2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ngobral di Ngobrol Seni: Ketika Yudane, Tan Lioe Ie, Putrayasa dan Kun Adnyana Bicara Seni

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
February 5, 2024
in Khas
Ngobral di Ngobrol Seni: Ketika Yudane, Tan Lioe Ie, Putrayasa dan Kun Adnyana Bicara Seni

Wayan Jengki Sunarta (moderator), Tan Lioe Ie, Wayan Gde Yudane, Ketut Putrayasa, Kun Adnyana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

SABTU, 27 Januari 2024 bagi saya menjadi malam minggu yang tak biasa. Pikiran itu melintas sebelum acara dimulai. Dalam hati saya menduga-duga seperti apa acara Ngobrol Seni yang diadakan oleh Katuda Outsider Art di Dalam Rumah Community Hub, akan berlangsung? Apakah akan berjalan seru, karena empat narasumber yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya? Ataukah akan berlangsung pasif, karena hadirin segan mengajukan pendapat?

Sebelum pertanyaan itu terjawab, saya justru dihadapkan pada kenyataan yang lain: hujan lebat mengguyur kota Denpasar! Bukan hanya sekadar lebat, kali ini dilengkapi dengan petir guntur yang sambar menyambar saling bersahutan. Saya yang saat itu bersiap untuk berangkat ke lokasi acara akhirnya harus menunda sejenak, duduk manis di beranda rumah sambil memperhatikan got depan rumah, gelagapan menerima serbuan air yang terlihat begitu liar dan haus penyaluran.

Satu pertanyaan melintas lagi di kepala saya, apakah narasumber akan tetap hadir? Apakah akan ada orang yang datang jika hujan lebat berkawan petir itu akan terus berlangsung? Saat intensitas petir mulai berkurang, usai mengenakan mantel hujan, saya berangkat menuju DR, sapaan akrab untuk Dalam Rumah. Setelah melewati banjir di beberapa bagian jalan dan kendaraan yang merayap pelan, akhirnya saya tiba di lokasi. Ternyata parkiran DR penuh, dari luar saya mendengar riuh suara percakapan.

Penyair April Artison dan pelukis Made Budhiana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Dwitra J Ariana, Iwan Darmawan dan Rudi Waisnawa di tengah acara diskusi | Foto: Phlayasa Sukmakarsa

Memasuki areal outdoor DR, saya melihat tiga narasumber sudah datang, yaitu I Wayan Gde Yudane, Tan Lioe Ie dan I Ketut Putrayasa. Masih di meja yang sama, terlihat Pranita Dewi yang malam itu menjadi pengisi acara serta Wayan ‘Jengki’ Sunarta, sang moderator. Di sekitar mereka sudah hadir pula beberapa peserta diskusi, bahkan saat itu sepertinya mereka telah mulai melakukan diskusi, padahal acara belum pula dimulai.

Hujan masih mengguyur, satu lagi narasumber yaitu Wayan ‘Kun’ Adnyana, belum hadir. Kami masih menanti, namun tak lama kemudian, sebuah mobil SUV berwarna hitam, berhenti di depan DR, kemudian turunlah Kun, yang malam itu mengenakan topi hitam dan menenteng tumbler berwarna abu-abu. Lengkap sudah seluruh narasumber. 

Made Ariani dari DR pun membuka acara. Dia mempersilakan Gede Mas Saputra selaku pemilik DR dan Ari Antoni dari Katuda Outsider Art selaku penyelenggara acara untuk memberikan sambutan kepada para hadirin. Tak perlu berlama-lama, Ariani kemudian menyerahkan jalannya acara kepada Jengki.

Pukul 20.08 WITA, Jengki dan seluruh narasumber telah duduk di hadapan para peserta diskusi. Tiap narasumber menyampaikan pandangan mereka tentang seni dengan fokus yang berbeda sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Jujur, bagi saya Jengki selaku moderator cukup cerdik dalam menggerakkan arah diskusi. Saat mempersilakan Tan Lioe Ie berbicara, Jengki mengarahkan pada bagaimana akar kultur pada sebuah karya seni. Lioe Ie kemudian menjawab dengan memberikan contoh pada salah satu karyanya yang lekat dengan budaya Tionghoa. Sastrawan ini mencontohkan salah satu puisinya yang berjudul Nenek, dan membacakan puisi tersebut. Puisi ini sekaligus juga untuk memberikan tanggapan atas pandangan dari Tommy F. Awuy, yang juga hadir malam itu.

Menyambung perihal akar kultur dalam satu karya seni, Gde Yudane, sebagai seorang komposer, menampilkan karya terbarunya, berkolaborasi dengan Pranita Dewi. Setelah mempersiapkan laptop dan menyesuaikan sound system, musik mengalun dan Pranita tampil membacakan puisi dalam bahasa Inggris. Hadirin hanyut dalam bauran alunan musik dan suara Pranita.

Tan Lio Ie dan Wayan Westa | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Masing-masing narasumber diberikan waktu selama 10 menit untuk pemaparan oleh Jengki, karena Jengki akan memberikan lebih lama waktu untuk berdiskusi. Mic beralih ke Putrayasa yang merupakan seorang perupa yang produktif dan aktif menyampaikan kritik sosial melalui karya instalasinya. Salah satu pernyataan Putrayasa yang masih saya ingat adalah tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kata-kata dan bahasa.

Kun Adnyana, sebagai seorang akademisi sekaligus seniman, merupakan narasumber yang lengkap menurut saya. Dan memang benar, melalui tanggapan-tanggapan yang tegas dan jelas, pandangannya malam itu menjadi pandangan yang merangkum seluruh pendapat dari tiga narasumber.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa pada diskusi ini Kun justru melihat apa saja yang diperlukan oleh dunia seni dan apa yang bisa diberikan oleh institusi seni untuk menjawab hal-hal yang diperlukan oleh dunia seni. Kun merangkum dan mencatat celah tersebut.

Pranita Dewi | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Heri Windi Anggara | Foto: Phalayasa Suksmakarsa

Jeda sejenak sebelum acara diskusi, Heri Windi Anggara menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Ngigau” karya Frans Nadjira dan “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi. Heri tampil begitu apik. Dia terlihat menyatu dengan kedua puisi tersebut. Sangat menghayati.

Malam makin larut, Jengki sang nahkoda diskusi makin merajarela. Dia memanggil satu persatu nama hadirin dan mempersilakan untuk menyampaikan apapun yang ada dipikiran terkait seni. Suasana makin hangat. Ruangan yang penuh oleh hadirin membuat acara ngobrol makin seru, karena tak jarang terdengar suara tepuk tangan saat salah seorang yang dipanggil namanya menyampaikan pendapat.

Seperti halnya saat Ketut Yuliarsa menyampaikan pendapatnya, terkait penyerahan kepada tiap individu serta saat Made Budhiana menyampaikan tentang pada ngobrol seni kita bisa ngobral seni, menyampaikan semua hal tentang seni.

Tommy F. Awuy | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Geg Ary Suharsani (penulis, pegang mik) | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Kun Adnyana dan Iwan Darmawan | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Tepuk tangan hadirin pun tak kalah ramai saat seorang laki-laki bertopi, yang jujur tidak familiar bagi saya, menyampaikan apresiasi untuk Kun Adnyana, karena sebagai seorang rektor bersedia turun berdiskusi secara santai di ruang yang jauh dari kesan formal. Dan anak muda itu berharap agar diskusi semacam ini bisa juga dilakukan di kampus.

Hujan telah lama reda, kursi-kursi di ruang outdoor DR telah penuh sedari tadi. Pendapat-pendapat yang disampaikan oleh peserta diskusi ditanggapi dengan pas oleh narasumber. Pendapat yang tak kalah menarik hadir juga dari Mira Astra yang mempertanyakan sejauh mana keseniman bermanfaat bagi sekitar, serta pendapat dari Pranita yang memandang bahwa kadang seorang penulis terlalu cepat menggunakan senjata terakhir dalam tata bahasa pada satu karya mereka.

Wayan Gde Yudane dan Ketut Putrayasa | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Kun Adnyana | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Waktu menyentuh pukul 23.20 WITA, lewat satu jam dari jadwal diskusi. Namun terlihat para peserta dan narasumber masih memiliki amunisi untuk mengobrolkan pendapat dan pandangan mereka. Made Ariani memberikan kode pada Jengki untuk menutup obrolan malam itu. Jengki pun mengiyakan, dia menutup acara, namun tetap mempersilakan para hadirin untuk melakukan diskusi setelah diskusi.

Tepuk tangan yang meriah dan foto bersama nan sumringah menutup Ngobrol Seni malam itu. Saya melihat, ada semacam kerinduan untuk saling melepas pendapat dalam ruang diskusi non formal semacam ini. Tanpa batasan apa-apa, tak harus jaga image, tanpa harus memusingkan apa hasil obrolan kami malam itu. Semua ngobrol dan ngobral dengan lepasnya, selepas tawa seluruh hadirin.

Namun saya yakin, seluruh narasumber dan juga hadirin, pulang dengan membawa bekal dan kesimpulan untuk karya mereka ke depannya. Apa yang harus mereka lakukan, kekosongan apa yang harus mereka isi.

Meminjam tanggapan dari Yuliarsa: kita serahkan pada para analytical mind, memformatnya untuk kepentingan masing-masing. [T]

Foto bersama narasumber dan peserta diskusi | Foto: Phalayasa Sukmakarsa

Tags: apresiasi senidiskusi seniKetut PutrayasaProf. Kun AdnyanaSeniTan Lioe IeWayan Gde Yudane
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

77 Tahun HMI: Membaca Kembali Pemikiran Lafran Pane

Next Post

Menunggu Karisma Pariwisata dari KEN 2024

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Menunggu Karisma Pariwisata dari KEN 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co