22 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Son Lomri by Son Lomri
July 24, 2024
in Panggung
Pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan”: Ekspresi Perempuan dan Imajinasi yang Lain

Vio dalam pertunjukan "Wanita Dalam Lukisan" | Foto: Son

GURATAN tak beraturan, abstrak, dengan warna hitam dan merah, membentuk figur perempuan pada kanvas putih yang ditempel di pohon mangga itu, menarik perhatian saya. Pola-pola tak berbentuk dan garis-garis aneh itu diciptakan oleh seorang perempuan muda di depan saya secara langsung—dan spontan, improvisasi.

Pola-pola abstrak tersebut mempresentasikan bagaimana kehidupan telah mendera perempuan sejak ia dilahirkan—bahkan seperti tak ada hentinya. Perempuan itu, dengan gerak tubuhnya yang teatrikal, terus mengoleskan kuasnya pada empat kanvas putih berukuran besar itu.

Perempuan tersebut bernama Vincentia Tunjung Sari, seniman muda asal Yogyakarta yang kini bekerja di kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng. Saat itu ia sedang melakukan pertunjukan dengan tajuk “Wanita Dalam Lukisan” dalam acara Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Pagelaran dan Eksebisi Budaya Buleleng yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB selama dua hari, 20-21 Juli 2024 di Taman Bung Karno, Singaraja.

Vincentia Tunjung Sari bersama lukisannya | Foto: Son

Vincent tak sendiri. Dalam performace art itu ia ditemani dua perempuan penari muda yang merespon secara langsung pola-pola ciptaannya. Dua penari itu meliuk-liuk, menguji diri sampai pada batas tubuh. Tubuh keduanya lentur dan liat.

Seorang penonton ikut serta dalam pertunjukan. Penonton itu mencoret lengan si penari dengan tinta hitam. Ia membentuk garis panjang yang tak putus. Ya, dalam pertunjukan ini, penonton bisa langsung terlibat. Ini memang sudah direncanakan. Penonton dapat langsung merespon apa yang Vincent tawarkan.

Walaupun tak semua isi pikiran dapat tertuang dalam kanvas tersebut, tetapi konsep yang sederhana itu telah membuat banyak mata menafsir, menduga-duga, apa makna yang hendak Vincent sampaikan? Atau yang lebih lugu dan mendasar, apa yang ia gambar?

Melalui bentuk titik yang menjadi satu garis utuh bergelombang, Vincent sedang membentuk tubuh perempuan. Itu juga merupakan simbol bahwa perempuan selalu berada dalam bayang-bayang (tantangan) yang kompleks.

Selama dua hari itu, katanya, ia ingin mengisahkan bagaimana perempuan bisa bertahan dari peluru-peluru masalah yang menghujaninya sejak ia lahir.

Dua perempuan yang menari di hari pertama, misalnya, hanya bisa pasrah ketika penonton melukis di tubuh mereka secara langsung dengan kuas—secara bebas. Hal ini menandakan bahwa tubuh perempuan atau perempuan secara sosial dihujam guratan hidup tak beraturan yang bengis—dan tak jarang mereka memilih pasrah daripada melawan.

Dua penari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari pertama | Foto: Son

“Perempuan selalu didera kehidupan, walaupun di dalamnya ada rahim yang selalu melahirkan kehidupan,” ucap Vincent setelah mengangkat kuasnya dari kanvas, Minggu (21/7/2024) sore.

Ya, rahim perempuan memang melahirkan banyak kehidupan. Tetapi tubuh yang dieksploitasi dan penilaian yang didominasi sudut pandang sosial-kultur patriarki, seperti menjebloskan perempuan ke dalam penjara tanpa pintu. Pengap. Dan jika perempuan babak belur, ke mana biasanya ia pergi menangis?

Tabula Rasa dan Imajinasi yang Lain

Seniman perempuan kelahiran Yogyakarta, 30 Maret 1996, itu memandang bahwa, secara tidak sadar, kenyataan di masyarakat perempuan itu bias bahkan nyaris tak dilihat. “Tapi semakin kita gak dilihat, ternyata banyak hal yang menguatkan kita sebagai perempuan. Karena kita perempuan, misalnya, menjadi seorang ibu dan kemudian kita punya anak, dan anak itulah yang menguatkan kita, begitupun sebaliknya,” ujar Vincent.

Dalam pertunjukannya kali ini, pada hari pertama, Vincent mengaku sekadar membuat pola tanpa konsep, mengalir, tak berbentuk. Sebab, Vinsent menganalogikan perempuan pasca lahir layaknya kertas yang masih kosong.

Dian Ujiana, seniman komik “Beluluk”, ikut menggoreskan karya di kanvas Vincent | Foto: Son

“Kita sebagai manusia, sebagai perempuan, dilahirkan seperti kertas putih. Terus kemudian warna seperti hitam, abu-abu, dan garis kompleks, itu seperti alur kehidupan kita yang macam-macam yang kemudian membentuk kehidupan kita seperti apa di masa yang akan datang,” tuturnya.

Orang-orang berkumpul menonton dirinya melukis, seperti tak ada yang berat di kepalanya. Kuas terus mengalir dari satu kanvas ke kanvas lain, menggoreskan tafsiran cukup pelik. Warna-warna tercecer di kakinya tak beraturan. Dua penari itu, di sela-sela menari, penonton lain mencoret-coret tubuhnya, memberi kesan visual lukisan Vincent menjadi tambah hidup. Musik instrumental mengiringi mereka.

Benar-benar pertunjukan yang hidup. Perempuan tamatan ISI Jogja itu seakan melempar dadu rahasia pada satu arena kecil tempatnya melukis melalui gambar. Orang-orang dibuatnya beradu perkiraan sore hari di sana.

Pikiran Vincent berbeda dengan imajinasi laki-laki dalam melukis, yang klise ketika menggambarkan tubuh perempuan—yang nyaris (hanya) mengeksplorasi tubuh perempuan secara indah, mudah ditebak karena eksotis, misalnya.

Sepertu Salvador Dali yang tergila-gila dengan kemolekan—keindahan tubuh istrinya, Gala. Lantas ia melukis istrinya yang cantik itu. Juga sama dengan Picasso yang demikian, entah berapa banyak tubuh perempuan cantik ia penjarakan dalam kanvasnya.

Seorang anak perempuan sedang mencoret canvas | Foto: Son

Hardiman melalui esainya Perkara Tubuh Perempuan dalam buku berjudul “Eksplorasi Tubuh” (2015) memandang bahwa cara berpikir dalam seni—seperti Salvador Dali dan Picasso—adalah salah satu cerminan dari pada ideologi patriarki, yang disadari atau tidak, hal demikian (masih) dipelihara atas nama kebudayaan.

Dan Vincent seolah ingin mengejek cara pandang konvensional seperti itu jika masih ada. Dia berkata, karena hal demikian hanya membawa ke satu ranah seksualitas yang kering, menjatuhkan perempuan pada nilai yang rendah. Perempuan bukan objek seksual semata—juga bukan objek pariwisata tubuh barangkali. “Ada ranah sosial yang lebih berperan yang membentuk perempuan seperti apa, dan itu bukanlah kebebasan,” katanya.

Keselarasan Intuisi Pelukis dan Penari

Secara sosiologis, Vincent ingin mengisahkan sesuatu melalui caranya melukis yang teatrikal. Pula melalui gambarnya yang tak beraturan tetapi dengan warna-warna penuh simbolik, misalnya, ia benar-benar menyatakan sikapnya sebagai perempuan bahwa di balik keindahan seorang perempuan ada seribu penjara baginya.

“Belum lagi di tengah masyarakat perempuan kerap passif secara eksistensinya—tetapi secara kerja-kerja ritual atau sosial, seakan perempuan harus paling terdepan. Dogma-dogma memenjarakan kehidupan perempuan seutuhnya. Tak ada celah,” kata Vincent. “Lukisan ini satu wacana untuk mewakili perempuan dengan lingkungannya,” lanjutnya.

Dari garis-garis yang abstrak, pendek, atau panjang dan melengkung atau lurus ini, mencipta simbol seringkali ada batasan-batasan yang seolah harus diterima seorang perempuan. Perempuan itu harus begini, atau perempuan itu harus begitu. “Dogma dari orang-orang sekitar adalah sesutu yang terus dikonsumsi oleh perempuan, karena hanya itulah yang tersedia barangkali,” ucapnya lirih.

Vio saat menari dalam pertunjukan “Wanita Dalam Lukisan” hari kedua | Foto: Son

Di sudut kanvas di hari ke dua, penari muda bernama Vio (16) asal Denpasar, melempar wajah dingin tanpa senyum. Menatap sayu kehidupan di depannya, meraba kanvas, mendekap tangan yang kemudian tertunduk, ia menutup geraknya. Napasnya terengah seperti hendak menangis.

Tetapi wajah sedihnya itu, wajah dinginnya, ia lempar bersamaan dengan warna-warna tercecer di kaki sang pelukis. Ia menari begitu kincah, tubuhnya yang lentur menghidupkan simbol yang tergurat di kanvas.

Vio menari-nari dengan indah. Mengisyaratkan bahwa dirinya sebagai perempuan sangat kuat, “Apalagi ada seorang ibu yang menyayangi saya, saya semakin kuat walaupun kadangkala hidup ada gak asyiknya,” ucap Vio setelah menari, Minggu (21/7/2024) sore.

Vincent, pelukis asal Jogja itu, mengakui jika Vio telah menjadi vibes positif bagi dirinya dalam melukis di hari itu. Awalnya Vincent akan menggambar begitu kompleks permasalahan hidup perempuan. Cacian warna merah akan mendominasi guratan garis, pula warna hitam itu. Tetapi ia terbawa permainan Vio, gadis SMA asal Denpasar itu, dalam menari.

“Saya baru sadar, walaupun masalah perempuan itu datang bertubi-tubi, ternyata ada cinta sebenarnya. Vio membawa alasan saya untuk mengakhiri pertunjukan ini dengan cinta. Simbol untuk keluarga, anak, suami, ibu, dan lainnya yang memberi dukungan agar perempuan menjadi semakin kuat. Jadi, saya tambahkan warna pink—untuk cinta,” tutup Vincent.[T]

Editor: Jaswanto

Ayu Laksmi dan Nyanyian-nyanyian Pemuja Semesta
Gong Mebarung Wahana Santhi dan Santhi Budaya di Singaraja: Wiranjaya yang Masih Tetap Memberi Pertanyaan
Festival Kebyar Kasih Pertiwi: Ajang Kolaborasi, Ekspresi, dan Apresiasi Kebudayaan
Tags: Balai Pelestarian KebudayaanBPK Wilayah XV Bali-NTBFestival Kebyar Kasih Pertiwi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menepis Simplifikasi MBKM di Perguruan Tinggi

Next Post

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
0
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

Read moreDetails

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
0
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

Read moreDetails

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
0
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

Read moreDetails

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! — Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Jangan Lihat Sajak Angga Wijaya dari Sisi Dia Penyintas Skizofrenia! -- Dari Peluncuran Buku “[Bukan] Anjing Malam”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co