2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambek Peken dan Lain-Lain Ambek

Komang Berata by Komang Berata
February 27, 2024
in Bahasa
Ambek Peken dan Lain-Lain Ambek

Suasana pasar | Komang Berata

SEHARI atau bahkan tiga hari menjelang rainan gumi (hari besar keagamaan), seperti Galungan, Kuningan, dan karya di Pura Besakih, pasar menjadikan penjual dan pembeli sangat akrab dengan ambek peken.

Pada hari-hari yang disebut pangalihan (waktu mencari) itu sedang suntuk-suntuknya penjual mendekati pemasok barang, sementara pembeli sedang suntuk-suntuknya mendekati penjual barang. Tawar-menawar antara pemasok dengan penjual dan antara penjual dengan pembeli menjadi lebih bergairah. Pasar menjadi hidup, dan ambek peken sulit diterka.

Makna harfiah ambek adalah ambisi, dinamika, fluktuasi, gejolak, gerak, hasrat, lagak, atau tingkah. Ambek peken adalah fluktuasi, gejolak, atau naik-turun harga barang di pasar, termasuk jasa pelayanan di pasar yang digeluti oleh buruh pikul atau buruh junjung.

Ambek peken dipengaruhi oleh permintaan, tidak karena berlimpah tersedia sarwa mambek di pasar. Semakin tinggi permintaan maka ambek peken semakin meningkat. Tanpa permintaan, pasar mati ambek, bukan karena sarwa tan mambek berlimpah tersedia di pasar.

Ambek tidak hanya berlaku di pasar yang memunculkan ambek peken. Ambek berlaku untuk manusia sehingga muncul ungkapan ambek jlema yang menggambarkan ambisi, hasrat, lagak, atau tingkah manusia.

Bumi ini juga dianggap mempunyai ambek sehingga muncul ungkapan ambek gumi, ambek jagat, bukan pakibeh jagat. Kibeh dekat dengan kiba, sama-sama bermakna gerak yang tidak menyebabkan bergeser atau berpindah tempat.

Makiba atau makibeh lebih kepada gerak kecil memutar tubuh, baik hewan maupun manusia. Orang berada di kerumunan orang, orang berada di kerumunan hewan, atau hewan berada di kerumunan hewan yang penuh sesak dan menyebabkan orang dan atau hewan tidak mampu menggerakkan tubuhnya, apalagi memutar tubuhnya, kondisi seperti ini yang disebut sing nyidang makiba atau sing nyidang makibeh.

Bisa jadi keterbatasan pemahaman menyebabkan sebagian penutur bahasa Bali menganggap bumi, dunia, atau jagat ini tidak mempunyai kekuatan makiba atau makibeh, maka tidak ada yang namanya pakibeh gumi atau pakibeh jagat.

Dianggapnya jika sampai terjadi guminé makiba atau jagaté makibeh, yang terjadi kemudian adalah gempa bumi di sekujur tubuh bumi. Bumi cuma bergidik kecil saja sudah terjadi gempa bumi.

Rotasi dan revolusi benda tata surya tidak disebut pakibeh. Perkembangan dunia atau perubahan zaman disebut ambek gumi atau ambek jagat, tidak pakibeh jagat. Perubahan zaman tidak juga disebut ambek yuga atau pakibeh yuga meski ada Catur Yuga dengan Kretayuga atau Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Entah di kemudian hari akan muncul istilah perubahan zaman dengan menyertakan yuga.

Kembali kepada ambek, sarwa mambek bukan segala makhluk hidup, dan sarwa tan mambek bukan juga segala makhluk tidak hidup. Manusia adalah bagian dari sarwa mambek, juga hewan, ikan, daging, dan telur.

Bumi termasuk sarwa mambek karena bumi adalah Brahmanda, telurnya Brahma. Tumbuh-tumbuhan dan hasilnya adalah sarwa tan mambek meski akar tumbuh-tumbuhan mampu merusak dan menumbangkan bangunan. Tetap juga sebagai sarwa tan mambek walau tumbuhan seperti kantung semar reaktif menjebak dan membunuh insekta.

Sarwa mambek yang sudah mati tetap disebut sarwa mambek, sarwa tan mambek yang masih hidup tetap juga disebut sarwa tan mambek. Sarwa mambek dan sarwa tan mambek tidak karena ada atau tidaknya udara yang menjadi napas. Jika ada orang yang tan kenéng sarwa mambek maka orang itu hanya menyantap makanan nabati, tidak menyantap olahan daging, ikan, maupun telur.

Ngambek dalam bahasa Bali tidaklah sama dengan ngambek dalam bahasa Jawa yang sudah diserap bahasa Indonesia menjadi mengambek, merajuk. Seseorang disebut ngambek ketika bertindak tidak dalam kapasitasnya atau di luar kebiasaan yang berlaku.

Ngambek lebih kepada ambisius, angkuh, berlagak, bertingkah, merasa benar, tidak mau kalah, tidak mau menyerah; dan orang yang demikian disebut jlema ngambek. Penutur bahasa Bali menyebut orang mengambek atau merajuk adalah orang yang majempong bébék, ngambul.

Jlema ngambek mempunyai kecenderungan ngambekang sarwa mambek dan sarwa tan mambek. Ngambekang lebih kepada nuyuhang, merabotang, mempekerjakan, menggunakan, merepotkan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Orang yang suka ngambekang cenderung diterima negatif meski dari ngambekang-nya itu menghasilkan sesuatu yang positif dan bermanfaat kepada orang banyak.

Semestinya tidak selalu direspon negatif orang yang mempunyai kecenderungan ngambekang orang lain. Ambek orang tidak sama, ada yang energik seperti air di lautan dan ada yang datar seperti air di sumur.

Air di sumur membutuhkan pompa air yang akan mengangkat dan mengalirkannya kepada yang membutuhkan. Sangat disayangkan jika sesuatu yang bernilai tidak ada yang menggerakkan agar menjadi bermanfaat.

Muncul dan diterimanya makna baru pakibeh jagat dan ngambek dalam bahasa Bali oleh penutur bahasa Bali, tentu tidak terlepas dari dinamika berbahasa para penutur bahasa Bali. Sepertinya penutur bilingual atau multilingual kesulitan menghindari saling mempengaruhi ketika mengalami dinamika berbahasa. Menuturkan bahasa Indonesia, ngatut bahasa Indonesia ke bahasa Bali. Menuturkan bahasa Jawa, ngatut juga bahasa Jawa ke bahasa Bali. Tidak terlepas juga usaha penutur bahasa menyematkan makna baru pada kata, entah makna baru itu menambah atau menghapus makna kata yang sudah ada.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis KOMANG BERATA
Dialek dan Idiolek Bahasa Bali Saya
Bahasa Bali Warna Sasak di Karangasem
Nyaru Basa
Tags: BahasaBahasa Balihari raya galunganKuninganpasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hands with Heart, Pendukung Asa Penyandang Disabilitas di Bali

Next Post

Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails

Duri Akar dan “Sungga”

by Komang Berata
June 24, 2026
0
Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

Read moreDetails

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

by I Made Sudiana
June 23, 2026
0
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

Read moreDetails

Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

by I Made Sudiana
June 18, 2026
0
Logika Angka Kuno di Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang...

Read moreDetails

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

by I Made Sudiana
June 13, 2026
0
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

Read moreDetails

Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

by Ni Wayan Suwini
June 12, 2026
0
Orang yang Hadir Kok Diminta Absen?

DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen...

Read moreDetails

Sihir Tiga Kode Huruf

by I Made Sudiana
June 8, 2026
0
Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

Read moreDetails

Cukup Telulas?

by Komang Berata
June 4, 2026
0
Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

Read moreDetails

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

by I Made Sudiana
June 3, 2026
0
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co