12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngobral di Ngobrol Seni: Ketika Yudane, Tan Lioe Ie, Putrayasa dan Kun Adnyana Bicara Seni

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 5, 2024
in Khas
Ngobral di Ngobrol Seni: Ketika Yudane, Tan Lioe Ie, Putrayasa dan Kun Adnyana Bicara Seni

Wayan Jengki Sunarta (moderator), Tan Lioe Ie, Wayan Gde Yudane, Ketut Putrayasa, Kun Adnyana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

SABTU, 27 Januari 2024 bagi saya menjadi malam minggu yang tak biasa. Pikiran itu melintas sebelum acara dimulai. Dalam hati saya menduga-duga seperti apa acara Ngobrol Seni yang diadakan oleh Katuda Outsider Art di Dalam Rumah Community Hub, akan berlangsung? Apakah akan berjalan seru, karena empat narasumber yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya? Ataukah akan berlangsung pasif, karena hadirin segan mengajukan pendapat?

Sebelum pertanyaan itu terjawab, saya justru dihadapkan pada kenyataan yang lain: hujan lebat mengguyur kota Denpasar! Bukan hanya sekadar lebat, kali ini dilengkapi dengan petir guntur yang sambar menyambar saling bersahutan. Saya yang saat itu bersiap untuk berangkat ke lokasi acara akhirnya harus menunda sejenak, duduk manis di beranda rumah sambil memperhatikan got depan rumah, gelagapan menerima serbuan air yang terlihat begitu liar dan haus penyaluran.

Satu pertanyaan melintas lagi di kepala saya, apakah narasumber akan tetap hadir? Apakah akan ada orang yang datang jika hujan lebat berkawan petir itu akan terus berlangsung? Saat intensitas petir mulai berkurang, usai mengenakan mantel hujan, saya berangkat menuju DR, sapaan akrab untuk Dalam Rumah. Setelah melewati banjir di beberapa bagian jalan dan kendaraan yang merayap pelan, akhirnya saya tiba di lokasi. Ternyata parkiran DR penuh, dari luar saya mendengar riuh suara percakapan.

Penyair April Artison dan pelukis Made Budhiana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Dwitra J Ariana, Iwan Darmawan dan Rudi Waisnawa di tengah acara diskusi | Foto: Phlayasa Sukmakarsa

Memasuki areal outdoor DR, saya melihat tiga narasumber sudah datang, yaitu I Wayan Gde Yudane, Tan Lioe Ie dan I Ketut Putrayasa. Masih di meja yang sama, terlihat Pranita Dewi yang malam itu menjadi pengisi acara serta Wayan ‘Jengki’ Sunarta, sang moderator. Di sekitar mereka sudah hadir pula beberapa peserta diskusi, bahkan saat itu sepertinya mereka telah mulai melakukan diskusi, padahal acara belum pula dimulai.

Hujan masih mengguyur, satu lagi narasumber yaitu Wayan ‘Kun’ Adnyana, belum hadir. Kami masih menanti, namun tak lama kemudian, sebuah mobil SUV berwarna hitam, berhenti di depan DR, kemudian turunlah Kun, yang malam itu mengenakan topi hitam dan menenteng tumbler berwarna abu-abu. Lengkap sudah seluruh narasumber. 

Made Ariani dari DR pun membuka acara. Dia mempersilakan Gede Mas Saputra selaku pemilik DR dan Ari Antoni dari Katuda Outsider Art selaku penyelenggara acara untuk memberikan sambutan kepada para hadirin. Tak perlu berlama-lama, Ariani kemudian menyerahkan jalannya acara kepada Jengki.

Pukul 20.08 WITA, Jengki dan seluruh narasumber telah duduk di hadapan para peserta diskusi. Tiap narasumber menyampaikan pandangan mereka tentang seni dengan fokus yang berbeda sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Jujur, bagi saya Jengki selaku moderator cukup cerdik dalam menggerakkan arah diskusi. Saat mempersilakan Tan Lioe Ie berbicara, Jengki mengarahkan pada bagaimana akar kultur pada sebuah karya seni. Lioe Ie kemudian menjawab dengan memberikan contoh pada salah satu karyanya yang lekat dengan budaya Tionghoa. Sastrawan ini mencontohkan salah satu puisinya yang berjudul Nenek, dan membacakan puisi tersebut. Puisi ini sekaligus juga untuk memberikan tanggapan atas pandangan dari Tommy F. Awuy, yang juga hadir malam itu.

Menyambung perihal akar kultur dalam satu karya seni, Gde Yudane, sebagai seorang komposer, menampilkan karya terbarunya, berkolaborasi dengan Pranita Dewi. Setelah mempersiapkan laptop dan menyesuaikan sound system, musik mengalun dan Pranita tampil membacakan puisi dalam bahasa Inggris. Hadirin hanyut dalam bauran alunan musik dan suara Pranita.

Tan Lio Ie dan Wayan Westa | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Masing-masing narasumber diberikan waktu selama 10 menit untuk pemaparan oleh Jengki, karena Jengki akan memberikan lebih lama waktu untuk berdiskusi. Mic beralih ke Putrayasa yang merupakan seorang perupa yang produktif dan aktif menyampaikan kritik sosial melalui karya instalasinya. Salah satu pernyataan Putrayasa yang masih saya ingat adalah tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kata-kata dan bahasa.

Kun Adnyana, sebagai seorang akademisi sekaligus seniman, merupakan narasumber yang lengkap menurut saya. Dan memang benar, melalui tanggapan-tanggapan yang tegas dan jelas, pandangannya malam itu menjadi pandangan yang merangkum seluruh pendapat dari tiga narasumber.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa pada diskusi ini Kun justru melihat apa saja yang diperlukan oleh dunia seni dan apa yang bisa diberikan oleh institusi seni untuk menjawab hal-hal yang diperlukan oleh dunia seni. Kun merangkum dan mencatat celah tersebut.

Pranita Dewi | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Heri Windi Anggara | Foto: Phalayasa Suksmakarsa

Jeda sejenak sebelum acara diskusi, Heri Windi Anggara menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Ngigau” karya Frans Nadjira dan “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi. Heri tampil begitu apik. Dia terlihat menyatu dengan kedua puisi tersebut. Sangat menghayati.

Malam makin larut, Jengki sang nahkoda diskusi makin merajarela. Dia memanggil satu persatu nama hadirin dan mempersilakan untuk menyampaikan apapun yang ada dipikiran terkait seni. Suasana makin hangat. Ruangan yang penuh oleh hadirin membuat acara ngobrol makin seru, karena tak jarang terdengar suara tepuk tangan saat salah seorang yang dipanggil namanya menyampaikan pendapat.

Seperti halnya saat Ketut Yuliarsa menyampaikan pendapatnya, terkait penyerahan kepada tiap individu serta saat Made Budhiana menyampaikan tentang pada ngobrol seni kita bisa ngobral seni, menyampaikan semua hal tentang seni.

Tommy F. Awuy | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Geg Ary Suharsani (penulis, pegang mik) | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Kun Adnyana dan Iwan Darmawan | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Tepuk tangan hadirin pun tak kalah ramai saat seorang laki-laki bertopi, yang jujur tidak familiar bagi saya, menyampaikan apresiasi untuk Kun Adnyana, karena sebagai seorang rektor bersedia turun berdiskusi secara santai di ruang yang jauh dari kesan formal. Dan anak muda itu berharap agar diskusi semacam ini bisa juga dilakukan di kampus.

Hujan telah lama reda, kursi-kursi di ruang outdoor DR telah penuh sedari tadi. Pendapat-pendapat yang disampaikan oleh peserta diskusi ditanggapi dengan pas oleh narasumber. Pendapat yang tak kalah menarik hadir juga dari Mira Astra yang mempertanyakan sejauh mana keseniman bermanfaat bagi sekitar, serta pendapat dari Pranita yang memandang bahwa kadang seorang penulis terlalu cepat menggunakan senjata terakhir dalam tata bahasa pada satu karya mereka.

Wayan Gde Yudane dan Ketut Putrayasa | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Kun Adnyana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Waktu menyentuh pukul 23.20 WITA, lewat satu jam dari jadwal diskusi. Namun terlihat para peserta dan narasumber masih memiliki amunisi untuk mengobrolkan pendapat dan pandangan mereka. Made Ariani memberikan kode pada Jengki untuk menutup obrolan malam itu. Jengki pun mengiyakan, dia menutup acara, namun tetap mempersilakan para hadirin untuk melakukan diskusi setelah diskusi.

Tepuk tangan yang meriah dan foto bersama nan sumringah menutup Ngobrol Seni malam itu. Saya melihat, ada semacam kerinduan untuk saling melepas pendapat dalam ruang diskusi non formal semacam ini. Tanpa batasan apa-apa, tak harus jaga image, tanpa harus memusingkan apa hasil obrolan kami malam itu. Semua ngobrol dan ngobral dengan lepasnya, selepas tawa seluruh hadirin.

Namun saya yakin, seluruh narasumber dan juga hadirin, pulang dengan membawa bekal dan kesimpulan untuk karya mereka ke depannya. Apa yang harus mereka lakukan, kekosongan apa yang harus mereka isi.

Meminjam tanggapan dari Yuliarsa: kita serahkan pada para analytical mind, memformatnya untuk kepentingan masing-masing. [T]

Foto bersama narasumber dan peserta diskusi | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Tags: apresiasi senidiskusi seniKetut PutrayasaProf. Kun AdnyanaSeniTan Lioe IeWayan Gde Yudane
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

Next Post

Menunggu Karisma Pariwisata dari KEN 2024

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menunggu Karisma Pariwisata dari KEN 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co