24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalur Rempah, Mumi dan “Isin Ceraken I Dadong”

Made Birus Suarbawa by Made Birus Suarbawa
September 8, 2024
in Esai
Jalur Rempah, Mumi dan “Isin Ceraken I Dadong”
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

KISAH Jalur Rempah Nusantara yang diungkap kembali catatan dan nilai-nilainya untuk menjadi jalur budaya, kisah hidupnya telah berusia lebih dari 1000 tahun. Mungkin bahkan seusia mumi Mesir yang konon, diawetkan dengan balsam dari ramuan rempah-rempah.

Beruntung saya berkesempatan mendengarkan paparan yang singkat dan padat dari Wicaksono Adi mengenai Jalur Rempah, dalam sebuah agenda seminar tiga hari yang bertajuk “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali” di Singaraja Literary Festival  (SLF) 2024. Sebuah program yang menarik dan berhasil mengumpulkan penulis dan pegiat sastra untuk berdiskusi, melihat lagi lelintihan rempah dalam lontar dan keseharian masyarakat Bali.

Diseminasi gambaran besar Jalur Rempah Nusantara yang menjadi bagian tak terpisah dari jalur rempah dunia, menjadi penting untuk mengenali salah satu akar yang menyatukan Indonesia. Ini menjadi cara mengenali nilai kita sebagai bangsa besar di mata dunia, bahkan hanya dilihat dari cerita-cerita rempah.

Gerakan-gerakan yang berusaha menggali dari catatan dan ingatan lokal ini, jika secara masif bisa terjadi di tiap daerah di Indonesia, niscaya akan menjadi gaung yang besar.

Di Bali, memiliki tradisi mencari jejak untuk mengenali kembali soroh dan kawitan, agar tetap hidup rukun dan bahagia dalam keluarga. Saya rasa ini juga bisa dipraktekkan dalam upaya mengenali soroh-soroh rempah dan basa. Namun saya tidak akan bicara kawitan ataupun soroh,  tapi saya akan bercerita sedikit tentang mumi dan dadong (nenek) saya.

Dadong saya tidak dimumifikasi, namun masa hidup beliau bisa menjadi titik pijak saya menuliskan refleksi, setelah mendengarkan paparan mengenai keberadaan dan keragaman kisah rempah dalam lontar Bali. Darma Putra membahas mengenai rempah-rempah untuk Usada (pengobatan), Ari Dwijayanti membahas Ganda, berbagai jenis aroma rempah berdasarkan penelitiannya pada naskah-naskah lama, dan Guna Yasa di hari terakhir bercerita mengenai rempah-rempah dalam boga atau masakan Bali.

Jika bicara Ganda, ingatan saya adalah tentang aroma rempah dari minyak anget ramuan dadong dan juga beberapa jenis boreh yang juga racikannya sendiri. Namun entah apa resep dari boreh dan minyak anget itu, saya tidak tahu.Yang saya ingat dan warisi hingga SMP adalah ramuan minyak rambut wangi, yang dibuat dari minyak kelapa tandusan, bunga kenanga, daun mangkokan dan kemiri. Bahan-bahan racikan minyak rambut wangi tersebut semuanya kami dapatkan dari sekitar rumah, kecuali kemiri.

Minyak kelapa merupakan produksi rumahan untuk kebutuhan memasak  yang selalu ada, yang kemudian di awal tahun 90an mulai tergantikan oleh minyak sawit curah maupun kemasan. Namun hingga sekarang, kami masih kadang membuat atau membeli minyak kelapa tandusan atau VCO untuk kami gunakan sebagai lengis apun dan lengis anget.

Pohon kenanga atau sandat tumbuh besar di sebelah utara merajan dadong, yang akhirnya roboh saat usia saya sekitar 12 tahun, kemudian tergantikan oleh pohon kenanga kerdil yang bunganya terlihat lebih hijau dan keriting. Sedangkan pohon mangkokan, dulu tumbuh subur sebagai pagar hidup di sekeliling sumur dan kamar mandi, yang ternyata sudah tidak ada lagi sekarang.

Untuk kemiri, saya kenal wujudnya sejak lama dan belakangan saya konsumsi mentah atas saran seorang teman yang ahli akupuntur, untuk mendinginkan pencernaan saat perlu mengatasi panas dalam. Pohon kemiri baru saya temui awal tahun 2024, ketika mulai mencoba mengenali jenis tanaman hutan yang tumbuh di hutan desa kami, di desa Tukadaya, Jembrana.

Dari paparan Ari Dwijayanti, dia menemukan kemiri di beberapa naskah lama, yang salah satunya digunakan untuk perawatan rambut, terutama kemiri yang dibakar dan dimanfaatkan minyaknya. Jika dicari di internet, minyak kemiri dengan berbagai racikan sudah banyak dimanfaatkan, dan telah menjadi produk perawatan rambut yang dikemas dan dipasarkan dengan baik.

Rempah dan Kematian

Di Bali, berbagai rempah terlibat dalam setiap bagian hidup manusia Bali, sejak lahir hingga meninggal, yang melekat sebagai bagian dari tradisi adat dan ritual keagamaan. Demikian pula di luar sana, betapa rempah memiliki nilai penting, sehingga bangsa-bangsa Eropa berkeliling dunia untuk berburu rempah, termasuk menapaki kepulauan Nusantara.

Dalam urusan orang mati, kita bisa membaca kisah-kisah mumi yang diawetkan dengan rempah, yang membuat jasad manusia bisa bertahan dari pelapukan hingga ribuan tahun.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023 dengan judul “Biomolecular characterization of 3500-year-old ancient Egyptian mummification balms from the Valley of the Kings”, para peneliti berupaya menganalisa bahan-bahan yang digunakan dalam proses mumifikasi di Mesir.

Pada bagian hasil penelitian, zat-zat yang ditemukan ternyata memiliki unsur-unsur yang berelasi dengan berbagai jenis tanaman dan rempah.

Saya bisa mengenali beberapa nama tanaman yang ada di Indonesia, seperti damar dan pinus yang diperkirakan digunakan getah atau resinnya. Kemudian disebut juga kadungan beberapa zat yang bisa ditemukan dalam vanili, serta jenis aromatik yang unsur zatnya dapat ditemukan pada kemenyan, kayu manis, cengkeh, dan berbagai jenis tanaman balsamik.

Bahan dasar dari balsam mumi, diperkirakan menggunakan jenis minyak nabati dan lemak hewani, termasuk lilin lebah.

Selain Mesir dan muminya, Bali juga memiliki urusan penting di antara jenazah dan rempah-rempah. Dalam prosesi nyiramang layon (memandikan jenazah) di Bali, ada berbagai jenis rempah yang terlibat yang juga memiliki unsur simbolik dalam prosesi tersebut. Dari obrolan singkat dengan Ayah Mertua, dalam prosesi nyiramang layon disebutkan menggunakan umbi skapa, daun intaran dan daun delem. Ada juga beras, santan, daun dadap, kencur, temu tis, cengkeh, merica, masui, bubuk cendana, serta malam atau lilin lebah.

Dari nama-nama rempah yang disebutkan, bisa dikatakan; cengkeh, merica dan cendana merupakan nama populer di dunia rempah. Selain itu, daun delem atau nilam, juga memiliki nilai yang tidak kalah, karena banyak dibudidayakan dan menjadi konsumsi industri parfum.

Literasi Tanaman

Peribahasa tak kenal maka tak sayang, sangat mengena di hati saya ketika bicara jenis-jenis tanaman dan rempah. Seumur hidup saya makan masakan yang berbumbu kemiri, sembahyang dengan sarana yang melibatkan kemiri, rambut saya dirawat dengan ramuan minyak yang salah satu bahannya juga kemiri. Namun baru tahun ini saya tahu pohon kemiri dan membahasnya dalam sebuah tulisan.

Saya mungkin telah belajar dari aktivitas sehari-hari mengenai tanaman dan manfaatnya dalam keluarga saya. Lalu, dalam nuansa hidup yang begitu cepat dan mulai serba instan, bisakah nanti anak-anak kita mengenali dan membedakan mana kunyit, jahe, lengkuas, atau kencur? Wujudnya serupa, mereka sama-sama umbi dan berimpang.

Jangan-jangan rumah kita sekarang sudah tidak punya sok basa, karena kita terbiasa memasak cukup pakai garam dan sedikit micin saja. Atau praktisnya memesan makanan online, tanpa harus sibuk masuk dapur.

Apalagi kalau kita bicara ceraken, sebuah peti ajaib yang menjadi jawaban berbagai keluhan sakit dadong saya. Kemudian yang muncul adalah pertanyaan anak saya. Apa itu ceraken pak?

Ceraken adalah tempat dadong saya penyimpanan anget-anget atau aneka rempah kering. Isinya didapat dari dagang craki di pasar, atau dari kebun seperti buah tabia bun (cabe jamu). Menjelang hari raya, Ibu saya biasanya membelikan satu paket isin ceraken, karena selain untuk kebutuhan ramuan, beberapa jenis rempah juga adalah bagian sarana upacara.

Tulisan ini hanya berdasarkan ingatan, sehingga saya merasa perlu untuk menelusuri lebih jauh soal ceraken dan isinya. Kegelisahan ini sebenarnya muncul sejak kami sekeluarga harus “mengungsi” ke kampung karena Covid-19. Dua tahun masa pandemi itu, begitu banyak jenis tanaman yang dibahas manfaatnya untuk kesehatan kita. Dan yang saya perhatikan, sebagian besar ada atau pernah ada di sekitar rumah kami.

Saya ingat kalimat bijaksana dari seorang teman praktisi pengobatan tradisional, bahwa obat untuk diri kita sendiri ada di halaman rumah dan teba atau tegalan milik kita. Karena alam sesungguhnya telah otomatis menyediakan sarana untuk hidup dan kesehatan kita. Demikian juga tentunya bagi Indonesia, yang tanahnya adalah halaman dan teba kita semua.

Pemikiran itu kemudian menjadi dasar bagi saya dan teman-teman di Bali Tersenyum untuk mengembangkan program literasi tanaman dalam kegiatan tahunan kami, Cerita Rasa. Sebuah program sederhana mengajak anak-anak untuk berkeliling rumah, melihat, meraba, membau, dan mencoba mengenali nama dan manfaat apa yang diberikan tanaman itu dalam keseharian keluarga. Kegiatan ini menghasilkan mind map yang berisi pengetahuan baru mereka, dari mengamati dan bertanya pada orang dewasa di sekitarnya.

Setelah mengikuti seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali” di SLF2024, saya merasa semakin yakin untuk mengembangkan modul program literasi tanaman ini, sehingga setiap tahun kami dapat menghasilkan rekaman pengetahuan bersama anak-anak di desa.

Kenali Kekayaan Kita

Dalam ingatan saya dari tahun 90an awal saat lomba desa, rumah kami menjadi rumah contoh, karena telah memiliki jamban dan dapur terpisah dari rumah induk yang dikategorikan sebagai rumah sehat. Salah satu syarat lain rumah contoh yang sehat adalah harus memiliki kebun Toga (tanaman obat keluarga).

Kami mengisi halaman depan rumah dengan berbagai tanaman yang dipindahkan dari teba, seperti kunyit dan lengkuas. Para tetangga juga bergotong-royong mengisi kebun itu dengan kumis kucing, kembang bintang, sembung, kencur dan beberapa tanaman lain. Kemudian memagari kebun itu dengan cantik, seiring harapan, kesertaan desa dalam lomba itu sukses mendulang juara. Alhasil, lahirlah kebun Toga dadakan berukuran beberapa meter persegi di halaman depan rumah kami.

Saya tidak tahu hasil dari lomba desa tersebut. Menang, kalah atau bagaimana. Yang saya ingat, kebun Toga itu hanya bertahan sekitar satu tahun dan kemudian digantikan dengan tanaman kacang panjang atau kacang putih yang kami konsumsi daun dan buahnya. Sampai sekarang, tanaman obat menjadi bagian menyatu dengan tanaman hias di halaman dan tanaman lain di teba kami.

Misalnya meniran yang tumbuh liar dan banyak di halaman rumah diantara batu-batu kerikil. Piduh atau pegagan ditanam di halaman depan merajan. Bunga telang dan tabia bun merambat di pohon kamboja. Kembang bintang tumbuh di halaman tugu karang. Jeruk nipis, sembung dan lidah buaya tumbuh di antara bunga soka dan kembang merak.  Beluntas dan suji menjadi pagar pekarangan di belakang dapur. Sementara kunyit, lengkuas, temulawak, serai, tumbuh di teba bersama pisang, kelor, daun salam, pandan wangi, sirsak, tebu, gamal yang dibelit vanili, kecombrang dan kelapa.

Ini Pengalaman Saya

Sejak melakukan operasi batu ginjal sekitar 12 tahun lalu, Ibu saya cukup rajin membuat loloh meniran yang diramu bersama piduh. Sementara istri saya yang didiagnosa mengalami penurunan fungsi ginjal tahap awal, mulai meramu piduh dan meniran, setelah saya ceritakan manfaatnya dari cuplikan geguritan Sucita Subudi yang dipaparkan Guna Yasa, dan sempat ditembangkan dengan indah oleh mbok Ari Pebriyani dan diterjemahkan oleh bli Made Sugianto.

Yang paling heroik dari penggunaan tanaman sebagai obat, saya alami ketika berumur sekitar 10 tahun.

Hari itu, saya bercanda dengan kakak saya yang usianya terpaut tiga tahun di atas saya. Dia melempar sebelah sandal saya ke bawah jineng (lumbung padi), sehingga saya harus melompat nengkleng dengan satu kaki bersandal, untuk mencapai jineng. Pada lompatan terakhir menaiki lantai jineng, kepala saya terbentur sudut tajam sunduk jineng. Dan!, darah segar mengalir membasahi wajah saya.

Bapak yang sedang tidur siang di jineng, terbangun dan segera melakukan pertolongan pertama. Dia memerintahkan kakak saya mengambil kunyit dan mencari babakan (kulit batang) pohon jarak. Kunyit dan babakan jarak dikunyah, kemudian ditempelkan pada luka di kepala saya. Tidak ada ingatan pengobatan lain atau pergi ke puskesmas pada kasus ini, dan luka saya sembuh.

Satu lagi tanaman yang menyelamatkan hidup saya saat masuk masa pubertas. Wajah saya dipenuhi bercak putih kusam dan terasa gatal saat berkeringat. Ibu saya menyebut itu bulenan bunga, yang akan hilang seiring saya tumbuh dewasa. Berbulan-bulan, beban berat rasa malu setiap pagi saya pikul dalam perjalanan ke sekolah, tanpa tahu harus berbuat apa.

Pada suatu siang saat jam istirahat sekolah, seorang guru pengajar fisika memanggil saya di depan perpustakaan. Beliau menyarankan menggunakan jahe untuk mengobati bulenan di wajah saya.  Caranya, jahe dipotong sedikit bagian ujungnya, kemudian bekas potongan sedikit diparut agar lunak dan keluar air, kemudian digosokan pada bulenan di wajah. Selama kurang lebih dua minggu saya berteman dengan jahe, parutan dan cermin, hingga kemudian kulit wajah saya terbebas dari bercak-bercak putih kusam dan gatal itu.

Selain hal di atas, saya juga ingin berbagi satu ramuan loloh favorit saya.

Loloh ini terbuat dari daun “anu” yang akan saya jelaskan di paragraf berikutnya. Daun “anu” ini di ulet (remas-remas) bersama air matang, lunak (asam jawa), atin bawang dan sedikit garam, kemudian disaring. Loloh ini sangat saya rasakan manfaatnya saat mengalami mulut pecah-pecah, gusi bengkak atau berdarah dan sariawan.

Daun “anu” yang saya maksud di sini adalah daun katuk. Saya agak sungkan menyebutnya karena katuk dalam bahasa bali berarti senggama. Mungkin karena itulah leluhur kami mengganti penyebutan daun ini sebagai daun “kayumanis”, agar lebih sopan dan manis untuk disebutkan dalam komunitas kami.

Tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan atau pengobatan yang saya paparkan ini, adalah praktek-praktek tradisional di masyarakat dari informasi mulut ke mulut, pengetahuan turun-temurun dalam bentuk ingatan dan praktek-praktek baik yang diwariskan, yang tidak memiliki validasi secara ilmiah atau akademis.

Praktek-praktek pengetahuan tradisional ini perlu dikaji lebih jauh, diselaraskan dengan naskah tertulis dalam lontar warisan leluhur kita. Kerja-kerja ini akan membutuhkan keterlibatan lebih banyak akademisi dari berbagai disiplin ilmu, serta dukungan pemerintah, pengusaha dan segenap stakeholder yang peduli pada rempah dan produk turunannya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin berjanji untuk mewariskan pada anak saya ramuan dari kumpinya, yaitu minyak rambut wangi yang menyehatkan dan alami. Tentu beserta resep dan cara membuatnya. Setelah ini, saya akan  bisa lega, karena ada suatu pengetahuan bermanfaat yang saya wariskan selain mengajarkan cara mengucapkan kata bapak, seperti melatih burung beo. [T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Rempah dalam Basa Genep
Jalur Rempah dan Gerak Memunggungi Lautan
Rempah dan Perbaikan Ekonomi
Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini
Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara
Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
Rempah Paling Cong!
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Tags: rempahrempah-rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Next Post

Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Made Birus Suarbawa

Made Birus Suarbawa

Nama lahir saya I Made Suarbawa dan mesin ketik adalah hadiah terindah dalam hidup saya. Bercerita dalam berbagai medium adalah cara berbagi paling menyenangkan. Tulisan, foto dan film adalah media yang sedang saya dalami dan nikmati.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co