trending topic mengalahkan skor akhir pertandingan. Beritanya bukan hanya ramai di Indonesia, namun merambah media-media luar negeri.

Siapa Pahlawan

Nah, siapa sebenarnya pahlawan dalam laga itu? Sukadana? Ontong? Bli Kadek, Bachdim, ataukah Yabes? Atau juru taktik pelatih Bali United Hans Peter Schaller? Yapria asal Austria ini memberikan sentuhan magis skema 4-1-4-1 dan motivasi sehingga mampu meredam Persib yang berkarakter bermain lebih agresif. Pemain cadangan, suporter, atau pemilik klub? Kalau itu hitungan hanya di tengah lapangan maka sudah cukup man of match atau pemain yang paling menonjol perannya dalam sebuah laga itu. Mari kita telisik pahlawan itu.

Dalam KBBI,kata pahlawan/pah·la·wan/ termasuk kata bendayang berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran, pejuang gagah berani. (Tulisan ini pun sengaja ditulis berapi-api, daya kobar). Sedangkan bahasa Inggris pahlawan disebut “hero” sosok legendaris dalam mitologi yang memiliki kekuatan luar biasa. Keberanian dan kemampuan, serta diakui keturunan dewa. Juga sosok yang selalu membela kebenaran.

Ada juga yang mendefinisikan pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya yang memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.

Mumpung masih hangat, kita lihat tulisan Gde Aryantha Soethama dalam buku “Menitip Mayat di Bali” (Kompas: 2016). Dalam esainya “Pahlawan Puputan” ada identifikasi gambaran pahlawan dan hakikat puputan. Ia menyebutkan pahlawan lazimnya lahir dalam perang, ketika situasi onar, dan saat kawan atau lawan susah diukur. Dalam kemelut, ketika harapan terus-menerus didengung-dengungkan, seseorang bisa muncul menjadi pahlawan. Zaman kacau-balau, hiruk-pikuk, penuh sumpah serapah, di situlah pahlawan-pahlawan lahir, muncul menjadi sosok yang dielu-elukan. Kepahlawanan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberanian, tetapi juga kekuasaan.

Lantas apakah ada pahlawan dalam laga sepak bola? Atau sekadar mitos?

Hakikat puputan lebih jelas diulas. Puputan, bagi orang Bali, menjadi perang paling dahsyat. Puputan Badung, Margarana, Klungkung adalah puncak perang. Puputan menjadi sejarah perang yang tidak hanya membahas tentang serangan, bukan sekadar perihal serbuan untuk merampas, tidak pula tentang kegigihan bertahan.

Puputan menurutnya adalah klimaks sebuah perang. Kalah menang bukan lagi persoalan. Sikap satria adalam puputan, kendati harus terkapar kalah, jauh lebih dihargai tinimbang keberhasilan menikam musuh atau kemahiran menyusun strategi. Apakah para pemain Bali United memiliki punya jiwa puputan? (T)

Tags: bali unitedpahlawansepakbola
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Seperti Nonton Drama, Bali Ikut Deg-degan Menunggu Ending Pilkada DKI

Next Post

Jero Nyoman Franklin

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Jero Nyoman Franklin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co