23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Son Lomri by Son Lomri
July 24, 2024
in Panggung
Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Vio dalam pertunjukan "Wanita Dalam Lukisan" | Foto: Son

GURATAN tak beraturan, abstrak, dengan warna hitam dan merah, membentuk figur perempuan pada kanvas putih yang ditempel di pohon mangga itu, menarik perhatian saya. Pola-pola tak berbentuk dan garis-garis aneh itu diciptakan oleh seorang perempuan muda di depan saya secara langsung—dan spontan, improvisasi.

Pola-pola abstrak tersebut mempresentasikan bagaimana kehidupan telah mendera perempuan sejak ia dilahirkan—bahkan seperti tak ada hentinya. Perempuan itu, dengan gerak tubuhnya yang teatrikal, terus mengoleskan kuasnya pada empat kanvas putih berukuran besar itu.

Perempuan tersebut bernama Vincentia Tunjung Sari, seniman muda asal Yogyakarta yang kini bekerja di kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. Saat itu ia sedang melakukan pertunjukan dengan tajuk “Wanita Dalam Lukisan” dalam acara Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Pagelaran dan Eksebisi Budaya Buleleng yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB selama dua hari, 20-21 Juli 2024 di Taman Bung Karno, Singaraja.

Vincentia Tunjung Sari bersama lukisannya | Foto: Son

Vincent tak sendiri. Dalam performace art itu ia ditemani dua perempuan penari muda yang merespon secara langsung pola-pola ciptaannya. Dua penari itu meliuk-liuk, menguji diri sampai pada batas tubuh. Tubuh keduanya lentur dan liat.

Seorang penonton ikut serta dalam pertunjukan. Penonton itu mencoret lengan si penari dengan tinta hitam. Ia membentuk garis panjang yang tak putus. Ya, dalam pertunjukan ini, penonton bisa langsung terlibat. Ini memang sudah direncanakan. Penonton dapat langsung merespon apa yang Vincent tawarkan.

Walaupun tak semua isi pikiran dapat tertuang dalam kanvas tersebut, tetapi konsep yang sederhana itu telah membuat banyak mata menafsir, menduga-duga, apa makna yang hendak Vincent sampaikan? Atau yang lebih lugu dan mendasar, apa yang ia gambar?

Melalui bentuk titik yang menjadi satu garis utuh bergelombang, Vincent sedang membentuk tubuh perempuan. Itu juga merupakan simbol bahwa perempuan selalu berada dalam bayang-bayang (tantangan) yang kompleks.

Selama dua hari itu, katanya, ia ingin mengisahkan bagaimana perempuan bisa bertahan dari peluru-peluru masalah yang menghujaninya sejak ia lahir.

Dua perempuan yang menari di hari pertama, misalnya, hanya bisa pasrah ketika penonton melukis di tubuh mereka secara langsung dengan kuas—secara bebas. Hal ini menandakan bahwa tubuh perempuan atau perempuan secara sosial dihujam guratan hidup tak beraturan yang bengis—dan tak jarang mereka memilih pasrah daripada melawan.

Dua penari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari pertama | Foto: Son

“Perempuan selalu didera kehidupan, walaupun di dalamnya ada rahim yang selalu melahirkan kehidupan,” ucap Vincent setelah mengangkat kuasnya dari kanvas, Minggu (21/7/2024) sore.

Ya, rahim perempuan memang melahirkan banyak kehidupan. Tetapi tubuh yang dieksploitasi dan penilaian yang didominasi sudut pandang sosial-kultur patriarki, seperti menjebloskan perempuan ke dalam penjara tanpa pintu. Pengap. Dan jika perempuan babak belur, ke mana biasanya ia pergi menangis?

Tabula Rasa dan Imajinasi yang Lain

Seniman perempuan kelahiran Yogyakarta, 30 Maret 1996, itu memandang bahwa, secara tidak sadar, kenyataan di masyarakat perempuan itu bias bahkan nyaris tak dilihat. “Tapi semakin kita gak dilihat, ternyata banyak hal yang menguatkan kita sebagai perempuan. Karena kita perempuan, misalnya, menjadi seorang ibu dan kemudian kita punya anak, dan anak itulah yang menguatkan kita, begitupun sebaliknya,” ujar Vincent.

Dalam pertunjukannya kali ini, pada hari pertama, Vincent mengaku sekadar membuat pola tanpa konsep, mengalir, tak berbentuk. Sebab, Vinsent menganalogikan perempuan pasca lahir layaknya kertas yang masih kosong.

Dian Ujiana, seniman komik “Beluluk”, ikut menggoreskan karya di kanvas Vincent | Foto: Son

“Kita sebagai manusia, sebagai perempuan, dilahirkan seperti kertas putih. Terus kemudian warna seperti hitam, abu-abu, dan garis kompleks, itu seperti alur kehidupan kita yang macam-macam yang kemudian membentuk kehidupan kita seperti apa di masa yang akan datang,” tuturnya.

Orang-orang berkumpul menonton dirinya melukis, seperti tak ada yang berat di kepalanya. Kuas terus mengalir dari satu kanvas ke kanvas lain, menggoreskan tafsiran cukup pelik. Warna-warna tercecer di kakinya tak beraturan. Dua penari itu, di sela-sela menari, penonton lain mencoret-coret tubuhnya, memberi kesan visual lukisan Vincent menjadi tambah hidup. Musik instrumental mengiringi mereka.

Benar-benar pertunjukan yang hidup. Perempuan tamatan ISI Jogja itu seakan melempar dadu rahasia pada satu arena kecil tempatnya melukis melalui gambar. Orang-orang dibuatnya beradu perkiraan sore hari di sana.

Pikiran Vincent berbeda dengan imajinasi laki-laki dalam melukis, yang klise ketika menggambarkan tubuh perempuan—yang nyaris (hanya) mengeksplorasi tubuh perempuan secara indah, mudah ditebak karena eksotis, misalnya.

Sepertu Salvador Dali yang tergila-gila dengan kemolekan—keindahan tubuh istrinya, Gala. Lantas ia melukis istrinya yang cantik itu. Juga sama dengan Picasso yang demikian, entah berapa banyak tubuh perempuan cantik ia penjarakan dalam kanvasnya.

Seorang anak perempuan sedang mencoret canvas | Foto: Son

Hardiman melalui esainya Perkara Tubuh Perempuan dalam buku berjudul “Eksplorasi Tubuh” (2015) memandang bahwa cara berpikir dalam seni—seperti Salvador Dali dan Picasso—adalah salah satu cerminan dari pada ideologi patriarki, yang disadari atau tidak, hal demikian (masih) dipelihara atas nama kebudayaan.

Dan Vincent seolah ingin mengejek cara pandang konvensional seperti itu jika masih ada. Dia berkata, karena hal demikian hanya membawa ke satu ranah seksualitas yang kering, menjatuhkan perempuan pada nilai yang rendah. Perempuan bukan objek seksual semata—juga bukan objek pariwisata tubuh barangkali. “Ada ranah sosial yang lebih berperan yang membentuk perempuan seperti apa, dan itu bukanlah kebebasan,” katanya.

Keselarasan Intuisi Pelukis dan Penari

Secara sosiologis, Vincent ingin mengisahkan sesuatu melalui caranya melukis yang teatrikal. Pula melalui gambarnya yang tak beraturan tetapi dengan warna-warna penuh simbolik, misalnya, ia benar-benar menyatakan sikapnya sebagai perempuan bahwa di balik keindahan seorang perempuan ada seribu penjara baginya.

“Belum lagi di tengah masyarakat perempuan kerap passif secara eksistensinya—tetapi secara kerja-kerja ritual atau sosial, seakan perempuan harus paling terdepan. Dogma-dogma memenjarakan kehidupan perempuan seutuhnya. Tak ada celah,” kata Vincent. “Lukisan ini satu wacana untuk mewakili perempuan dengan lingkungannya,” lanjutnya.

Dari garis-garis yang abstrak, pendek, atau panjang dan melengkung atau lurus ini, mencipta simbol seringkali ada batasan-batasan yang seolah harus diterima seorang perempuan. Perempuan itu harus begini, atau perempuan itu harus begitu. “Dogma dari orang-orang sekitar adalah sesutu yang terus dikonsumsi oleh perempuan, karena hanya itulah yang tersedia barangkali,” ucapnya lirih.

Vio saat menari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari kedua | Foto: Son

Di sudut kanvas di hari ke dua, penari muda bernama Vio (16) asal Denpasar, melempar wajah dingin tanpa senyum. Menatap sayu kehidupan di depannya, meraba kanvas, mendekap tangan yang kemudian tertunduk, ia menutup geraknya. Napasnya terengah seperti hendak menangis.

Tetapi wajah sedihnya itu, wajah dinginnya, ia lempar bersamaan dengan warna-warna tercecer di kaki sang pelukis. Ia menari begitu kincah, tubuhnya yang lentur menghidupkan simbol yang tergurat di kanvas.

Vio menari-nari dengan indah. Mengisyaratkan bahwa dirinya sebagai perempuan sangat kuat, “Apalagi ada seorang ibu yang menyayangi saya, saya semakin kuat walaupun kadangkala hidup ada gak asyiknya,” ucap Vio setelah menari, Minggu (21/7/2024) sore.

Vincent, pelukis asal Jogja itu, mengakui jika Vio telah menjadi vibes positif bagi dirinya dalam melukis di hari itu. Awalnya Vincent akan menggambar begitu kompleks permasalahan hidup perempuan. Cacian warna merah akan mendominasi guratan garis, pula warna hitam itu. Tetapi ia terbawa permainan Vio, gadis SMA asal Denpasar itu, dalam menari.

“Saya baru sadar, walaupun masalah perempuan itu datang bertubi-tubi, ternyata ada cinta sebenarnya. Vio membawa alasan saya untuk mengakhiri pertunjukan ini dengan cinta. Simbol untuk keluarga, anak, suami, ibu, dan lainnya yang memberi dukungan agar perempuan menjadi semakin kuat. Jadi, saya tambahkan warna pink—untuk cinta,” tutup Vincent.[T]

Editor: Jaswanto

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Tags: Balai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menepis Simplifikasi MBKM di Perguruan Tinggi

Next Post

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! -- Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co