4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri “Kedas Silapin Meong” Sampai Bangsa Yang Tak Pernah Cebokan | Catatan Liburan Akhir Tahun

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 4, 2024
in Tualang
Negeri “Kedas Silapin Meong” Sampai Bangsa Yang Tak Pernah Cebokan | Catatan Liburan Akhir Tahun

Liburan ke Eropa | Foto: Dok. Putu Arya Nugraha

AKHIR tahun 2023 saya berlibur ke Eropa. Karena liburan, bukan tugas negara, saya tentu saja bersama keluarga. Kami mengunjungi cukup banyak kota tujuan wisata di tujuh negara di Eropa Barat. Saat datang saat benua itu sedang berada di pertengahan musim dingin.

Mohon maaf, saya tidak berbagi cerita tentang berbagai keindahan dan daya tarik lokasi tujuan wisata yang saya kunjungi. Saya juga tak mengupas sejarah kota-kota itu, meski betapa menakjubkannya dan begitu bersejarah segala bangunan kuno di kota-kota itu. Tentang hal-hal semacam itu dengan mudah bisa didapatkan dari internet, atau dari berbagai media cetak dalam negeri maupun media asing.

Cerita saya tentu saja soal pengalaman saya, yang terasa cukup unik dan menarik, meski barangkali tidak berhubungan sama sekali dengan destinasi wisata. Saya toh bukan agen wisata. Hahaha.

Verona, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Pertama-tama, saya harus menyampaikan pengakuan, bahwa saya termasuk orang yang takut naik pesawat terbang. Meskipun belum sampai pada level fobia, namun harus diakui saya selalu cemas jika akan naik pesawat terbang. Apalagi jika saya terus pikirkan lama penerbangan ke Eropa tidak kurang dari 17 jam.

Berada di atas tanah setinggi 13 kilo meter di dalam wahana ciptaan manusia itu, selama hampir seharian, mungkin tak membuat risau bagi kebanyakan orang. Namun saya, terus terang, degdegan. Apalagi saat itu, kami transit di Singapura yang dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, cuma ditempuh dalam tiga jam. Maka sisa waktu ke Eropa tentu saja sekitar 14 jam.

Berapa lama sih kita kuat tidur di pesawat? Atau menikmati berbagai tayangan pada monitor LCD layar sentuh di depan mata kita, film, musik atau teve. Namun berapa lama sih kita mampu? Masalah yang cukup mengganggu ini akhirnya teratasi berkat hobi saya gemar menulis.

Dengan sebuah laptop, ide saya cukup deras mengalir, mungkin juga semakin deras, akibat dorongan rasa takut naik pesawat itu. Hasilnya, dalam perjalanan berangkat saya menulis sebuah cerpen, dan satu lagi cerpen saya selesaikan dalam perjalanan pulang.

Dengan menulis, apalagi untuk sebuah ide yang menarik, segala rasa cemas dan risau saya tertutupi oleh pikiran yang menggali ke sana ke mari. Bahkan turbulensi pesawat pun luput dari perhatian.

Pisa, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Transit di Singapura pun memberi sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Salah satu alasannya adalah karena saya memang belum pernah ke Singapura, walau sekali pun. Sebagai perbandingan, pegawai kontrak di Rumah Sakit di Bali Utara yang saya pimpin saja sudah berkali-kali ke main ke sana. Singapura seakan sudah menjadi tempat liburan standar bagi masyarakat Indonesia.

Waktu transit yang cukup lama, memberi saya kesempatan  untuk mengamati negeri Singapura, meskipun hanya dari Bandara Changi. Itu karena kita tidak bisa keluar bandara mengunjungi suatu tujuan wisata jika belum melakukan registrasi secara on line sebelumnya.

Sebuah kenyataan, betapa fix-nya segenap sistem negeri tetangga yang terkenal paling bagus sistem meritokrasinya itu.

Segala hal mesti diketahui oleh negara dan harus dipastikan  clear bagi keamanan domestik mereka. Dengan kereta yang digerakkan secara otomatis tanpa masinis itu, kita dapat mengunjungi semua terminal Bandara Changi. Nah, dari atas kereta yang dinamai skytrain itu kita dapat mengintip “sampel” negeri Singapura.

Sungguh menakjubkan, area publik yang tertata sedemikan apik, baik desainnya yang sangat fungsional maupun perpaduannya dengan eksterior taman yang asri. Dan hal yang paling sederhana, namun justru bagi saya paling spektakuler, adalah tak ada sehelai kecil sampah pun.  Kalau di Bali, keadaan yang begitu bersih sering diistilahkan dengan ungkapan “kedas silapin meong.” artinya bersih dijilati kucing. Merujuk pada kebiasaan kucing yang selalu menghabiskan sampai bersih jika diberikan makan.

Saya selalu meyakini, apa pun hal-hal besar dan megah, selalu harus dimulai dari hal-hal kecil yang ditekuni secara serius dan sepenuh hati. Maka kesimpulan saya adalah, pencapaian itu bukanlah karena Negara Singapura yang keras dalam mengatur warganya. Namun sebaliknya, warga negaranyalah yang saat ini telah mengurus dirinya sendiri dengan sangat baik  dan secara kolektif kemudian telah membuat negerinya sempurna.

Brussels, Belgia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Kita pasti sepakat, bagi yang sudah pernah berwisata ke Eropa, setiap sudutnya, semua sisinya terlihat cantik dan memukau. Dan tentunya, udara sejuk atau dingin serta akses untuk pejalan kaki yang luas, selalu membuat kita nikmat untuk berjalan kaki. Ini sama dengan situasi di Australia atau Jepang yang kebetulan juga sudah pernah saya kunjungi.

Namun sama pula dengan Australia, hampir semua hotel dan tentu saja di rumah warga, toiletnya tidak dilengkapi dengan shower untuk cebokan setelah buang air besar. Ini tentu sangat menyulitkan kita orang Indonesia yang sudah biasa cebokan dengan air setelah buang air besar. Entah itu dengan shower yang lebih modern, atau dengan gayung sebagai cara yang lebih lama, atau metode yang paling alami yaitu berak di sungai. Itu bahkan tak tanggung-tanggung, cebokan memakai sumber air sebangsa. Hahaha.

Hanya di beberapa hotel di Italia yang saya temukan memiliki sarana cebok yang bentuknya menyerupai washtafel disebut bidet. Metode ini justru berasal dari Prancis di abad ke-17. Bidet sendiri dalam bahasa Prancis berarti kuda poni. Sebab, saat kita hendak membasuh organ sensitif kita di area bokong, maka posisi terbaik kita adalah seperti sedang menunggangi seekor kuda poni.

Masalahnya, posisi toilet dan bidet itu berjarak. Artinya setelah buang air besar selesai, maka untuk cebokan kita harus berpindah posisi ke toilet bidet di sebelahnya. Aduh, saya sarankan anda tak usah membayangkan peristiwa itu. Bayangkan saja jika bidet itu ditaruh di ruangan lain, hahaha. Lebih parah lagi, betapa repot, jorok dan hebohnya setiap kita mau buang hajat.

Akhirnya, sebagai solusi di hotel yang tak juga tersedia bidet, kita harus menampung air dengan botol air mineral untuk keperluan tersebut. Dalam hal ini, kita boleh meledek orang Eropa yang maju dan modern, kok tidak praktis dan agak jorok ya?

Dan rata-rata air keran di Eropa saat ini sudah bisa dikonsumsi sebagai air minum. Maka air yang sama kita pakai untuk mandi, diminum dan juga untuk cebokan, hahaha!

Saya coba mencari sebab, kenapa sih orang Eropa atau Amerika dan Australia tak mau cebokan dengan air dan tangan. Dan memilih hanya dengan tisu? Ada beberapa alasan, katanya karena jijik tangannya bersentuhan langsung dengan tinja, padahal tinjanya sendiri. Atau karena suhu air yang terlalu dingin,  dan akhirnya lebih banyak karena memang sudah kebiasaan turun-temurun.

Ada kisah lucu terkait hal ini. Saat mampir di sebuah rest area dalam perjalanan dari Verona, Italia, menuju Swis, anak remaja saya yang gadis telah naksir seorang pemuda Swis yang bekerja sebagai kasir di swalayan di rest area tersebut. Tentu saja karena badannya setinggi 1.8 meter lebih, matanya yang biru dan wajahnya yang tampan. Ia terus mengungkapkan kekagumannya pada pemuda tersebut kepada kami.

Adiknya, anak bungsu kami yang cowok, mungkin sudah mulai jengkel mendengar ocehan kakaknya tentang pemuda itu, lalu sinis menanggapi, “Kamu suka sama cowok gak pernah cebokan?”

Saya dan mamanya berusaha keras menahan tawa, kakaknya memasang muka masam dan setelah itu, semakin jarang membicarakan kasir ganteng itu.

Koln, Jerman | Foto: Dok. Arya Nugraha

Di luar dugaan, saat dalam perjalanan dari kota Frankfrut, Jerman menuju Amsterdam, Belanda, ada pesan WA masuk. Saya cek, rupanya dari kawan saya, staf RRI Pusat Jakarta. Selama ini saya memang sering menjadi narasumber untuk program Pro 3 RRI Pusat Jakarta, tentu saja untuk topik medis. Menanyakan, apakah saya ada teman yang pernah berwisata ke luar negeri? Untuk diwawancarai, terkait fenomena liburan ke luar negeri.

Saya terlonjak kaget dan menjawab, “Lah, saya pas sedang liburan ke Eropa ini.” Ia pun terlonjak kaget. Jika begitu kita wawancara saja ya, pintanya. Saya menyetujui.

Dalam wawancara live itu, penyiar menanyakan, kenapa sih liburan ke luar negeri? Lalu saya menjelaskan opini saya. Berwisata itu soal ingin mengetahui hal baru. Itulah kenapa orang Eropa datang ke Asia atau Indonesia. Apalagi secara pribadi, saya sangat tertarik dengan bangunan-bangunan kuno yang begitu megah dan sarat sejarah.

Situs-situs di kota Roma, seperti Colosseum misalnya, bahkan dibangun di awal Masehi yaitu di sekitar tahun 70, dan sekarang masih berdiri berdampingan dengan segala modernitas kota Roma.

Kita pun dapat merasakan langsung, bagaimana sistem yang telah diterapkan oleh negara-negara maju dan modern itu dalam hal teknologi digital yang sangat memudahkan hidup. Inovasi yang tentu saja dapat kita adopsi.

Roma, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Jadi menurut saya, jika demikian, berlibur ke luar negeri bukanlah gejala nasionalisme yang menurun. Seperti juga, jika kita berlibur ke Labuan Bajo, bukan berarti kita tidak mau mendukung pariwisata di Bali misalnya. Semua baik asal memang dengan niat yang baik.

Apakah bukan untuk gaya-gayaan diunggah di media sosial? Kalau cuma untuk gaya-gayaan, saya rasa itu bujetnya terlalu gede, hahaha. Namun mengunggah foto-foto liburan di media sosial pun bukan hal yang salah. Karena setiap manusia memiliki sisi kepribadian narsistik dalam batas-batas yang lazim, yang lebih tepat disebut sebagai aktualisasi diri. [T]

BACA artikel TUALANG atau artikel lain dari penulis PUTU ARYA NUGRAHA

Bertemu Karl Marx di Highgate
Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira
Toko Indonesia di Amerika | Catatan dari Philadelphia [3]
Tags: eropaItalialiburan ke EropaPariwisatapariwisata eropaperjalananSingapurauni eropa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Mayura Refreshing dengan Lagu “Lelah Mengalah”

Next Post

Menengok Desa Tembok

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Desa Tembok

Menengok Desa Tembok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co