24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambek Peken dan Lain-Lain Ambek

Komang Berata by Komang Berata
February 27, 2024
in Bahasa
Ambek Peken dan Lain-Lain Ambek

Suasana pasar | Komang Berata

SEHARI atau bahkan tiga hari menjelang rainan gumi (hari besar keagamaan), seperti Galungan, Kuningan, dan karya di Pura Besakih, pasar menjadikan penjual dan pembeli sangat akrab dengan ambek peken.

Pada hari-hari yang disebut pangalihan (waktu mencari) itu sedang suntuk-suntuknya penjual mendekati pemasok barang, sementara pembeli sedang suntuk-suntuknya mendekati penjual barang. Tawar-menawar antara pemasok dengan penjual dan antara penjual dengan pembeli menjadi lebih bergairah. Pasar menjadi hidup, dan ambek peken sulit diterka.

Makna harfiah ambek adalah ambisi, dinamika, fluktuasi, gejolak, gerak, hasrat, lagak, atau tingkah. Ambek peken adalah fluktuasi, gejolak, atau naik-turun harga barang di pasar, termasuk jasa pelayanan di pasar yang digeluti oleh buruh pikul atau buruh junjung.

Ambek peken dipengaruhi oleh permintaan, tidak karena berlimpah tersedia sarwa mambek di pasar. Semakin tinggi permintaan maka ambek peken semakin meningkat. Tanpa permintaan, pasar mati ambek, bukan karena sarwa tan mambek berlimpah tersedia di pasar.

Ambek tidak hanya berlaku di pasar yang memunculkan ambek peken. Ambek berlaku untuk manusia sehingga muncul ungkapan ambek jlema yang menggambarkan ambisi, hasrat, lagak, atau tingkah manusia.

Bumi ini juga dianggap mempunyai ambek sehingga muncul ungkapan ambek gumi, ambek jagat, bukan pakibeh jagat. Kibeh dekat dengan kiba, sama-sama bermakna gerak yang tidak menyebabkan bergeser atau berpindah tempat.

Makiba atau makibeh lebih kepada gerak kecil memutar tubuh, baik hewan maupun manusia. Orang berada di kerumunan orang, orang berada di kerumunan hewan, atau hewan berada di kerumunan hewan yang penuh sesak dan menyebabkan orang dan atau hewan tidak mampu menggerakkan tubuhnya, apalagi memutar tubuhnya, kondisi seperti ini yang disebut sing nyidang makiba atau sing nyidang makibeh.

Bisa jadi keterbatasan pemahaman menyebabkan sebagian penutur bahasa Bali menganggap bumi, dunia, atau jagat ini tidak mempunyai kekuatan makiba atau makibeh, maka tidak ada yang namanya pakibeh gumi atau pakibeh jagat.

Dianggapnya jika sampai terjadi guminé makiba atau jagaté makibeh, yang terjadi kemudian adalah gempa bumi di sekujur tubuh bumi. Bumi cuma bergidik kecil saja sudah terjadi gempa bumi.

Rotasi dan revolusi benda tata surya tidak disebut pakibeh. Perkembangan dunia atau perubahan zaman disebut ambek gumi atau ambek jagat, tidak pakibeh jagat. Perubahan zaman tidak juga disebut ambek yuga atau pakibeh yuga meski ada Catur Yuga dengan Kretayuga atau Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Entah di kemudian hari akan muncul istilah perubahan zaman dengan menyertakan yuga.

Kembali kepada ambek, sarwa mambek bukan segala makhluk hidup, dan sarwa tan mambek bukan juga segala makhluk tidak hidup. Manusia adalah bagian dari sarwa mambek, juga hewan, ikan, daging, dan telur.

Bumi termasuk sarwa mambek karena bumi adalah Brahmanda, telurnya Brahma. Tumbuh-tumbuhan dan hasilnya adalah sarwa tan mambek meski akar tumbuh-tumbuhan mampu merusak dan menumbangkan bangunan. Tetap juga sebagai sarwa tan mambek walau tumbuhan seperti kantung semar reaktif menjebak dan membunuh insekta.

Sarwa mambek yang sudah mati tetap disebut sarwa mambek, sarwa tan mambek yang masih hidup tetap juga disebut sarwa tan mambek. Sarwa mambek dan sarwa tan mambek tidak karena ada atau tidaknya udara yang menjadi napas. Jika ada orang yang tan kenéng sarwa mambek maka orang itu hanya menyantap makanan nabati, tidak menyantap olahan daging, ikan, maupun telur.

Ngambek dalam bahasa Bali tidaklah sama dengan ngambek dalam bahasa Jawa yang sudah diserap bahasa Indonesia menjadi mengambek, merajuk. Seseorang disebut ngambek ketika bertindak tidak dalam kapasitasnya atau di luar kebiasaan yang berlaku.

Ngambek lebih kepada ambisius, angkuh, berlagak, bertingkah, merasa benar, tidak mau kalah, tidak mau menyerah; dan orang yang demikian disebut jlema ngambek. Penutur bahasa Bali menyebut orang mengambek atau merajuk adalah orang yang majempong bébék, ngambul.

Jlema ngambek mempunyai kecenderungan ngambekang sarwa mambek dan sarwa tan mambek. Ngambekang lebih kepada nuyuhang, merabotang, mempekerjakan, menggunakan, merepotkan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Orang yang suka ngambekang cenderung diterima negatif meski dari ngambekang-nya itu menghasilkan sesuatu yang positif dan bermanfaat kepada orang banyak.

Semestinya tidak selalu direspon negatif orang yang mempunyai kecenderungan ngambekang orang lain. Ambek orang tidak sama, ada yang energik seperti air di lautan dan ada yang datar seperti air di sumur.

Air di sumur membutuhkan pompa air yang akan mengangkat dan mengalirkannya kepada yang membutuhkan. Sangat disayangkan jika sesuatu yang bernilai tidak ada yang menggerakkan agar menjadi bermanfaat.

Muncul dan diterimanya makna baru pakibeh jagat dan ngambek dalam bahasa Bali oleh penutur bahasa Bali, tentu tidak terlepas dari dinamika berbahasa para penutur bahasa Bali. Sepertinya penutur bilingual atau multilingual kesulitan menghindari saling mempengaruhi ketika mengalami dinamika berbahasa. Menuturkan bahasa Indonesia, ngatut bahasa Indonesia ke bahasa Bali. Menuturkan bahasa Jawa, ngatut juga bahasa Jawa ke bahasa Bali. Tidak terlepas juga usaha penutur bahasa menyematkan makna baru pada kata, entah makna baru itu menambah atau menghapus makna kata yang sudah ada.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balihari raya galunganKuninganpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hands with Heart, Pendukung Asa Penyandang Disabilitas di Bali

Next Post

Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co