23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri “Kedas Silapin Meong” Sampai Bangsa Yang Tak Pernah Cebokan | Catatan Liburan Akhir Tahun

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 4, 2024
in Tualang
Negeri “Kedas Silapin Meong” Sampai Bangsa Yang Tak Pernah Cebokan | Catatan Liburan Akhir Tahun

Liburan ke Eropa | Foto: Dok. Putu Arya Nugraha

AKHIR tahun 2023 saya berlibur ke Eropa. Karena liburan, bukan tugas negara, saya tentu saja bersama keluarga. Kami mengunjungi cukup banyak kota tujuan wisata di tujuh negara di Eropa Barat. Saat datang saat benua itu sedang berada di pertengahan musim dingin.

Mohon maaf, saya tidak berbagi cerita tentang berbagai keindahan dan daya tarik lokasi tujuan wisata yang saya kunjungi. Saya juga tak mengupas sejarah kota-kota itu, meski betapa menakjubkannya dan begitu bersejarah segala bangunan kuno di kota-kota itu. Tentang hal-hal semacam itu dengan mudah bisa didapatkan dari internet, atau dari berbagai media cetak dalam negeri maupun media asing.

Cerita saya tentu saja soal pengalaman saya, yang terasa cukup unik dan menarik, meski barangkali tidak berhubungan sama sekali dengan destinasi wisata. Saya toh bukan agen wisata. Hahaha.

Verona, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Pertama-tama, saya harus menyampaikan pengakuan, bahwa saya termasuk orang yang takut naik pesawat terbang. Meskipun belum sampai pada level fobia, namun harus diakui saya selalu cemas jika akan naik pesawat terbang. Apalagi jika saya terus pikirkan lama penerbangan ke Eropa tidak kurang dari 17 jam.

Berada di atas tanah setinggi 13 kilo meter di dalam wahana ciptaan manusia itu, selama hampir seharian, mungkin tak membuat risau bagi kebanyakan orang. Namun saya, terus terang, degdegan. Apalagi saat itu, kami transit di Singapura yang dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, cuma ditempuh dalam tiga jam. Maka sisa waktu ke Eropa tentu saja sekitar 14 jam.

Berapa lama sih kita kuat tidur di pesawat? Atau menikmati berbagai tayangan pada monitor LCD layar sentuh di depan mata kita, film, musik atau teve. Namun berapa lama sih kita mampu? Masalah yang cukup mengganggu ini akhirnya teratasi berkat hobi saya gemar menulis.

Dengan sebuah laptop, ide saya cukup deras mengalir, mungkin juga semakin deras, akibat dorongan rasa takut naik pesawat itu. Hasilnya, dalam perjalanan berangkat saya menulis sebuah cerpen, dan satu lagi cerpen saya selesaikan dalam perjalanan pulang.

Dengan menulis, apalagi untuk sebuah ide yang menarik, segala rasa cemas dan risau saya tertutupi oleh pikiran yang menggali ke sana ke mari. Bahkan turbulensi pesawat pun luput dari perhatian.

Pisa, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Transit di Singapura pun memberi sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Salah satu alasannya adalah karena saya memang belum pernah ke Singapura, walau sekali pun. Sebagai perbandingan, pegawai kontrak di Rumah Sakit di Bali Utara yang saya pimpin saja sudah berkali-kali ke main ke sana. Singapura seakan sudah menjadi tempat liburan standar bagi masyarakat Indonesia.

Waktu transit yang cukup lama, memberi saya kesempatan  untuk mengamati negeri Singapura, meskipun hanya dari Bandara Changi. Itu karena kita tidak bisa keluar bandara mengunjungi suatu tujuan wisata jika belum melakukan registrasi secara on line sebelumnya.

Sebuah kenyataan, betapa fix-nya segenap sistem negeri tetangga yang terkenal paling bagus sistem meritokrasinya itu.

Segala hal mesti diketahui oleh negara dan harus dipastikan  clear bagi keamanan domestik mereka. Dengan kereta yang digerakkan secara otomatis tanpa masinis itu, kita dapat mengunjungi semua terminal Bandara Changi. Nah, dari atas kereta yang dinamai skytrain itu kita dapat mengintip “sampel” negeri Singapura.

Sungguh menakjubkan, area publik yang tertata sedemikan apik, baik desainnya yang sangat fungsional maupun perpaduannya dengan eksterior taman yang asri. Dan hal yang paling sederhana, namun justru bagi saya paling spektakuler, adalah tak ada sehelai kecil sampah pun.  Kalau di Bali, keadaan yang begitu bersih sering diistilahkan dengan ungkapan “kedas silapin meong.” artinya bersih dijilati kucing. Merujuk pada kebiasaan kucing yang selalu menghabiskan sampai bersih jika diberikan makan.

Saya selalu meyakini, apa pun hal-hal besar dan megah, selalu harus dimulai dari hal-hal kecil yang ditekuni secara serius dan sepenuh hati. Maka kesimpulan saya adalah, pencapaian itu bukanlah karena Negara Singapura yang keras dalam mengatur warganya. Namun sebaliknya, warga negaranyalah yang saat ini telah mengurus dirinya sendiri dengan sangat baik  dan secara kolektif kemudian telah membuat negerinya sempurna.

Brussels, Belgia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Kita pasti sepakat, bagi yang sudah pernah berwisata ke Eropa, setiap sudutnya, semua sisinya terlihat cantik dan memukau. Dan tentunya, udara sejuk atau dingin serta akses untuk pejalan kaki yang luas, selalu membuat kita nikmat untuk berjalan kaki. Ini sama dengan situasi di Australia atau Jepang yang kebetulan juga sudah pernah saya kunjungi.

Namun sama pula dengan Australia, hampir semua hotel dan tentu saja di rumah warga, toiletnya tidak dilengkapi dengan shower untuk cebokan setelah buang air besar. Ini tentu sangat menyulitkan kita orang Indonesia yang sudah biasa cebokan dengan air setelah buang air besar. Entah itu dengan shower yang lebih modern, atau dengan gayung sebagai cara yang lebih lama, atau metode yang paling alami yaitu berak di sungai. Itu bahkan tak tanggung-tanggung, cebokan memakai sumber air sebangsa. Hahaha.

Hanya di beberapa hotel di Italia yang saya temukan memiliki sarana cebok yang bentuknya menyerupai washtafel disebut bidet. Metode ini justru berasal dari Prancis di abad ke-17. Bidet sendiri dalam bahasa Prancis berarti kuda poni. Sebab, saat kita hendak membasuh organ sensitif kita di area bokong, maka posisi terbaik kita adalah seperti sedang menunggangi seekor kuda poni.

Masalahnya, posisi toilet dan bidet itu berjarak. Artinya setelah buang air besar selesai, maka untuk cebokan kita harus berpindah posisi ke toilet bidet di sebelahnya. Aduh, saya sarankan anda tak usah membayangkan peristiwa itu. Bayangkan saja jika bidet itu ditaruh di ruangan lain, hahaha. Lebih parah lagi, betapa repot, jorok dan hebohnya setiap kita mau buang hajat.

Akhirnya, sebagai solusi di hotel yang tak juga tersedia bidet, kita harus menampung air dengan botol air mineral untuk keperluan tersebut. Dalam hal ini, kita boleh meledek orang Eropa yang maju dan modern, kok tidak praktis dan agak jorok ya?

Dan rata-rata air keran di Eropa saat ini sudah bisa dikonsumsi sebagai air minum. Maka air yang sama kita pakai untuk mandi, diminum dan juga untuk cebokan, hahaha!

Saya coba mencari sebab, kenapa sih orang Eropa atau Amerika dan Australia tak mau cebokan dengan air dan tangan. Dan memilih hanya dengan tisu? Ada beberapa alasan, katanya karena jijik tangannya bersentuhan langsung dengan tinja, padahal tinjanya sendiri. Atau karena suhu air yang terlalu dingin,  dan akhirnya lebih banyak karena memang sudah kebiasaan turun-temurun.

Ada kisah lucu terkait hal ini. Saat mampir di sebuah rest area dalam perjalanan dari Verona, Italia, menuju Swis, anak remaja saya yang gadis telah naksir seorang pemuda Swis yang bekerja sebagai kasir di swalayan di rest area tersebut. Tentu saja karena badannya setinggi 1.8 meter lebih, matanya yang biru dan wajahnya yang tampan. Ia terus mengungkapkan kekagumannya pada pemuda tersebut kepada kami.

Adiknya, anak bungsu kami yang cowok, mungkin sudah mulai jengkel mendengar ocehan kakaknya tentang pemuda itu, lalu sinis menanggapi, “Kamu suka sama cowok gak pernah cebokan?”

Saya dan mamanya berusaha keras menahan tawa, kakaknya memasang muka masam dan setelah itu, semakin jarang membicarakan kasir ganteng itu.

Koln, Jerman | Foto: Dok. Arya Nugraha

Di luar dugaan, saat dalam perjalanan dari kota Frankfrut, Jerman menuju Amsterdam, Belanda, ada pesan WA masuk. Saya cek, rupanya dari kawan saya, staf RRI Pusat Jakarta. Selama ini saya memang sering menjadi narasumber untuk program Pro 3 RRI Pusat Jakarta, tentu saja untuk topik medis. Menanyakan, apakah saya ada teman yang pernah berwisata ke luar negeri? Untuk diwawancarai, terkait fenomena liburan ke luar negeri.

Saya terlonjak kaget dan menjawab, “Lah, saya pas sedang liburan ke Eropa ini.” Ia pun terlonjak kaget. Jika begitu kita wawancara saja ya, pintanya. Saya menyetujui.

Dalam wawancara live itu, penyiar menanyakan, kenapa sih liburan ke luar negeri? Lalu saya menjelaskan opini saya. Berwisata itu soal ingin mengetahui hal baru. Itulah kenapa orang Eropa datang ke Asia atau Indonesia. Apalagi secara pribadi, saya sangat tertarik dengan bangunan-bangunan kuno yang begitu megah dan sarat sejarah.

Situs-situs di kota Roma, seperti Colosseum misalnya, bahkan dibangun di awal Masehi yaitu di sekitar tahun 70, dan sekarang masih berdiri berdampingan dengan segala modernitas kota Roma.

Kita pun dapat merasakan langsung, bagaimana sistem yang telah diterapkan oleh negara-negara maju dan modern itu dalam hal teknologi digital yang sangat memudahkan hidup. Inovasi yang tentu saja dapat kita adopsi.

Roma, Italia | Foto: Dok. Arya Nugraha

Jadi menurut saya, jika demikian, berlibur ke luar negeri bukanlah gejala nasionalisme yang menurun. Seperti juga, jika kita berlibur ke Labuan Bajo, bukan berarti kita tidak mau mendukung pariwisata di Bali misalnya. Semua baik asal memang dengan niat yang baik.

Apakah bukan untuk gaya-gayaan diunggah di media sosial? Kalau cuma untuk gaya-gayaan, saya rasa itu bujetnya terlalu gede, hahaha. Namun mengunggah foto-foto liburan di media sosial pun bukan hal yang salah. Karena setiap manusia memiliki sisi kepribadian narsistik dalam batas-batas yang lazim, yang lebih tepat disebut sebagai aktualisasi diri. [T]

BACA artikel TUALANG atau artikel lain dari penulis PUTU ARYA NUGRAHA

Bertemu Karl Marx di Highgate
Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira
Toko Indonesia di Amerika | Catatan dari Philadelphia [3]
Tags: eropaItalialiburan ke EropaPariwisatapariwisata eropaperjalananSingapurauni eropa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Mayura Refreshing dengan Lagu “Lelah Mengalah”

Next Post

Menengok Desa Tembok

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Menengok Desa Tembok

Menengok Desa Tembok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co