17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bertemu Karl Marx di Highgate

Heyder Affan by Heyder Affan
February 2, 2018
in Tualang

Foto: Heyder/Wikipedia

KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?

“Untuk memenuhi rasa ingin tahu, itu saja…,” kataku setengah tertawa, menjawab pertanyaan rekan di London, yang merasa heran atas kunjunganku itu, pada suatu hari di bulan Maret. Tapi, pikiranku kemudian bertanya-tanya kenapa sampai muncul pertanyaan seperti itu, dan mengapa aku tertarik mendatanginya…

TIDAKLAH sulit menemukan kuburan Marx di kota London — “Tidak sesulit memahami ajaran filsafatnya,”seloroh seorang teman. Letaknya di sebuah pekuburan berusia tua di atas bukit, bernama Highgate, di kota London bagian utara. Lokasinya berdempetan dengan sebuah taman indah dan luas bernama Waterloo Park…

Saya memperoleh informasi tentang kuburan “kakek berjenggot” itu dari internet — semula saya tahu dia tinggal lama di London (selain kota Paris), namun tak paham di mana dia dikuburkan. “Dari pusat kota London, naik saja tube (kereta bawah tanah) zone Northern Line, dan turunlah di stasiun Archway,” begitulah tulisan di sebuah website tersebut. “Dari stasiun itu, Anda menghadap ke arah kiri, dan berjalanlah pada jalan mendaki, namanya Highgate High Street”…

Keinginan mendatangi makam Marx sudah lama kuidamkan, namun selalu tertunda. Itulah sebabnya, kedatanganku ke London saat itu, kuniatkan betul untuk melihat langsung peristirahatan terakhir salah-seorang berpengaruh di dunia itu.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Di sebuah siang yang mendung, 15 Maret 2008, berbekal tulisan di website itu (berikut peta tube kereta bawah tanah, tentu saja), aku akhirnya mendatangi tempat tersebut. Dari stasiun Queensway, aku turun di Tottenham Court Road, dan pindah kereta arah Northen Line, serta turun di stasiun Archway.

Di Jalan Highgate High Street, aku temui sejumlah tanda seperti yang ditulis website itu: jalan yang menanjak, sebuah pub dengan bangunan aneh Whittington Stone Pub, serta sebuah patung kucing di dalam terali besi — aku tak paham makna patung ini.

Di sepanjang jalan ini berderet bangunan yang disebutkan dulu dihuni para kelas buruh, kelompok masyarakat yang ‘diperjuangkan’ Marx. “Anda harus menaiki jalan yang menanjak itu sampai Gereja St Joseph, yang stupanya beraksitektur neo gothic, yang berhadapan dengan pub The Old Crown,” kubuka copy-an website, yang menjelaskan rute menuju pemakaman Highgate.

Sampailah aku pada sebuah perempatan itu. Udara dingin tetap setia menyergap, tapi tak kuhiraukan. Gereja dan pub itu persis di depan mata, dan di sisi lainnya adalah taman Waterloo. “Ambil sisi kiri, dan masuklah ke dalam taman Waterlow. Di ujung taman itu, di pintu bagian barat, kau akan mendapati kuburan itu,” tulis penulis website itu.

Melewati taman yang teduh itu, dan sunyi, aku akhirnya menemukan pintu di sisi barat. Di depannya ada sebuah jalan nan sepi (namanya Swains Lane), dan satu mobil kuno diparkir. “Di mana kuburan Karl Marx,” tanyaku pada seseorang, setengah bersemangat. Tanpa kesulitan, lelaki itu menunjuk sebuah komplek pemakaman, yang kemudian kuketahui sebagai “makam Highgate bagian timur” (east cemeteries). Di depannya, memang berdiri pula “pekuburan Highgate bagian barat” (west cemeteries).

PEMAKAMAN Highgate bagian barat dibangun lebih awal yaitu tahun 1839, sementara bagian timur dibangun belakangan, tahun 1854. Aku pun melangkah ke sisi kiri, ke bagian timur pekuburan itu — karena di sanalah lelaki yang identik dengan faham komunis itu dikuburkan.

Dan di balik pagar setinggi lebih dari 1 meter, berdiri sebuah pos warna merah jambu, dan seorang lelaki berjaket yang rajin tersenyum.

“Silakan masuk, kuburan Karl Marx tak jauh dari sini,” katanya ramah, seraya meminta aku membeli tiket senilai 3 pounds. Dia menawarkan stafnya sebagai pengantar, tapi kutolak halus…

Aku pun melangkah masuk, dan hamparan kuburan yang sebagian nisannya bersalib, segera menyapu mataku — aku tidak sepenuhnya kaget, karena pemandangan seperti ini sudah terekam di otakku, setelah berulang kali melihat filem horor ala Hollywood.

Pepohonan oak yang gundul, bunga liar yang tumbuh di sudut-sudut, serta jalan yang basah, ikut menyemarakkan rasa ingin tahuku atas kuburan itu. Ada beberapa orang — sepertinya turis — punya tujuan yang sama seperti aku…

Tentu saja, selain kuburan yang bernisan salib (yang sebagian dihiasi figur malaikat bersayap), ada pula makam milik orang Yahudi, Protestan atau Anglikan, serta barangkali atheis — saya sendiri tak melihat makam milik orang Muslim. Semua ini bisa kukenali dari bentuk nisan serta tulisan di atasnya.

Lantas, seperti apa simbol makam penganut Marxisme, atheis, atau agnostik?

Walaupun saya tak begitu yakin, saya menganggap nisan mereka biasanya berbentuk kotak dan ada kalimat seperti “kamerad” atau “buruh” — ini setidaknya yang kulihat pada beberapa nisan yang letaknya di sekitar makam Karl Marx, misalnya bekas aktivis atau politisi Partai Komunis Inggris atau negara lain. Di sana juga tak terdapat simbol-sombol agama…

Dan akhirnya dari jarak lebih dari sepuluh meter, kuburan lelaki keturunan Yahudi itu sudah bisa kukenali: sebuah tugu persegi panjang tampak berdiri kokoh, dan di atasnya dipasang patung Marx, lengkap dengan rambut dan berewoknya.

Di tugu warna kelabu itu, ada beberapa kalimat yang ditulis dengan warna emas, namun yang sempat kubaca adalah “Workers of all Lands Unite”. Sekuntum mawar merah diletakkan di salah-satu sudutnya — saya sempat melihat sebuah keluarga juga meletakkan karangan bunga di sana.

Namun menurut sejumlah situs, nisan ‘asli’ Marx tidak seperti sekarang. Disebutkan, nisan asli Marx (yang pembangunannya dibiayai sahabatnya, Engels) hanyalah berbentuk nisan berbentuk kotak yang hampir rata dengan tanah — sayangnya, saya baru tahu belakangan.

Tapi semuanya berubah, ketika Partai Komunis Inggris, pada tahun 1956, mengubah nisannya — dengan meletakkan patung kepala dan dada Karl Marx di sana. (Saya lantas teringat, bagaimana rezim Suharto mengubah kuburan Sukarno di Blitar, yang awalnya sederhana, kini berbentuk seperti sekarang…)

ADA belasan orang yang kulihat berada tidak jauh dari nisan Karl Marx — mereka sebagian sepertinya turis. Tetapi ada seorang lagi bertopi kelabu dan berbaju serba hitam, yang kuperhatikan membawa rangkaian bunga. Umurnya barangkali di atas 60 tahun. Tarikan wajahnya seperti dari kawasan Timur Tengah.

Dia rupanya juga memperhatikanku. “Kau dari mana?” suaranya serak, tidak begitu jelas terdengar.

Kujawab seraya tersenyum, saya dari Indonesia. “Indonesia? Bukankah Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia,” tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih jelas terdengar.

Saya mengiyakan. Kuperhatikan dia hilir mudik tengah menabur bunga itu di atas sebuah makam — “anak saya dikuburkan di sana,” katanya agak malas. Saya tahu diri, dan tak kulanjutkan rasa ingin tahu itu.

“Indonesia?” Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. “Bukankah Presidenmu sedang berada di Iran, bertemu Presiden Ahmadinejad?” Lelaki ini ternyata adalah kelahiran Iran, tetapi sudah lama tinggal di London. Saya tak menanyakan kenapa dia meninggalkan Iran, namun dia dengan nada suara agak tinggi, menunjukkan nada amarahnya terhadap Ahmadinejad.

Saya mendengarkan dengan takzim celotehnya, tapi aku memilih tak menanggapi…

Mengetahui aku berlama-lama di depan patung Marx, dia menawarkan diri untuk memotretku. Saya tak menolak, tetapi aku kemudian berpikir: jangan-jangan dia juga menaruh hormat pada siapa di balik patung itu. Atau, adakah dia seorang anggota Partai Komunis Iran yang mengasingkan diri setelah Revolusi Islam, tahun 1979?

Sebuah pertanyaan yang barangkali juga pernah banyak menghinggapi orang-orang Indonesia, ketika hantu Karl Marx dipikirkan sebagai sesuatu yang menakutkan…

SAYA pernah hidup di dalam atmosfir politik yang “mengharamkan” Karl Marx (berikut pemikirannya), dan orang-orang yang menjalankan pikiran-pikirannya dalam sebuah garis partai. Doktrin itu diciptakan terus-menerus (hingga sekarang), dan dipelihara, dengan menyebarkan ketakutan: ketika itu setiap tahun diputar sebuah filem tentang kekerasan tahun 1965 — dan saya pun pada akhirnya tidak bisa mengelak dari trauma…

Namun sejujurnya aku pernah tertarik untuk mengetahui lebih lanjut ideologi itu (setidaknya secara akademis), walaupun tak pernah tertarik mengenakan “jubah” organisasinya — saya ingat, adalah kata “alienasi” adalah kata mujarab sebagai pintu pembuka masuk ke dalam ideologi itu. Sebuah proses pencarian, seperti halnya saya juga tertarik ide nasionalisme, sosialis demokrat, atau Islam — kendati yang kusebut terakhir ini akhirnya lebih menetap karena “itulah agamaku”.

Sebagai pisau analisa, di tahun 80-an akhir, faham “kiri” itu “kutemukan” melalui momentum sejumlah kasus perampasan tanah rakyat oleh pemerintah — ikut sekali demonstrasi, yang kuterjemahkan sebagai sebuah upaya perkenalan dengan sesuatu yang berbau “kiri”. Tapi di sana kuakui ada juga romantisme — rasanya gagah menyandang predikat kiri itu tadi.

Tapi tetap saja perkenalan itu tidak pernah utuh — tidak pernah intens, bersifat mediokrat, dan akhirnya acap berhenti sebatas jargon atau diskusi di dalam sebuah ruangan tertutup. Bahkan, kadang-kadang semuanya berakhir pada kekonyolan — misalnya, aku begitu bangga mengenakan kaos oblong bergambar Che Guevara dan begitu takut menyimpan buku karangan DN Aidit tentang “materialisme historis” (yang kutemukan di pasar loak), tapi akhirnya kubiarkan berdebu, kuselipkan ditumpukan buku paling bawah — tak pernah kubaca…

Barangkali ini dampak dari “trauma” itu tadi, dan mungkin juga lantaran faktor keterbatasan otakku. Tapi tak bisa kupungkiri, keragu-raguan itu sejak awal terlihat, karena dilatari perubahan politik global yang terjadi saat itu, juga ekses akibat bersentuhan dengan teks yang mengkritisi ajaran Marx sebagai ideologi.

Siapa yang bisa menghindar ketika teks “ideologi telah mati” muncul, dan sebuah argumen (atau mode?) yang mengatakan “narasi besar telah berakhir”, bergelombang menerpa pikiran yang masih muda itu. Lagipula, mau disemai di mana ide itu, di sebuah negara yang tidak memberi tempat sama-sekali pada ajaran-ajarannya..

Namun yang nyata berpengaruh adalah kondisi obyektif saat itu. Aku masih ingat, saat mencecap status mahasiswa baru (tahun 1987), dan di tengah trauma itu, tembok Berlin yang angkuh itu runtuh. Kemudian, seperti efek domino, negara-negara komunis –yang sistemnya tertutup, dan otoriter — satu-per-satu rontok, digulung perestroika, yang berujung terpecahnya Uni Soviet menjadi keping negara-negara kecil, dan meninggalkan ideologi “palu dan arit” — seolah sebagai produk masa lalu yang usang.

Semua keping informasi itu akhirnya hilir-mudik di dalam hidupku saat itu. Semangat eklektik, akhirnya yang terlihat. Bergelut dengan teman-teman pers mahasiswa, dengan latar politik dan ideologi yang berbeda, ikut berperan pula membentuk kepingan itu tak pernah utuh. Tuntutan keseharian, serta akhirnya logika dunia industri serta akar-psikologi Islam, membuat pencarian itu akhirnya tak pernah rampung…

Itulah yang terjadi pada akhirnya. Dan meskipun kadar simpati terhadap yang “kiri” itu tak juga hilang, toh akhirnya persoalan ideologi itu tak lagi kupandang menarik — saat awal menjadi wartawan (1996), saya pernah tertarik ide-ide yang diusung Partai Rakyat Demokratik (PRD) di ujung kekuasaan Suharto, namun kecewa dengan realitas politik partainya. Logika jurnalistik yang kupahami akhirnya membentuk karakterku untuk selalu berdiri di perbatasan…

KARL Marx disebutkan tinggal dan mati di kota London. Dia disebutkan pernah tinggal di wilayah Hampstead, dan menyelesaikan karya monumentalnya Das Kapital, di ruangan perpustakaan di British Musuem. Di sebut-sebut pula dia pernah menghabiskan waktunya di sebuah pub di Jalan Tottenham Court Road. Marx juga pernah tinggal di Dean Street, Soho, di pusat kota London. Tapi mungkin tidak banyak tahu, kalau pada akhirnya jasadnya dikubur di pemakaman Highgate….

Dibuka pada tahun 1839, pekuburan Highgate bagian barat semula diperuntukkan untuk kalangan berkelas. Di dalamnya bisa dijumpai aneka bentuk nisan, atau patung, serta bangunan kuburan yang bernilai tinggi. (Saat saya berada di depan komplek itu, ada 6 orang turis sedang antri masuk pekuburan itu).

Sementara, komplek kuburan Highgate bagian timur (yang dibangun tahun 1854), yang mayoritas ‘dihuni’ orang-orang biasa saja — salah-seorang diantaranya adalah Karl Marx, seperti pekuburan kuno lainnya. Dua komplek ini dipisahkan sebuah jalan menanjak, bernama Swains Lane, yang pagi itu terlihat sepi.

Walaupun begitu, disebutkan lebih banyak pengunjung mendatangi pekuburan Highgate bagian timur, karena kehadiran Karl Marx di sana. Itulah sebabnya, di pintu masuk pekuburan itu dipasang namanya serta gambarnya.

Selain makam Marx, disebutkan ada orang-orang terkenal lainnya dikubur di pemakaman itu. Diantaranya yang saya kenal, adalah novelis George Elliot (nama samaran Mary Ann Evans), filosof Inggris Herbert Spencer, serta ahli fisika Faraday. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, saya tak sempat melihat makam mereka — kecuali secara tidak sengaja, saya menemukan makam bekas pemain sepakbola tim nasional Skotlandia: Joseph Robert Stewart…

(Dari sebuah situs disebutkan, ada 850 orang dikuburkan di pekuburan Highgate di sisi timur dan barat. Dari angka itu, 18 orang adalah akademisi, 6 orang walikota London, serta orang-orang seperti kusebutkan di atas).

Sejak tahun 1975, pekuburan Highgate bagian barat, tidak lagi dijadikan pemakaman umum, namun bagian timur sejauh ini tetap dijadikan pemakaman umum. Kini komplek pemakaman itu dikelola sebuah organisasi nirlaba bernama The Friends of Highgate Cemetery (FOHC). Didanai oleh masyaraklat, mereka bertanggungjawab untuk merawat, dan memperbaiki apabila ada situs makam yang rusak. Mereka dibentuk para relawan yang peduli terhadap peninggalan sejarah kota London ini.

Di luar semua itu, bagi pecinta flora dan fauna, di dalam komplek pekuburan itu terdapat lebih dari seratus spesies bunga liar dan pepohonan — seperti hornbea, exotic limes, oak, hazil, sweet chestnut, tulip dan field maple.

Barangkali karena situs bersejarah itu sudah terbilang tua, maka di sana juga terdapat 50 spesies burung dan 18 jenis kupu-kupu, serta 3 spesies laba-laba yang konon sekarang sulit dijumpai di tanah Inggris. Disebutkan pula rubah gampang dijumpai di sana…

SAMBIL memasukkan tangan ke saku jaket coklatku, aku akhirnya meninggalkan pemakaman tua itu — diiringi suara koak-koak burung gagak hitam, serta langit kelabu kota London. Namun pertanyaan-pertanyaan tentang ‘lelaki berjenggot’ Marx, dampak setelah analisanya dibumikan, serta trauma yang kurasakan, masih terus membayangi di belakangku… (T)

Tags: IdeologiKarl MarxKiriKomunis
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Memahami Konflik Dengan Sangat Bijaksana

Next Post

Dramatisasi Puisi di Sasindo Unud: Tradisi, Realis, Simbolis, Hingga Sinetronan

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post

Dramatisasi Puisi di Sasindo Unud: Tradisi, Realis, Simbolis, Hingga Sinetronan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co