14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Juni Widiantari, Gadis Pengawas Pemilu di Tigawasa: Kadang Susuri Jalan Rusak di Tengah Gelap Malam

Jaswanto by Jaswanto
May 30, 2024
in Persona
Juni Widiantari, Gadis Pengawas Pemilu di Tigawasa: Kadang Susuri Jalan Rusak di Tengah Gelap Malam

Juni Widiantari

SINGARAJA, puluhan kilometer sebelah utara ibu kota provinsi Bali, suatu sore di bulan Mei. “Pemilu kemarin adalah pengalaman pertama saya menjadi PKD,” kata gadis mungil yang tingginya sekitar 150-an centimeter itu. Ia menguncir rambutnya, mengenakan baju bergaris hitam-putih dan celana panjang, yang membuatnya tampak seperti boneka Barbie—boneka mainan masa kecil yang bajunya bisa dibongkar-pasang. Meski betubuh mungil, tapi bicaranya tegas dan percaya diri—walaupun sesekali tampak gugup dan terbata.

Namanya Ni Putu Juni Widiantari (23), gadis mungil dari Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, pengawas Pemilihan Umum (Pemilu) tingkat kelurahan/desa—selanjutnya disebut Panwaslu Kelurahan/Desa (PKD)—pada Pemilu 2024 yang lalu, sedang bercerita tentang dirinya sendiri di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam acara “Cerita-Cerita dari Penyelanggara Pemilu” serangkaian Tatkala May May May 2024, Jumat (24/5/2024) sore.

Setelah dilantik bersama 148 orang pengawas di seluruh desa-kelurahan di Kabupaten Buleleng pada Februari 2023, Juni, begitu ia akrab dipanggil, memilih bertugas di tanah kelahirannya sendiri di Tigawasa, desa Bali Aga yang penuh stereotip, sebagaimana Sidetapa, Cempaga, Pedawa, dan Banyuseri, yang terletak di sekitarnya.

Tigawasa dan sekitarnya selalu dianggap sebagai daerah rawan konflik, meski tak jelas benar dasar argumentasi orang-orang yang menganggapnya demikian. Tapi barangkali karena di masa lalu, di daerah ini dan—sekali lagi—sekitarnya, pernah terjadi huru-hara yang memakan korban, menjadikan Tigawasa sebagai desa yang penuh prasangka.

Setiap perhelatan demokrasi, entah Pemilu maupun Pilkada, Tigawasa, Sidetapa, Cempaga, Pedawa, dan Banyuseri—atau yang sering disingkat SCTPB—sering menjadi sorotan media. Namun, meski demikian, Juni tak mengurungkan niatnya untuk menjadi PKD di sana.

“Waktu itu, karena bertugas di desa saya sendiri, jadi saya yakin tidak akan terjadi apa-apa. Orang tua saya juga siap membantu,” kata Juni.

Juni (paling kanan) saat bercerita dalam acara Tatkala May May May 2024 di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Pande Jana

Bagi Juni, menjadi PKD adalah pengabdian kepada desa. Alih-alih mendaftar sebagai staf, yang lebih banyak bekerja di kantor, ia malah memilih PKD yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—dan tentu risikonya lebih banyak daripada yang hanya duduk-duduk saja di ruangan sambil menghadap layar komputer atau telepon genggam pribadi.

Menjadi PKD sangat menyenangkan, kata Juni, sebab bisa mengenal lebih banyak orang dan seluk-beluk desa, khususnya desanya sendiri. Selama kuliah ia merasa telah menghabiskan banyak waktu di kota. Kampung halaman hanya sekadar tempat singgah pada saat liburan atau upacara agama. Oleh karena itu, pada saat menjadi petugas PKD di desanya sendiri, ia merasa bekerja di pangkuan ibunya.

“Selain itu, menjadi PKD juga melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi dan koordinasi dengan pemerintah desa dan banyak orang. Dulu, saya ke kantor desa paling cuma sekali setahun, untuk urusan surat menyurat. Tapi, waktu jadi PKD, saya banyak berkoordinasi dengan kepala desa dan juga perangkatnya,” terang Juni seolah sedang memberi testimoni.

Pada Pemilu 2024 yang lalu, di Tigawasa terdapat tujuh belas TPS. Dengan topografi Tigawasa yang ekstrem—terjal, curam, permukiman menyebar, dan gelap ketika malam mendaulat, Juni pontang-panting ke sana-ke mari. Sebagai seorang petugas perempuan, ia kerap dikhawatirkan banyak warga. “Saya santai, tapi malah orang-orang yang khawatir,” katanya sembari tertawa.

Namun, meski menyenangkan, menurut Juni, asas keadilan terkait honorarium PKD perlu ditinjau kembali. Dalam penyelenggaraan Pemilu kemarin, setiap petugas diberi imbalan (honor) yang sama, gebyah uyah, tanpa mempertimbangkan jumlah TPS atau medan daerah tempat PKD bertugas.

“Di Tigawasa ada 17 TPS. Sedangkan di Desa Tampekan, misalnya, hanya ada 3 TPS. Terus gaji kami disamakan,” ujar Juni, membandingkan. Syahdan, saat ia mengatakan hal tersebut, orang-orang yang mendengarnya tak dapat membendung tawa.

Juni (tengah) | Foto: Pande Jana

Sebagai petugas yang belum memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan Pemilu, Juni mengaku lebih banyak bertanya kepada rekan-rekan sesama PKD, PPS, maupun Panwascam. “Saat dinyatakan lolos, saya bangga sekaligus cemas. Saya perempuan, apalagi saya masih muda,” akunya. Di Kecamatan Banjar, ia menjadi satu-satunya petugas yang paling muda di antara PKD yang lainnya. “Di Banjar ada 17 PKD. Tiga perempuan, tapi saya yang paling muda.”

Singaraja terasa gerah dan panas akhri-akhir ini. Matahari bersinar sepanjang waktu, nyaris tak ada awan yang sanggup menutupinya, meski hari hendak berganti. Sore itu, Juni duduk di kursi besi beralas kayu, diapit tiga lelaki yang duduk di samping kanan-kirinya. Ia, sebagaimana telah disampaikan di atas, sedang menceritakan pengalamannya saat menjadi PKD bersama salah satu komisioner KPU Buleleng dan seorang mahasiswa yang pernah menjadi petugas PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) pada Pemilu 2024.

***

Pada saat Juni mendaftar menjadi PKD dan dinyatakan lolos, ia masih tercatat sebagai mahasiswa akhir di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Di sela-sela menyiapkan berbagai hal untuk ujian skripsi, Juni menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kelurahan/Desa pada Pemilu 2024. Beruntung, kata Juni, pada saat itu dirinya tinggal menunggu jadwal sidang skripsi saja. “Jadi, saya bisa fokus menjadi pengawas.”

Tahun 2022, pada saat duduk di bangku semester enam ilmu hukum Undiksha, Juni magang di kantor Bawaslu Kabupaten Buleleng selama tiga bulan. Bersama dua orang temannya dari Panji dan Mengwi, ia ditunjuk prodi tempatnya menambang ilmu untuk magang di kantor pengawas Pemilu itu. Ini bukan kemauannya sendiri, memang. Tapi Juni mengaku tak menyesal sama sekali. Justru ia merasa mendapat banyak ilmu dan pengalaman selama magang.

“Waktu itu kami membantu Bawaslu saat pendaftaran Panwascam dan stafnya. Juga membantu verifikasi faktual di lapangan—verifikasi data meninggal. Kami juga diminta untuk membuat form A, namanya. Nah, form inilah yang membantu saya saat menjadi PKD,” jawab Juni saat ditanya mengenai apa saja yang ia lakukan pada saat mejadi anak magang.

Sampai di sini, pengalaman dan pengetahuan yang Juni dapatkan selama magang di Bawaslu, telah membantunya saat menjadi PKD. “Karena pernah magang di Bawaslu, jadi saya sudah punya gambaran sedikit-sedikit,” sambungnya sembari tersenyum.

Manjadi PKD tak semudah seperti yang banyak orang pikirkan, apalagi bertugas di desa-desa terpencil dengan medan terjal, curam, naik-turun, dan pola permukiman yang jauh dari pusat keramaian, seperti tempat Juni menjalankan tugas. “Banyak orang bilang, kalau menjadi PKD itu gampang, tugasnya hanya mengawasi saja. Padahal, kenyataannya lebih sulit daripada itu,” ujar gadis penyandang gelar sarjana hukum (SH) itu.  

Seorang PKD, sebagaimana tertulis di laman Bawaslu, setidaknya memiliki tujuh tugas dan lima tanggung jawab yang harus dijalankan. PDK, selain bertugas mengawasi pelaksanaan tahapan penyelenggaraan pemilihan di wilayah kelurahan/desa, juga menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap tahapan penyelenggaraan pemilihan yang dilakukan oleh penyelenggara pemilihan.

Tak hanya menerima laporan, petugas PKD juga harus meneruskan temuan dan laporan dugaan pelanggaran tersebut kepada instansi yang berwenang, lalu menyampaikan temuan dan laporan kepada PPS dan KPPS untuk ditindaklanjuti.

PKD juga bertugas memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan tentang adanya tindakan yang mengandung unsur tindak pidana pemilihan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan pemilihan, sampai melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diberikan oleh Panwaslu Kecamatan.

Di lapangan, menjelang Pemilu, pada saat musim kampanye, Juni mengaku harus bekerja keras. Setiap ada kampanye di Tigawasa ia harus hadir—untuk memastikan tidak ada kecurangan selama kampanye, katanya. Waktu musim kampanye, ia memang sangat sibuk. Di Tigawasa, sehari bisa dua sampai tiga caleg yang menggelar kampanye. Bahkan ada dua caleg yang kampanye pada waktu bersamaan. “Saya kelabakan,” akunya.

Pernah, suatu kali, kegiatan kampanye dilakukan pada malam hari. Undangan jam tujuh malam, selesai pukul sembilan malam. Pada saat hendak pulang, sebagaimana telah disinggung di atas, banyak warga yang mengkhawatirkan Juni. Di Tigawasa jalanan terjal, curam, dan gelap seperti masa lalunya.

Menurut aturan yang berlaku, sebelum melakukan kampanye, pihak calon legislatif maupun eksekutif diharuskan mengirim surat pemberitahuan terlebih dahulu kepada PKD supaya petugas mengetahui bahwa hari ini, jam sekian, di tempat ini akan digelar kampanye. Namun, ada saja pihak yang tak mengirim surat—bahkan tak membuat surat. Ini membuat pekerjaan Juni menjadi sulit.

“Karena tidak ada surat, aku kan nggak tahu kalau ada kampanye. Kalau sudah seperti itu, kadang ada tim sukses lain yang protes. “Kalau partai lain boleh kampanye tanpa surat, kalau kami harus pakai surat’. Suara-suara seperti itu sering saya dapat,” terang Juni polos.

Selama menjadi PKD, kadang-kadang ia juga dipermainkan. Ada orang yang memberi informasi bahwa di Tigawasa sebelah timur sedang ada kampanye, tapi setelah ke sana, ternyata tidak ada apa-apa. Selain itu, banyak orang yang melapor ada kecurangan, tapi tanpa bukti yang jelas. Meski demikian, Juni berkata, “HP saya tak pernah mati, supaya kalau ada informasi terkait Pemilu di Tigawasa saya tidak ketinggalan.”

Tak hanya pada saat musim kampanye, Juni juga sangat sibuk pada hari pencoblosan dan setelahnya. Pada hari penting dan paling krusial itu, ia mengaku kurang tidur. Dari pagi buta Juni mengunjungi TPS terjauh di Tigawasa. Ia keliling desa untuk memastikan Pemilu berjalan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Untuk TPS yang ia rasa sudah aman, tidak didatanginya. Cukup komunikasi lewat WhatsApp saja, katanya.

Foto bersama dalam acara Cerita-cerita Penyelenggara Pemilu di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Pande Jana

Juni juga harus mengawasi proses penghitungan surat suara di setiap TPS di seluruh Desa Tigawasa—yang berjumlah tujuh belas itu. Ia baru bisa pulang dan tidur setelah semuanya rampung. “Tidur selalu di atas jam 12 malam. Sedangkan jam 4 pagi sudah harus ke kantor desa,” tuturnya lirih.

Namun, seakan tidak kapok menjadi PKD, yang harus berhadapan dengan tim sukses, calon, warga desa, dan birokrasi desa, atau ditipu orang-orang sebagaimana kisahnya di atas, gadis yang lahir di bulan Juni tahun 2000 ini, sambil mencari-cari pekerjaan tetap, pada Pilkada Buleleng mendatang ia siap mendaftarkan diri menjadi PKD lagi. “Tapi kalau ada kesempatan menjadi staf, sepertinya saya akan mencoba melamarnya,” terangnya, lalu tertawa.

Banyak orang tak mengetahui kisah-kisah seperti yang Juni alami. Pada saat Pemilu atau Pilkada, media-media besar, arus utama, nyaris tak pernah menulis cerita-cerita “minor” dari orang-orang seperti Juni, petugas Pemilu yang barangkali dianggap tak terlalu penting. Media-media sibuk meliput para calon, dari gimik-gimik murahan sampai kontroversi-kontroversi tak penting; atau seputar kampanye (pencitraan), koalisi, analisa-analisa politik, dan survei-survei elektabilitas.

Selain sedikit memberi ruang kepada petugas-petugas Pemilu di akar rumput, nyatanya tak banyak media massa yang menjadikan rakyat sebagai subjek politik. Nyaris semua media sama-sama menempatkan Pemilu dalam koridor elitis dan formalis—dan tak sedikit berita yang seolah hanya notulensi agenda politik elit belaka.

Dalam ingar-bingar Pemilu, orang-orang seperti Juni hanyalah liliput di antara gergasi-gergasi bernama KPU, Bawaslu, partai politik, calon presiden dan wakilnya, maupun berita-berita buruk atau baik yang membumbuinya. Tapi, meski kecil, PKD adalah ujung tombak pengawasan.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Buleleng pun Punya Seniman Ogoh-ogoh dengan Karya yang Keren : Juni Pariawan dari Bengkala
Juni Widiantari, Mahasiswi Akhir Undiksha, Jadi Pengawas Pemilu di Desa Tigawasa
Guntur Juniarta dan Mai Kubu, Branding Anak Muda dari Anyaman Bambu Tigawasa
Jegeg Bagus Klungkung 2024: Sarat Tradisi, dari Nyegara Gunung, Lukat Geni, sampai Desa Kamasan
Tags: BawasluDesa TigawasapemiluPemilu 2024Pilkada BaliPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Angga Wijaya | Di Canggu, Sajak-Sajak ini Untukmu

Next Post

Semangat Pagi dari Jogging Track Pantai Desa Les

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Semangat Pagi dari Jogging Track Pantai Desa Les

Semangat Pagi dari Jogging Track Pantai Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co