6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus by Didin Tulus
October 30, 2024
in Tualang
Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus

JAM menunjukkan pukul 05.45 Waktu Indonesia bagian Tengah ketika saya tiba di terminal Ubung, Denpasarm Bali. Rasanya seperti mimpi, akhirnya saya menginjakkan kaki di pulau ini.

Ini untuk pertama kali saya ke Bali. Saya senang bukan main. Saya merasa sudah sampai pada tujuan.  

Namun ternyata perjalanan baru saja dimulai. Dengan jantung berdebar, saya segera mengirim pesan singkat ke Kang Sigit, kenalan sekaligus mentor yang tahu seluk-beluk Bali.

“Kang, saya sudah sampai Denpasar!” tulis saya dengan antusiasme yang nyaris tak tertahan.

Tak butuh waktu lama, telepon dari Kang Sigit berdering, suaranya terdengar penuh tanya, “Kamu di mana? Mau ke mana? Sama siapa?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya bisa saya jawab singkat, “Sendirian, Kang.” Lalu telepon terputus.

Kang Sigit adalah panggilan saya untuk Sigit Susanto. Ia penulis buku yang memang sudah terbiasa berada di Bali. Ia tinggal di wilayah Batubulan, Gianyar.

Beberapa detik kemudian telepon berdering lagi. “Kamu beneran di Denpasar? Mau ke mana?” lanjutnya, masih terkesan ragu.

Saya memberanikan diri menjawab, “Ke Buleleng, Kang. Ada acara bedah buku di sana!” Namun jawaban Kang Sigit seketika membuat saya bingung, “Din, Buleleng itu jauh, Din!”

Saya terhenyak sekilas. Saya pikir jarak Buleleng tidak begitu jauh dari Denpasar.

Saya menghela napas dalam-dalam, berpikir, “Wah, ini sudah terlanjur nekat!”

Kang Sigit pun cepat-cepat memberi instruksi, “Kamu turun saja dulu. Nanti saya jemput. Jangan ke mana-mana!”

Sebetulnya saat itu saya sudah berada di dalam mobil Elf yang baru saja berjalan sekitar 20 menit. Saya sudah bayar ongkos Rp 20.000, tetapi demi memastikan ada yang menjemput, akhirnya saya turun dan merelakan ongkos yang tak kembali.

Dengan langkah pasrah, saya duduk di atas rumput di pinggir jalan, menyaksikan hiruk-pikuk Denpasar yang tak jauh beda dengan keramaian Bandung, tempat saya tinggal.

Bali memang jauh dari rumah, tapi kedatangan saya ke sini bukan sekadar mimpi atau dongeng. Rasanya, saya benar-benar ingin hadir di acara bedah buku di Buleleng itu dan membuktikan bahwa saya bisa menaklukkan Bali, meski tanpa arah yang pasti.

***

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya jemputan tiba. Bukan Kang Sigit langsung yang datang, tetapi seorang teman yang diutusnya, membawa motor. Saya akhirnya dibawa ke rumah Kang Sigit di Batubulan.

Begitu bertemu, ia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita perjalanan saya. “Saya kira kamu bercanda, Din, ternyata beneran datang ke Bali,” katanya sambil tertawa puas.

Berfoto di depan Pura Tanah Lot di Bali | Foto: Dok. Didin

Beberapa minggu kemudian, setelah saya kembali ke Bandung, pesan dari Kang Sigit mampir lagi di ponsel saya. “Hai Didin, Sang Penakluk Bali, apa kabar?”

Hah, disebut “penakluk Bali” memang terdengar lucu, namun dalam hati saya merasa sedikit bangga. Perjalanan penuh nekat itu ternyata punya kisah yang bakal selalu saya kenang.

***

Sore itu, dari rumah Kang Sigit saya diajak jalan-jalan ke wilayah Batubulan dan sekitarnya. Kami sempat mampir ke warung sirup yang menyegarkan di tengah cuaca panas. Rasa manis sirup itu memang mengobati haus, namun perjalanan tak berhenti sampai di situ.

Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah yang hijau, namun suasana mendadak mencekam saat gerombolan anjing liar mulai menggonggong keras di sekitar kami.

Saya merasa jantung ini hampir saja loncat keluar saking takutnya, apalagi ketika beberapa anjing semakin mendekat. “Tenang saja, nggak apa-apa,” kata Kang Sigit berusaha menenangkan.

Namun hati saya tetap berdebar kencang, walaupun akhirnya gerombolan anjing itu hanya menggonggong dan tak menyerang.

Di rumah Kang Sigit, ketakutan belum juga reda. Di halaman, dua anjing besar menyambut dengan gonggongan keras. Saya refleks berlari ke dalam rumah, nyaris menabrak seseorang yang kebetulan sedang lewat di lorong. Sesampainya di lantai atas, akhirnya anjing-anjing itu berhenti menggonggong, dan saya duduk berusaha menenangkan diri sambil mengusap keringat dingin.

Pengalaman itu sungguh menegangkan, namun kini terasa lucu saat diingat kembali.

Saya akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman di rumah Kang Sigit, mengobrol santai sambil menyeruput kopi hangat. Kami berbincang tentang berbagai hal, termasuk kejadian-kejadian kocak dalam perjalanan.

Saya menceritakan kisah tentang tas yang tertinggal di bis Damri ketika pertama kali sampai di Bali. Kang Sigit tertawa lepas mendengar cerita itu.

Keesokan paginya, seorang tokoh yang cukup saya kagumi, Puthut Ea, datang. Kang Puthut dikenal sebagai Kepala Suku Mojok di Yogyakarta. Ia seorang penulis dan editor yang telah menghasilkan banyak buku.

Ia mengajak kami melakukan yoga pagi di halaman. Melihat Kang Puthut, saya merasakan semangat baru dalam diri untuk terus menulis dan menyelami dunia literasi.

***

Perjalanan ini, meski penuh tantangan dan rasa takut, membentuk cerita tak terlupakan. Dari tersasar di terminal hingga ketakutan dikejar anjing, semuanya terbungkus dalam pengalaman manis yang kini saya kenang sebagai bagian dari perjalanan hidup.

“Sang Penakluk Bali” memang julukan yang lucu, tetapi dalam hati saya merasa puas—bukan karena berhasil sampai di tujuan, melainkan karena berani mengambil langkah pertama untuk menaklukkan diri sendiri.

Foto kenangan di Bali bersama Kang Sigit | Foto: Dok. Didin

Bali tak lagi sekadar dongeng atau mimpi bagi saya. Bali telah menjadi nyata, bersama semua cerita yang saya bawa kembali ke Bandung.

***

Oh, ya. Perjalanan itu saa lakukan tahun 2008. Saat itu saya menghadiri acara bedah buku tentang sastrawan besar AA Pandji Tisna di tempat kelahiran sang sastrawan di Puri Buleleng.

Saya ke Buleleng bersama Puthut EA dan sungguh terkesan dengan Buleleng, sebuah wilayah di sisi utara pulau Bali.

Kali kedua saya ke Buleleng naik bus, saya sudah tahu bahwa tak harus turun di Denpasar untuk menuju Buleleng. Setelah menyeberang di Pelabuhan Gilimanuk, saya turun di sebuah pertigaan. Dari situ saya dibawa mobil travel, belok kiri, langsung menuju kota Singaraja di Buleleng, tanpa harus melihat Denpasar terlebih dahulu. [T]

Surga Tersembunyi Bagi Pemancing Itu Bernama Pulau Tempurung
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
5 Destinasi Asyik untuk Nongkrong dan Pacaran Anak Muda Singaraja Bali
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Menonton Thang Long Water Puppet Theatre di Kota Hanoi
Di Hanoi, Vietnam, yang Tradisional yang Menjadi Andalan
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: balibulelengpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Halal, untuk Siapa?

Next Post

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Didin Tulus

Didin Tulus

Pembaca karya Ajip Rosidi. Koleksi karya Ajip sudah 150 judul belum termasuk tulisan pengantar buku yang ditulis oleh Ajip. Penulis juga aktif mengelola perpustakaan Rumah Baca Ajip Rosidi.

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co