14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesona Pantai Kaliasem, Tak Kalah Cantik dengan Pantai Lovina

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
June 7, 2024
in Tualang
Pesona Pantai Kaliasem, Tak Kalah Cantik dengan Pantai Lovina

Pesona barisan perbukitan diambil dari tengah surutnya Pantai Kaliasem | Foto: Pande

MATAHARI menyorot mataku dari celah kecil ventilasi rumahku, aku lihat persis di pojok kiri atas smartphone jam menunjukkan pukul 16.15 WITA.

Entah suatu kebetulan atau bagaimana Dandy temanku di bangku perkuliahan menelpon dengan begitu semangatnya. “Nde gas ngauhang (ke barat),” ajak Dandy dalam percakapan singkat itu.

Sudah pasti jawabanku, “Gas”. Berkelana di cerahnya cakrawala ide yang sangat bagus dan tidak akan aku sia-siakan kesempatan luang kali ini.

Tak pikir panjang aku bergegas memutar gas menggeber motor bebekku. Kumpul dulu di kosnya Dandy, ternyata menunggu Fride yang juga ingin ikut namun sedikit telat karena baru bangun tidur setelah bergelut dengan alam mimpinya. Aku tau ia pun penat apalagi sehabis perkuliahan.

“Kauh (barat) ke mana, Dan?,” kataku menekankan makna ngauhang ketika ia menelponku tadi.

Buleleng di bagian barat menawarkan berbagai macam destinasi wisata yang mesti masuk list salah satu tempat yang harus dikunjungi.

Hamparan persawahan yang luas, perbukitan tinggi yang membentang, hingga pesona alam laut yang begitu memukau, seperti halnya Pantai Lovina dengan panorama sunset point dan tarian kecil khas lumba-lumba yang sudah menjadi ikonik tersendiri bagi tempat tersebut.

“Ada pokoknya baru, gak kalah sama Lovina,” seru Dandy dengan begitu yakin.

Perkataan Dandy sedikit membuatku excited. Perjalanan kali ini, kata Dandy, hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Jika aku pikir-pikir 30 menit rasanya sama jika aku menuju pantai Lovina.

Kami bertiga berangkat dari Banyuning, kami memilih Jalan Surapati agar lebih leluasa ketika dilalui. Harap maklum, Banyuning di jam-jam genting pulang bekerja cukup lumayan padat, belum lagi di tambah truk-truk besar yang melintas menutupi badan jalan.

Jalan Surapati masih lumayan lenggang untuk bisa kami lalui meskipun beberapa kali sedikit diam karena melewati pintu masuk timur dari Pasar Anyar.

Aku berboncengan dengan Dandy yang begitu meliuk-meliuk bak pembalap moto GP, Dandy yang mengerti kesempatan dengan celah-celah kecil agar bisa menyelinap menyalip kendaraan-kendaraan lain. Berbeda jika aku yang membawa motornya, mungkin sudah tertinggal lebih dulu.

Jauh berjalan kami belum tiba di tujuan, mentari menyorot bak bersiap menyambut kami dengan tarian terbenamnya yang indah perlahan-lahan ia mencoba beranjak turun bergegas digantikan dengan malam.

Aku dan Dandy sempat bergurau kecil, ia mengakui tinggal di kos sebenarnya membuat pikirannya tidak menjadi lebih tenang namun berbalik menjadi rumit. Satu hal sepulang berkuliah ia tidak merasakan hal yang sama ketika ia berada di kampungnya sendiri di Seririt. Mungkin itu menjadi salah satu alasan ia mengajak kami untuk sekadar melepas penat dengan begitu banyak tugas di ujung penutupan semester enam ini.

Tak terasa berlalu kami telah melewati destinasi wisata Pantai Lovina, entah ke mana makna kauh yang Dandy katakan. Aku perhatikan ternyata tak jauh dari pintu masuk pantai lovina berjarak 4 menit Dandy sudah menghidupkan sein kanan pada motornya, kami sudah tiba di tempat wisata yang Dandy katakan.

Patokannya itu dekat dengan tempat makan Ikan Bakar Tanjung Alam. Jalan masuknya hanya diapit trotoar pejalan kaki dengan jalan masuk yang belum terawat mungkin hanya sepeda motor saja yang bisa melaluinya.

Aku rasa tidak disarankan kendaraan roda empat masuk melewati pintu ini. Jika menggunakan kendaraan roda empat rasanya harus parkir di pinggir jalan dan berjalan lagi sejauh kurang lebih 7 meter hingga bertemu dengan bibir pantai.

Genangan kecil di tengah surutnya Pantai Kaliasem | Foto: Pande

Tempatnya masih tidak begitu terawat, aku pikir sepertinya pantai ini belum dikelola dengan begitu baik. Seharusnya apa yang dilihat pertama kali akan menjadi kesan jika tempat ini benar-benar wajib untuk dikunjungi namun masih ada beberapa yang perlu menjadi catatan kecil untuk menjaga tempat wisata ini.

Tempat parkir yang masih beralaskan rumput bercampur pasir pantai, seringkali licin jika dilalui oleh sepeda motor, sampah yang berserakan, rumput-rumput yang terus meninggi menjadi catatan tentang bagaimana arti hanya menikmati namun lupa untuk menjaga. Kondisi seperti ini sudah semestinya menjadi tanggung jawab kita bersama.

Perlu diketahui tempat ini masih minim penjual makanan ringan, kulihat hanya ada pedagang bakso motor yang mangkal tempat ini. Aku menyarankan untuk membawa makanan ringan dari rumah saja.

Pelukismu Agung, siapa gerangan
Pelang-pelangi ciptaan Tuhan

Benar apa yang dikatakan sepenggal lirik dari lagu Pelangi yang menemani hari-hari kecilku. Di tempat ini aku hanya bisa terdiam dan coba memandangi dari arah kiri hingga ke kanan.

Bak tersihir diriku melihat lukisan dari Sang Pencipta, suguhannya tidak main-main pesona sunset-nya ditemani sepoi angin pantai seperti membawaku ke dimensi lain yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Tepi Pantai Kaliasem dengan view Sunsetnya | Foto: Pande

Pantai di sini masih tergolong sepi, mungkin belum banyak orang yang tahu akan keberadaan pantai ini, bisa dibilang masih hidden gem-nya Kabupaten Buleleng walau bersebelahan dengan jalan raya.

Pasir hitam masih sama dengan pasir yang berada di Pantai Lovina, tidak salah lagi soalnya masih berjarak 900 meter jika di hitung dengan bantuan Google Earth. Bisa dibilang bak saudara kembar yang terpisahkan.

Pantai Kaliasem, begitu Dandy menyebut nama pantai itu. Sayangnya belum sama dengan nasib saudara di sebelahnya yang tersusun rapi dan terus dipersolek sedemikian cantiknya.

Pantai yang masuk wilayah Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Buleleng, ini memang perlu perawatan dan perhatian yang khusus sepertinya, akses yang begitu mudah dan tempatnya yang tidak perlu masuk kedalam sudah berada di pinggir jalan raya, menyaksikan sunset pun tidak kalah kerennya dengan Pantai Lovina.

Kalau terus disolek, Pantai Kaliasem ini mungkin bisa menyaingi saudara kembarnya. Namun sayangnya Pantai Kaliasem masih jauh dari kata diperhatikan.

Pemancing dengan pancingnya di Pantai Kaliasem | Foto: Pande

Pantai Kaliasem memiliki garis pantai yang cukup panjang. Apabila kita datang di waktu yang tepat kita bisa menyaksikan keindahan Pantai Kaliasem ditambah dengan kondisi surut air lautnya.

Kebetulan kami mendapat keberuntungan jadinya bisa menyaksikan Pantai Kaliasem di waktu surutnya. Surutnya sekitar 100 hingga 200 meter jauhnya.

Aku hanya menemui beberapa wisatawan lokal yang mungkin tinggal di sekitar tempat ini. Beberapa wisatawan disini hanya sekadar melepaskan penat, beberapa aku lihat pemancing yang memenuhi hobi mereka yang rela setengah badan mereka terendam air laut.

Beberapa anak kecil begitu riang dengan jaring kecilnya mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang terkurung di tengah genangan air laut yang surut.

Ombak kecil menghanyutkan senja dengan matahari terbenamnya, beberapa tanaman hijau mirip dengan rumput darat menari-menari dengan gemulainya. Sesekali ombak itu mencoba meraih kakiku, terlihat air laut masih begitu bersih sedikitpun tidak aku temui sampah mengotori laut ini, meskipun berpasir hitam tapi masih bisa kunampaki mahkluk kecil penghuninya.

“Awas ada bulu babi,” begitu dandy memberitahuku. Sepertinya ia sudah menjadikan tempat ini sebagai pelabuhan penatnya.

Aku coba melangkah lebih jauh hingga di ujung surutnya pantai ini, “Nyegara Gunung” (Laut dan Gunung konsep kepercayaan masyarakat Bali) begitu konsepsi alam yang nyata aku temui di sini.

Biasanya berwisata ke pantai ya nikmatnya lautnya saja, tapi ini benar jauh berbeda. Bahkan tidak ada satupun penghambat yang mencoba menghalangi tatapan dari laut menuju gunung yang cantik ini.

Jauh mata memandang bukit-bukit berbaris mengelilingi bumi Panji Sakti, view 3600 begitu yang aku rasakan di sini, membayangkan aku berada di tengah laut jika posisi air laut sedang pasang.

Pemancing melintas dengan view Sunset Pantai Kaliasem | Foto: Pande

Ditambah sunset yang begitu menawan benar-benar mahakarya yang tidak bisa ditiru oleh siapa pun. Sekali lagi aku apa yang aku sayangkan membekas dalam benakku. Hei Pantai Kaliasem dirimu tak kalah cantik dengan Pantai Lovina yang ada di sebelahmu. Hanya perlu perawatan lebih serius saja.

Sudah hampir 30 menit lamanya aku berada di pantai ini, matahari kian menutup dirinya di sebalik gunung.

Sebelum aku meninggalkan pantai ini, mungkin aku menaruh banyak harapan di sini. Sangat banyak berharap agar kedepan lebih banyak akan berbenah dan lebih bersolek hingga melebihi cantik dari saudara kembarmu si Pantai Lovina.

 Jangan dulu lelah menawarkan cantikmu, hei, Pantai Kaliasem. Semoga kelak anak cucuku pun ikut merasakan keindahanmu ini. [T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Adnyana Ole

Berlabuh Sejenak di Pantai Labuhan Amuk: Ada Tenangnya, Ada Sedihnya
Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya
Suka Duka Pembaca Water Meter PDAM: Diprotes Pelanggan, Digigit Anjing, sampai Bertemu Ular pun Sudah Biasa
Tags: bulelengDesa KaliasemPantai KaliasemPantai LovinaPariwisatapariwisata balipariwisata buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pending Dulu, Revolusinya Tidak Jadi

Next Post

Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban

Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co