23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalur Rempah, Mumi dan “Isin Ceraken I Dadong”

Made Birus Suarbawa by Made Birus Suarbawa
September 8, 2024
in Esai
Jalur Rempah, Mumi dan “Isin Ceraken I Dadong”
  • Artikel ini adalah hasil dari seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar”, program khusus Singaraja Literary Festival 2024, yang didukung Direktorat PPK (Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan), Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, 23-25 Agustus 2024.

KISAH Jalur Rempah Nusantara yang diungkap kembali catatan dan nilai-nilainya untuk menjadi jalur budaya, kisah hidupnya telah berusia lebih dari 1000 tahun. Mungkin bahkan seusia mumi Mesir yang konon, diawetkan dengan balsam dari ramuan rempah-rempah.

Beruntung saya berkesempatan mendengarkan paparan yang singkat dan padat dari Wicaksono Adi mengenai Jalur Rempah, dalam sebuah agenda seminar tiga hari yang bertajuk “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali” di Singaraja Literary Festival  (SLF) 2024. Sebuah program yang menarik dan berhasil mengumpulkan penulis dan pegiat sastra untuk berdiskusi, melihat lagi lelintihan rempah dalam lontar dan keseharian masyarakat Bali.

Diseminasi gambaran besar Jalur Rempah Nusantara yang menjadi bagian tak terpisah dari jalur rempah dunia, menjadi penting untuk mengenali salah satu akar yang menyatukan Indonesia. Ini menjadi cara mengenali nilai kita sebagai bangsa besar di mata dunia, bahkan hanya dilihat dari cerita-cerita rempah.

Gerakan-gerakan yang berusaha menggali dari catatan dan ingatan lokal ini, jika secara masif bisa terjadi di tiap daerah di Indonesia, niscaya akan menjadi gaung yang besar.

Di Bali, memiliki tradisi mencari jejak untuk mengenali kembali soroh dan kawitan, agar tetap hidup rukun dan bahagia dalam keluarga. Saya rasa ini juga bisa dipraktekkan dalam upaya mengenali soroh-soroh rempah dan basa. Namun saya tidak akan bicara kawitan ataupun soroh,  tapi saya akan bercerita sedikit tentang mumi dan dadong (nenek) saya.

Dadong saya tidak dimumifikasi, namun masa hidup beliau bisa menjadi titik pijak saya menuliskan refleksi, setelah mendengarkan paparan mengenai keberadaan dan keragaman kisah rempah dalam lontar Bali. Darma Putra membahas mengenai rempah-rempah untuk Usada (pengobatan), Ari Dwijayanti membahas Ganda, berbagai jenis aroma rempah berdasarkan penelitiannya pada naskah-naskah lama, dan Guna Yasa di hari terakhir bercerita mengenai rempah-rempah dalam boga atau masakan Bali.

Jika bicara Ganda, ingatan saya adalah tentang aroma rempah dari minyak anget ramuan dadong dan juga beberapa jenis boreh yang juga racikannya sendiri. Namun entah apa resep dari boreh dan minyak anget itu, saya tidak tahu.Yang saya ingat dan warisi hingga SMP adalah ramuan minyak rambut wangi, yang dibuat dari minyak kelapa tandusan, bunga kenanga, daun mangkokan dan kemiri. Bahan-bahan racikan minyak rambut wangi tersebut semuanya kami dapatkan dari sekitar rumah, kecuali kemiri.

Minyak kelapa merupakan produksi rumahan untuk kebutuhan memasak  yang selalu ada, yang kemudian di awal tahun 90an mulai tergantikan oleh minyak sawit curah maupun kemasan. Namun hingga sekarang, kami masih kadang membuat atau membeli minyak kelapa tandusan atau VCO untuk kami gunakan sebagai lengis apun dan lengis anget.

Pohon kenanga atau sandat tumbuh besar di sebelah utara merajan dadong, yang akhirnya roboh saat usia saya sekitar 12 tahun, kemudian tergantikan oleh pohon kenanga kerdil yang bunganya terlihat lebih hijau dan keriting. Sedangkan pohon mangkokan, dulu tumbuh subur sebagai pagar hidup di sekeliling sumur dan kamar mandi, yang ternyata sudah tidak ada lagi sekarang.

Untuk kemiri, saya kenal wujudnya sejak lama dan belakangan saya konsumsi mentah atas saran seorang teman yang ahli akupuntur, untuk mendinginkan pencernaan saat perlu mengatasi panas dalam. Pohon kemiri baru saya temui awal tahun 2024, ketika mulai mencoba mengenali jenis tanaman hutan yang tumbuh di hutan desa kami, di desa Tukadaya, Jembrana.

Dari paparan Ari Dwijayanti, dia menemukan kemiri di beberapa naskah lama, yang salah satunya digunakan untuk perawatan rambut, terutama kemiri yang dibakar dan dimanfaatkan minyaknya. Jika dicari di internet, minyak kemiri dengan berbagai racikan sudah banyak dimanfaatkan, dan telah menjadi produk perawatan rambut yang dikemas dan dipasarkan dengan baik.

Rempah dan Kematian

Di Bali, berbagai rempah terlibat dalam setiap bagian hidup manusia Bali, sejak lahir hingga meninggal, yang melekat sebagai bagian dari tradisi adat dan ritual keagamaan. Demikian pula di luar sana, betapa rempah memiliki nilai penting, sehingga bangsa-bangsa Eropa berkeliling dunia untuk berburu rempah, termasuk menapaki kepulauan Nusantara.

Dalam urusan orang mati, kita bisa membaca kisah-kisah mumi yang diawetkan dengan rempah, yang membuat jasad manusia bisa bertahan dari pelapukan hingga ribuan tahun.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023 dengan judul “Biomolecular characterization of 3500-year-old ancient Egyptian mummification balms from the Valley of the Kings”, para peneliti berupaya menganalisa bahan-bahan yang digunakan dalam proses mumifikasi di Mesir.

Pada bagian hasil penelitian, zat-zat yang ditemukan ternyata memiliki unsur-unsur yang berelasi dengan berbagai jenis tanaman dan rempah.

Saya bisa mengenali beberapa nama tanaman yang ada di Indonesia, seperti damar dan pinus yang diperkirakan digunakan getah atau resinnya. Kemudian disebut juga kadungan beberapa zat yang bisa ditemukan dalam vanili, serta jenis aromatik yang unsur zatnya dapat ditemukan pada kemenyan, kayu manis, cengkeh, dan berbagai jenis tanaman balsamik.

Bahan dasar dari balsam mumi, diperkirakan menggunakan jenis minyak nabati dan lemak hewani, termasuk lilin lebah.

Selain Mesir dan muminya, Bali juga memiliki urusan penting di antara jenazah dan rempah-rempah. Dalam prosesi nyiramang layon (memandikan jenazah) di Bali, ada berbagai jenis rempah yang terlibat yang juga memiliki unsur simbolik dalam prosesi tersebut. Dari obrolan singkat dengan Ayah Mertua, dalam prosesi nyiramang layon disebutkan menggunakan umbi skapa, daun intaran dan daun delem. Ada juga beras, santan, daun dadap, kencur, temu tis, cengkeh, merica, masui, bubuk cendana, serta malam atau lilin lebah.

Dari nama-nama rempah yang disebutkan, bisa dikatakan; cengkeh, merica dan cendana merupakan nama populer di dunia rempah. Selain itu, daun delem atau nilam, juga memiliki nilai yang tidak kalah, karena banyak dibudidayakan dan menjadi konsumsi industri parfum.

Literasi Tanaman

Peribahasa tak kenal maka tak sayang, sangat mengena di hati saya ketika bicara jenis-jenis tanaman dan rempah. Seumur hidup saya makan masakan yang berbumbu kemiri, sembahyang dengan sarana yang melibatkan kemiri, rambut saya dirawat dengan ramuan minyak yang salah satu bahannya juga kemiri. Namun baru tahun ini saya tahu pohon kemiri dan membahasnya dalam sebuah tulisan.

Saya mungkin telah belajar dari aktivitas sehari-hari mengenai tanaman dan manfaatnya dalam keluarga saya. Lalu, dalam nuansa hidup yang begitu cepat dan mulai serba instan, bisakah nanti anak-anak kita mengenali dan membedakan mana kunyit, jahe, lengkuas, atau kencur? Wujudnya serupa, mereka sama-sama umbi dan berimpang.

Jangan-jangan rumah kita sekarang sudah tidak punya sok basa, karena kita terbiasa memasak cukup pakai garam dan sedikit micin saja. Atau praktisnya memesan makanan online, tanpa harus sibuk masuk dapur.

Apalagi kalau kita bicara ceraken, sebuah peti ajaib yang menjadi jawaban berbagai keluhan sakit dadong saya. Kemudian yang muncul adalah pertanyaan anak saya. Apa itu ceraken pak?

Ceraken adalah tempat dadong saya penyimpanan anget-anget atau aneka rempah kering. Isinya didapat dari dagang craki di pasar, atau dari kebun seperti buah tabia bun (cabe jamu). Menjelang hari raya, Ibu saya biasanya membelikan satu paket isin ceraken, karena selain untuk kebutuhan ramuan, beberapa jenis rempah juga adalah bagian sarana upacara.

Tulisan ini hanya berdasarkan ingatan, sehingga saya merasa perlu untuk menelusuri lebih jauh soal ceraken dan isinya. Kegelisahan ini sebenarnya muncul sejak kami sekeluarga harus “mengungsi” ke kampung karena Covid-19. Dua tahun masa pandemi itu, begitu banyak jenis tanaman yang dibahas manfaatnya untuk kesehatan kita. Dan yang saya perhatikan, sebagian besar ada atau pernah ada di sekitar rumah kami.

Saya ingat kalimat bijaksana dari seorang teman praktisi pengobatan tradisional, bahwa obat untuk diri kita sendiri ada di halaman rumah dan teba atau tegalan milik kita. Karena alam sesungguhnya telah otomatis menyediakan sarana untuk hidup dan kesehatan kita. Demikian juga tentunya bagi Indonesia, yang tanahnya adalah halaman dan teba kita semua.

Pemikiran itu kemudian menjadi dasar bagi saya dan teman-teman di Bali Tersenyum untuk mengembangkan program literasi tanaman dalam kegiatan tahunan kami, Cerita Rasa. Sebuah program sederhana mengajak anak-anak untuk berkeliling rumah, melihat, meraba, membau, dan mencoba mengenali nama dan manfaat apa yang diberikan tanaman itu dalam keseharian keluarga. Kegiatan ini menghasilkan mind map yang berisi pengetahuan baru mereka, dari mengamati dan bertanya pada orang dewasa di sekitarnya.

Setelah mengikuti seminar “Khazanah Rempah dalam Lontar Bali” di SLF2024, saya merasa semakin yakin untuk mengembangkan modul program literasi tanaman ini, sehingga setiap tahun kami dapat menghasilkan rekaman pengetahuan bersama anak-anak di desa.

Kenali Kekayaan Kita

Dalam ingatan saya dari tahun 90an awal saat lomba desa, rumah kami menjadi rumah contoh, karena telah memiliki jamban dan dapur terpisah dari rumah induk yang dikategorikan sebagai rumah sehat. Salah satu syarat lain rumah contoh yang sehat adalah harus memiliki kebun Toga (tanaman obat keluarga).

Kami mengisi halaman depan rumah dengan berbagai tanaman yang dipindahkan dari teba, seperti kunyit dan lengkuas. Para tetangga juga bergotong-royong mengisi kebun itu dengan kumis kucing, kembang bintang, sembung, kencur dan beberapa tanaman lain. Kemudian memagari kebun itu dengan cantik, seiring harapan, kesertaan desa dalam lomba itu sukses mendulang juara. Alhasil, lahirlah kebun Toga dadakan berukuran beberapa meter persegi di halaman depan rumah kami.

Saya tidak tahu hasil dari lomba desa tersebut. Menang, kalah atau bagaimana. Yang saya ingat, kebun Toga itu hanya bertahan sekitar satu tahun dan kemudian digantikan dengan tanaman kacang panjang atau kacang putih yang kami konsumsi daun dan buahnya. Sampai sekarang, tanaman obat menjadi bagian menyatu dengan tanaman hias di halaman dan tanaman lain di teba kami.

Misalnya meniran yang tumbuh liar dan banyak di halaman rumah diantara batu-batu kerikil. Piduh atau pegagan ditanam di halaman depan merajan. Bunga telang dan tabia bun merambat di pohon kamboja. Kembang bintang tumbuh di halaman tugu karang. Jeruk nipis, sembung dan lidah buaya tumbuh di antara bunga soka dan kembang merak.  Beluntas dan suji menjadi pagar pekarangan di belakang dapur. Sementara kunyit, lengkuas, temulawak, serai, tumbuh di teba bersama pisang, kelor, daun salam, pandan wangi, sirsak, tebu, gamal yang dibelit vanili, kecombrang dan kelapa.

Ini Pengalaman Saya

Sejak melakukan operasi batu ginjal sekitar 12 tahun lalu, Ibu saya cukup rajin membuat loloh meniran yang diramu bersama piduh. Sementara istri saya yang didiagnosa mengalami penurunan fungsi ginjal tahap awal, mulai meramu piduh dan meniran, setelah saya ceritakan manfaatnya dari cuplikan geguritan Sucita Subudi yang dipaparkan Guna Yasa, dan sempat ditembangkan dengan indah oleh mbok Ari Pebriyani dan diterjemahkan oleh bli Made Sugianto.

Yang paling heroik dari penggunaan tanaman sebagai obat, saya alami ketika berumur sekitar 10 tahun.

Hari itu, saya bercanda dengan kakak saya yang usianya terpaut tiga tahun di atas saya. Dia melempar sebelah sandal saya ke bawah jineng (lumbung padi), sehingga saya harus melompat nengkleng dengan satu kaki bersandal, untuk mencapai jineng. Pada lompatan terakhir menaiki lantai jineng, kepala saya terbentur sudut tajam sunduk jineng. Dan!, darah segar mengalir membasahi wajah saya.

Bapak yang sedang tidur siang di jineng, terbangun dan segera melakukan pertolongan pertama. Dia memerintahkan kakak saya mengambil kunyit dan mencari babakan (kulit batang) pohon jarak. Kunyit dan babakan jarak dikunyah, kemudian ditempelkan pada luka di kepala saya. Tidak ada ingatan pengobatan lain atau pergi ke puskesmas pada kasus ini, dan luka saya sembuh.

Satu lagi tanaman yang menyelamatkan hidup saya saat masuk masa pubertas. Wajah saya dipenuhi bercak putih kusam dan terasa gatal saat berkeringat. Ibu saya menyebut itu bulenan bunga, yang akan hilang seiring saya tumbuh dewasa. Berbulan-bulan, beban berat rasa malu setiap pagi saya pikul dalam perjalanan ke sekolah, tanpa tahu harus berbuat apa.

Pada suatu siang saat jam istirahat sekolah, seorang guru pengajar fisika memanggil saya di depan perpustakaan. Beliau menyarankan menggunakan jahe untuk mengobati bulenan di wajah saya.  Caranya, jahe dipotong sedikit bagian ujungnya, kemudian bekas potongan sedikit diparut agar lunak dan keluar air, kemudian digosokan pada bulenan di wajah. Selama kurang lebih dua minggu saya berteman dengan jahe, parutan dan cermin, hingga kemudian kulit wajah saya terbebas dari bercak-bercak putih kusam dan gatal itu.

Selain hal di atas, saya juga ingin berbagi satu ramuan loloh favorit saya.

Loloh ini terbuat dari daun “anu” yang akan saya jelaskan di paragraf berikutnya. Daun “anu” ini di ulet (remas-remas) bersama air matang, lunak (asam jawa), atin bawang dan sedikit garam, kemudian disaring. Loloh ini sangat saya rasakan manfaatnya saat mengalami mulut pecah-pecah, gusi bengkak atau berdarah dan sariawan.

Daun “anu” yang saya maksud di sini adalah daun katuk. Saya agak sungkan menyebutnya karena katuk dalam bahasa bali berarti senggama. Mungkin karena itulah leluhur kami mengganti penyebutan daun ini sebagai daun “kayumanis”, agar lebih sopan dan manis untuk disebutkan dalam komunitas kami.

Tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan atau pengobatan yang saya paparkan ini, adalah praktek-praktek tradisional di masyarakat dari informasi mulut ke mulut, pengetahuan turun-temurun dalam bentuk ingatan dan praktek-praktek baik yang diwariskan, yang tidak memiliki validasi secara ilmiah atau akademis.

Praktek-praktek pengetahuan tradisional ini perlu dikaji lebih jauh, diselaraskan dengan naskah tertulis dalam lontar warisan leluhur kita. Kerja-kerja ini akan membutuhkan keterlibatan lebih banyak akademisi dari berbagai disiplin ilmu, serta dukungan pemerintah, pengusaha dan segenap stakeholder yang peduli pada rempah dan produk turunannya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin berjanji untuk mewariskan pada anak saya ramuan dari kumpinya, yaitu minyak rambut wangi yang menyehatkan dan alami. Tentu beserta resep dan cara membuatnya. Setelah ini, saya akan  bisa lega, karena ada suatu pengetahuan bermanfaat yang saya wariskan selain mengajarkan cara mengucapkan kata bapak, seperti melatih burung beo. [T]

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Rempah dalam Basa Genep
Jalur Rempah dan Gerak Memunggungi Lautan
Rempah dan Perbaikan Ekonomi
Tanaman Obat Sekolah (TOS): Usaha Mendekatkan Usadha Kuno kepada Generasi Masa Kini
Rempah-Rempah dalam Perdagangan dan Kebudayaan Bali Utara
Tentang Petani Cengkeh, Berkah dan Masalah,  serta Surga dan Neraka
Sumbangsih Rempah-Rempah dalam Mengaya Metafora Bahasa Bali
Rempah Paling Cong!
Menebak Aroma Sihir Janda Jirah

Tags: rempahrempah-rempahSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Next Post

Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Made Birus Suarbawa

Made Birus Suarbawa

Nama lahir saya I Made Suarbawa dan mesin ketik adalah hadiah terindah dalam hidup saya. Bercerita dalam berbagai medium adalah cara berbagi paling menyenangkan. Tulisan, foto dan film adalah media yang sedang saya dalami dan nikmati.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Membaca Narasi, Menggali Potensi Khazanah Rempah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co