4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menulis Cerita Tak Semudah Mendengarkan Cerita | Catatan Workshop Menulis Mahima March March March 2024

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
March 21, 2024
in Esai
Menulis Cerita Tak Semudah Mendengarkan Cerita | Catatan Workshop Menulis Mahima March March March 2024

Kadek Sonia Piscayanti sedang membacakan cerita pendek | Foto: Rusdy

“Singa itu tak pernah benar-benar kembali. Tugu itu juga tak ada yang memperhatikan lagi. Apakah singanya masih ada atau tidak. Semua masyarakat kota singa sibuk mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari. Mereka tak pernah peduli pada apapun lagi. Setelah pandemi semua menjadi giat bekerja kembali demi menebus hutang-hutang yang menumpuk tanpa henti. Semua harus bergulir demi sesuap nasi. Dan perkara singa yang datang dan pergi. Siapa yang mau peduli! Masyarakat kota seolah-olah tak peduli lagi. Tak perlu singa, tak perlu tugu, bahkan pemimpin pun tak perlu lagi. Pemimpin kota ini hanyalah pemimpin seolah-olah—seolah-olah ada, seolah-olah bekerja, seolah-olah memelihara kota, semuanya seolah-olah.“

BAGAIKAN sebuah pertunjukan monolog di kerumunan yang hening, Kadek Sonia Piscayanti membacakan cerita pendek Kisah dari Negeri Tanpa Singa. Cerpen itu, yang ia tulis sendiri, dibacakan di depan peserta Workshop Menulis Cerita, rangkaian acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Minggu, 17 Maret 2024.

Masih panjang sebenarnya cerita tentang singa dan kota yang ia bacakan. Sebuah cerita yang terlanjur disimak serius oleh saya dan peserta workshop lainnya. Semua larut dalam hening mendengarkan Sonia yang bak seorang nenek yang sedang mendongeng kepada cucu-cucunya.

Peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa itu dibius oleh Kisah Dari Negeri Tanpa Singa—bertabur lihai ekspresi wajah pencerita (Sonia). Cerpen itu merupakan cerita pendek ketiga yang ditulis Sonia tentang pengalaman imajinernya tentang “Tugu Patung Singa” di Kota Singaraja—sebuah patung singa yang konon mitosnya bisa bergerak sendiri di malam hari.

“Bagi saya tugu itu bukan sekadar tugu. Tugu itu memang harus ada di situ. Saya membayangkan jika suatu hari tugu itu nggak ada maka perasaan kita sebagai warga kota itu akan berubah”—alasan Sonia kenapa menulis cerita tentang itu.

Sementara di lain sisi, saya sendiri hanya sibuk memikirkan tentang: bagaimana Sonia bisa menulis cerita seperti itu? Dari mana ia mendapatkan ide cerita yang di luar nurul?

Mungkinkah dari mitos tentang patung singa itu, akan tetapi cerita yang ia bangun dalam cerpennya jauh lebih gawat dari mitos patung singanya. Sonia menulis singanya hilang, bukan sekadar bergerak. Amat darurat bukan?

Tetapi perlu digari bawahi, seorang Kadek Sonia Piscayanti bisa saja menulis semua manusia di bumi ini hilang atau semua lelaki berubah jadi kucing. Semau-maunya dan sebabas pikirannya. Tidak ada yang mustahil untuk ditulis bagi seorang penyair seperti Sonia. Penulis iya, sastrawan iya, akademisi juga iya. Tak perlu dijelaskan track record-nya dalam kepenulisan.

Nah, pertanyaanya, bisakah kita meramu cerita seperti Sonia? Yang sudah menulis sedari zaman cinta monyet. Sedangkan kita, terbiasa menjiplak kata-kata bijak yang lewat di Tiktok.  Menulis status Facebook aja perlu bertapa tujuh hari tujuh malam. Bisakah kita membangun cerita seperti Sonia? Sedang kita ini dibilang penulis aja nanggung, penyair juga bukan, apalagi akademisi—tamat aja belum.

Peserta workshop menulis cerita | Foto: Rusdy

Ternyata menulis cerita tak semudah bersilat lidah depan pacar atau ngegosipin politikus di tongkrongan. Tak selancar curhatan teman yang sedang gegana (gelisah galau merana).

Tapi sebelum negara api menyerang kamu bosan membaca tulisan saya. Coba pikirkan kenapa kita harus menulis cerita?

Ada ungkapan “orang hebat lahir dari pemikiran gila.”

Sebelum nanti jadi hebat, sekarang pikiran gila apa yang ada di benakmu? Saya tidak bermaksud mengajak untuk berandai-andai menjadi orang hebat. Maksud saya, kita bisa saja berpikir sehebat Sonia. Atau punya imajinasi liar yang melebihi Djenar Maesa Ayu, misalnya.

Kisah hidup yang kita alami bisa saja jauh lebih berdrama dari film Korea, imajinasi kita bisa saja lebih seru dari film Harri Potter. Namun, tetap saja itu masih dalam benak pikiran.“Ide boleh hebat. Tapi kalau tidak dituliskan tetap saja tidak akan menjadi apa-apa,” ungkap Sonia.

Besok atau beberapa jam lagi kepala kita bisa saja ketiban durian runtuh atau beradu bentur dengan banteng, bisa saja tetiba amnesia. Kita tak bisa mengatur ingatan dan imajinasi untuk tetap bertahan di dalam kepala. Akan ada aja bagian yang hilang atau terlupakan.

Jikalau pun jadi cerita dari mulut ke mulut, memangnya ada berapa mulut yang mampu bertutur meneruskan tentang apa-apa yang kita rasakan dan pikirkan? Ada berapa telingan yang mampu terjangkau? Tentu tidak banyak dan tak akan bertahan lama.

Untuk hal itu Sonia mencoba memberikan alasan yang sederhana. “Cerita itu bisa untuk mengenang orang-orang yang kita sayangi.”Selain itu, Sonia yakin walaupun sebuah cerita yang dituliskan belum relate dengan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain kini. Akan tetapi, suatu waktu bisa saja ceritanya menyentuh dan menggugah orang-orang.

Jika sebuah cerita ditulis, maka tak sulit pula untuk tersebar luas. Menjangkau orang-orang yang tak pernah kita kenal dan tahu. Cerita akan hidup dan bermekaran di mana-mana. Esok atau lusa, kini atau nanti. Aseeekkk.

Lagi pula, jika tidak terbiasa bertutur atau berbicara menyampaikan isi pikiran, maka siap-siaplah terbata-bata atau bingung dengan kata apa yang harus keluar. Jangan heran jika cerita yang seharusnya lucu bisa jadi boring, cerita yang menegangkan bisa jadi datar, cerita yang sedih bisa jadi biasa—kalau tak terbiasa menyampaikan sebuah cerita.

Menulis bisa jadi cara merapikan lagi bahasa dalam menyampaikan sesuatu. Dengan menulis kita bisa belajar menentukan dan mengevaluasi bagaimana cocoknya sebuah cerita berawal dan berakhir. Ada waktu untuk menentukan kata-kata dan alur cerita. “Kamu menuliskan cerita itu karena yakin tidak ada cara lain lagi selain menulis agar orang sampai pada cerita yang ingin kita ungkapkan,”kata Sonia.

Saya pikir, yang paling penting selain mengabadikan kenangan bersama orang tersayang adalah mengabadikan diri yang pernah hidup. “Menulis cerita itu karena kalau kita tidak menuliskannya maka cerita itu akan dibawa sampai mati,” kata Sonia lagi.

Wah, sayang bangat nggak sih. Bisa jadi ada satu juta cerita dalam dirimu, tapi karena tidak ditulis itu akan sirna bersama jasadmu kelak. Kok jadi gawat gini yah?

Oke, epribadi. Balik lagi ke persoalan awal. Bagaimana kita bisa selancar Sonia dalam menulis cerita? Ingat baik-baik! Menulis cerita tak segampang mendengarkan cerita. 

Saya pernah duduk tertegun mendengarkan cerita ulasan sepak bola dari seorang teman kos. Bak komentator ulung. Strategi menyerang dan bertahan kedua klub bola dikupas sampai ke akar-akarnya. Rekam jejak semua pemain, mungkin sampai penonton yang ada di tribun dia hafal. Sayangnya, ketika saya menyarankannya untuk menulis cerita itu, dia seketika berubah menjadi anak SD yang baru mengenal S-P-O-K (Subjek/Predikat/Objek/Keterangan).

Menulis satu kalimat saja malah nanya balik ke saya, “Seperti apa kata-kata yang harus ditulis, Rus?” Padalah ia tinggal mentraskrip apa yang baru saja keluar dari mulutnya.

Persoalan utama teman yang satu itu memaksa ingin menulis dengan kata-kata dan kalimat yang luar biasa hingga luar binasa—luar kendali bahkan. Seandainya bisa, ia ingin memakai kata-kata di universe lain.

Saya kira benar juga kegelisahan seorang kawan dulu, Anif Ahmad Alhaki namanya. Ia sempat menulis di laman tatkala.co, “Pada saat menulis, saya sering sekali menggonta-ganti kata, menggonta-ganti kalimat, seakan-akan bahasa saya harus harus harus bahasa luar biasa bahkan kalau bisa bahasa luar angkasa. Tidak hanya sekedar bahasanya saja yang harus luar biasa, tapi isinya pun saya wajibkan di luar perkara.” Begitu tulisnya beberapa tahun lalu pada era ia sedang berusaha menyaingi Puthut EA.

Saya pun demikian. Sedari dulu banyak hal yang ingin saya tulis sebagai secarik cerita. Tapi balik lagi, keinginan saya hanya kristal angan-angan. Terhenti karena bingung memikirkan bagaimana alur dalam kepenulisan cerita, bagaimana membangun dan menghidupkan kembali pengalaman diri dalam sebuah cerita. Kata apa yang harus saya tulis pertama. Bagaimana rangkaian kalimatnya. Rasa-rasanya pengen service otak biar cair. Susahnya tak bisa diajak berkompromi.

Sampai pada tulisan ini dimuat, saya masih sepakat dan percaya dengan Mahfud Ikhwan, ia tidak sedang bercanda dengan ungkapanya, “Yang gampang itu menumis, menulis sih tidak.” Perkataan ini amat serius bagi saya.

Permasalahan ini memang kerap kali terjadi pada seorang pemula dalam menulis. Tulisannya seolah-olah harus disertai rujukan yang banyak, harus menurut  ini/menurut itu, dikutip dari sana-sini, dan kalau bisa tulisannya penuh istilah asing—bila perlu kamus dan Googletidak mampu menjangkauanya. Saya pun demikian.

Begitulah, epribadi. Kita kembali saja ke seorang Kadek Sonia Piscayanti, yang berbaik hati dan tidak sombong menyampaikan hal yang perlu untuk kepemulaan kita dalam menulis. Barangkali memang perlu kita tahu sebagai seorang pemula.

Pengetahuan gratis ini Sonia bagikan cuma-cuma lewat workshop menulis yang saya ikuti. Bisa jadi ini tidak penting bagi orang lain, tapi setidaknya penting bagi saya—sepenting tulisan ini harus selesai.

Seperti Salat, Membaca Adalah Tiang—Menulis

Kira-kira kenapa Pramodya Ananta Toer bisa menulis cerita yang membuat orang berandai-andai menjadi sosok Minke—saking heroiknya cerita Minke di Novel Bumi Manusia yang ia tulis. Atau, bagaimana Seno Gumira Ajidarma membuat orang berandai-andai pula ingin mencuri matahari tenggelam seperti sosok Sukap dalam cerpennya.

Dan kenapa dua orang di atas seolah bisa dengan lancar mengarang ratusan halaman hanya dengan sekali kedipan mata. Jangan-jangan di otaknya Pram dan Seno tertanam chip. Kata-kata bisa keluar begitu saja sesuai keinginan. Ide-ide bisa mengalir deras dari tangan mereka.

Percaya atau tidak, mereka berdua bisa seperti itu karena telah membaca ribuan karya dan tulisan orang lain. Di otak mereka sama sekali tak ada chip dan hal-hal aneh lainnya. Otaknya penuh dengan buku. Tidak ada istilah over kapasistas bagi otak Pram dan Seno, mereka melahap buku sedari duduk di bangku sekolah dasar.

Peserta workshop menulis cerita foto bersama Kadek Sonia | Foto: Rusdy

Ada ungkapan “membaca” adalah cara memasukkan pengetahuan dan “menulis” adalah cara mengeluarkan kembali pengetahuan. Untuk menulis sehebat Pram dan Seno, ya kita harus baca tulisan mereka. Untuk awal-awal bisa saja tulisan kita meniru gaya tulisan mereka—sampai kita bisa menemukan gaya kepenulisan sendiri.

Untuk menemukan kata-kata yang tidak biasa maka perbendaharaan kata harus banyak. Membaca adalah cara paling ampuh menambah cadangan kosa-kota. Jika salat adalah tiang agama, maka membaca adalah tiang menulis.

“Perbanyak membaca!”pesan singkat yang serius dari Sonia.

Hindari Hal-Hal yang Klise

Klise adalah bahasa atau kata-kata yang sering kali dipakai. Sesuatu yang sudah dianggap “biasa” memang kerap “tidak menarik” lagi—sama seperti doi.

Pada suatu hari, lalu kemudian, setelah itu, akhirnya dan ungkapan lain yang dianggap klise seperti itu, tak akan merusak kebaruan bahasa cerita jika komposisinya pas. Namun tetap saja, tidak mudah menempatkan komposisi kalimat yang enak dibaca. Bagi pemula, menyusun ungkapan cerita yang terbebas dari kata-kata klise seperti itu terlampau sulit.

Kehidupan kita terlanjur terbiasa dengan kata-kata template. Tentu kita bukan penyair seperti Chairil Anwar—yang untuk mengatakan kesepian saja, ia mengungkapkannya dengan mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Kita bukan Zainuddin dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, yang bisa mengungkapkan penolakannya dengan kalimat: “Pantang pohon pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa.”

Mampus kita dikoyak-koyak klise.Lalu bagaimana orang biasa yang hidup serba biasa seperti kita bisa menulis cerita yang tidak klise? Sungguh bertanya pun kita masih klise.

Di sela-sela kami menyimak Kadek Sonia Piscayanti yang sedang gigih memahamkan soal menulis cerita. Tanpa aba-aba, seorang peserta laki-laki di pojok mengankat tanganya. “Bagaimana menulis cerita dengan bahasa yang tidak biasa?” tanyanya. Sedikit kaget Sonia menjawab, “Bermeditasi.”

Entah ini jawaban pasrah atau apa. Tetapi, saya mencoba menerka yang dimaksud Sonia, barangkali menulis dengan bahasa yang tidak biasa itu perlu proses—tidak bisa serta-merta terjadi begitu saja.

“Drama, puisi, cerpen, dan novel itu hampir sama,  kekuatannya ada di pemilihan kata. Kalau sudah terbiasa memilih kata, kita bakal tau mana kata-kata yang cocok untuk sebuah tulisan. Kepekaan terhadap kata-kata berasal dari pikiran yang terus dilatih. Pikiran-pikiran unik itu harus dirangsang,”lanjut Sonia.

Nah, PR kita selanjutnya adalah memikirkan cara merangsang pikiran. Silakan pikir sendiri. Rangsang sendiri. Ingat! “Pikirkan cara merangsang pikiran”, bukan “Pikirkan yang ‘merangsang’ seperti dipikiranmu saat ini.” Dasar otak gorong-gorong.

Sebelum Orang Lain Terkejut, Kejutkan Dirimu

Sebentar, ini bukan maksudnya kamu harus pura-pura kaget lebih dulu di depan orang lain sebelum orang itu seolah-olah ikutan kaget. Nggak gitu. Bukan, bukan itu maksudnya. Ini bukan soal kaget-kagetan biasa.

Ini tidak jauh beda dengan kemampuan pemilihan kata. Mampuhkan ungkapan dalam cerita menyentuh emosional orang. Orang bisa ikutan sedih, marah, dan tertawa sewaktu membaca sebuah cerita karena untaian kata di dalam tulisan menembus perasaannya. Bahasa perasaan banyak dimainkan.

Dan satu-satunya orang pertama yang harus memastikan tulisan itu punya daya tarik emosional adalah diri kita sendiri. Sederhananya, tulisan cerita itu harus terus dievaluasi. Jika kamu sendiri saja muntah membaca tulisanmu, bisa dipastikan orang lain alergi dengan tulisan itu.

“Sebelum tulisanmu menyerang mental orang lain, pastikan mental diri sendiri dulu yang terserang,” tutur Sonia. Bila perlu, agar terlihat serius menyerang, tidak apa-apa bekali aja dengan parang atau kapak. Menyerang-kan sudah itu.

Cuman terkait kejut-kejutan yang satu ini, tidak semua orang punya level keterkejutan yang sama. Perlu diperhatikan keterkejutan seperti apa yang ingin dicapai.

“Ketika kamu dirayu dengan ‘kau cantik bagaikan rembulan di malam gelap’ dan membuatmu girang setengah mati. Keterkejutanmu itu udah low level sekali. Perlu diasah lagi level surprisenya,” ujar Sonia.

Saran saya, untuk lelaki yang pengen melatih gombalan dahsyat yang mampu membumihanguskan hati wanita, coba perbanyak nonton akun ig @garenbj. Dijamin deh pokoknya. “Kata-kata hari ini”-nya garenbj bisa langsung dipraktekkin ke doi. Bikin dia klepak-klupuk seperti kupu-kupu hutan.

Oke. Cukup sudah, epribadi. Untuk mengakhiri celotehan ini, saya ingin mengutip perkataan Kadek Sonia Piscayanti pada sebuah diskusi buku Komunitas Mahima 5 tahun lalu:

“Menulislah karena menulis adalah bagian dari mengabadikan pikiran. Pikiran kita setiap waktu terus berubah. Kita akan melihat perbedaan pikiran kita yang ada di setiap masa jika kita rajin menulis pikiran kita setiap waktunya.” Itu.[T]

Hari Pertama Mahima March March March 2024: Catatan dari Dapur
Berbagi Puisi di Perayaan Hari Jadi Komunitas Mahima
Ruang Ketiga; Kebudayaan yang Menguar di Tongkrongan
Tags: ceritaKomunitas MahimaMahima March March March 2024menulissastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Interpretasi Kartu Tarot Sebagai Media Mawas Diri: Apakah Sama Dengan Ramalan?

Next Post

Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Lebaran, Masyarakat Tradisional, dan Komunikasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co